
Tak terasa lima bulan sudah usia pernikahan Ghaisan dan Arumi. Arumi sudah pulih walaupun untuk penglihatan dia masih sesekali mengalami gangguan. Arumi sudah bisa kembali beraktivitas dan mulai bekerja diperusahaan sang papa.
Ghaisan pun juga sama dengan Arumi. Ghaisan kembali ke rutinitas hariannya. Menjadi bos jutek yang dicintai para karyawannya. Terutama karyawan wanita. Sifat Ghaisan tak berubah sama sekali. Itu yang terkadang membuat Kumala sang asisten sekaligus sekretaris Ghaisan semakin kesal.
Seperti pagi ini, Ghaisan sudah kembali mengamuk karena ulah salah satu karyawannya yang tledor dalam menyelesaikan laporan.
"Kumalaaaa". Teriakan nyaring dari dalam ruangan bos jutek mulai menggema.
"Ya Allah. Kuatkanlah hambamu ini. Kenapa lagi tuh singa bunting". Kumala mencoba bersabar dengan sikap Ghaisan. Dia berjalan menuju ruangan bos menyebalkan itu.
"Permisi pak. Bapak memanggil saya". Kumala masuk setelah mengetuk pintu ruangan Ghaisan.
"Memangnya disini ada yang bernama Kumala lagi selain kamu". Seperti biasa Ghaisan akan menjawab dengan nada ketus.
"Tidak pak. Apa yang bisa saya bantu." Kumala mencoba untuk lebih bersabar lagi menghadapi kejutekan sang bos.
Brakk
"Ini apa. Apa kalian tidak bisa berhitung. Sekolah gak sih kalian". Ghaisan berkata seenak hatinya.
"Maaf pak. Saya akan meneliti kembali laporan ini". Kumala mengambil laporan yang tadi sempat dilempar oleh Ghaisan.
"Apa kamu perlu saya kembalikan ke sekolah dasar lagi". Ghaisan masih saja mengeluarkan taringnya.
"Tidak pak. Bapak masih ada yang dibutuhkan". Kumala ingin segera keluar dari kandang singa bunting tersebut.
"Kembali keruangan kamu". Ghaisan kembali fokus dengan berkas dihadapannya.
"Baik. Permisi pak". Kumala sedikit menundukkan kepalanya berpamitan.
"Hem". Hanya suara deheman yang Ghaisan berikan untuk menjawab Kumala.
Kumala meninggalkan ruangan Ghaisan dengan sedikit menggerutu. Dia kesal dengan Ghaisan karena dari pagi sudah menyebalkan.
"Arumi kenapa betah sih punya suami jutek banget". Kumala memeriksa kembali berkas tadi dengan kesal.
Ghaisan masih sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan tanpa dia sadari sudah masuk waktu isoma. Mendengar suara adzan dari masjid disamping kantornya. Ghaisan bergegas keluar ruangan dan berjalan menuju lift. Ghaisan akan melaksanakan ibadah masjid tersebut.
Arumi sedang perjalanan menuju kantor Ghaisan. Kebetulan Arumi menemani sang papa meeting diluar dan lokasi tempat Arumi meeting tidak jauh dari kantor Ghaisan. Arumi diantar oleh supir, sedangkan sang papa kembali ke kantor menggunakan mobil lain.
Tiba di lobby perusahaan sang suami. Arumi merasa de javu. Arumi merasa seperti kembali saat dia masih bekerja diperusahaan tersebut. Sambutan hangat dari security disana masih sama seperti saat Arumi masih menjadi karyawan. Hanya saja saat ini mereka memanggil Arumi sebagai nyonya Ghaisan.
Arumi segera menuju ruangan Ghaisan. Dia juga sudah membawakan makan siang untuk sang suami. Setiap bertemu dengan teman lamanya, Arumi menyapa dan menanyakkan kabar mereka. Arumi pun meminta mereka tetap bersikap biasa kepadanya. Dan tak perlu merasa canggung.
Arumi sudah berada di depan ruangan Ghaisan. Ia melihat Kumala sedang sibuk dengan tumpukan berkas. Arumi tersenyum dan bergegas menyapa Kumala.
"Selamat siang. Pak Ghaisan ada". Arumi sedikit menggoda Kumala. Karena Kumala tak menyadari kedatangannya.
"Siang. Maaf...". Kumala menghentikan perkataanya kala mengetahui siapa yang saat ini ada dihadapannya.
"Assalamualaikum kak". Arumi tersenyum ceria dihadapan Kumala sambil melambaikan tangannya.
"Waalaikumsalam. Arumiiii". Saking antusiasnya bertemu teman lama, Kumala lupa jika sekarang Arumi adalah nyonya bos. Kumala langsung memeluk tubuh Arumi.
"Apa kabar kak." Arumi menanyakan kabar Kumala setelah Kumala melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah baik. Maafkan gue ya rum. Pas loe sakit gue gak jengukin". Kumala mengutarakan penyesalannya. Memang saat Arumi sakit, Kumala tidak bisa datang menjenguk karena Azzam lebih merepotkan dibandingkan Ghaisan.
"Ya Allah. Gue sampai lupa. Loe kan nyonya bos sekarang. Aduh maaf udah lancang tadi langsung meluk aja". Kumala baru teringat tentang status Arumi saat ini.
"Kak, gak usah seperti itu. Biasa saja. Gue masih Arumi yang dulu kok. Gue malah gak suka kalau kakak terlalu berlebihan". Arumi mengatakan apa yang nyaman untuk dirinya dan Kumala.
"Iya deh. Gue tau loe itu gak akan pernah berubah. Dan gue suka itu". Kumala sangat suka dengan sifat rendah diri dari Arumi.
"Pak bos ada gak". Arumi kembali menanyakan keberadaan sang suami.
"Singa bunting lagi ke masjid sebelah". Tanpa merasa bersalah Kumala menyebut Ghaisan dengan sebutan yang dulu sering Arumi katakan.
"Hahahaha. Kenapa lagi. Sajennya habis ya". Arumi merasa geli mendengar keluhan Kumala.
"Huh. Tuh bos jutek dari pagi ngomel melulu. Gak loe kasih jatah apa rum". Kumala mengutarakan keluhan yang dia pendam sedari pagi.
"Jatah apa kak. Jatah sarapan, jelas sudahlah". Arumi belum paham maksud Kumala. Dan dia menjawab sesuai apa yang dia mengerti.
"Ck bukan itu. Jatah diranjang maksudnya Rumi". Kumala menjelaskan dengan sedikit penekanan.
"Ish. Kakak mau tau aja". Arumi menjawab sambil tersenyum malu.
Mereka tak menyadari jika yang mereka gosipkan sudah berdiri tenang dibalik tembok. Ghaisan berjalan pelan mendekati Arumi. Dan langsung menarik tangannya membawa Arumi kedalam ruangan miliknya.
"Kerja yang benar. Jangan gosip saja bisanya". Ghaisan berjalan melintas dihadapan Kumala dengan perkataannya yang cukup dingin.
"Baik pak". Kumala menjawab dengan sedikit canggung dan menunduk.
Arumi sedikit kaget karena tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang yang tak lain suaminya sendiri. Arumi juga terkikik geli melihat raut wajah Kumala yang berubah setelah kedatangan Ghaisan secara tiba-tiba.
Ghaisan sudah membawa Arumi kedalam ruangannya dan mereka saat ini duduk disofa yang sama.
"Kok gak ngabarin kalau mau kesini sayang". Ghaisan berkata kepada Arumi dengan nada yang sangat lembut.
"Sudah mas. Tapi gak ada balasan dari mas. Ya udah Rumi kesini aja langsung". Arumi menjawab pertanyaan sang suami sambil menyiapkan makan siang yang dibawanya.
"Iyakah. Mungkin mas gak dengar sayang. Maaf ya". Ghaisan merasa sedikit penyesalan karena tak menyadari pesan dari sang istri.
"Makanya jangan marah melulu. Jadi gak ingat kan kalau sudah beristri". Arumi sengaja mengomel untuk melihat reaksi Ghaisan.
"Iya ampun sayang. Kalau kamu ngomel gitu mas gemes. Takut khilaf. Ini masih dikantor". Ghaisan menjawab dengan sedikit menggoda Arumi dengan kerlingan matanya.
"Dah yuk makan. Pasti belum makan siang kan mas". Arumi memilih menghentikan perdebatan mereka.
"Iya. Makasih ya sayang sudah dibawakan makan siang". Ghaisan menjawab ajakan makan siang sang istri sambil tersenyum.
Mereka menikmati makan siang berdua. Sesekali mereka bercanda dan menceritakan kegiatan yang telah mereka lalui. Arumi juga mengingatkan agar Ghaisan jangan terlalu sering mengomel. Namun Ghaisan hanya menanggapi dengan senyuman saja.
_____'
Maaf kalau lama. Ini sambil nyiapai cerita KEMBAR ONAR. Tapi kapan tayang nunggu dulu ya gaes.. Harus menyelesaikan sesuatu sama Mimin NT dulu....
jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading