RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



"Masss"


"Maaf sayang aku khilaf"


"Tidak mas. Lanjutkan saja. Ini hak kamu. Maaf karena aku menunda begitu lama"


"Kamu yakin sayang. Jika aku sudah memulai, ini semua tidak akan mudah untuk dihentikan sayang"


"Tak mengapa mas. Ijinkan aku menjadi istrimu yang sesungguhnya dan seutuhnya"


"Baiklah sayang. Tolong tendang atau pukul saja aku jika kamu merasa tak nyaman"


"Allahumma jannibnaasy syaythoona, wajannibisy syaythoona maa rozaqtanaa"


(Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami)


Beruntung sebelum terjadinya pertempuran panas, mereka sudah melakukan sholat sunah dua rakaat.


Pertarungan panas di siang yang terik pun terjadi. Berawal dari sebuah ciuman dan kini mereka sedang bertarung diatas ranjang panasnya.


Ghaisan memang selama ini berusaha menahan hasratnya. Dia tak ingin menyakiti sang isteri. Dia menginginkan semua terjadi tanpa paksaan walaupun mereka pasangan yang sah.


Piknik dadakan yang mereka rencanakan tadi berubah menjadi honeymoon dadakan. Bahkan tidak ada persiapan sama sekali. Ghaisan pernah membayangkan jika nanti dia menikah dan saat malam pertama, dia ingin suasana yang romantis ditempat yang romantis juga. Tapi realitanya, mereka honeymoon disaat cuaca sangat terik dan juga diresort milik Arash.


Usai pergulatan panas yang serba mendadak. Mereka pun terlelap dalam balutan selimut uang menutupi tubuh mereka. Ghaisan lebih dahulu terbangun dan menatap sang yang masih terlelap. Ghaisan tersenyum dan mengecup kening Arumi.


"Terimakasih sayang"


Karena merasa sangat gerah, Ghaisan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Ghaisan juga memesankan makanan untuk mereka berdua. Ghaisan baru teringat jika mereka tidak membawa pakaian sama sekali. Ghaisan memutuskan membeli pakaian secara online sebelum dia mandi.


Ghaisan melihat satu persatu ukuran pakaian dalam sang istri agar dia tidak salah dalam membeli pakaian. Usai memesan makanan dan membayar belanjaan onlinenya, Ghaisan bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.


Usai membersihkan tubuhnya, Ghaisan menatap wajah Arumi yang kelelahan dalam lelap tidurnya. Ghaisan ingin membangunkan Arumi, namun terdengar suara bel dari pintu kamarnya. Ghaisan yang hanya menggunakan bathrobe berjalan membuka pintu kamarnya.


"Permisi pak Ghaisan saya mengantarkan pesanan makanan bapak"


"Ah ya. Tolong taruh dimeja dalam"


"Baik pak. Permisi"


Ghaisan memberikan jalan kepada pelayan resort. Ghaisan berjalan mengambil dompet dikamar untuk memberikan tips kepada pegawai tersebut. Ghaisan kembali menghampiri pelayan resort yang masih sibuk menata makanan.


"Mas. Nanti ada kurir yang mengantarkan pesanan saya dari butik Dinia. Tolong antarkan ke kamar ya"


"Baik pak Ghaisan"


"Ini buat mas nya"


"Makasih pak Ghaisan. Makasih"


"Iya sama-sama"


'Saya permisi pak. Selamat menikmati"


"Ya. Terimakasih"


Ghaisan kembali menutup pintu kamarnya dan masuk ke kamar tidur untuk membangunkan Arumi. Karena hari semakin sore. Ghaisan takut Arumi melewati waktu ashar. Usai mengenakan pakaian barunya, Ghaisan perlahan membangunkan Arumi.


"Sayang. Bangun yuk. Sudah hampir habis waktu asharnya"


"Hemmm"


"Bangun yuk sayang. Sholat dulu. Nanti bisa lanjut tidur lagi"


"Hemm. Mas. Jam berapa sekarang"


"Setengah lima sayang"


"Astaghfirullah. Aku belum ashar"


"Mas juga belum. Makanya ayo bangun"


"Aku mandi dulu mas"


"Iya. Mas tungguin. Kita sholat bareng"


"Ya mas"


Arumi menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Saat akan beranjak meninggalkan tempat tidur, Arumi merasakan nyeri diarea pribadinya.


"Awww. Ishhhh"


"Kamu kenapa sayang"


"Ini sakit mas"


"Mana yang sakit sayang"


"Ih mas. Dahlah gak usah tanyain lagi"


Arumi sangat malu jika harus menjelaskan dimana letak sakitnya saat ini. Ghaisan pun mulai paham setelah melihat wajah Arumi yang memerah.


"Perlu bantuan sayang"


"Hm. Sepertinya masih bisa kok mas"


"Heem"


Arumi mulai berdiri perlahan. Ghaisan mengamati sambil berjaga jika Arumi nanti terjatuh. Arumi berhasil berdiri dan mulai berjalan perlahan menuju toilet. Ghaisan membersihkan tempat tidur yang berserakan. Ada sesuatu yang membuat tersenyum. Dia pun mencari sesuatu untuk menghilangkan jejak tersebut.


Usai mandi, mereka bergegas melaksanakan ibadah karena waktu semakin sempit. Mereka menyelesaikan kewajiban sebagai seorang umat. Ghaisan menyerahkan paper bag berisi pakaian baru Arumi. Karena Arumi masih mengenakan bathrobe saat sholat tadi.


"Sayang pakai ini"


"Loh mas pulang ambil baju"


"Ya nggaklah sayang. Tadi mas beli sekalian buat mas juga"


"Makasih mas"


"Sama-sama sayang. Buruan dipakai. Takut aku khilaf lagi. Hahaha"


"Masss. Ini aja masih sakit"


"Nggak sayang. Cuma bercanda. Mas juga gak tega sama kamu. Buruan pakai bajunya terus kita makan"


"Ya mas"


Ghaisan memilih menunggu Arumi dimeja makan sambil mengecek laporan yang dikirim oleh Kumala. Tak lama Arumi keluar dengan mengenakan dress dibawah lutut dengan lengan pendek. Ghaisan tak bisa berpaling dari pesona sang istri.


"Mas"


"Hai sayang. Yuk makan. Sepertinya sudah hampir dingin"


"Ya mas"


Arumi melayani sang suami seperti biasanya. Mereka menikmati makan siang yang kesorean. Tenaga mereka sudah terkuras karena pertempuran panas disiang yang sangat terik.


"Sayang kita nginap disini saja ya. Kan belum jadi jalan-jalan ke pantai"


"Memang mas gak masuk kantor"


"Gapapa. Kumala sudah menangani masalah kantor"


"Kasian mbak Mala mas. Kapan bisa dapat suami lagi coba kalau suruh kerja terus"


"Nanti kalau sudah waktunya juga dapat jodoh sayang"


"Heh. Capek deh"


Ghaisan tersenyum mendengar cara Arumi mengakhiri perdebatan mereka. Arumi memang bukan tipe orang yang suka berdebat. Dia memilih mengalah atau pergi menjauh daripada berdebat.


"Gimana maukan nginep sini"


"Iya mas. Kemanapun mas pergi, Rumi ikut"


"Cwitttnya"


"Tapi kita gak ada persiapan loh mas. Baju juga cuma ini"


"Gampang tinggal beli saja sayang, jangan kayak orang tipis deh"


"Sombong amat yak. Mentang-mentang punya mall"


"Iyalah. Punya mall ya harus dimanfaatkan"


"Huh horang kaya gitu loh"


"Hahaha. Biasa aja kali sayang bibirnya. Gak usah manyun-manyun"


Mereka menghabiskan makanan sambil bercanda. Arumi perlahan mulai memahami sang suami. Yang awalnya jutek dan dingin, bisa juga bercanda. Arumi pun senang dengan perubahan sikap Ghaisan yang menghangat. Bahkan dibalik sifat juteknya, Ghaisan sangat pengertian dan penyayang.


Malam hari, Ghaisan mengajak Arumi berjalan ditepi pantai. Dan memang setiap malam panggung yang berada didekat pantai mengadakan live music. Arumi kagum dengan keindahan tepi pantai yang dihias dengan lampu berwarna-warni.


"Mas cantik sekali"


"Kamu suka"


"Iya mas. Rumi baru pertama kali kepantai malam hari"


"Loh kok bisa. Bukannya ada pantai Ancol yang juga ramai jika malam hari sayang"


"Papa gak akan ijinkan Rumi keluar rumah tanpa papa dan mama"


"Hem. Berarti mas orang pertama yang ngajak kencan kamu malam hari dong sayang"


"Iya mas"


Ghaisan tersenyum bangga. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri tepian pantai. Mereka berhenti didepan panggung hiburan bersama para tamu resort yang lainnya.


_____


Sorry gaess gak boleh panas-panas nanti disentil sama Mimin..


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading