RashSya Story

RashSya Story
Devin~CLBK 14



"Sayang kamu baik-baik saja kan"


"Kakak"


Tisya langsung memeluk tubuh Devin sambil menangis ketakutan. Mereka masih berdiri didepan rumah dimana Sakti masih belum ada pergerakan.


"Bang. Kita harus gimana sekarang"


"Tunggu Daddy dan Pak Adiwiyata rash"


"Oke"


Tisya masih ditenangkan dalam pelukan Devin. Tak lama terdengar suara gaduh dalam rumah tersebut.


"Kenapa bisa kamu. Dasar sialan"


"Hiks. Hiks. Aku istrimu mas. Istri sah kamu"


"Tapi jangan pernah berharap aku menerima kamu"


"Sampai kapan mas. Sampai kapan kamu terus menolakku"


"Arghhh. Diam kamu"


Rosa menangis sesenggukan sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Hampir dua tahun menikah tak sekalipun Sakti menyentuhnya. Setiap kali Rosa menggodanya, selalu berujung penghinaan. Sebenarnya Rosa tak ingin terlihat seperti wanita murahan. Namun dia tak ingin mengecewakan pak Adiwiyata yang sudah merawatnya. Hanya cucu yang diharap pak Adiwiyata.


Rosa bahkan hanya meminta sekali saja hamil. Dan melahirkan seorang anak saja agar mertuanya bisa lega memiliki pewaris. Namun Sakti lebih memilih tidur dengan wanita bayaran dibandingkan dengan istri sahnya.


"Mas aku hanya minta satu anak. Setelah itu kamu bebas jika ingin melepaskan aku sekalipun, aku terima"


Sakti menoleh kearah Rosa. Dengan senyum seringainya, sakti mulai mendekati Rosa kembali.


"Kamu ingin anak dariku"


"Iya mas. Dan semua tuduhanmu padaku sudah terbukti. Aku masih virgin mas"


"Baiklah aku akan mengabulkan permintaan kamu. Dan kamu harus tepati janji kamu. Setelah kamu hamil dan melahirkan. Aku akan menceraikan kamu"


"Baik"


Dimulut dan dinihari Rosa berbeda. Rosa memang sudah sangat mencintai Sakti walaupun Sakti selalu berbuat kasar terhadapnya setelah menikah. Dulu sebelum menikah, Sakti sangat menyayangi Rosa.


"Aku berharap kamu akan segera jatuh cinta kepadaku mas. Dan kembali menjadi Sakti ya g selalu menyayangi ku seperti dulu. Dan sebelum anak itu ada dan lahir, aku akan berusaha untuk membuatmu luluh"


Sakti kembali melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Walaupun masih sedikit kasar, namun tampak sakti menikmatinya. Bahkan Sakti seperti ketagihan. Tak hanya sekali dia melakukan. Bahkan berkali-kali merengkuh indahnya surga dunia yang halal.


.


.


Hanya berselang tak lama setelah pertengkaran Rosa dan Sakti mereda, Jay dan pak Adiwiyata keluar dari sisi lain rumah tersebut. Saat dihadapkan dengan Tisya, pak Adiwiyata tak kuasa meneteskan air mata.


"Tisya. Apa kabar kamu nak"


"Om. Tisya baik. Bagaimana kabar om"


"Seperti yang kamu lihat nak. Bukan semakin baik malah semakin buruk"


"Jangan seperti itu om"


"Tisya, maafkan om. Dulu om begitu menyakiti kamu nak. Maafkan om"


"Tisya sudah memaafkan om. Dan kak Devin juga sudah menjelaskan kepada Tisya. Terimakasih om sudah melindungi Tisya. Maafkan Tisya sudah berburuk sangka"


"Tidak apa nak. Om memang patut dibenci"


"Sudah om. Jangan menangis lagi"


Mereka saling berpelukan. Saling memaafkan adalah hal paling indah dan menenangkan. Kata maaf bukanlah suatu penghinaan atau terhina. Namun sebuah kata sederhana bermakna kemuliaan.


"Sekarang kita bagaimana"


"Baiklah pak. Dan seperti janji saya, jika nanti cucu bapak lahir dan berusia dua puluh tahun, perusahaan akan saya kembalikan kepada keluarga bapak sebagai pemilik sah. Sementara ini perusahaan akan ditangani asisten pribadi saya"


"Baik nak Arash. Mungkin itu keputusan yang sangat bijaksana dan tepat"


"Sudah larut. Devin kamu antar Tisya pulang. Kasian bundanya menunggu"


"Baik dad. Devin permisi dulu"


Setelah berpamitan, Devin merangkul Tisya dan membawanya kedalam mobil. Begitu juga Reza yang ikut dengan mobil Devin.


"Semoga ini sudah berakhir kak"


"Aamiin sayang. Kita doakan Rosa berhasil merebut hati sakti"


"Iya kak"


Flashback...


"Kak. Aku akan ke supermarket sekarang"


"Iya sayang. Kamu jangan takut. Anak buatku sudah bersiap menjagamu. Maaf aku tidak bisa kesana sekarang"


"Iya kak"


Tisya keluar rumah dengan memakai hoddie berwarna maroon dan celana panjang berwarna hitam. Dalam hati Tisya terus berdoa agar semua lancar. Saat menuju supermarket jalanan yang dilewati Tisya begitu rame. Membuat anak buah Sakti yang ingin menculik Tisya tidak bisa bertindak. Sebenarnya itu memang sudah diatur Jay dan Arash. Anak buah mereka diminta berlalu lalang dijalanan tersebut. Tujuannya agar Tisya bisa sampai disupermarket dan rencana mereka dimulai disana.


Sampai disupermarket, Tisya mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Tisya cukup tenang hingga tak membuat anak buah sakti yang mengikuti curiga. Pada waktu yang tepat, kembali anak buah Jay berulah. Mereka menghambat anak buah Sakti yang sedang mengikuti Tisya. Kesempatan itu digunakan Tisya untuk masuk kedalam toilet dan bertemu Rosa yang sudah menunggu dirinya disana.


"Kak"


"Cepat kamy buka hoddie kamu tis. Kita gak bisa lama. Nanti mereka curiga"


"Ya kak"


Tisya menyerahkan hoddie miliknya untuk digunakan oleh Rosa. Beruntung celana mereka berwarna sama. Sebenarnya mereka tidak ada kesepakatan dalam pakaian. Mungkin itulah yang namanya keberuntungan.


"Sudah kamu diam disini dulu. Nanti pak Arash yang akan menjemput kamu jika sudah aman. Sini keranjang kamu"


"Kak. Makasih"


"Aku yang harusnya makasih. Semoga ini bisa menyadarkan Sakti"


Rosa langsung keluar dari toilet. Dia memasang topi hoddie seperti yang Tisya lakukan sebelumnya. Anak buah Jay langsung pergi setelah melihat Rosa bertukar tempat.


Selesai berbelanja, Rosa langsung mengendari motor Tisya. Dalam hatinya, dia takut jika penyamarannya diketahui anak buah Sakti dan menggagalkan rencana. Tisya membawa motor Tisya dengan kecepatan sedang. Jalan yang dilalui saat ini lebih sepi dibandingkan tadi.


Anak buah Sakti langsung menghadang Rosa. Dan langsung menutup seluruh wajah Rosa dengan kain. Mereka memasukan Rosa kedalam mobil. Rosa berpura-pura berontak agar mereka tak curiga. Karena suara teriakan Rosa, membuat mereka menyumpal mulut Rosa.


Tiba dirumah yang dimaksudkan oleh Sakti. Mereka disambut oleh Jay dan Pak Adiwiyata. Anak buah Sakti terkejut melihat bos besar mereka disana. Pak Adiwiyata menjelaskan maksud kedatangannya. Dan memberitahukan jika yang mereka culik adalah istri Sakti. Saat penutup wajah dibuka, mereka terkejut karena benar itu Rosa.


Setelah adanya perjanjian dengan bos besarnya, mereka akhirnya setuju untuk membantu Pak Adiwiyata. Bahkan dengan menlihat adanya Zaydan Malik berdiri disana sudah membuat takut anak buah Sakti.


Flashback off


.


.


Tisya sudah diantar kerumah dengan selamat. Devin pun menceritakan semuanya. Bunda langsung menangis. Sedih dan bersyukur dia rasakan. Beruntung Devin begitu tanggungjawab terhadap putrinya. Sehingga masalah Sakti bisa diatasi.


Bunda juga berdoa semoga Sakti bis sembuh dan tidak lagi terobsesi kepada Tisya. Devin meminta agar Tisya mengijinkan dirinya mengumumkan pertunangan mereka ke publik. Dengan bujukan bunda, Tisya akhirnya setuju.


________


Tuh bonus....


Jangan lupa jempolnya


Happy Reading