
"Bagas ingat jangan kamu menyentuh menantu mama dulu. Karena lusa kalian baru akan melakukan resepsi kedua. Mama gak mau menantu kesayangan mama jalan kayak pinguin"
"Ya gak bisa gitu dong mah. Chila kan uda sah jadi istri bagas. Masa masih dilarang-larang"
"Pokoknya gak ada penolakan. Atau kalau perlu malam ini chila tidur sama mama aja. Biar bagas sama papa"
"Big noooooo. Kalian kenapa mau nyabotase istri bagas"
"Demi kesalamatan chila"
"Apa bagas semenakutkan itu"
"Kamu itu serigala berbulu kelinci. Sekarang aja gak buas tapi nanti saat chila satu kamar dengan kamu, mama yakin monas kamu gak akan terkendali"
"Maaaa"
"Mama bener bagas. Monas kamu iti semedi di gua kehampaan selama dua puluh lima tahun. Jadi chila dalam bahaya"
"Uda sabar aja dulu. Unboxing bisa kapa. aja kan udah sah"
"Tapi chila jangan dibawa pergi juga mah. Masa bagas tidur sama terong usang"
"Enak aja terong usang. Walaupun sudah usang tapi sudah teebukti hasilnya. Dari pada kamu papa belum yakin tuh monas gak ngiler lihat chila"
Chila hanya menonton perdebatan mertua dan suaminya itu. Dia baru sedikit mengenal lebih jauh keluarga gautama yang ternyata tak jauh beda sama keluarganya.
"Gue berharap bisa dapat keluarga yang sedikit normal. Ternyata tak jauh beda sama keluarga gue"
"Chila sayang kamu mau kan tidur sama mamah selama dua malam"
"No baby. Kita sudah sah baby kamu harus nemenin aku. Masa baru sah udah pisah ranjang. Amit amit deh"
"Gimana chila mau tidur sama siapa"
Chila melihat wajah suaminya yang memohon. Dan wajah penuh harap ibu mertuanya. Sebenarnya chila sangat ingin menghindari bagas karena dia gugup. Namun chila mengingat kata mommynya agar terus patuh apa kata suami. Jangan pernah membuatnya kecewa. Karena setelah ijab qabul semua tanggung jawab chila berpindah pada bagas.
"Mah biarkan chila tetap tidur dengan bagas. Biar bagaimanapuj bagas adalah suami chilla. Chila wajib mematuhinya. Chila gak mau jika suami chila tidak ridho dengan chila"
Bagas yang bahagia karena istrinya sangat memihak dirinya langsung memeluk tubuh chila. Chila yang mendapat perlakuan seperti itu masih sedikit gugup.
"Istri sholehah. Yuk ke kamar"
"Eleh awas aja kalau chila sampe gak bisa jalan"
"Tenang mah gak akan seperti itu"
Bagas membawa chila ke kamar miliknya. Sebenarnya harus menginap dirumah mertuanya, namun karena rumah Arka padat dengan saudaranya. Bagas tak mau diganggu saat bersama sang istri. Oleh sebab itu bagas membawa chila kerumahnya.
"Silahkan masuk istriku"
"Wow kamar kamu rapi banget hon"
"Tentu karena suka kerapian dan sekarang ini kamar kamu juga baby"
Chila berjalan melihat isi kamar Bagas. Ada satu spot yang membuat Chila kaget dan terharu. Disana Bagas meletakkan sebuah rak sudut berisi foto-foto dirinya dan Bagas masa sekolah dulu.
"Ini.."
Bagas mendekat dan memeluk tubuh Chila dari belakang. Dan meletakkan dagunya diatas pundak sang istri.
"Dia kekasih masa kecilku. Orang yang mengunci hatiku sejak pertama kali bertemu"
"Benarkah"
"Memanh itulah kenyataannya. Demi mendapat perhatian dari dia, aku selalu menjahilinya. Membuatnya marah adalah hal terindah bagiku"
"Jahat sekali. Kenapa tidak mendekati dengan cara yang baik saja"
"Sudah lupa. Awal aku kenalan sama kamu saat kamu nolongin aku. Sebenarnya aku sengaja jatuh dan dibully agar bisa kenalan sama kamu. Eh gak taunya kamu cuek banget. Jadilah aku jahili"
"Hmm menyebalkan"
"Sayang kamu mandi sana terus istirahat. Aku ada kerjaan bentar"
"Baiklah. Koperku dimana"
"Oh sebentar aku ambilkan"
Bagas keluar mengambil koper milik Chila. Chila duduk didepan meja rias yang nampak masih baru karena plastik pembungkus masih menempel dikedua sisi bingkai kacanya.
"Sayang ini koper kamu"
"Makasih hon. Oya meja ini baru ya hon"
"Iya itu baru datang kemarin. Khusus untuk istriku tercinta"
"Makasih ya uda disiapin ini semua"
"Itu sudah kewajibanku sayang membuatmu nyaman dan bahagia hidup bersamaku"
Chila membuka satu persatu jarum yang tersemat diatas kepalanya. Jarum yang digunakan untuk mengunci setiap hiasan hijab milik Chila.
"Tidak usah. Kamu mandi saja dulu hon"
"Ya sudah. Tadi aku kira kamu duluan yang mau mandi sayang"
"Gak bisa ini agak ribet lepasnya"
"Makanya sini aku bantuin terus kita mandi bareng"
"No belum saatnya kita mandi bareng"
"Terus kapan dong sayang"
"Kapan-kapan"
"Koes plua dong"
"Udah ih sana mandi terus istirahat"
"Siap nyonya bagas"
Bagas langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan chila masih melepas hijabnya satu persatu.
"Huh akhirmya bebas juga. Empet banget rasanya"
Chila membuka kopernya menyiapkan pakaian dan peralatan mandinya. Dia lupa untuk kembali menggunakan hijab. Rambut panjangnya tergerai bebas. Bagas yang sudah selesai mandu dan menggunakan piama, terkejut melihat seseorang yang berjongkok membelakanginnya dan menggunakan gaun putih panjanh menjuntai. Karena Chilla sudah mengganti gamis pestasnya dengan gamis biasa dan berwarna putih polos.
"Jangan bilang itu kuntilanak"
Bagas berkata dalam hatinya. Chila masih sibuk mengambil pakaiannya. Bagas mendekat perlahan.
"Kamu siapa, Kenapa kamu masuk kamar saya"
Chila yang mendengar perkataan itu hanya bisa mengeryitkan dahi. Apa suaminya ini memiliki penyakit amnesia dadakan hingga lupa jika sudah memiliki istri.
"Hei jawab pertanyaan saya. Kamu siapa"
Bagas sedikit membentak. Bagas sebenarnya sedikit takut. Dari belakang dia terus mengamati sang istri. Bagas bergumam pelan namun dapat didengar oleh chila. Ide jahil pun terlintas diotak chila untuk mengerjai Bagas.
"Dia melayang gak sih"
"Jadi dia kira vue valak. Lihat aja apa yang akan gue lakuin ikan buntal"
"Ihhiihihihi"
"Astagfirullahhaladzim. Se setan kamu se se setan ya"
"Ihihihihihi. Aku mau kembang. Aku lapar"
"Pergi kamu dari sini. Pergiii"
Bagas meloncat kearah sofa dan duduk disudutnya. Chila mengambil sheet mask dari dalam koper dan langsung memakainya. Chila memajukan rambutnya untuk menutupi wajahnya. Dia berdiri perlahan dan berbalik. Chila berjalan mendekati bagas sambil menunduk dan mengeluarkan suara mengerikan. Membuat bagas semakin takut dan menutup wajahnya dengan handuk.
"Minggir minggir. Pergi sana pergiiiii"
"Aku mau kamu. Kamu"
"Gue uda nikah bini gue galak"
Chila melotot mendengar ucapan bagas tentang dirinya.
"Oh jadi gue galak"
"Pergi darah sama daging gue pahit banyak racunnya"
"Aku mau sama kamu"
"Gue setia sama bini gue. Pergi loe cepetan pergi. Gue mau malam pertama ini"
"Gak mau. Aku mau kamu antar pulang aku"
"Gue gak ngundang loe. Loe pulang sendiri. Gue kasih ongkos"
"Gak mau. Kamu yang udah ngajak aku kesini"
"Gue gak ngajak loe. Pergiiii cepetan sana. Pergiiii"
Chila terus mendekati sang suami yang semakin ketakutan itu. Tak lama tercium bau yang sangat menyengat. Chila sedikit mendongak dan mengintip kearah sang suami. Sofa itu sudah basah.
"Hah ngompol. Sumpah dia ngompol. Sungguh terlalu"
"Kan gue jadi pipis. Kamu sih kun gak mau pergi"
_______
Dasar Chilla suami sendiri dikerjai
Jangan lupa jempol
Happy reading