RashSya Story

RashSya Story
RashSya~ Peyek Kertas



Sudah lima bulan Annisa magang itu artinya tinggal satu bulan lagi sisa waktu Annisa dan yang lainnya untuk magang dikantor Arash..dan selama beberapa bulan ini Arash sudah semakin dekat dengan Annisa...walaupun kadang Arash jengkel dengan sikap Annisa yang suka banget menghina dia dengan sebutan aneh-aneh dan yang membuat Arash heran setiap bersama Annisa tak sedikitpun Annisa menampakkan ketertarikan kepada Arash berbeda dengan para wanita lain yang pernah dia temui


"Icha makan siang bareng yuk di kantin...jarang kita bisa bareng kayak gini"


"Iya Kak bener banget.. beruntung tuh bos gilasan baju lagi keluar sama asisten singanya jadi kita bisa quality time kak"


"Hahaha..Loe itu kalau ngomong suka seenaknya gak takut kena semprot pak Arash dan pak Daffa"


"Uda kebal Icha uda beli penangkalnya kok kak"


"Wuih baru tau gue loe bisa beli penangkalnya"


Aditya dan Icha berjalan menuju kantin kantor saat akan masuk lift mereka bertemu Arash dan Daffa yang baru kembali ke kantor


"Selamat siang pak"


"Hmmm"


"Siang Icha mau kemana"


"Makan pak Daffa..bapak sudah makan"


"Belum sih...Kalian mau makan dimana"


"Kantin kantor aja pak"


"Rash loe laper gak"


"Hmm"


"Kira bareng aja yuk saya juga laper"


"Oh pak Daffa laper juga ya udah ayo"


Arash diam dan mengikuti mereka..Annisa kembali dengan mode mulut slebornya


"Pak Arash laper juga ya kok ikut"


"Hmm"


"Sariawan ya pak kok hm hm terus"


Arash cuma diam...Daffa ikut menjahili Arash hanya aditya yang masih diam tapi tetap ikut tertawa jika mereka sudah gokil


"Arash nanti malam ada show Cha jadi hemat suara"


"Ouh jadi pak Arash beneran punya grup musik ya"


"Band Cha"


"Sama aja kali pak sama-sama ngegrup...terus pak Arash jadi apanya"


"Vokalis Cha"


"Masa sih...ada ya vokalis tanpa ekspresi gitu"


Arash sedikit melirik kearah Icha yang berdiri disamping Daffa tepat dibelakangnya


"Emang kamu belum tau Cha ada vokalis modelan kayak gitu"


"Gak kebayang deh pak pas nyanyi lagunya sedih mukanya datar..yang ada penontonnya kabur terus oas nyanyi dangdut yang harusnya goyang cuma berdiri tegak kayak tiang listrik datar"


"Hahaha tiang listrik Cha"


"Iya pak...kan pak bos tinggi orang saya kalau jalan disampingnya harus mendongak buat bicara pegel leher Icha pak Daffa"


Daffa bahagia banget bisa menertawakan sahabat sekaligus sepupunya itu karena selama ini tak ada yang berani mengejek Arash


"Cha jujur saya penasaran sama kamu"


"Apa pak"


"Arash itu tampan bahkan jadi idola pernah gak kamu ada rasa gitu sama dia atau sekedar kagum kayak para karyawan kalau lihat dia lewat gitu"


"Dulu sempat cuma sekedar bilang bos Icha tampan uda gitu aja gak lebih pak.... eh semakin kesini semakin tau kayak apa pak bos...jadi gak begitu menarik buat Icha...ganteng tapi kayak gilasan baju buat apa pak"


"Ehemmm"


Arash sengaja berdehem keras memberi peringatan Annisa jika orang yang dia ghibahin ada didepannya


"Bapak batuk"


"Nggak"


"Oya sudah kalau gitu...tapi bapak gak marah kan saya ngomong jujur didepan bapak..kan saya sama aja gak ghibahin bapak saya ngomong didepan bapak loh ya jadi gak boleh marah"


Arash hanya diam saja...karena disana ada Aditya membuat Arash menjaga image..jika hanya Daffa dan Icha saja bisa dipastikan habis Icha dibalas Arash


"Kamu Cha sumpah bikin kram perut"


"Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang pak tapi jangan ketawa sendirian pak dikira gila nanti"


Daffa langsung diam sedangkan Arash tersenyum tipis...arash gantian menggoda Daffa


"Kalau kamu mengatakan saya ini gilasan baju trus si Daffa apa"


"Pak Daffa itu kayak singa bunting gak keturutan ngidamnya.. beuh kalau udah ngomel kereta api aja kalah loh pak bos...saya sampai penasaran itu beli nafasnya produk mana bisa tahan sampai lama kalau ngomel kayak gak nafas"


"Hahaha...singa bunting Daf"


"Jadi selama ini kamu ngumpat juga kesaya Icha"


"Ups....gak ngumpat pak tapi dumel aja..eh ya Allah ni mulut"


Aditya tertawa dengan Arash sedangkan Daffa sedikit kesal dengan jawaban Annisa yang super polos itu...mereka berempat masuk kedalam kantin dan duduk disatu meja yang sama...dan membuat seseorang semakin panas


"Itu si Icha semakin berani aja deketin calon laki gue"


"Fan asal loe tau aja ya...selama gue kerja satu lantai sama Icha dan Aditya...hanya Icha yang lebih sering diajakin pak Arash meeting keluar"


"Kok bisa gitu...memang pak Daffa kemana"


"Gak tau juga gue"


Sedangkan di meja Icha mereka sedang menikmati makan siangnya...mata Icha tanpa sengaja bertemu dengan mata Tiffany membuat Icha ingat sesuatu yang belum dia sampaikan


"Astagfirullah...Kok gue bisa lupa lagi sih"


"Kenapa cha..apa yang lupa"


"Bentar"


Icha memasukan tangannya ke saku celana panjang yang digunakannya dan mengambil sesuatu


"Ah benarkan disaku celana ini"


Annisa mengeluarkan lipatan kertas namun sudah seperti tak berbentuk karena sudah dicuci dan dijemur berkali-kali... beruntung Icha tidak mencuci menggunakan mesin jadi kertas itu masih utuh walaupun rapuh


"Itu apa Cha"


"Hmmm...pak bos yang baik hati...tampannya gak bisa ngalahin opa Jungkooknya Icha...Icha mau minta maaf sebelumnya...tapi bapak janji jangan marah ya..icha cuma manusia biasa yang tak luput dari salah..."


"Stop Icha...intinya aja apa"


"Pak bos dapat surat dari kak Tiffany dan surat itu dititipin ke Icha empat bulan yang lalu...Icha beneran lupa kalau tadi gak dipelototi Mak Lampir mungkin masih lupa"


"Mak Lampir"


"Iya Kak Tiffany maksud Icha pak"


Tanpa menengok Arash bertanya dimana perempuan itu duduk..dan Arash mengangkat kepalanya sedikit melihat kaca yang ada dibelakang Annisa


"Jadi itu yang kamu sebut Mak Lampir Cha"


"Heem"


"Terus dia nitip apa Cha"


"Surat ini pak...tapi maaf uda runyam karena Icha cuci dan jemur berkali-kali..


hehehe"


Arash dan Daffa melihat kearah kertas putih yang sudah bermotif lipatan...Arash membuka kertas itu perlahan karena sudah mulai rapuh..beruntung tinta yang dipakai anti air jadi masih terlihat


"Rash ini uda pada keropos kertasnya..haha"


"Kayaknya di lem aja bisa pak itu"


"Ya udah saya Aditya tolong kamu ke resepsionis mintain lem"


"Baik pak"


"Eh gak usah repot gitu...kelamaan juga harus nunggu lem"


"Lah terus gimana Cha"


"Siniin kalau sama Icha semua beres"


Annisa meraih perlahan kertas tadi dan mengambil piring Daffa yang masih tersisa nasi...perlahan Icha mengelem kertas itu dengan nasi secara terbalik...Arash dan Daffa speechless melihat kelakuan Icha sedangkan Aditya langsung ngakak...dia gak nyangka punya patner otaknya terlalu brilian


"Daf gue gak hidup di jaman primitip kan"


"Gue pikir juga gitu Rash...coba loe bayangin deh tuh surat kan pastinya surat cinta...harusnya beraroma harum ini aroma telur balado...Hahaha"


"Sumpah ada ya cewek limited edition gini...semoga berkas gue aman gak ada yang diginiin"


Tak lama Icha mengangkat tangan yang masih penuh sisa nasi


"Selesai silahkan bapak baca sendiri apa isinya..saya mau cuci tangan takut nanti diendus tikus"


Arash dan Daffa melihat kearah kertas yang sudah terlem dengan nasi itu...belum membaca namun mengangkatnya tinggi


"Definisi peyek kertas sesungguhnya"


_______


Eneng yang semakin absurd aja kelakuannya


jangan lupa jempolnya


happy Reading