
Bagas berkeliling keluar dari ballroom hotel tersebut menuju balkon...dia merasa gerah disana dan ingin mencari udara segar...maksud hati ingin meredam panas karena ulah dua pemuda yang menginginkan preman pasar kesayangannya...namun tanpa sengaja dia melihat sang pujaan sedang melakukan panggilan video dengan seorang pria
"Amar...Loe lagi ngapain"
"Kok loe sih syila"
"Ups Sorry kelepasan akunya..hehe"
"Aku sedang menatap bintang di langit sambil membayangkan indah wajah mu"
"Dasar raja gombal"
"Itu real bukan gombal syila"
"Hahaha...kamu masih disingapura mar"
"Harusnya malam ini aku sudah kembali ke Penang namun Abah sedang ada urusan jadi kami masih stay disini"
"Oh begitu"
"Syila bagaimana acaranya lancar"
"Alhamdulillah lancar Ammar"
"Malam ini kamu nampak cantik sekali syila...menyesal aku tidak ikut denganmu"
"Aku kan sudah mengajakmu tapi kakinya yang gak mau"
Bagas sengaja berdiri disamping Chila yang masih asyik melakukan panggilan video...Chila sempat melirik kearah Bagas..namun tak begitu memperdulikan karena dia merasa tak mengenalinya
"Syila siapa disamping kamu itu"
"Oh aku tidak mengenalnya Ammar"
"Ouh...aku kira kamu mengenalnya...oh syila umi memanggilku...aku tutup ya...Miss u... Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Bagas sempat tersenyum disudut bibirnya saat Chila tak membalas ucapan rindu dari Ammar
"Kasian cowoknya kangen tapi gak dapat
balasan"
Chila menengok kearah Bagas...namun dengan tatapan tak suka
"Huh tak kenal maka tak sayang...tapi melupakan seseorang yang sudah lama dikenal itu lebih menyakitkan...benar tidak nona pancasyila"
"Hah"
Chila kaget mendengar panggilan Bagas kepadanya...mulutnya menganga matanya membulat...Bagas tersenyum sambil mencibirnya
"Neng cantik-cantik kok mangap awas ada lalat mampir"
"Ish gak jelas amat sih"
"Jelaslah gue manusia bukan makhluk tak kasat mata"
"Dasar orang aneh"
Chila hendak meninggalkan balkon tersebut...namun Bagas mencekal lengannya yang terbalut gaun
"Apa loe gak kangen gue"
Chila semakin kaget dan menampakkan wajah marahnya
"Heh loe itu siapa...dan kenapa gue harus kangen sama loe kenal juga kagak"
"Makanya kenalan dulu dong"
"Gue gak mau kenalan sama loe"
Chila berhasil mengibaskan tangan Bagas dan terlepas dari lengannya...namun saat tanpa sengaja Chila menatap mata Bagas...Chila tertegun sesaat dan bermonolog dalam hatinya
"Mata itu... seperti mata milik ikan buntal...tapi gak mungkin dia ikan buntal...Gak dia bukan ikan buntal hanya matanya saja yang sama"
Fyuh
"Anda terpesona dengan ketampanan saya nona"
Chila mngejapkan matanya berkali-kali untuk menetralkan keadaannya yang kaget setelah mendapat tiupan dikeningnya
"Kepedean sekali Anda"
Chila langsung berlalu pergi meninggalkan Bagas dengan senyum mengembang dibibirnya...tanpa Bagas tau dibelakangnya sudah berdiri sang papa dengan kedua tangan masuk kedalam sakunya
"Uluh uluh yang melepas rindu...kangen banget ya mas sampai gak bisa nahan"
"Berisik"
"Hahaha...Papa mau pulang kamu masih mau stay disini"
"Pulanglah"
"Ya siapa tau masih kangen"
"Pulang pulang"
"Sans aja bro masih belum ada yang punya kok...pepet terus sampai gepeng"
"Papa bisa diam gak...bengeng nih kuping"
Bagas berjalan didepan sang papa dan mendekat kearah Mamanya yang masih asyik mengobrol dengan mommy Arsyila dan Daddy-nya juga berada disana
"Ma"
"Gas...nggak nyapa mereka dulu"
"Om Tante apa kabar"
"Ini Bagas kan yang sering berantem sama Chila"
"Hehehe iya tante..masih ingat saja"
"Ah Tante bisa aja"
Jay langsung menyapa Bagas
"Uda ketemu Chila belum...kalau belum om panggilkan"
"Sudah kok Om..gak usah dipanggilkan"
"Oh gitu ya sudah...siapa tau kangen kan pengen berantem lagi...Haha"
Papa Bagas yang menjawab godaan Jay terhadap putranya itu
"Janganlah saking kangennya tiap malam tidur sambil ngelihatin fotonya...Haha"
"Papa"
"Hahaha...terus kenapa gak mau ketemu kalau kangen gas"
"Kapan-kapan aja Om ini udah malam juga kasian Mama suka masuk angin"
"Loh kok Mama sih gas"
"Ya sudah kami pamit ya Om Tante... Assalamu'alaikum"
"Hahaha...iya Bagas... hati-hati Waalaikumsalam"
Orangtua Bagas hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya itu mereka berjalan keluar dari ballroom tanpa sengaja berpapasan dengan Andrea setelah berpamitan kembali dengan Andrea mereka langsung keluar menuju lift
Andrea masuk setelah mengangkat panggilan dari Papa mertuanya yang sesnag berada di luar negeri dia hanya menitipkan hadiah pertunangan untuk Ghaisan dan Arsya..Chila yang melihat Andrea langsung berlari menghampiri karena mereka memang baru bisa bertemu disaat acara berlangsung
"Ayah Andrea"
"Chila"
Chila memeluk Andrea...dan Andrea tersenyum menyambutnya dan mengusap lembut punggung Chila
"Apa kabar princess ayah"
"Baik ayah...Ayah apa kabar"
"Sehat sayang...Maaf ayah baru bisa bertemu sekarang"
"Iya Chila tau"
Andrea mengurai pelukannya dan menuntun sang putri menuju keluarganya yang sedang berkumpul sebelum kembali kerumah...mereka masih disana untuk menenangkan diri setelah acara membongkar kebusukan seorang agung hendrawan
Sedangkan disisi lain dari hotel Arsya tepatnya dirooftop hotel tersebut kini telah berdiri empat anak manusia dalam kondisi tegang
"Jadi selama ini kamu sengaja menyembunyikan status kalian dari aku"
"Shanum gak maksud begitu bang.. Shanum memang salah tidak memperkenalkan Mirza saat Abang ngantar Aretha waktu itu"
"Apa kamu tidak percaya padaku Sha hingga merahasiakan semua ini dari abang...abang kecewa sama kamu Sha"
"Maafkan Shanum bang...Shanum memang salah"
"Sekarang aku ingin tau kamu anggap apa aku selama ini Sha"
"Abang sudah seperti kakakku sendiri dan juga sama dengan teman-teman kita bang"
"Hanya kakak tidak lebih Sha...itu kan maksud kamu"
"Iya bang... maaf"
"Huh Sha...aku bego banget ya...dan uda kepedean banget merasa kamu juga memliki rasa yang sama denganku Sha...bodohnya aku"
"Bang jangan seperti ini Shanum yang salah bang"
Devin dan Mirza hanya bisa diam melihat Keynan dan Shanum sedang memecahkan persoalan hubungan mereka selama ini
"Loe tau gak sih Sha...gue suka sama bahkan sebelum loe kenal Mirza"
Shanum tertunduk dan menangis dia sendiri juga tidak peka dengan perasaan Keynan karena dari dulu hanya menganggap Keynan sebagai kakak tidak lebih
"Dan bodohnya gue gak pernah mau ngungkapin perasaan gue ke loe karena gue takut loe gak bisa jalanin hubungan jarak jauh dan gue juga gak bisa sering kesini karena masih merintis usaha...dan asal loe tau malam ini gue mau bilang ke loe sekaligus meminta ijin pada ayah Varo untuk meminangnya Sha...membawa loe ikut gue hidup di Jerman...tapi malah loe ngasih kejutan yang sangat menyakitkan Sha"
Tak hanya Devin yang kaget Shanum dan Mirza juga kaget dengan pengakuan Keynan...bahkan mereka dapat melihat dari mata Keynan jika hatinya terluka dalam...Shanum menangis dan kakinya melemas dan dia luruh terduduk sbil terus menangis
"Maafkan Shanum bang...Shanum memang jahat sudah nyakitin perasaan Abang...maafkan Shanum bang"
"Sudahlah Sha...mungkin kita tidak berjodoh..Abang akan mencoba menerima keadaan ini tapi Sha Abang juga minta maaf jika untuk waktu yang lama kita tidak bisa seperti dulu lagi dan sampai kapannya gue gak tau yang jelas sampai gue benar-benar bisa nyembuhin luka ini....dan untuk apapun yang telah gue kasih ke loe dulu dan mungkin nanti jangan pernah loe buang...atau berniat mengembalikan padaku...anggap itu hadiah dari seorang kakak ke adiknya"
Keynan melangkah dan berdiri didepan Mirza
"Jika dalam waktu enam bulan gue belum bisa move on bersiaplah karena gue akan memperjuangkan Shanum...karena gue lebih dulu datang sebelum loe"
"Maaf bang... gue akan jaga Shanum bang dan gue pastikan saat itu tidak akan pernah terjadi.. loe memang datang lebih dulu tapi hati Shanum milik gue Bang"
Keynan menyeringai lalu berlalu pergi bahkan mengabaikan panggilan Devin...Mirza langsung mendekati Shanum yang masih menangis
"Sayang"
"Aku jahat banget...aku jahat uda nyakitin orang yang begitu sayang sama aku"
"Tidak kamu tidak jahat...mungkin memang jalannya harus seperti ini yang"
"Aku gak mau kehilangan bang Keynan tapi aku juga gak mau kita pisah"
"Hush sudah sudah bang Keynan hanya butuh waktu saja..setelah lukanya sembuh dia akan mencarimu lagi...kita tunggu saat itu tiba dan mendoakan bang Keynan agar hatinya segera luluh"
Shanum hanya bisa mengangguk dalam pelukan Mirza... tangisannya pun semakin mereda...Mirza menuntun Shanum untuk meninggalkan rooftop dan akan mengantarkan Shanum ke salah satu kamar didalam hotel tersebut
_______
Yang tanya kemana jodoh Abang Arash...mau buka seleksi aja deh iniπ π π π π
mau aku kasih visual tapi takut gak pas...jadi sementara visual sesuai imajinasi kalian saja ya
jempol oeyyyyy jangan pelit napaπ π π
Happy Reading