
Waktu terus berjalan tanpa terasa Arumi saat dah mulai pulih seperti bsedia kala. Hanya saja penglihatannya memang masih tahap penyembuhan. Dia bisa melihat, namun terkadang akan tampak buram. Itu adalah hal yang normal. Tak terasa pernikahan Arumi dan Ghaisan memasuki bulan ke tiga. Dan selama itu Arumi belum menjadi istri sepenuhnya bagi Ghaisan. Dan Arumi juga belum mengetahui tentang Aruna.
Sedangkan Thomas sudah dibawa kembali ke negara dia berasal oleh kedua orangtuanya. Thomas sempat menemui Arumi. Yang awalnya dia sangat kaget mengetahui Arumi kakak Aruna. Thomas dibawa pergi dengan menandatangani surat perjanjian untuk tidak kembali mengusik kehidupan keluarga Aruna. Dan tidak diijinkan untuk memasuki negara ini lagi.
Thomas meminta satu keringanan kepada keluarga Malik dan Wijaya agar tetap diijinkan mengunjungi makam Aruna saat dia merasa merindukan kekasihnya itu. Ghaisan dan Arumi menyetujui asal saat berada disini akan diberikan pengawalan khusus dari keluarga Malik dan tidak boleh lebih dari tiga hari. Karena Ghaisan bisa melihat jika untuk saat itu tatapan mata Thomas pada Arumi, masih menganggap Arumi adalah Aruna. Ghaisan hanya berjaga-jaga saja.
Ghaisan saat ini sedang duduk santai bersama Arumi ditaman belakang rumah mereka. Menemani Arumi menonton video saat pernikahan mereka yang tanpa kehadiran Arumi. Arumi sampai meneteskan air mata.
"Hei kenapa menangis. Jangan nangis sayang"
"Maaf ya. Karena aku yang ngeyel jadi mas berdiri sendiri dipelaminan"
"Sudah jangan dibAhas lagi. Semua itu takdir. Dan sekarang kita jalani apa yang dihadapan kita saat ini. Biarkan semua menjadi kenangan sayang"
"Iya mas"
"Hemm. Sayang kamu pengen diulang lagi resepsi kita"
"Sepertinya tidak usah resepsi lagi mas. Gimana kalau kita syukuran saja dan membuat foto pernikahan"
"Okey. Laksanakan nyonya Ghaisan"
"Hahaha. Dasar bos jutek"
"Itu kalau dikantor. Dirumah kan gak"
"Hehehe. Ya begitulah"
Ghaisan merasa ini saat yang tepat untuk dirinya mengatakan tentang Aruna. Melihat kondisi fisik dan mental Arumi yang sudah semakin membaik.
"Sayang. Sore nanti aku akan mengajak kamu kesuatu tempat"
"Kemana mas"
"Nanti kamu akan tahu sayang. Dan aku minta kamu kuatkan hatimu"
"Ada apa sih mas"
"Gapapa. Hanya saja aku akan mengajakmu menemui seseorang yang spesial"
"Spesial. Siapa. Jangan bilang kamu punya pacar lain mas. Atau malah istri lain"
"Ada aja. Kita lihat nanti"
Rumi diam mencoba mencerna perkataan sang suami. Seseorang yang spesial selain dirinya. Arumi tetap berfikir positif. Karena seingat Arumi, selama mereka kenal. Ghaisan tak pernah membawa perempuan kecuali sang adik.
Sore menjelang. Usai melaksanakan kewajiban sebagai seorang umat, Ghaisan mengajak Arumi pergi mengunjungi seseorang.
"Sudah siap sayang"
"Sudah mas"
"Yuk berangkat sayang"
"Kemana sih mas. Bikin penasaran saja"
"Rahasia. Yuk"
Ghaisan merangkul pundak Arumi. Mereka menggunakan pakaian serba putih. Arumi masih penasaran kemana Ghaisan akan membawanya pergi. Ghaisan berhenti disebuah toko penjual bunga.
"Mampir bentar ya"
"Mau beliin siapa mas"
"Orang yang akan kita kunjungi sayang"
"Mama ya. Atau Mama Qilla"
"Mama Qilla maunya bunga bank sayang. Bukan bunga ini. Hahaha"
"Mama aku juga. Hahaha"
"Kamu tunggu sini dulu. Aku beli bunga bentar"
Ghaisan turun dari mobil dan masuk kedalam toko bunga. Arumi hanya memperhatikan dari balik jendela mobil. Ghaisan tak lama didalam toko. Buket bunga lily putih sudah berada didalam pelukan Ghaisan. Ghaisan kembali masuk kedalam mobil.
"Sudah mas"
"Sudah"
Arumi menatap bunga itu. Dia teringat Aruna. Aruna sangat menyukai lily berwarna putih. Rumi pun mencoba menanyakan kepada Ghaisan siapa orang yang akan mereka kunjungi.
"Bunganya ini kesukaan orang yang akan kita datangi mas"
"Iya dia suka lily putih"
"Seperti Runa"
Mendengar nama Rina disebut oleh Rumi. Ghaisan sempat menengok kearah Arumi. Melihat wajah sang istri sedikit sendu.
"Kenapa Runa gak pernah ngabarin kita mas"
"Nanti Runa juga ngabarin kok sayang"
Ghaisan hanya bisa tersenyum kecut melihat betapa rindunya sang istri pada adik kembarnya. Mobil Ghaisan sudah memasuki area pemakaman umum. Arumi kaget melihat Ghaisan membawanya ke area pemakaman.
"Siapa yang dimakamkan disini mas"
Ghaisan hanya tersenyum dan tak bisa mengatakan apapun. Ghaisan memakirkan mobilnya didekat blok area pemakaman Aruna.
"Yuk sayang"
Ghaisan membukakan pintu mobil untuk Arumi dan menggandeng tangannya. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di area pemakaman. Jangan tanyakan lagi apa yang sekarang Ghaisan rasakan. Semua campur aduk. Sedangkan Arumi masih belum mengetahui siapa yang akan Ghaisan kunjungi.
Tiba didekat nisan Runa, Ghaisan makin mengeratkan genggaman tangannya. Nisan Aruna masih belum terbaca oleh Arumi karena jarak pandang mata Arumi masih belum begitu baik.
"Sayang kita sudah sampai"
"Disini mas"
"Iya sayang. Hmm mas minta kamu yang tabah sayang"
"Tabah..."
Ghaisan menuntun Arumi perlahan untuk berjongkok didepan nisan Aruna. Ghaisan sudah memeluk pundak sang istri. Mata Arumi perlahan mulai bisa melihat nama nisan dihadapannya.
"Aruna. Ini Runa. Ini mimpikan sayang"
"Sabar ya sayang. Ikhlaskan runa"
"Runa. Gak mungkin ini bohong. Ini bohong"
"Ikhlas sayang"
"Runnnnnnaaaaa"
Arumi nangis sejadi-jadinya. Bahkan hampir pingsan. Ghaisan terus mencoba menguatkan Arumi agar bisa menerima dengan ikhlas.
"Sayang Aruna sudah tak merasakan sakit lagi sekarang. Kita doakan yang terbaik untuknya"
Arumi masih menangis. Dia masih tak percaya adik kembarnya sudah tiada. Ghaisan mencoba membujuk Arumi agar mau pulang.
"Sayang ayo kita pulang. Tak baik meratapi Arumi. Biarkan dia tenang. Kita pulang ya"
Ghaisan mencoba mengangkat tubuh sang istri. Arumi ingin melawan. Namun tubuh Arumi sudah tak memiliki daya kekuatan apapun. Seluruh tubuhnya telah lemas tak berdaya.
Ghaisan membawa Arumi kembali kedalam mobil. Arumi masih menatap tempat peristirahatan terakhir sang adik. Jika dia memiliki kekuatan lebih, ingin rasanya dia kembali berlari mendekati makam Aruna.
Dalam perjalanan Arumi tertidur karena lelah menangisi sang adik. Ghaisan melepaskan jaketnya dan menyelimuti tubuh Arumi dengan jaket tersebut. Arumi sedang hanyut dalam dunia mimpi bersama Aruna.
"Hai kakak"
"Aruna"
"*Apa kabar. Kakak baik-baik saja kan disana"
"Runa. Kita pulang ya"
"Rumah Runa sekarang disini kak. Indah kan"
"Aruna loe harus pulang sama gue. Ayo kita pulang"
"Kak. Dengarkan Runa. Runa sudah bahagia disini. Kakak juga harus bahagia. Jangan lagi menangisi Aruna. Aruna minta kakak ikhlaskan Aruna"
"Runa. Kenapa loe pergi. Kenapa loe gak mau menemani kakak"
"Runa gak pergi kok. Runa masih ada dihati Kakak. Runa akan selalu menjaga kakak. Kakak pulang ya. Aruna harus pergi. Jangan sedih lagi kak. Kakak harus bahagia. Seperti Runa yang sudah bahagia disini. Bye kakak. Assalamualaikum"
"Arunnnnaaaaaa*"
"Arunnaaaa. Hosh hosh"
Ghaisan kaget mendengar sang istri berteriak memanggil nama Aruna. Bahkan keringat sudah membasahi wajah Aruna.
"Sayang. Istighfar Sayang"
"Astaghfirullahhaladzim"
"Ini minum dulu sayang"
Ghaisan membuka tutup air mineral yang dia bawa dari rumah dan memberikan kepada Arumi.
"Aruna mas"
"Yang ikhlas sayang. Runa sudah bahagia disana"
"Apa yang terjadi mas. Kenapa Aruna pergi begitu cepat"
"Kita akan kerumah papa Wijaya sayang. Nanti papa akan menjelaskan semuanya. Ada sesuatu yang Aruna titipkan untuk kamu sayang"
________
Happy reading
jangan lupa jempolnya gaesss