RashSya Story

RashSya Story
Ghaydan~Ngidam



Semenjak dinyatakan hamil, Atha harus menjaga jarak dengan sang istri karena seila selalu mual jika berdekatan dengan Atha. Namun jika Atha didekati wanita lain, seila yang tidak rela mendadak mualnya hilang dan dia bisa disamping suaminya.


Pagi hari mungkin waktu yang paling Atha benci. Saat pagi hari seila mengalami morning sick, namun Atha tak bisa mendekat. Jika Atha mendekat seila semakin mual. Terkadang Atha memilih bersembunyi didalam kamar tamu dulu menunggu seila selesai sarapan dan Atha akan sarapan setelahnya.


"Kakak. Kakak"


Atha yang mendengar seila memanggil namanya sedikit bingung. Karena biasanya seila tak pernah seperti itu. Atha menyahut namun tidak keluar dari dalam kamar.


"Iya sayang. Kamu mau sesuatu"


"Kakak dimana"


"Dikamar tamu sayang"


"Huaaahhhh. Kakak jahat gak mau Nemani aku sarapan. Mama seila mau pulang"


Mendengar suara tangis seila, Atha panik lalu bergegas turun kebawah. Sudah ada Eneng yang menemani seila. Semenjak seila hamil, Jasmine meminta Eneng datang lebih pagi. Dan terkadang Jasmine membawakan makanan untuk mereka.


"Sabar ya non. Jangan nangis kasihan debay nya"


"Kak Atha nyebelin. Seila ditinggal sendirian"


"Dasar mas Atha emang harus eneng jitak"


"Eh jangan berani-berani kamu megang suami saya ya neng. Dan mulai sekarang jangan panggil mas. Panggil den Atha. Sama majikan kok mesra manggilnya"


Seila berbalik kesal terhadap eneng. Atha yang berdiri dibelakang mereka ingin tertawa keras namun dia tahan. Mengingat emosi sang istri tak begitu stabil.


"Sayang"


Seila menengok melihat sang suami yang berdiri dibelakangnya. Seila langsung berdiri dan memeluknya.


"Kemana aja. Dari semalam aku nyariin. Tega ninggalin istri hamil sendirian di kamar"


Atha hanya bisa tersenyum mendengar omelan istrinya.


"Kakak gak kemana-mana sayang. Kan ada dikamar tamu"


"Mau sampai kapan kakak gak mau tidur satu kamar sama aku. Apa kakak gak kangen sama aku"


"Kangen sayang. Kangen banget. Kalau malam kakak sudah tidur"


"Terus kenapa kakak menjauhi seila"


Atha belum sempat menjawab pertanyaan sang istri malah disambut drama dari Eneng. Dari dekat meja makan.


"Kau begitu jahat Ferguso. Kau tak tau betapa tersiksanya aku. Jahat jahat"


Atha menjawab dengan drama yang sama.


"Diam kau Esmeralda. Kau tak berhak berkata apapun"


"Apa kau bilang aku tak berhak. Aku berhak. Bahkan lebih berhak dari yang kau tau Ferguso"


"Apa yang ingin kau ketahui Esmeralda. Bahkan untuk bernafas disini pun kau tidak berhak"


"Begitukah perlakuanmu padaku Ferguso setelah apa yang kita lewati selama ini"


Entah apa yang merasuki seila. Tiba-tiba saja dia ikut dalam drama dadakan itu.


"Hei Juminem berhenti kau bersandiwara. Sekarang kembalilah ke alam mu. Dan jangan kau mengganggu kami"


"Sungguh terlalu. Disini saya mulai sedih"


Eneng berjalan sambil melambaikan tangan dan bernyanyi.


"Aku pulang tanpa dendam. Kusalutkan kemenanganmu"


Atha dan seila saling memandang dan menepuk jidat mereka secara bersamaan. Seila tiba-tiba bergelayut manja di lengan Atha.


"Kakak"


"Apa sayang"


"Mau sesuatu"


"Apa. Kamu mau apa sayang"


"Hmm. Tapi kakak gak boleh marah ya"


"Iya sayang. Kamu pengen apa"


"Pengen kelapa muda"


"Oalah kelapa muda aja kok bingung mau ngomongnya yang. Tunggu disini kakak beliin dulu"


"Gak mau yang beli"


"Terus"


"Kakak yang ambil dari atas pohon langsung"


"Ya Allah sayang. Disini gak ada pohon kelapa"


"Yang bilang disini siapa kak"


"Terus pohon kelapa dimana sayang"


Atha langsung melongo mendengar permintaan sang istri Atha langsung menelan ludahnya kasar. Bagaimana bisa dia harus ke Hawai pagi ini juga"


"Hmm sayang apa kakak harus ke Hawai"


"Iya aku mau kelapa yang ada ditepi pantai di Hawai dan kakak yang harus memanjatnya sendiri"


"Duh Gusti anak gue gini amat yak permintaannya"


Atha terdiam sebentar. Dia harus mencari cara agar tidak pergi ke Hawai. Atha mencoba mengirim pesan kepada Arsya dan Arash meminta solusi. Dan ternyata dari Arash dia mendapat jawaban.


Atha langsung mengatakan kepada seila jika dia akan memenuhi permintaan seila dan calon baby-nya.


"Sayang aku akan berangkat ke Hawai sekarang juga. Kamu mau ikut atau dirumah saja"


"Aku menunggu dirumah saja kak. Aku hari ini masuk siang ke rumah sakit. Jadi nanti kakak antar ke rumah sakit ya"


"Siap yang mulia ratu. Tunggu kakak kembali"


Atha mencium kening sang istri dan berlalu pergi menuju resort milik Arash yang belum lama ini diresmikan. Nama resort tersebut menggunakan nama Almeer sesuai kesepakatan dengan Icha. Resort kali ini memang dibikin suasana yang menyerupai Hawai. Seperti hobi Almeer yang suka berjoged hula hula.


Setiba di resort, Atha langsung masuk keruang kerja Arash dan disana juga ada Icha dan si kembar yang masih berusia sepuluh bulan. Mereka sedang suka belajar berjalan.


"Assalamualaikum anak-anak papi"


"Waalaikumsalam. Datang juga loe"


"Iyalah demi istri yang sedang ngidam. Gini banget ya rasanya menghadapi ibu hamil"


"Nikmati saja. Gue sudah pernah merasakannya"


"Ya udah mana pohonnya. Biar cepat kelar"


"Loe kalau pengen lebih meyakinkan bini loe, mendingan loe ganti baju khas Hawai"


"Emang loe punya"


"Ada. Bentar gue mintain bini gue dulu"


Arash mendekati Icha yang sedang menyuapi Almeer dan Meera disamping ruangan Arash.


"Buna. Baju yang buat Atha mana"


"Itu yah masih didalam tas Buna"


"Oke biar ayah ambil saja"


Arash berjalan mengambil tas Icha, Almeer mengikuti sang ayah dan memegang kakinya.


"Eh boy ada apa"


"Yah. Tut"


"Ikut. Kamu mau ikut ayah"


"Hem"


Almeer mengangguk dan menengadahkan kedua tangannya minta diangkat. Arash langsung meraih tubuh mungil sang putra dan menggendongnya. Saat berjalan Arash sengaja mencium pipi Icha. Tanpa aba-aba Almeer memukul bibir ayahnya.


"Natal"


"Eh siapa yang nakal boy"


"Yah yah"


"Ayah kan sayang Buna boy gak nakal"


"Natal"


Icha hanya tertawa saja melihat tingkah menggemaskan Almeer. Arash mengajak Almeer keruangan kerjanya. Dan langsung disambut Atha.


"Anak papi. Kangen papi sama kamu boy. Makin ganteng aja kayak papi"


"Eleh. Ngaku-ngaku aja loe. Nih pake biar menghayati"


Atha menerima baju dari Arash. Lalu menggantinya ditempat yang sama. Setelah siap, arash mengajak Atha ke lokasi dimana pohon kelapa itu berada.


"Noh loe tinggal pilih aja mau yang mana"


"Rash ada gak yang tingginya setengah meter gitu"


"Ada. Tapi gak ada buahnya"


"Ya elah rash ini tinggi semua"


"Katanya demi istri dan anak, baru kelapa setinggi dua meter aja ngeluh"


"Iya-iya. Huh. Bismillahirrahmanirrahim"


Atha bersiap memanjat pohon kelapa yang paling pendek. Arash meminta salah satu pekerjanya untuk mengabadikan dalam bentuk video untuk dikirim kepada Seila. Usai mendapat beberapa kelapa, Atha turun dan berselfie dengan hasil buruannya.


____


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading