
Sesuai janji Arash sore nanti dia akan berkunjung kerumah sang kekasih untuk berkenalan dengan keluarganya..Walaupun sudah akrab dengan kakak Malika...Bagi Arash belum mengenal kedua orangtua Malika belum bisa dianggap mengenal keluarga kekasihnya
"Rash kok ganteng banget mau kemana"
"Dari orok kali Opa Arash ganteng"
"Masa"
"Masak air biar matang"
"Nih anak kenapa punya penyakit menyebalkan kayak bapaknya"
"Bapaknya Arash siapanya"
"Opa"
"Kalau anaknya menyebalkan bapaknya apa dong"
"Ya men...."
Arka tak melanjutkan perkataanya dan menatap kearah sang cucu yang sedang asyik menalikan sepatunya
"Kamu mau menjebak Opa ya"
"Nggak..perasaan Opa saja itu"
"Dasar cucu sompret..mau kemana sih"
"Biasa anak muda Opa"
"Iya biasanya itu apa"
"Emang opa gak pernah muda ya..kok kepo"
"Kamu kira opa lahir langsung tua"
"Ya siapa tau gitu"
"Sudahlah capek debat sama kamu"
"Siapa suruh debat"
"Hush hush...pergi sono"
"Ngusir nih ceritanya"
"Nggak..kamu aja baper"
"Udahlah Arash mau pergi"
Arash meraih tangan Opanya dan menciumnya
"Assalamu'alaikum Opa"
"Waalaikumsalam..Hati hati..mau uang saku gak"
"mit Vergnügen"
(Dengan senang hati)
Senyum manis terbit dibibir Arash
"Matre"
"Ditawari bukan matre"
"Dengar duit langsung konek"
"Niat ngasih gak seh..kalau gak niat gak usah...uang Arash masih banyak"
"Sombong"
"Pangeran mah bebas"
Arash pergi meninggalkan sang Opa yang sedang memegang ponselnya..Tak lama nada notifikasi M banking diponsel Arash berbunyi
"Opa I Love U...sering sering ya"
Arash berteriak dari teras depan rumahnya..Sedangkan Arka hanya tersenyum mendengar ucapan cucunya itu
Arash pergi menggunakan mobilnya sendiri namun bukan mobil sport mahal miliknya... Arash berniat membelikan buah tangan untuk orangtua Malika
Di rumah Malika sedang memberitahu kepada orangtuanya tentang kedatangan Arash
"Yah..Bun..nanti ada teman Malika mau main kerumah"
"Iya sayang gapapa"
Mirza bertanya kepada sang adek dengan isyarat bibir
"Arash"
Malika hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan sang kakak..Tak lama suara mobil berhenti dihalaman rumah Malika..Dan suara ketukan pintu terdengar
Tok tok
"Assalamu'alaikum"
ceklek
"Waalaikumsalam salam..loe Rash..masuk"
"Makasih Za"
Mirza yang kebetulan membuka kan pintu untuk Arash...sedangkan Malika sedang menyiapkan cemilan di belakang
"Bentar gue panggil ayah sama bunda dulu..loe duduk aja dulu"
"Ok makasih Za"
Mirza ke ruang keluarga memanggil kedua orangtuanya dan diikuti Malika dibelakangnya
"Oh kamu to"
Dengan nada ketus ayah Malika menyambut Arash.. Arash tak mengambil hati...Bahkan Arash berdiri tersenyum dan menyalami kedua orangtua Malika dan mencium tangannya
"Baik...sangat baik bahkan sebelum kamu datang"
Arash masih saja tersenyum berbeda dengan Malika dan Mirza yang mendengar perkataan sang ayah seperti itu merasa jengkel
"Yah..kok gitu"
Mirza mencoba memperingatkan sang Ayah yang sudah sangat keterlaluan
"Ya benar kan...Tadi ayah pikir yang akan datang itu orang spesial ternyata cuma kamu"
Malika mencoba menjawab perkataan sang Ayah
"Arash memang orang spesial buat Malika Yah..Dan Arash kesini mau berkenalan dengan ayah dan bunda"
Bunda Malika tersenyum mengejek dan menanyakan tentang keluarga Arash
"Orangtua kamu kerja apa"
"Ibu saya hanya ibu rumah tangga biasa Tante...Kalau Bapak saya bekerja di perusahaan properti Tante"
"Oh cuma anak pegawai biasa...kok berani beraninya kenal sama anak saya..Huh"
Arash hanya tersenyum mendengar perkataan Ibunda Malika..Mirza mencoba menyela
"Kalian salah Arash ini..."
Belum selesai menjelaskan..Arash sudah menatap tajam Mirza dia melarang menjelaskan siapa dia
"Dia apa kak...jangan bilang dia gak sederajat dengan kita..Bunda sudah bisa lihat"
"Bunda kenapa bunda bicara seperti itu..jika Arash anak seorang konglomerat apa kalian masih akan menghinanya"
"Mana mungkin dari penampilannya saja sudah terlihat..heh"
Arash hanya diam dan tersenyum..dari perkataan bunda Malika sangat jelas terlihat merendahkan Arash
"Benar kata bunda kalian...dari Bibit Bebet dan bobotnya saja sudah terlihat tak sebanding dengan keluarga kita"
Bunda Malika beranjak berdiri dan mengajak sang suami untuk ikut masuk kedalam kamar mereka
"Tak ada gunanya kita terus duduk disini Yah..buang waktu saja..Dan kamu Malika kami akan carikan jodoh yang sesuai dengan keluarga kita bukan seperti dia"
Arash ikut berdiri ketika kedua orang tua Malika berjalan meninggalkan ruang tamu..Malika tertunduk malu dan juga sedih melihat kelakuan orangtuanya
"Andai kalian tau..jika Putri kalian ini sangat dihargai saat berkenalan dengan keluarga mereka... Aku sangat malu"
Arash tau jika sang kekasih sedih...Dia duduk disebelah Malika untuk menghibur hatinya
"Kamu gak usah sedih...aku gapapa...jangan juga marah kepada orangtua kamu jangan membantahnya...ingat surgamu masih ada di mereka Ay"
"Tapi Ay..aku malu banget... keluarga kamu baik banget sama aku tapi orangtuaku malah menghina kamu Ay"
"Aku gak merasa terhina Ay...mereka hanya ingin yang terbaik untuk Putri kesayangan mereka ini"
Arash mencubit gemas hidung mancung Malika...Sambil tersenyum agar Malika lebih tenang...Mirza yang masih sangat marah dengan apa yang di katakan orangtuanya itu menjadi luruh karena melihat sikap Arash yang begitu bijaksana bahkan tak nampak raut marah diwajah Arash
Karena sikap Arash membuat Mirza semakin yakin jika Arash adalah orang yang tepat untuk sang adek..Bahkan selama Malika menjalani hubungan dengan Arash tak pernah Malika tampak sedih..Bahkan Arash sangat mnjaga dan menghormati Malika
"Za gue balik ya..Gue masih harus jemput Chila dirumah Ghaisan"
"Oh ya Rash...Gue minta maaf atas sikap bonyok gue"
"Santai aja gue gapapa kok"
"Oya gue mau tanya ke loe"
"Apa"
"Loe gak akan ninggalin adek gue kan"
Arash tersenyum menatap Malika yang juga menatap Arash menanti jawaban sang kekasih
"Gue akan pergi jika Malika yang meminta"
"Jadi kita masih seperti sebelumnya Ay"
"Iya walaupun jujur sebenarnya aku gak suka backstreet. .tapi kita jalani saja sejauh mana..Dan semoga Ayah dan bunda kamu segera memberi ijin"
Mirza menjawab perkataan Arash
"Aamiin semoga mereka mendapat hidayah..Kalian tenang aja gue dipihak kalian"
"Ya uda gue balik dulu...jangan sedih lagi Ay.. salam buat Ayah sama bunda kamu...Maaf gak pamitan langsung"
"Iya kamu hati hati Ay..salam buat mommy dan Daddy"
"Iya nanti aku sampaikan"
Mirza dan Malika mengantarkan Arash hingga ke depan...Tanpa mereka tau kedua orangtua Malika mengintip dari balik jendela kamar
"Yah coba lihat..mobil aja cuma biasa aja...lebih mahal tempat kita"
"Iya betul..Orang biasa berani beraninya suka sama anak kita"
"Heem...Gak mau pokoknya bunda..Ayah buruan cariin jodoh buat Malika yang sederajat dengan kita"
"Iya Bun"
Tatapan Ayah Malika tepat disuatu titik dikaca mobil Arash..sebuah stiker emas logo yang dimiliki satu satunya keluarga ternama
"ZM Fam..Seperti tak asing dengan logo itu...tapi dimana ya..Haish...paling juga cuma tiruan"
Bahkan Arash sendiri tak sadar mobil yang memang jarang dipakianya ditempeli logo keluarga yang didesain khusus dan hanya dimiliki keluarga mereka saja..Jika ditelisik lebih dalam lagi hampir semua kendaraan si kembar semua menggunakan inisial ZM disetiap nomor polisinya
________
Lagi agak longgar di usahakan hari ini up ya...jangan bosan ya😅😅
Jangan lupa like komen rate dan vote seikhlasnya kakak
Happy Reading