
Flashback on
"Mama ada yang lihat ujangggg"
Ghaisan berteriak didalam selimutnya. Malu, itu jelas. Pusaka abadinya nampak jelas dihadapan Arumi. Bahkan cukup lama mereka saling mematung. Ponsel Ghaisan berdering. Panggilan dari Atuk Syakir tertera disana.
"Assalamualaikum Atuk"
"Waalaikumsalam. Apa kabar cucu Atuk"
"Alhamdulillah baik. Atuk gimana"
"Sehat. Sehat. Dan akan lebih sehat lagi kalau lihat kamu menikah"
"Ck. Tuk. Janjinya kan masih empat bulan lagi"
"Sepertinya Atuk berubah fikiran. Jika awal bulan kamu belum mendapatkan jodoh, maka kamu harus siap dengan gadis pilihan Atuk"
"Loh kok dimajuin tuk. Atuk gak asyik"
"Gak ada penolakan. Atuk tunggu awal bulan. Assalamualaikum"
"Tapi tuk"
Tut Tut
"Waalaikumsalam"
"Huh. Sepertinya gue harus segera menemukan pasangan nih. Ogah gue dijodohin sama cewek gak jelas itu"
Ghaisan memakai pakaiannya sambil berfikir. Entah setan apa yang merasuki Ghaisan. Terlintas Arumi dipikirannya.
"Biarlah dia ceroboh. Lagian baru dia yang lihat Ujang. Mana dalam kondisi sedikit bangun lagi. Akhhh Ujang kenapa loe pake bereaksi segala sih tadi. Mau taruh dimana muka gue Ujang"
"Hmm sepertinya memang harus dia jadi pacar gue. Bismillah. Ya Allah jika memang dia jodoh ku permudahlaah walaupun cara yang hamba lakukan tak benar"
Flashback off
Itulah awal mula mengapa Ghaisan langsung mengklaim Arumi sebagai kekasihnya. Dan berubah menjadi tunangan karena Ghaisan ingat Arumi tidak ingin berpacaran lagi. Ghaisan pun mulai menata hati menerima Arumi. Dan dia juga akan menemui oramgtua Arumi sebagai bukti keseriusannya.
Saat ini Ghaisan hanya bersama Arumi berada dirumah sakit. Arumi yang masih tak percaya akan status dadakannya masih bingung dalam bersikap.
"Pak. Eh mas. Gak mau ngabarin keluarga dirumah"
"Gak usah. Kan ada kamu yang merawat kulit. Itung-itung belajar jadi istri yang sholehah"
"Hah. Istri. Siapa pak eh mas"
"Ya kamulah. Siapa lagi coba. Kan kamu yang jadi calon istri saya"
"Pak. Eh mas. Rumi penasaran deh. Kenapa tiba-tiba bilang Rumi calon istri mas. Padahal kan mas gak suka sama Rumi karena ceroboh"
"Karena kecerobohan kamu itu membuat saya menjadikan kamu tunangan saya"
"Kok bisa"
"Kamu sudah melihat Ujang. Dan satu-satunya wanita yang melihat Ujang hanya kamu. Kasian dong kalau oranglain yang menjadi istri saya. Ujang udah gak suci lagi"
"Ujang siapa"
"Huh. Pusaka berharga saya. Senjata masa depan"
"Senjata masa depan..."
Arumi berfikir sejenak mencerna perkataan Ghaisan. Dan pikirannya langsung tertuju pada sesuatu yang pagi tadi dilihatnya tanpa sengaja.
"Akhhh. Saya kan gak sengaja"
"Gak sengaja tapi gak mau berpaling juga kan. Lama loh kamu lihat si Ujang. Gimana seksi kan"
"Akhhh. Stop jangan bahas lagi. Dasar mesum"
"Aku gak bahas sayang. Cuma mengingatkan. Kalau kesucian ku telah kau renggut. Jadi aku minta pertanggung jawaban kamu"
"Kok. Gitu. Kan gak diapa-apain juga. Masih utuh"
"Tapi kamu sudah melihatnya. Sama saja"
"Itu berarti aku dong yang dirugikan"
"Rugi. Apanya yang rugi"
"Ya rugilah. Dipaksa menikahi anda"
"Apa ruginya coba. Menikah dengan saya itu dambaan banyak wanita loh. Dan kamu yang beruntung"
"Akhhh. Menyebalkan. Jangan kepedean dulu. Saya belum menerima bapak"
"Saya gak peduli. Kan dari sela saya bilang. Tidak ada penolakan. Kamu adalah calon istri saya. Tidak bisa diubah"
"Tetap gak sah. Bahkan kedua orangtua kita saja tidak saling mengenal"
"Itu masalah gampang. Malam ini juga aku akan hubungi orangtua ku. Dan meminta mereka datang kerumah kamu untuk melamar kamu. Gimana"
"Hei. Gila-gila gini aku calon suami kamu. Jadi cobalah untuk menerimanya"
"Bodo"
Arumi berusaha sebisa mungkin untuk menahan emosinya. Namun tetap saja tidak bisa. Ghaisan memilih memejamkan matanya kembali. Karena dia benar-benar pusing. Hasil tes laboratorium mengatakan Ghaisan terkena typus dan harus dirawat selama beberapa hari.
Arumi mau tak mau juga harus tinggal menjaga Ghaisan. Apalagi Ghaisan sudah mengatakan kepada teman-temannya yang saat ini ikut bertugas diluar kota sebagai tunangan Ghaisan. Arumi menyangkal seperti apapun, mereka tetap percaya pada Ghaisan.
Salah satu teman Arumi datang membawakan pakaian dan makanan untuk Arumi. Dan juga berniat menemani Arumi. Namun Ghaisan menolak. Ghaisan hanya ingin Arumi saja yang menjaganya.
"Hmmmm. Mah. Mah"
Tengah malam Ghaisan merintih pelan. Arumi yang memang masih terjaga sempat terkaget mendengar rintihan itu. Arumi berdiri dan mencoba memeriksa kondisi Ghaisan.
"Masih panas. Apa obatnya tidak bekerja"
Arumi mencoba mencari perawat yang sedang berjaga malam itu. Arumi takut jika terjadi sesuatu dengan Ghaisan karena pasti dia orang pertama yang akan dimintai pertanggungjawaban.
"Bagaiman sus"
"Oh ini gapapa bu. Memang reaksi obat terhadap tubuh pasien itu berbeda. Dan mungkin suami ibu termasuk yang sedikit lambat dalam merespon reaksi obat tersebut"
"Oh jadi ini wajar ya sus"
"Iya. Kecuali jika nanti pasien kejang. Ibu bisa langsung memanggil kami kembali"
"Baik. Makasih ya sus"
"Sama-sama"
Arumi memilih duduk ditepi ranjang Ghaisan. Dia takut jika terjadi sesuatu dan tidak mengetahuinya. Arumi masih memeriksa laporan yang harus dia susun.
"Mah. Mama"
Ghaisan kembali mengigau memanggil namanya. Arumi tersenyum melihat Ghaisan yang lemah dan terus memanggil mamanya.
"Penampilan garang tapi hatinya hello Kitty"
Tiba-tiba tangan Ghaisan meraih telapak tangan Arumi yang berada ditepi ranjang. Dan menarik kearah dadanya. Telapak tangan itu digenggam erat oleh Ghaisan.
"Mah. Temani Ichan mah"
"Ichan. Manis sekali panggilannya. Ichan"
"Mah. Mama"
Karena tak tega, Arumi pun berpura-pura menjadi mana Ghaisan agar Ghaisan bisa tenang dan tidak mengigau lagi.
"Iya. Ini sudah ditemani. Bobok ya"
"Hmm"
Ghaisan sudah tidak mengigau lagi. Arumi ingin sekali tertawa melihat Ghaisan dalam kondisi lemah seperti tadi. Dia benar-benar tak menyangka jika bos super juteknya itu adalah anak mama. Jika sakit merintih mencari mamanya.
Arumi yang lelah ingin sekali merebahkan tubuhnya disofa. Namun tangan Ghaisan sangat erat menggenggam tangannya. Arumi memilih merebahkan kepalanya ditepi ranjang. Hingga benar-benar terlelap.
"Hmmm"
Ghaisan tersadar dari tidurnya kala mendengar adzan subuh berkumandang. Ghaisan melihat telapak tangan yang ada didalam genggamannya.
"Aduh. Semalam pasti gue ngigau nyariin mama. Akhhh dua kali gue dibuat malu didepan dia"
Ghaisan memang tau kebiasaannya jika sedang sakit. Karena sang mama dan papa selalu mengoloknya jika dia sedang sakit. Bahkan kedua adiknya pun juga ikut mengoloknya. Karena hanya Ghaisan yang begitu manja jika sakit.
"Rumi. Rum. Bangun"
"Hmm. Bentar mah. Masih ngantuk"
"Mah. Dia kira gue emaknya kali"
Arumi hanya merubah arah kepalanya yang tadinya membelakangi Ghaisan menjadi menghadap ke Ghaisan. Ghaisan menatap wajah Arumi yang tertidur diatas telapak tangannya. Tapi tiba-tiba...
"Arumi. Bangun"
"Bentar mah"
"Saya bukan mama kamu Arumi. Cepat bangun"
Arumi masih tak bergeming. Ghaisan meraih ponsel miliknya diatas nakas dan mengambil gambar Arumi saat tertidur.
"Cantik-cantik kok ileran"
_______
Ileran juga loe mau kan dakocan.....
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading