
"Pah. Mah. Ichan malam ini gak pulang. Ichan mau keluar kota meninjau pembangunan di kota J"
"Berapa lama bang"
"Satu minggu paling lama pah"
"Oke. Jaga kesehatan bang. Mama lihat akhir-akhir ini Abang sering begadang"
"Iya mah. Banyak kerjaan"
"Jangan terlalu diforsir bang. Apa lagi yang ingin kamu capai. Sudah cukup jangan memaksa"
"Ichan gak maksa kok pah. Ichan juga mengikuti arus saja"
"Yang penting ingat kesehatan bang"
"Iya pah. Oya Naomi kapan pulang pah"
"Adik kamu gak mau pulang katanya bang. Mau hidup di Jerman. Apalagi mommy jojo merasa terbantu ada adik kamu disana"
"Huh. Bakalan dapat mantu bule pah"
"Hahaha. Gapapa bang biar beda"
Usai sarapan pagi, Ghaisan bergegas memasukan koper kedalam bagasi mobilnya. Hari ini Ghaisan memilih diantar oleh supir. Agar mobil miliknya tidak perlu menginap diperusahaan.
Ghaisan memang akan berangkat usai makan siang nanti. Mala sudah menyiapkan semua berkas yang harus dibawa ke kota J. Semua Mala serahkan kepada Arumi. Awalnya Arumi menolak, namun ancaman Ghaisan membuatnya takut. Dan memilih ikut.
"Mala"
Mala bergegas meninggalkan pekerjaannya dan menuju ruangan Ghaisan. Meninggalkan Arumi yang sedang menyusun berkas didalam laptop miliknya.
"Ada yang bisa saya bantu"
"Tolong kamu lihat untuk jadwal bulan depan sudah ada jadwal meeting belum"
"Baik pak. Saya coba periksa dulu"
"Hmm"
Mala membuka buku agenda yang selalu dia bawa. Dan memeriksa jadwal Ghaisan yang sudah masuk.
"Sudah ada tiga meeting terjadwal dan juga kunjungan berkala untuk retail yang berada di kota S pak selama tiga hari"
"Berarti sama masih ada beberapa waktu yang free"
"Benar pak"
"Tolong kamu atur jadwal saya sekitar satu minggu. Saya akan pergi ke Jerman"
"Baik pak. Maaf pak saya juga mau mengingatkan. Visa dan pasport bapak belum diperpanjang kembali"
"Kamu urus sekalian"
"Baik pak. Masih ada lagi pak"
"Sudah tidak ada. Ingat ajari asisten pengganti kamu dengan benar. Awas ceroboh"
"Baik pak. Saya permisi"
"Hmm"
Arumi masih menyusun perlahan data-data dari Mala. Mala kembali kemejanya mencari visa dan pasport milik Ghaisan yang memang lebih sering ditinggal di kantor. Ghaisan terkadang lupa untuk memperpanjang masa berlaku visa dan paspor miliknya. Terutama visa miliknya. Visa Schengen hanya memiliki masa berlaku 90 hari semenjak disetujui masa perpanjangannya.
"Nyari apa mbak"
"Paspor sama visa pak bos"
"Emang mau kemana pak bos"
"Mudik"
"Mudik. Kemana pake paspor sama visa segala"
"Memangnya kamu gak tau asal si bos"
"Nggak mbak"
"Jangan-jangan kamu juga gak tau siapa pak bos"
"Ya taulah bos jutek"
"Bukan itu. Maksud saya. Siapa keluarga pak bos"
"Pak Mahendra kan. Pemilik perusahaan ini"
"Kamu tau siapa pak Mahendra yang sebenarnya"
"Ish. Pusing mbak. Muter-muter"
"Kamu kerja disini sudah berapa lama Arumi"
"Hampir lima tahun mbak"
"Ck. Ck. Lima tahun tapi gak tahu siapa bosnya"
"Lah emang bos jutek itu siapa mbak"
"Nih ya dengarkan baik-baik"
"Hmm"
"Pak Ghaisan itu keturunan Jerman-Malaysia. Ibunya asli Jerman. Dan keluarga pak bos bukan orang sembarangan. Pemilik perusahaan ini memang kakeknya pak bos Tuan Syakir Mahendra. Kalau kamu pernah baca company profil perusahaan ini pasti tau siapa Tuan Syakir"
"Hehehe gak pernah mbak"
"Huh pantes. Kamu tau miliader ternama Zaydan Malik Alfatir"
"Taulah mbak. Yang anaknya semua tampan dan sukses"
"Itu omnya pak bos"
"Bercanda mbak Mala ini. Gak percaya aku mbak"
"Dasar ni bocah dikasih tau ngeyel. Pak Syakir memiliki dua orang anak. Yang pertama Pak Syamil Mahendra papanya pak bos. Yang kedua Ibu Jasmine Mahendra. Istri dari Zaydan Malik Alfatir. Dan mamanya pak bos sepupu dari tuan Zaydan Malik Alfatir. Anak dari kakak Omanya tuan Zaydan yang berada di Jerman. Sudah paham sampai disini"
"Rum. Kok ngelamun. Jelas gak"
"Mbak. Itu beneran mbak"
"Ya iyalah. Masa saya bohong sama kamu. Gak percaya cari saja di Mbah gulgul"
"Jadi pak Ghaisan itu masih klan keluarga Malik dong"
"Hmmm. Termasuk pengusaha muda berpengaruh juga"
"Baru tahu Rumi mbak. Sehebat itu si bos jutek"
"Ya sebanding lah sama sikap juteknya. Prestasi juga ada"
"Tapi kok gak kelihatan kayak keluarga konglomerat ya mbak"
"Itulah orang kaya sesungguhnya rum. Gak kebanyakan gaya"
"Haha bener banget mbak"
"Hmm. Pak bos sering mudik ke Jerman mbak"
"Sering sih. Biasanya lima bulan sekali atau kalau pas gak banyak kerjaan tiga bulan sekali"
"Hmm. Gitu"
"Jutek-jutek gitu sayang keluarga loh rum. Dia ke Jerman bukan hanya menengok Oma opanya tapi juga adiknya"
"Pak bos punya adik"
"Punya dua orang. Cowok sama cewek"
"Yang cowok tinggal di Malaysia ikut tuan Syakir dan yang cewek di Jerman. Jadi designer disana"
"Wow. Keren-keren"
"Ya sudah. Kamu selesaikan pekerjaan kamu dulu. Bentar lagi siap-siap ke bandara. Saya ke bagian HRD dulu"
"Ya mbak"
Arumi kembali menyusun data didalam laptopnya. Sambil menunggu waktu berangkat, Arumi membuka company profil perusahaan Ghaisan.
"Ternyata benar perkataan mbak Mala. Calon imam sempurna ini mah. Tapi bukan buat gue ya. Ogah jutek"
Mala kembali dari ruang HRD dan langsung mengingatkan Ghaisan karena sudah waktunya mereka menuju bandara. Mala juga sudah menyiapkan makan siang mereka didalam mobil. Karena jarak antara bandara dan perusahaan Ghaisan lumayan memakan waktu lama, Mala berinisiatif memesankan makanan agar bisa mereka nikmati saat perjalanan.
"Arumi. Semangat"
"Doakan Rumi ya mbak. Biar lancar semuanya"
"Beres"
Arumi hendak masuk kedalam mobil KH si karyawan yang menjadi team Ghaisan. Namun suara merdu Ghaisan membalikkan arahnya.
"Pasti Mala sudah memberitahu ke kamu apa tugas kamu sekarang"
"Sudah pak"
"Jadi kamu asisten saya atau asisten mereka"
"Maaf pak"
"Ck. Menyebalkan"
Ghaisan masuk kedalam mobilnya diikuti oleh Arumi yang memilih duduk didekat sopir. Ghaisan kembali mengamuk.
"Kamu itu kerja buat saya. Buka. supir saya"
"Ma maaf pak"
Arumi berpindah ke bangku penumpang disebelah Ghaisan. Ghaisan meminta laporan akhir jalannya pembangunan pusat perbelanjaan dikota J.
Arumi memiliki kebiasaan buruk, jika didalam mobil pasti dia akan mengantuk. Saat Ghaisan sibuk membaca laporan dalam laptop Arumi, sang pemilik laptop sudah terlelap. Padahal mereka baru berjalan lima belas menit meninggalkan perusahaan Ghaisan.
Ghaisan menoleh kearah Arumi, karena tak ada suara dari orang disampingnya. Ghaisan memicingkan matanya melihat Arumi tidur nyenyak.
"***** amat jadi orang"
Ghaisan iseng membuka folder dalam laptop Arumi. Dia melihat beberapa koleksi foto Arumi. Berbagai macam pose foto Arumi terpampang disana.
"Dasar cewek alay"
Arumi masih terlelap hingga tiba dibandara. Ghaisan terpaksa harus membangunkannya.
"Bangun. Rumi bangun"
Arumi menggeliat. Dan tiba-tiba Arumi memeluk leher Ghaisan dan menariknya kedalam pelukan Arumi. Ghaisan yang kaget dengan serangan dadakan dari Arumi, hanya bisa diam mematung.
"Hummm Moldy kamu wangi banget. Hmmm muah muah"
Ghaisan semakin tak bisa bergerak saat Arumi menciumi pipinya berkali-kali. Bahkan Arumi menaruh kepalanya dalam ceruk leher Ghaisan. Berkali-kali Arumi menciumi area itu. Area yang sangat sensitif bagi Ghaisan. Sebelum terjadi hal tak diinginkan, Ghaisan mengumpulkan kesadarannya kembali dan memanggil nama Arumi tepat ditelinga arumi dengan nada ancaman.
"Heh gadis ceroboh. Bangun atau saya pecat kamu"
Arumi yang mendengar suara Ghaisan, mencoba untuk membuka mata. Betapa terkejutnya Arumi saat dia tahu posisinya gini sangat memalukan. Perlahan Arumi melepaskan kedua tangannya. Dan memundurkan tubuhnya. Mata Ghaisan dan mata Arumi saling menatap.
"Ma ma ma aaf pak"
"Enak ya meluk-meluk saya. Modus"
"Maaf pak saya kira tadi Moldy kucing saya"
"Cari kesempatan saja kamu. Bangun sudah sampai. Awas aja kalau sampai tertinggal pesawat, saya potong gaji kamu"
"Hah"
_____'
Ini anugerah apa bencana ya....
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading