
Sudah tiga hari Icha berada Jakarta. Hari ini Icha akan ke kantor Arash memulai pengumpulan data. Awalnya Arash akan menjemput Icha dan berangkat bersama, namun tiba-tiba dia harus ke perusahaan milik atuknya yang sudah diberikan padanya. Namun Arash sudah memberi pesan kepada pegawainya dan Daffa bahwa Icha akan datang.
Icha sudah berada di resepsionis memberikan sedikit makanan dari Lombok dan melepas rindu kepada teman-teman lamanya saat magang.
"Kak apa kabar"
"Bu Icha"
"Jangan Bu dong biasa aja. Kita masih teman kan"
"Tapi kita gak enak sama Pak Arash. Kamu kan calon istrinya"
"Biasa aja pak Arash gak akan marah kok"
"Kamu beruntung banget sih Cha bisa dapatin hati pak Arash"
"Hahaha jodoh itu lebih tepatnya kak"
"Iya bener banget"
Icha asyik ngobrol dengan karyawan Arash. Karena dia tahu Arash masih belum ada dikantor. Saat sedang asyik, datang satu makhluk dari dunia dedemit.
"Mbk Arash ada kan"
"Maaf Bu pak arash belum datang"
"Masa. Ini jam berapa. Gak mungkin Arash belum datang"
"Saya tidak bohong Bu. Pak Arash memang belum datang masih ada urusan lain diluar"
"Ya sudah saya mau nunggu di ruangannya"
"Maaf ibu silahkan tunggu di lobby saja"
"Kamu berani nyuruh saya tunggu di lobby. Lupa kalau saya calon istri Arash. Mau dipecat"
Dua pegawai resepsionis dan Icha sama-sama saling menatap lalu menahan tawa. Icha ingin melihat dan mendengar kuntilanak itu mengoceh sesuka hatinya.
"Tapi maaf Bu. Sesuai pesan pak Arash setiap tamu yang datang diminta menunggu di lobby"
"Saya gak mau tau. Saya akan tetap menunggu diruangan Arash. Dan kamu siap-siap menerima surat pemecatan"
"Silahkan Bu duduk diruang tunggu"
"Gak mau saya tetap akan keatas"
Icha yang diam mendengarkan mulai berbicara. Melihat kuntilanak kesiangan sudah mulai rusuh.
"Ibu kan wanita terhormat. Tapi kenapa kelakuannya seperti rakyat jelata"
"Jaga omongan kamu. Kamu gak kenal saya"
"Gak. Apa mau kenalan dengan saya"
"Siapa kamu. Dan apa pentingnya saya berkenalan dengan kamu"
"Nyesel loe gak mau kenalan dengan saya Bu"
"Stop panggil saya Ibu. Saya bukan ibu kamu"
"Ya sudah Tante"
"Saya gak setua itu"
"Tapi kalau sama saya masih mudaan saya kan"
"Dasar bocah rese"
"Apa Tante centil"
"Kurang ajar banget sih. Kamu gak tau ini perusahan calon suami saya"
"Bukan punya sendiri kok bangga"
Perempuan itu mulai jengkel dengan ulah Icha. Dan icha dengan santainya menjawab pertanyaan perempuan itu dengan asyik memakan lolipop pemberian Arash. Perempuan itu langsung berasumsi sendiri tentang siapa Icha.
"Oh saya paham. Kamu pasti akan magang disini kan. Jangan harap diterima attitude aja tidak ada"
"Eh Tante kok printer banget sih. Jangan-jangan tante jelmaan dedemit ya tau apa yang sedang saya pikirkan. Dari golongan mana Tante"
"Heh semakin kurang ajar aja kamu. Dimana sopan santun kamu"
"Sebelum menanyakan sopan santun saya, instrospeksi diri dulu Tante. Sopan tidak menganganggap milik orang sebagai milik Tante"
"Apa maksud kamu"
"Tante mengklaim Arash sebagai calon istrinya. Sebelumnya tau tidak siapa tunangan Arash"
"Jelaslah saya. Kalau bukan saya memangnya kamu"
"Nah itu tau"
"Ngimpi kamu. Jangan suka mengaku milik orang lain. Jangan sampai kamu tidak punya muka lagi untuk keluar rumah karena mengaku sebagai tunangan seorang Arash Malik"
"Aduh saya hantu muka rata dong kalau gak punya muka lagi. Tapi saya gak mau satu spesies dengan dedemit"
Perempuan itu akan menampar Icha. Dengan lebih cepat Icha menampar lebih dulu. Sedangkan para sekuriti yang melihat dan ingin mencoba membantu Icha sudah lebih dulu menarik tangan wanita itu dan mendorongnya hingga terjatuh. Perempuan itu tidak terima diperlakukan Icha seperti itu apalagi banyak karyawan Arash berlalu lalang.
Arash yang baru sampai dikantor, kaget melihat kerumunan. Dia berjalan mendekat. Saat lebih dekat lagi dia mendengar suara seseorang menyebut namanya.
"Dasar perempuan gila. Jangan harap kamu bisa magang atau kerja disini. Karena akan saya pastikan Arash mendepak kamu bahkan sebelum kamu meminta ijin untuk magang"
"Oh seperti itu. Boleh Tante hubungi calon suami Tante itu"
Perempuan itu gelagapan karena tak memiliki no pribadi Arash. Dia tak ingin malu dihadapan Icha yang dianggapnya hanya anak kecil.
"Hal sepele seperti ini masih bisa saya atasi. Sebagai calon nyonya Arash, saya memiliki hak sepenuhnya untuk mengambil keputusan"
"Oh begitukah. Bukan karena gak punya nomor ponselnya kan Tante"
"Sembarangan saja. Jelas saya punya"
"Atau mau saya bantu menghubungi Pak Arashnya Tante"
"Kamu mana bisa menghubungi dia"
"Kalau nyatanya saya bisa. Boleh gak Tante nggak lagi gangguin pak Arash. Kasian loh calon istrinya"
"Hahaha. Mimpi sekali kamu bisa menghubungi Arash"
"Alah bilang aja Tante takut kalah. Iya kan iya kan"
"Saya gak takut. Ayo buktikan kalau kamu memang bisa"
"Tapi Tante harus tepat janji untuk tidak mengganggu pak Arash lagi"
"Oke saya janji akan langsung kembali ke London dan tidak lagi mengganggu Arash. Puas kamu"
"Ih Tante pinter deh. Saksinya semua yang ada disini ya"
"Ya. Sekarang buktikan ucapanmu anak kecil. Aku pastikan kamu akan malu"
Icha tersenyum manis apalagi dia melihat Arash yang sedang menahan tawa sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Perlahan Arash menjauh dan duduk santai di kursi tamu. Dan para karyawan yang tadi berkerumun sedikit menyingkir agar Arash bisa melihat.
Icha mengambil ponselnya. Bahkan langsung menghadapkan layar kearah perempuan itu. Perempuan itu melotot karena background ponsel Icha adalah foto mereka saat pertunangan.
Icha langsung melakukan panggilan video. Agar perempuan itu lebih percaya kepadanya.
"Assalamu'alaikum masku"
"Waalaikumsalam sayang. Uda sampai belum"
"Sudah dari satu jam yang lalu masku. Mas lagi dimana"
"Mas selalu di sampingmu sayang"
"Ah sweetnya"
Arash mengesampingkan sifat kulkasnya dulu agar bisa mengusir dedemit tak tahu malu itu segera pergi dan tak mengganggu kehidupannya lagi.
"Ya udah masku, Icha tunggu diruangan mas aja ya. Ngadem disini panas kayak dioven"
"Iya sayang. Sebentar lagi mas nyusul"
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Icha memasukan ponselnya. Dan kali menatap ke perempuan tadi.
"Saya menang Tante. Sekarang Tante tepati janji Tante. Sebelum diviralkan karena Tante berbohong"
"Siapa kamu sebenarnya"
"Masih kurang jelas setelah mendengar dan melihat percakapan saya tadi Tante"
Perempuan itu sudah sangat malu. Dan melangkah untuk meninggalkan kantor Arash. Bersamaan dengan Arash mendekati Icha.
"Tante itu cantik. Dan pastinya memiliki segala hal. Kalau Tante menggunakan itu semua dengan baik pasti Tante akan mendapatkan jodoh yang baik juga. Semua hanya pinjaman Tante. Jika waktunya pasti akan diambil kembali oleh pemiliknya. Jadilah wanita terhormat kak. Karena Icha yakin hati kakak juga baik. Jangan terobsesi dengan sesuatu yang tak bisa digapai kak"
Perempuan itu hanya mengangguk kecil. Dia perlahan pergi keluar dari perusahaan Arash. Dengan rasa malu namun lebih baik dia hanya malu didepan beberapa karyawan Arash yang pastinya tidak akan menyebarkan berita mengenai dirinya, daripada dia dipermalukan didepan umum.
Arash mendekat dan menggandeng tangan Icha. Mereka masuk lift dan menuju ruangan Arash.
"Mas bangga sama kamu Sayang. Bisa mengusir para pengganggu dengan elegan"
"Kita diciptakan memiliki kepandaian mas. Gunakan itu sebaik mungkin selagi bisa. Tidak semua masalah bisa selesai dengan kekerasan. Yang ada ujungnya akan malu. Dan tak dihargai orang lagi. Bahkan akan banyak pengganngu lain datang jika kita tidak pandai mengusir dedemit itu dengan cerdas"
"I love you Annisa Maharani Malik"
"Love to masku"
_______
Jangan semua masalah ditangani dengan emosi. Terkadang emosi itu sendiri yang akan membawa kita dalam masalah lebih besar.
Jangan lupa jempolnya kakak
Happy Reading