RashSya Story

RashSya Story
RashSya~ Cemburu



Seperti biasa setiap dua minggu sekali Arash akan mengunjungi Icha dijogja. Dia akan berangkat setelah usai sholat Jumat dan kembali ke Jakarta Senin pagi. Bukan hanya Arash yang semangat menemui Icha. Jasmine pun sama semangatnya setiap tau sang putra akan menjenguk calon menantunya itu, dia menyiapkan berbagai macam cemilan dan lauk yang sudah diungkep agar Icha tinggal memasaknya jika ingin makan. Bahkan kali ini Jasmine membawakan lauk siap makan dan diletakkan dalam tempat khusus agar tidak basi.


"Mom gak usah banyak-banyak bawainnya, makin betah dia disana"


"Heleh dekat ini aja susah. Dulu mommy sama Daddy Jakarta-Jerman bang. Ida gitu kalau Mommy gak ngasi kabar ke Daddy, tuh beruang madu ngamuk gak jelas. Tiba-tiba uda balik ke Jakarta. Seenak hati Daddy kamu itu bang. Tapi karena gak kuat lama, Daddy ngebut kuliahnya. Sisanya dia online dari sini. Sultan mah bebas ada uang jalan"


"Hahaha Daddy-nya aja yang posesif"


"Eh kayak dirinya sendiri tidak. Nyadar oe. Nyadar"


"Iya iya gak usah dijelasin juga kali mom"


"Ini uda siap tinggal masukin koper. Jangan lupa vitamin kulit yang kemarin mommy belikan buat Icha dibawa"


"Syiap bos"


Arash kembali menata semua bawaannya. Setelah semua siap Arash memasukan koper kedalam mobilnya dan bersiap berangkat kekantor. Arash selalu berangkat ke Jogja langsung dari kantor setelah urusannya selesai.


"Mom Abang berangkat sekarang"


"Iya jangan lupa urus paspor Icha bang. Kita akan ajak Icha ke pernikahan Arjuna"


"Iya mom. Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam. Hati-hati bang jangan lupa kabari mommy"


"Siap Baginda Ratu"


Arash langsung melajukan mobilnya menuju kantor. Hari ini hanya ada satu meeting dan sebelum sholat Jumat Arash sudah selesai. Tiba dikantor Arash langsung naik ke ruangannya.


"Daf gue cuma satu meeting kan hari ini"


"Iya kan loe sendiri yang minta pokoknya jadwal tetap setiap dua minggu"


"Iyalah. Awas aja kalau loe sampai lupa"


"Rash besok gue nyusul loe ya. Bosen gue pengen refreshing bentaran"


"Serah loe asal gak ngrecokin kencan gue"


"Gaklah gue sama ibu ratu. Minta ditemani nyari kain batik yang langsung perajinnya"


"Hmm"


Hari ini sangat membahagiakan bagi Arash. Karena klien meminta memundurkan jadwal meeting. Arash langsung menuju bandara. Dan melaksanakan sholat Jumat di dekat bandara. Senin dia bisa datang lebih siang karena semua pekerjaan telah dia selesaikan hari ini.


Jumat ini Icha ada mata kuliah siang hingga sore. Seusai menjalankan ibadahnya dia bergegas menuju kampus. Namun sebelumnya dia berpamitan kepada peliharaan barunya. Yang kembali diberi nama Arash.


"Arash sayang Mama kuliah dulu. Jangan kabur dari kandang. Biar gak disantap masa Jenni"


Setelah mengecek kembali kandang peliharaannya itu, Icha lalu keluar kamar, mngunci dan segera berangkat ke kampus dengan sepeda motornya. Selain Icha, pengawal Arash juga mengikuti Icha menuju kampus. Namun icha selama ini tidak pernah tau. Sampai di kampus Icha langsung memarkirkan motornya. Dan tanpa sengaja dia bertemu teman satu kelasnya bernama Julia ditempat parkir.


"Hai Cha"


"Hai Julia, tumben uda datang"


"Iya tadi gue sekalian ngantar suami masuk kerja siang"


"Yuk masuk"


"Yuk"


Julia memang sudah menikah. Dan karena kecerdasannya dia melanjutkan kuliah dengan beasiswa. Saat di koridor, icha dan julia diberhentikan oleh kakak angkatan mereka.


"Maaf apa benar kamu yang bernama Annisa Maharani anak Manajemen Bisnis"


"Saya kak. Ada apa ya kak"


"Oh kamu toh. Kenalin gue Adi"


Adi mengulurkan tangannya. Namun Icha membalas dengan menangkupkan kedua tangannya didepan dada.


"Saya Annisa. Apa kakak ada urusan dengan saya"


"Ini. Nanti datang di taman kampus selesai jam kuliah kamu"


Setelah menyerahkan amplop putih itu Adi langsung pergi. Annisa menatap hampa tangannya yang memegang amplop. Setelah itu dia saling bertatapan dengan Julia dan sama-sama mengedikkan bahu mereka masing-masing.


Pelajaran Icha hari telah usai bersama ketiga temannya Icha keluar kelas. Icha melupakan perkataan Adi untuk menemuinya ditaman kampus. Hingga Julia mengingatkannya kembali.


"Cha bukannya loe tadi disuruh ketaman sama kak Adi ya"


"Ya Allah lupa gue Jul. Temenin yuk"


"Ayo"


Icha dan Julia menuju taman kampus. Icha melihat sekumpulan orang disana. Perlahan Icha dan Julia mendekat. Mereka terkejut melihat jika mereka semua mengelilingi Adi yang berdiri membawa buket bunga mawar. Karena hari sudah sore suasana kampus juga tak begitu ramai.


"Ada apa ini Cha"


"Mana gue tau Jul"


Adi melihat kedatangan Annisa dan temannya, langsung tersenyum dan mendekati Annisa.


"Akhirnya kamu datang juga Nisa. Aku kira kamu gak mau datang. Kamu pasti sudah baca suratku kan"


"Surat"


"Iya yang tadi aku kasih ke kamu"


"Maaf belum kak"


"Ya sudah tak apa. Sekarang tolong dengerin aku ngomong. Setelah aku meminta kamu untuk menjawab tolong segera jawab"


Icha hanya diam tanpa menanggapi. Adi lebih mendekat ke Icha. Dan langsung mengungkapkan perasaannya kepada Icha.


"Annisa Maharani. Mungkin kamu tak begitu mengenalku. Tapi aku sudah tertarik kepadamu semenjak orientasi pengenalan siswa. Aku sengaja menunda hingga hari ini untuk mengatakannya karena aku ingin meyakinkan hatiku apakah benar menyayangi dan mencintaimu atau sekedar obsesi semata. Dan hampir sepuluh bulan sudah aku meyakinkan hatiku. Dan nyatanya aku memang mencintaimu Annisa Maharani. Bersediakah kamu menerima perasaan ku ini"


Annisa diam membisu karena kaget dengan ungkapan perasaan Adi. Annisa diam karena sedang memilih kata agar tak menyakiti perasaan Adi. Annisa menghela nafasnya dalam dan langsung menjawab dengan tegas pernyataan cinta Adi.


"Maaf kak tapi saya tidak bisa. Karena saya sudah memiliki calon imam"


Annisa menunjukkan cincin dijari manisnya. Adi kaget karena selama ini memang tak memperhatikan secara detail apalagi tidak pernah melihat Annisa bersama pria.


"Kamu pasti bohong Annisa. Karena aku gak pernah lihat kamu jalan sama lelaki manapun selama ini"


"Annisa tidak bohong kak. Calon suami Annisa memang berada di Jakarta dan dia kerja disana"


"Oh begitu. Tapi aku masih belum percaya sama ucapanmu itu Annisa. Bisa saja hanya untuk mengecohku"


Belum sempat Annisa menjawab. Suara barito nan dingin terdengar dari belakang tubuh Annisa.


"Anda ingin bukti dari tunangan saya. Perkenalkan Arash Syauqi Malik tunangan Annisa Maharani Safitra"


Arash mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Adi. Tak hanya Adi, Annisa pun kaget karena Arash tiba-tiba muncul. Adi menerima uluran tangan itu dan saling berjabat tangan dengan erat.


"Mas kapan sampai. Bukannya besok baru kesini"


"Baru nyampe sayang langsung kesini. Kalau Mas kesni besok yang ada gak bisa lihat pertunjukan pernyataan cinta ini SAYANG"


Arash sengaja menekankan kata sayang sambil tersenyum tipis kepada Annisa. Annisa hanya terkikik pelan karena paham sang tunangan sedang cemburu.


"Maaf jadi benar Anda tunangan Annisa"


"Benar sekali. Jika masih ingin bukti lain, dengan senang hati akan saya tunjukkan"


Arash mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri fotonya. Memperlihatkan foto-foto saat acara pertunangan mereka tahun lalu.


"Sudah percaya"


"Iya, maafkan saya"


Adi pergi diikuti teman-temannya. Julia juga berpamitan kepada annisa karena memang harus segera pulang sesuai perintah sang suami.


Mata para wanita menatap kagum kepada Arash yang masih menggunakan pakaian kerjanya tanpa dasi dan jas. Arash tak peduli. Dia langsung menarik tangan Annisa dan membawanya kedalam mobil. Sedangkan anak buahnya diminta membawa motor Annisa.


"Kita mau kemana bang"


"Kelaut"


"Ngapain uda mau Maghrib juga loh bang"


"Nyelem"


"Hm"


"Emang gak takut gitu sama nyi Roro kidul"


"Nggak"


"Ih pelit amat sih ngomongnya"


"Hmm"


"Hmmm em hmmmmm em..."


Arash berusaha untuk menahan tawa melihat kelakuan Icha yang mengangkat tangan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seperti orang berdoa.


"Huh dasar penjual kacang. Uda mahal pelit lagi. Padahal makan satu kacang bisa tumbuh jerawat. Mending makan jerawatnya biar tumbuh kacang"


Mpyuh...


Arash hampir meledakkan tawanya apalagi wajah Annisa nampak lucu dan menggemaskan.


"Kata orang ya, kalau kita mau ketawa ditahan yang ada jadi kentut. Nah kalau kentut ditahan akankah jadi ketawa. Atau malah ampas kentut yang keluar"


Arash sebenarnya sudah tak sanggup menahan tawanya namun karena masih ingin mempertahankan amarahnya, arash masih bisa menahan tawanya.


"Capek ah mending lihatin video Arash yang lagi mainan"


Annisa membuka galeri ponselnya melihat video hewan peliharaan barunya yang asyik bermain. Beruntung lampu merah, Arash pun penasaran ingin tau apalagi hewan peliharaan kekasihnya itu. Namun masih saja gengsi untuk berbicara lebih dulu.


Entah ide gila darimana, Icha tiba-tiba saja berbicara menggunakan bahasa isyarat kepada Arash. Membuat arash mau tak mau membuka suaranya. Sambil memukul lengan Arash. Icha langsung memperagakan bahasa isyarat.


"Apa sih. Pake bahasa kayak gitu. Kayak orang gagu aja sih sayang"


"Oh bisa ngomong juga ya. Kirain gagu"


"Oh jadi ngirain aku gagu ya sayang"


"Habis dari tadi cuma ham hem terus emang mau konser"


Arash menghentikan mobilnya didepan rumah makan. Namun sebelum masuk mereka berdebat terlebih dahulu.


"Kamu kenapa sih bang ham hem terus"


"Ck kamu itu polos beneran atau emang pura-pura sih sayang"


"Gak mudeng aku sayang"


"Ck. Gimana perasaan kamu kalau baru datang dikasih kejutan, tunangan kamu ditembak pria lain didepan kamu sayang"


"Kalau aku biasa aja"


"Hah kok gitu. Berarti kamu gak sayang sama tunangan kamu dong"


"Huh langsung nyimpulin gitu ya sukaknya. Begini ya my honey bunny kanebo kering ku. Menurut Icha yang imut ini, selagi kita masih bisa menjaga rasa percaya diantara pasangan, gak akan jadi masalah. Karena landasan paling kuat suatu hubungan itu adalah rasa percaya. Jika sekali saja rasa itu diragukan atau disalahgunakan, perselingkuhan adalah tujuan akhir. Sekarang Icha tanya. Apa Abang percaya sama Icha"


"Percaya sayang. Cuma Abang hanya takut kehilangan kamu saja"


"Berarti Abang kurang yakin sama Icha dong. Berarti icha boleh dong Meleng dikit"


"Heh enak aja. Beda ya percaya sama takut. Abang percaya kamu gak akan tertarik sama pria manapun. Tapi abang gak percaya pria lain gak tertarik sama kamu. Dan berasal dari rasa nyaman hubungan juga bisa dijalin ingat itu sayang. Kamu nyaman dapat perhatian lebih disini pasti Abang dilupakan"


"Hem.. Itu semua tergantung pribadi masing-masing Abang sayang, jika Icha berusaha mencari kenyamanan dari orang lain pasti sudah dari beberapa bulan lalu Icha sudah beralih. Tapi nyatanya Icha hanya nyaman dengan seorang CEO berwajah kanebo kering yang dinginnya ngalahin kutub Utara. Jadi gak usah cemburu lagi ya sayang. Hati eneng hanya untuk akang seorang"


"Huh lumer deh ingus Abang dengar omongan kamu sayang. Hilang deh keselnya"


"Kok ingus ih jorok banget yak. Kalau yang meleleh ingus terus Icha apaan dong"


"Upil. Hahahaha"


"Jahatnya. Mending tadi nrima pernyataan cinta kak Adi deh daripada sama tunangan sendiri disamain sama upil"


"Heh berani ya nyebut nyebut siapa tadi itu. Sekarang Abang bawa kamu pulang ke Jakarta gak usah kuliah disini"


"Ngancem ngancem"


"Lah kamu tadi juga gitu"


Perdebatan mereka didalam mobil membuat kecurigaan seorang petugas parkir. Karena sedari tadi mobil Arash tidak terbuka dan sedikit bergoyang tapi teratur. Apalagi kacanya sangat gelap.


tok tok tok


"Woy kalian lagi mesum ya. Keluar woy"


Arash langsung membuka kaca mobilnya. Melihat wajah seorang petugas parkir yang menatapnya garang membuat Arash hanya diam saja.


"Ada apa mas"


"Kalian mesum ya"


"Gak mas"


"Terus ngapain dari tadi didalam mobil gak keluar-keluar. Apalagi mobil dari tadi goyang. Kalau bukan iwik ngapain coba, arisan"


"Duh masnya salah paham. Kita gak ngapa-ngapain mas sumpah. Tadi istri saya lagi muntah-muntah karena hamil muda jadi saya nunggu sampai istri saya enakan buat jalan baru turun"


Sang juru parkir melihat kearah Icha, dan kebetulan Icha memang sedang rebahan dan pura-pura mual-mual.


"Woalah saya kira lagi iwik. Maaf ya pak bu"


"Iya gapapa mas"


Petugas parkir itu langsung kembali tempatnya. Arash dan Icha saling tos dan tertawa. Mereka memang tadi mengetahui petugas parkir mengetuk kaca mobil, lalu membuat sandiwara agar tidak terjadi masalah.


"Papa anaknya uda lapar ini"


"Wah anak papa uda lapar ya, yuk makan"


"Anak apaan coba. Anak angin"


"Ya anak akulah sayang. Tapi soon"


"Berangan dulu ya"


"Bukan tapi berlatih. Kalau berangan bisa berbahaya. Pikiran traveling kemana-mana. Dosa"


"Yuk makan. Lapar debat sama orang cemburuan"


"Lah kamunya yang aneh. Baru sekarang punya kekasih kayak gini. Tunangan ngambek bukan dirayu malah diajak debat. Yang dulu mah nggak"


"Jadi yang dulu suka ngrayu. Dan yang sekarang gak. Yang sekarang gak suka jadi peraturan karena emang gak suka ngrayu. Biasanya yang pandai ngrayu itu gak tulus. Kebayakan akal bulus"


"Ups. Keceplosan"


"Jadi kalau gak keceplosan gak akan pernah tau Icha kalau Abang pernah punya mantan"


"Hehehe. Nanti Abang ceritain sayang"


"Udahlah mantan itu buat dibuang bukan dikenang"


"Siapa yang mau mengenangnya sayang cuma mau cerita"


"Cerita sama mengenang beda tipis"


"Salah lagi"


"Gak akan ada benar jika tidak ada salah"


"Ampun sayang. Iya Abang salah. Abang belum jujur tentang masa lalu. Abang akan cerita"


"Kita impas Icha juga belum cerita masa lalu Icha yang sampai kini masih ada"


"Apa"


________


Siapakah masalalu Icha....


Jangan lupa jempolnya kakak


Happy Reading