
"Ikan buntal itukah kamu"
Bagas masih terdiam. Dia merasa bingung harus berbuat seperti apa. Jika dia tidak jujur saat ini, cepat atau lambat identitasnya akan terbongkar juga. Dengan keyakinan hatinya, Bagas memberanikan diri mengungkap jadi dirinya.
"Maafkan aku chila. Aku gak bermaksud menutupi ini semu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya"
"Jadi bener loe ikan buntal. Loe si dugong musuh abadi gue"
"I..iya benar aku bagas si ikan buntal"
Bagas sedikit menutup matanya karena takut akan reaksi dari chila. Chila masih menatapa mata bagas dengan tajam. Tanpa diduga oleh bagas sebelumnya reaksi chila sangatlah berbeda dari yang dipikirkannya. Chila memukul lengan bagas sedikit kuat. Bagas hanya menerima sambil meringis dan tertawa.
Bugh bugh
"Gila loe beneran ikan buntal gue. Kenapa loe berubah begini. Loe sedot lemak dimana sampai jadi kayak ikan teri begini"
"What's ikan teri. Aku gak salah dengarkan ya. Lihat badan aku bagus gini kamu bilang ikan teri. Tega banget sih beib"
Chila masih berjalan memutari tubuh bagas. Sedangkan bagas bergaya layaknya seorang model yang melakukan pemotretan.
"Ck. ck. Habis berapa duit buat ngilangin pelampung diperut loe ikan buntal"
"Heh preman pasar. Gie gak sedot lemak. Gue cuma olahraga aja"
"Gak percaya gue sama omongan loe. Eh tapi beneran kan loe si dugong. Loe bukan dugong imitasi kan"
"Gini deh kamu pengen bukti apa yang bisa meyakinkan keaslianku ini"
Chila paling ingat sesuatu yang bisa membuat Bagas menangis hingga ngompol. Chila memiliki ide untuk membuktikan dia ikan buntal asli atau kaleng-kaleng.
"Okey tapi gak bisa sekarang dan disini"
"Okey baby kapanpun kamu mau membuktikan aku siap"
"Huh stop panggil gue baby"
"Gak akan dan tak akan pernah. Karena kamu milikku"
"Pede banget jadi orang"
Chila kembali memukul lengan Bagas kencang. Membuat Bagas benar-benar kesakitan.
"Plis beib hentikan kekerasan ini. Kalau pun mau main kekerasan nanti kalau udah halal diatas ranjang"
Bagas berkata dengan nada sensual. Bahkan Bagas mendekatkan badannya dan mencondongkan badannya agar bisa berbisik kepada chila. Apa yang dilakukan Bagas membuat refleks Chila langsung memukul perutnya.
"Auuuu baby sumpah ini yang aku gak mau mengakui identitasku secepatnya"
"Makanya jangan nyuri kesempatan. Suka banget kamu nyuri kesempatan dari kecil. Jangan salahin tangan dan kaki gue yang sudah mengenali suara kamu"
"Untung cinta aku sama kamu baby"
"Apa. Coba ulangi lagi gue gak salah dengar kan"
Bagas menegakkan badannya dan membenahi pakaiannya. Karena tatangan Chila, maka Bagas memutuskan untuk menyatakan perasaanya pada Chila. Bagas menggenggam kedua tangan Chila.
"Arsyila Qeeva Malik. Mungkin selama ini aku terus membuat kamu kesal dan marah. Tapi sejujurnya itu aku lakuin demi mendapat perhatian kamu. Aku sudah mencintai kamu sejak kita bertemu di taman kanak-kanak. Namun karena aku takut kamu tak menyukaiku, maka aku putuskan untuk terus mengganggumu. Dan kini kita sudah dewasa. Ijinkan aku mengatakan apa yang selama ini aku pendam. Kamu satu-satunya wanita yang tak pernah bisa hilang dalam ingatanku dan dalam hatiku hanya ada kamu. Arsyila Qeeva Malik. Will you merry me"
Chila kaget dengan pernyataan Bagas yang tiba-tiba itu. Dia bahagia karena bertemu orang yang selalu dia rindukan. Dan dia juga belum paham akan perasaannya saat ini. Saat Chila akan menjawab. Seorang pelayan kafe itu melintas.
"Ealah gaya oke. Makan dikafe. Eh nembak kok didepan WC. Gak modal"
Chila dan Bagas saling bertatapan memandang sekitaran area beberapa pelayan berdecak heran namun ada juga yang baper.
"Pernyataan cinta loe gue tolak. Loe kira gue apaan. Nembak depan WC backsound suara piring dan gelas beradu. Untung gak ada aroma terapi dari pembuangan. Makin lengkap nasib gue"
Chila berjalan meninggalkan Bagas dengan perasaan malu bercampur kesal. Dia menundukkan wajahnya karena karyawan tadi sudah menceritakan kepada teman-teman lainnya.
Bagas berhasil mengejar Chila. Namun Bagas lupa jika teman-temannya masih dikafe itu. Mereka memperhatikan Bagas dan Chila dari jarak yang tak begitu jauh. Beruntung tanpa sengaja Bagas menutupi wajah chila.
"Beib. Jangan marah. Iya aku salah dan aku janji akan menyiapkan tempat dan suasana yang romantis untuk mengulang pernyataan isi hatiku. Tapi bukan berarti tadi tidak dianggap. Dan semoga wajaban kamu tidak mengecewakanku sayang"
Bagas berbicara sambil sedikit menunduk. Jika dilihat sekilas dari belakang, Bagas seolah mencium Chila. Mirza dan Shanum yang sedari tadi menunggu Chila, langsung mendekati Chila dan mengajaknya pulang. Bagas mengantar hingga parkiran.
"Chil pulang yuk sebelum para anak singa dirumah ngamuk"
"Iya kak"
Mirza penasaran dengan Bagas, memberanikan diri untuk bertanya langsung tentang siapa Bagas.
"Hmm Bang dia teman chila sekolah dulu"
"Kenalin saya Bagas bang"
Shanum sangat ingat dengan nama itu. Apalagi dia juga pernah menemani Arsya menghadap wali kelas chila.
"Jadi kamu si fugu-fugu itu"
"Fugu-fugu apa itu sayang"
"Itu loh Yang, snack bentuk ikan buntal. Benerkan kamu fugu-fugu musuh chila"
"Hehehe iya kak"
"Wah kisah masa lampau kembali lagi ni"
"Hehehe"
Bagas menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum kikuk.
"Awas ya kalau berantem lagi. Kakak bilangin daddy biar dinikahin. Eh tapi kok loe gak kayak fugu- fugu lagi sih. Malahan mirip atlet gini. Badannya uwu banget sih. Nyolek dikit boleh dong"
Bagas melotot mendengar celetukan Shanum. Mirza langsung menarik shanum kedalam dekapannya.
"Kebiasaan. Lihat yang mudaan dikit oleng. Nyolek yang halal aja ada kok mau nyolek yang bukan milik sendiri"
"Hahahaha. Dasar abang posesif"
Mereka berjalan beriringan. Bagas menggandeng tangan Chila. Entah mengapa Chila tak menolak. Teman-teman bagas semakin penasaran.
"Itu istri Bagas jim"
"Heem"
"Yaelah pelit amat sih gak mau ngenalin ke kita-kita"
"Alah kalian juga kenal kok"
"Teman kita juga jim"
"Hem. Adek kelas"
"Eh jangan-jangan dia nikah sama musuh abadinya"
Jimmy hanya mengedikkan bahunya saja. Mereka kembali berbincang sampai Bagas kembali bergabung dan mendapat ledekan dari teman-temannya. Hanya Lusi yang terdiam.
Chila menceritakan kejadian didepan toilet kafe tadi kepada shanum dan mirza. Sontak keduanya tertawa.
"Sumpah sakit perut gue. Secara ini sejarah anak dari keluarga Malik. Apalagi ini tuan putri keluarga Malik loh. Mendapat pernyataan cinta didepan toilet. Sungguh penomenal. Hahaha"
"Bang Ezha ih nyebelin. Chila aduin Abang kembar loh ya"
"Aduin aja. Karena abang yakin si kembar selain ngakak juga kesal karena adik kesayangan mereka seharga penjaga toilet umum. Hahaha"
"Ih nyebelin banget sih"
Mirza mengantarkan Chila pulang kerumah. Didepan pintu sudah ada Arash yang sedang main catur dengan Mang toyib dan beberapa penjaga.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam udah pulang honey"
"Hmm"
Chila berlalu masuk kedalam rumah. Sedangkan Arash yang melihat sang adek badmood langsung bertanya kepada Mirza dan Shanum. Mereka menceritakan sesuai cerita Chila.
"Hahaha dasar si dugong gila"
_________
Etdah kenapa juga katakan cinta didepan toilet si fugu-fugu nih....Nantikan kejutan gila dari Bagas dan juga geng baru icha, shanum dan eneng markoneng
Jangan lupa jempol. Ehem ini senin kan boleh dong divote🤗🤗🤗
Happy Reading