
Sebelumnya terimakasih untuk reader yang mengingatkan author ini mengenai judul dan deskripsi yang tak sejalan. Dan hari ini author mengganti cover, judul dan deskripsi sesuai dengan alurnya... Maaf ya author ini gaje sekali...
______
Hubungan ghaisan dengan malika semakin tak jelas. Ghaisan yang sudah bisa menerima kehadiran malika, namun malika ingin kembali bersama arash. Bahkan akhir-akhir ini malika sering membatalkan janji bersama ghaisan ataupun keluarga ghaisan.
Nenek dan kakek malika yang melihat gelagat aneh dari sang cucu, hanya bisa menasehati agar tidak mempermainkan perasaan ghaisan. Apalagi mereka adalah orang yang telah menolong mereka.
"Malika. Bagaimana kabar kamu dan ghaisan nak"
"Kami baik-baik saja opa"
"Kenapa opa lihat sudah beberapa hari ini ghaisan tidak menjemputmu nak"
"Kak ichan sedang sibuk opa"
"Ya sudah kalau memang kalian baik-baik saja. Opa cuma mengingatkan jika memang tak sejalan sudahi jangan menggantung harapan orang nak"
"Iya opa"
Semenjak Mirza menikah dengan Shanum, mereka sudah tidak tinggal satu rumah lagi. Mirza dan Shanum akan mengunjungi rumah dua hari sekali jika tidak terlalu sibuk.
Malika berangkat menuju kafe miliknya. Dia sedang berencana membuka cabanh baru. Setelah pertemuan dengan arash waktu itu, malika terus mencoba mencaritahu siapa kekasih arash.
Malika hari ini akan pergi ke Bandung lokasi pertama cabang kafenya akan dibuka. Saat dilampu merah tanpa sengaja malika melihat mobil arash. Dia sangat hafal dengan nomor kendaraan milik arash.
"Itukan arash"
"Sebaiknya aku ikuti kamu dulu. Siapa tau kamu sudah berubah fikiran. Atau setidaknya aku tau siapa perempuan yang menjadi kekasihmu"
Malika benar-benar merubah arah laju kendaraannya. Malika mengikuti arash dari jarak yang cukup aman. Dia sengaja melakukan hal itu agar seolah mereka bertemu tanpa sengaja.
Malika mengamati arash yang akan memasuki sebuah restauran ternama bersama seorang gadis berhijab. Malika semakin penasaran.
"Siapa wanita itu. Arash tidak pernah pergi berdua bersama wanita yang bukan saudara ataupun sahabat dekatnya. Apa dia kekasih arash"
Malika menunggu waktu yang tepat untuk masuk kedalam resto itu. Sesuai dengan rencananya, malika masuk namun tidak menuju meja arash. Dia melihat arash sedang meeting. Malika memilih duduk tak jauh dari meja arash dan masih bisa mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Siapa sebenarnya perempuan itu. Mengapa bukan Daffa yang mendampingi arash. Bahkan arash selalu tersenyum pada wanita itu"
Malika berkata dalam hatinya sambil terus memperhatikan gelagad arash kepada gadis disampingnya. Malika yang awalnya berniat menyapa arash dia urungkan setelah mendengar pernyataan arash tentang siapa gadis itu.
"Wah memang pak arash tidak pernah mengecewakan"
"Terimakasih pak baskoro"
"Oya boleh saya bertanya sesuatu yang sedikit pribadi pak arash"
"Silahkan pak"
"Apa pak arash sudah menikah"
"Belum pak"
"Ah syukurlah. Jadi anak saya masih ada harapan dong untuk kenal dengan andq"
"Maaf pak mungkin anda akan kecewa. Perkenalkan Annisa Maharani tunangan saya"
"Oh saya kira dia hanya sekretaris anda saja pak arash"
"Annisa adalah tunangan saya. Dan kebetulan Daffa asisten saya sedang berada di luar negeri untuk sementara annisa membantu saya"
"Kalau begitu saya pamit pak arash. Saya tunggu undangan pernikahan kalian"
"Pasti pak saya akan mengirim undangan kepada anda nanti"
Klien arash pergi dengan wajah kecewa. Mungkin harapan menjodohkan putrinya kepada arash telah gagal. Malika juga langsung keluar meninggalkan kafe membawa kekecewaan.
"Jadi benar kamu sudah bertunangan rash. Kenapa kamu setega itu rash"
Malika melajukan kendaraannya cukup kencang menuju Bandung. Dia seperti tak peduli dengan nyawanya sendiri. Pikirannya masih melayang saat mendengar arash menyebut siapa gadis bersamanya.
Satu bulan sudah malika tak pernah lagi berusaha menemui arash. Bahkan saat ini dia sedang berusaha memperbaiki hubungannya dengan ghaisan. Entah memang ghaisan yang begitu baik atau malah terlalu bodoh menghadapi malika. Setiap malika meminta berbaikan ghaisan langsung saja memaafkan dan menerima kembali malika.
Ting
Bunyi ponsel malika berdenting. Sebuah pesan dengan nama ghaisan disana tak membuat malika bergegas membuka dan membalasnya. Sepuluh menit kemudian pesan dengan nama yang sama kembali masuk.
Malika baru meraih ponselnya dan membuka pesan itu satu persatu. Malika hanya membalas pesan ghaisan satu kali dengan singkat.
*Kak Ichan
Sayang kita makan siang bersama mau?
Kak Ichan
Sibuk banget ya hari ini
Kak Ichan
Jangan lupa makan. Ingat kamu punya magh
Kak Ichan
Aku ke kafe sekarang ya. Tunggu aku*
Malika hanya menjawab dengan dua huruf saja 'ya'. Begitu singkat dan mewakili semua jawaban pertanyaan ghaisan menurut malika. Namun kenyataannya malika tak pernah tau jika ghaisan kecewa dengan sikap malika.
"Kamu sepertinya tak sepenuh hati menerima ku kembali mal"
Ghaisan menatap barisan kata dalam room chatnya untuk malika yang selalu mendapat jawaban dua huruf.
"Mal kesabaranku ada batasnya. Jangan salahkan aku jika suatu saat aku akan mencari penggantimu karena aku sudah muak dengan sikapmu ini"
Ghaisan terus berbicara pada dirinya sendiri didalam ruangan kantornya. Ghaisan memikirkan langkah apa yang sebaiknya dia ambil nantinya jika malika tak kunjung berubah. Apalagi kedua orangtuanya sudah meminta ghaisan menikahi malika. Bukan ghaisan yang tak mau namun malika yang selalu menolak.
Bulan depan Arsya akan menikah dengan Arerha. Ghaisan berfikir akan kembali melamar malika diacara yang sama agar lebih berkesan. Ghaisan menghubungi asistennya untuk membantunya menyiapkan acara tersebut.
.
.
.
"Chan loe serius mau nglamar malika di resepsi arsya"
"Iya tha. Bantuin gue"
"Loe uda mikirin mateng-mateng kan chan. Jangan sampai kayak waktu itu dan loe malah jadi malu"
"Semoga kali ini tidak tha. Apalagi ini didepan keluarga kita dan dia juga. Mana mungkin dia akan membuat malu"
"Semoga ya chan. Tapi kalau gue bilang sih. Kalau memang ada wanita yang lebih baik dari malika, sebaiknya loe pikirin lagi hubungan tak sehat ini"
"Iya tha gue akan pikirin perkataan loe tapi untuk saat ini biarkan gue jalani ini dulu"
"Gue akan dukung loe terus chan. Apapun nanti keputusan loe gue selalu ada buat loe"
"Makasih tha. Tolong jangan sampai yang lain tahu dulu apa yang sedang gue alami"
"Iya sob"
Hari ini sengaja ghaisan menemui ghaydan dikantornya. Selain si kembar dan Devin, ghaydab adalah sahabat yang selalu ada dalam kondisi apapun. Dalam lubuk hati ghaisan, dia masih memiliki keraguan. Namun dia juga tak ingin keluarganya kecewa. Ghaisan hanya mengikuti alurnya saja.
Berita tentang Arash yang sudah memiliki kekasih sudah tersebar diseluruh anggota keluarga dan sahabatnya. Ghaisan yabg sepupu dekatnya juga baru mendengar belum lama mengenai berita itu. Dan kabarnya arash akan mengajak wanita itu keacara arsya.
.
.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam eh mas ghaisan. Masuk mas. Mbak malika ada di taman belakang"
"Makasih bi. Ghaisan ke taman dulu"
Ghaisan sengaja datang kerumah malika tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Malika kembali sulit ditemui setelah mereka bertemu untuk makan siang terakhir kali satu minggu yang lalu.
"Jadi dia hanya anak magang"
"___"
"Baiklah makasih informasinya. Bayaran loe gue transfer"
Malika sedang melakukan panggilan dengan seseorang yang dia bayar untuk mencari informasi tentang malika. Ghaisan sempat mendengar sedikit pembicaraan malika. Namun dia akan diam tak ingin menanyakan apapun kepada malika.
"Assalamualaikum"
Malika menoleh karena mendengar seseorang mengucapkan salam. Dan dia sangat hafal dengan suara dan parfum itu.
"Waalaikumsalam. Kak sudah lama"
"Belum sayang baru aja kok. Kamu sedang apa disini sayang"
"Cari angin aja kak. Tumben kakak kesini gak ngasih kabar"
"Surprise. Biar kamu gak menghidar lagi sayang"
"Wah selamat sayang. Aku diundang enggak nanti"
"Ya jelaslah. Kan tamu istimewa"
"Ah tersanjung jadinya"
"Kakak ada yang mau dibicarain sama aku. Karena kakak gak mungkin kan kesini cuma iseng"
"Jadi aku gak boleh gitu main kesini tanpa ada tujuan"
"Bolehlah. Tapi seorang ghaisan mahardika gak mungkin gak ada maksud datang kesini"
"Haha kamu selalu membuat aku kalah sayang"
"Hehe. Ada apa"
"Aku ada tawaran kerjasama di jerman bulan depan sayang dan itu dalam waktu yabg cukup lama"
"Wah hebat kakak go internasional. Tapi bukannya bulan depan Kak Arsya nikahan ya. Berarti kakak gak datang"
"Datang dong. Kakak sepupu dekatnya gak mungkin absen bisa digantung atuk nanti hahaha"
"Terus kakak berangkat setelahnya gitu"
"Iya tiga hari setelah arsya menikah sayang"
"Ouh gitu. Berapa lama kak"
"Empat tahun"
"Lama juga ya"
"Iya. Dan aku ingin kamu ikut denganku sayang"
"Maksud kakak"
"Sayang, aku ingin kita menikah sebelum aku pergi ke jerman dan aku akan membawamu ke jerman"
Malika diam tak bisa mengatakan apapun. Dia sedang memikirkan cara untuk kembali menolak lamaran ghaisan. Belum juga malika menjawab sang opa yang tiba-tiba datang langsung memberi menjawaban.
"Opa setuju dengan perkataan ghaisan. Dan opa akan tenang setelah melihat kalian menikah"
"Opa apa kabar"
"Baik nak"
Malika masih membisu. Saat ini yang terlintas dikepalanya hanya memberi jawaban yang kembali mengulur waktu. Itu membuat ghaisan kembali kesal. Bahkan opanya juga sangat marah.
"Maaf malika belum memiliki jawaban"
"Apa lagi yang perlu kamu pikirkan malika. Kalian sudah tunangan tiga tahun lamanya. Sekarang ghaisan ingin memperjelas hubungan kalian, kamu kembali mengulur waktu. Apa yang kamu inginkan nak"
"Malika belum siap berkomitmen lebih jauh kek"
"Dengan menggantungkan perasaan ghaisan. Kamu egois malika. Opa tidak suka kamu seperti itu. Ingat jika kamu memang tak menginginkan ghaisan lepaskan segera jangan menyiksanya seperti ini"
"Malika bukannya tidak ingin menikah dengan kak ghaisan hanya saja malika belum siap kek. Malika takut kak ghaisan kecewa"
"Tak sadarkah kamu malika. Kamu pun saat ini sudah kembali mengecewakannya. Opa pun kecewa"
Opa malika pergi meninggalkan sepasang kekasih yang masih terombang - ambing dalam kisah cintanya.
"Apalagi yang membuatmu belum siap mal"
"Kak beri aku waktu lagi"
"Apakah tiga tahun belum cukup untuk kamu berfikir mal"
"Kak..."
"Coba kamu tanyakan kedalam hatimu paling dalam sebaiknya jalan apa yang kita ambil. Mal aku juga punya batas kesabaran. Jangan salahkan aku jika saat yang kamu inginkan ternyata aku sudah berpaling dari hatimu. Assalamualaikum"
"Kakk.."
"Waalaikumsalam"
Ghaisan sangat kecewa. Dia pergi meninggalkan rumah malika dengan rasa kecewa yang teramat dalam. Lagi dan lagi malika membuatnya terluka.
Akhirnya tiba acara besar keluarga Malik. Pernikahan Arsya. Mereka tampak sangat bahagia. Ghaisan menjadi salah satu pengiring pengantin bersama malika. Awalnya dia sangat semangat, namun setelah pertengkarannya waktu itu hingga saat pernikahan arsya mereka masih tidak berbicara.
Dimalam yang sama keluarga malik juga mengumumkan pertunangan Arash yang tidak diliput media. Ghaisan fokus memperhatikan raut wajah sang tunangan yang nampak tak suka mendengar bwrita itu. Ghaisan pun membatalkan rencana melamar malika saat resepsi arsya.
"Abang kapan nih undangan dicetak"
"Nanti juga kamu akan tau chil. Eh mana pangeran kodok kamu hahaha"
"Apaan sih gak lucu ah. Chila jomblo"
"Wuih jomblo ya kasian kasian kasian hahaha"
Kedatangan chila diantara dirinya dan malika yang sedang perang dingin begitu menyelamatkannya. Tak lama pembawa acara memanggil arash dan icha untuk menyumbang sebuah lagu. Malika terkejut. Selama dia menjalin hubungan dengan arash tak pernah sekali saja arash mau bernyanyi.
"Wuih abang arash mah the best"
"Mereka cocok ya chil"
"Banget bang ichan. Bang arash lebih berekspresi sekarang. Apalagi kak icha yang konyol bisa mengimbangi sikap dingin abang"
"Mereka memang beejodoh"
Perkataan ghaisan sengaja penuh penekanan agar malika tersadar siapa yang saat ini mengambil hati arash. Malika hanya diam menatap kearah panggung.
Malika sengaja berjalan mendekati Icha yang sedang berdiri bersama Jasmine dan Melany. Malika sangat cemburu karena dengan mudahnya icha merebut hati Jasmine dan Melany. Dia dulu butuh waktu berbulan-bulan untuk dekat.
"Hai icha"
"Eh kak malika"
"Kok sendirian gak bareng arash"
"Oh mas arash lagi sama teman-temannya. Icha capek jadi disini dulu"
"Oh gitu"
"Kakak sendiri gak sama kak ghaisan"
"Oh ghaisan lagi ke toilet"
"Hmmm gitunya"
Sebenarnya icha sangat canggung jika berdua dengan malika. Karena beberapa kali saat mereka bertemu dan hanya berdua, malika selalu membahas masalalunya bersama arash yang terkadang dilebih-lebihkan.
"Oya gue mau ngasih selamat atas pertunangan loe sama arash. Kok gue gak tau ya"
"Makasih kak. Masa sih kakak gak tau padahal kak ichan aja datang"
"Iyakah. Oh mungkin gue lagi di luar kota. Maklum gue sibuk"
"Mungkin kak"
"Oya kalau uda nikah sama arash, jangan bikin dia kecewa. Arash juga gak suka dibohongi. Satu lagi arash gak suka cewek manja"
"Begitu ya kak. Makasih banget ya uda ngasih tau icha. Kakak gak usah khawatir icha bisa kok jaga mas arash"
"Bagus dong kalau kayak gitu. Jadi hubungan kalian akan aman dari pelakor"
"Pelakor ya kak"
"Iya pelakor. Loe kalau gak pengen arash direbut pelakor loe harus bisa jaga arash dengan baik"
"Sebenarnya pelakor itu ada karena adanya peluang dari si pria. Tapi karena pria icha itu limited edition, Icha gak akan takut. Sante aja kak icha punya jurus jitu melenyapkan pelakor atau apalah itu"
Melihat arash mendekat kearah icha. Malika berubah sikapnya. Agar seolah dia selalu bagus dimata arash. Ghaisan yang melihat itu semakin muak.
"Sayang maaf lama. Yuk jalan"
"Siap masku. Kemana kita"
"Kamu maunya kemana"
"KUA"
"Ayo siapa takut"
Malika yang melihat kemesraan arash kepada icha membuatnya semakin panas. Icha berpamitan kepada malika dan pergi mengikuti langkah arash.
"Kamu beda rash. Kamu gak sehangat itu ke aku dulu. Apa benar dialah cinta sejatimu"
_________
Masih part malika ya mak....
jangan lupa jempol
Happy reading