RashSya Story

RashSya Story
Ghaydan~Luber



Dalam beberapa hari ini seila akan melahirkan. Atha sudah mengirimkan surat ijin untuk sang istri agar bisa cuti melahirkan. Beruntung pemilik yayasan kampus seila adalah Atha sendiri dan rumah sakit tempat seila menjadi


koas adalah milik Bagas. Tak sulit bagi seila mendapat ijin.


Pagi hari seperti biasa seila ditemani Atha berjalan. Beberapa penghuni kompleks sudah sangat mengenal Atha. Apalagi masa kecilnya banyak dihabiskan di kompleks ini. Mereka sudah berada didepan rumah keluarga Malik. Kebetulan Arka sedang menggendong cicitnya Serkan.


"Assalamualaikum opa"


"Waalaikumsalam. Jalan-jalan tha"


"Nggak opa. Ngejar maling"


"Ngejar maling tuh lari biar cepat kenanya bukan jalan kayak siput"


"Malingnya aja jalan opa. Gak etis kalau Atha lari"


"Emang mana malingnya tha"


"Ini disamping Atha. Dia sudah mencuri hatiku"


Eneng yang masih menyirami tanaman langsung menyambar sambil berjoged. Dia lupa jika sedang memegang selang air.


"Stop engkau mencuri hatiku hatiku. Stop engkau mencuri hatiku"


"Markoneng"


Mereka semua menengok kearah suara berasal. Arsya berdiri dengan kesal karena basah kuyup terkena guyuran selang Eneng.


"Ya Allah mas Arsya. Habis kehujanan dimana sih"


"Loe kalau mau joged sama nyanyi, matiin dulu airnya. Gue jadi basah nih"


"Oalah mas Arsya kesembur Eneng toh. Maaf mas. Ya udah yuk Eneng gantiin baju"


Retha yang datang membawa sarapan untuk Serkan langsung menjewer kuping Eneng.


"Eih mau kemana neng"


"Aduh duh. Non Retha ntar kuping neng panjang kayak jerapah"


"Jerapah lehernya yang panjang neng. Loe mau kemana tadi neng"


"Gantiin baju mas Arsya non Retha. Kasian ntar masuk angin. Eneng kan tanggung jawab habis guyur mas Arsya"


"Gak perlu. Nanti biar gue yang gantiin baju papinya serkan. Loe suapin aja serkan"


"Ya udah kalau begitu. Disini Eneng merasa sedih"


Setelah melepas jeweran dan menerima makanan serkan. Eneng berjalan menuju arah Arka. Arka dan Atha menertawakan kelakuan Eneng.


"Ayo tuan maem dulu. Aaa"


"Eneng serkan yang disuapin bukan opa Arka"


"Iya iya khilap dikit. Yuk papa kita suapin anak kita dari pada disini mereka berisik"


Arka langsung menabok lengan Eneng yang sudah menariknya dengan mainan serkan.


"Berani kamu pegang saya neng. Nanti Nyonya tau dirukyah lagi kamu neng"


"Ya Allah begini amat nasib Eneng. Dimana-mana tidak ada yang menerima"


"Lebayyy"


"Drama"


Teriakan dari beberapa orang didekat Eneng membuat Eneng hanya menghela nafasnya. Dia langsung mengambil serkan dari Arka dan menggendongnya untuk disuapi. Arsya sudah masuk bersama Aretha. Atha dan seila juga ikut masuk kedalam rumah Arka. Arka memang meminta Atha untuk mampir sejenak. Kebetulan Jasmine dan Melany hari ini membuat masakan kesukaan Atha dan seila. Sebenarnya juga nanti akan dibawakan Eneng. Tapi karena mereka sudah berada disana, Arka memintanya untuk mampir.


Mereka berkumpul diruang makan. Si kembar Al sedang bersama dengan pengasuh lainnya. Agar orangtuanya bisa sarapan bersama. Jasmine dan Melany senang melihat Atha dan seila mampir untuk sarapan bersama.


"Sayang sudah hampir waktunya melahirkan ya kamu"


"Iya Oma. Insyaallah beberapa hari lagi"


"Sudah ada tanda-tanda belum sel"


"Belum mom. Masih seperti biasa aja kok"


"Ya sudah gapapa. Gak usah dikhawatirkan sekali ya. Nanti kalau sudah waktunya. Babynya juga akan keluar sayang"


"Iya mom"


Icha tampak anteng tanpa mau ikut bergabung membahas kandungan seila. Arash pun sama mereka hanya menikmati sarapannya saja.


"Cha loe hari ini ada acara pergi gak"


"Ada"


"Mau kemana Cha"


"Shopping sel. Mau ikut"


"Tumben loe shopping Cha. Biasanya paling males ke mall"


"Yang bilang gue mau shopping ke mall siapa sih sel. Orang gue mau ke pasar"


"Kepasar aja bilang shopping Cha. Belanja itu namanya"


"Shopping sama belanja apa bedanya sel"


"Ya beda aja"


"Huh. sayang kamu gak usah debat sama si Icha ya. Tau sendiri dia orangnya suka bikin emosi"


"Situnya aja yang baperan"


"Rash bini loe sewot amat. Gak loe kasih jatah apa semalam"


"Eh jangan salah. Suami Icha mah the best punya. Jatahnya sampe luber luber"


Arka dan Jay paling suka mengganggu menantu mereka yang satu ini. Bagi mereka menggoda Icha bisa menghibur hari-hari mereka.


"Gak sayang tuh Cha sampe luber"


"Gaklah dad. Kan udah Icha tampung. Jadi aman"


"Mau diawetkan Cha"


"Bukanlah opa. Mau Icha manfaatkan saja"


"Maksudnya mau kamu donorin gitu Cha"


"Nggaklah opa. Enak saja. Gak maulah yaw turunan sultan kualitas wahid disumbang-sumbangin"


"Terus mau loe apain Cha"


"Mau tau aja apa mau tau banget"


"Apaan sih Cha. Bikin penasaran aja"


"Sabar dong. Woles aja napa"


"Kita penasaran karena terkadang ide kamu itu benar-benar luar binasa cha. Susah dimengerti sama logika normal"


"Maksud kak Atha, Icha gak normal gitu"


"Ya gak gitu neng. Maksudnya ide kamu itu hanya bisa dimengerti orang-orang cerdas saja Cha"


"Oh benarkah"


"Hem. Sekarang apa ide loe itu Cha. Mau loe apain calon bibit unggul yang tiada tanding itu"


"Huft. Jadi rencananya mau Icha jadiin pupuk tanaman saja"


Semua langsung tersedak termasuk Arash mendengar perkataan istrinya itu. Sedangkan Icha masih santai sambil memangku Almeer. Sarapan mereka sudah selesai sepuluh menit yang lalu dan kini mereka sedang berada diruang keluarga.


"Maksud Buna gimana sih. Ayah gak paham"


"Gini loh ayah ganteng suami Icha. Kan sayang tuh kalau hasil tampungan dalam karet konspirasi dibuang gitu aja. Sampah karetnya gak akan terurai. Malah bahaya buat bumi. Ditemuin anak kecil pun dikira balon tiup. Lebih bahaya kan"


"Tapi ayah kan emang gak pake pengaman alat konspirasi itu sayang. Kan kamu juga udah KB"


"Ya karena ayah gak pake. Daripada meluber kemana-mana mulai nanti malam ditampung di ember aja. Terus besok pagi buat nyiramin tanaman belakang. Lumayan kan bisa jadi pupuk organik"


"Hahahaha. Bini loe emang amazing. Dia kira lie itu kambing apa. Semua yang keluar dari tubuh loe bisa dijadiin pupuk"


"Enak aja ngatain suami tampan Icha kambing. Kak Atha itu yang kambing"


"Bentar deh Cha. Kalau itunya loe jadi pupuk, gak takut loe tiba-tiba mangga loe jadi albino. Terus rambutan loe jadi pirang. Hahahaha"


"Widih itu bisa jadi berita piral kak"


Kompak mereka tepuk jidat. Kecuali Arash. Arash langsung menciumi pipi istrinya itu karena gemas.


"Daddy rasa, Icha harus ikut rukyah dengan Eneng. Virus markoneng sudah sangat membahayakan"


"Daddy kalau Icha dirukyah, boleh milih ustadz ya gak"


"Maksudnya gimana"


"Icha mau dirukyah asal ustadznya itu setampan Omar Borkan Al Gala"


Arash langsung memiringkan badannya agar bisa menatap istrinya itu.


"Coba ulang. Setampan siapa"


"Omar Borkan Al Gala sayangku"


"Ouh sudah berani ya memuji pria lain didepan suami sendiri"


"Ya beranilah. Karena yang dipuji kan gak kenal sama Icha"


"Mau dapat hukuman"


"Maulah. Mau banget malah"


"Yuk ke kamar"


"Asyekkk. Opa dan grandpa tolong jagain si kembar ya"


"Jangan lupa embernya dibawa Cha"


"Asyiaaap"


_______


Ini detik-detik baby bencong lahir ya gaesss


Jangan lupa jempolnya


Happy Reading