
Persiapan pernikahan Devin dan Tisya sudah hampir selesai. Setelah diumumkan tentang pertunangannya dengan Devin beberapa waktu yang lalu, hanya beberapa karyawan yang tidak menyukai Tisya. Selebihnya mereka mendukung. Apalagi ada perubahan baik dari sikap Devin setelah bersama Tisya.
Siang ini hari terakhir Devin dan Tisya fitting gaun pengantin. Semua gaun rancangan Jojo sudah tiba beberapa hari yang lalu di Indonesia. Keluarga besar Reino berencana akan ke Indonesia. Mereka akan sekalian berlibur.
Tisya masih bekerja seperti biasanya. Hingga saat ini belum ada lagi kabar mengenai Sakti. Pak Adiwiyata juga memilih tinggal di pedesaan. Dia ingin menghabiskan masa tua disana. Tempat dimana sang istri dilahirkan dan dimakamkan. Perusahaan miliknya saat ini diawasi oleh Daffa.
Tisya yang sedang fokus dengan pekerjaannya dikagetkan dengan kabar sang bunda yang mengalami kecelakaan. Bunda hampir saja tertabrak kendaraan saat pulang dari pasar. Walaupun luka bunda tidak begitu parah, tetap saja dibawa kerumah sakit. Devin sedang tidak ada di kantor. Tisya memilih langsung pergi ke rumah sakit dimana bunda dirawat. Devin bingung saat kembali ke kantor tapi tidak menemukan Tisya.
"Kemana Tisya"
"Ah mungkin ke pantry"
Devin bermonolog sendiri. Menghindarkan fikiran negatif dalam benaknya. Kembali kedalam ruangan dengan setumpuk pekerjaan. Mungkin karena terlalu fokus, Devin masih belum menyadari jika Tisya tak kunjung kembali.
.
.
Dirumah sakit, Tisya masih menunggu sang bunda diperiksa. Dia juga bertemu dengan orang yang sudah membuat sang bunda masuk rumah sakit. Sayangnya pelaku masih anak dibawah umur. Tisya hanya bisa memberi maaf dan mengingatkan agar lebih berhati-hati lagi. Saat dokter sudah selesai memeriksa bunda, Tisya langsung bergegas menemuinya.
"Dok gimana kondisi bunda saya"
"Alhamdulillah, hanya terkilir dan luka-luka kecil saja. Tidak ada yang bahaya. Dan sudah boleh pulang"
"Terimakasih dok. Saya boleh masuk"
"Silahkan. Saya permisi dulu"
"Baik dok"
Tisya bergegas masuk menemui sang bunda. Tampak beberapa luka sudah terbalut rapi. Begitu juga dengan kaki sang bunda yang terkilir. Bunda juga dalam keadaan sadar. Itu sudah membuat hati Tisya begitu lega.
"Bun"
"Nak. Kok kamu disini"
"Tadi ada yang menelpon nomor Tisya Bun. Bunda gak apa-apa kan"
"Nggak kok. Cuma terkilir saja"
"Sudah discan seluruh tubuh belum sus"
"Anda tidak perlu khawatir nona, kami sudah melakukan beberapa tes. Dan ibu anda baik-baik saja"
"Alhamdulillah"
"Saya permisi dulu. Setelah selesai administrasi, ibu boleh pulang"
"Makasih sus"
Setelah perawat tersebut meninggalkan ruangan bunda Tisya, Tisya segera mengurus administrasi bunda. Bunda lebih memilih pulang saat itu juga. Tisya berjalan menuju administrasi. Karena kecerobohannya, Tisya meninggalkan dompet dan tas di kantor. Bahkan Devin belum juga dia kabari. Dia hanya membawa ponselnya saja.
"Ya Allah dompet aja sampai lupa. Dasar oon"
Tisya ingin menghubungi Devin untuk meminta tolong. Saat melihat ponselnya sudah ada beberapa panggilan dan pesan dari Devin yang tak terjawab.
"Ya Allah. Lupa gue silent. Kak Dev marah gak ya. Tadi gak pamit juga"
Tisya berjalan dan duduk di kursi tunggu. Dia segera menghubungi Devin, agar Devin tidak khawatir mencari keberadaannya saat ini.
"Assalamualaikum kak"
"Waalaikumsalam. Kamu dimana sayang. Aku balik kantor kenapa kamu gak ada"
"Maaf kak, tadi aku buru-buru. Bunda kecelakaan"
"Innalillahi. Dimana kamu sekarang. Aku kesan"
"Di rumah sakit amanah"
"Tunggu aku kesana sekarang sayang"
"Nitip tas ya kak. Tertinggal dikantor"
"Iya sayang"
Tanpa menunggu lama, Devin langsung menuju rumah sakit dimana bunda dirawat. Tak lupa dia membawa serta tas milik Tisya yang tertinggal. Devin hanya meninggalkan pesan kepada Teddy asistennya, jika dia tidak kembali ke kantor. Devin juga mengatakan alasannya.
Letak rumah sakit dari kantor Devin sedikit jauh. Jalanan juga cukup padat. Tisya kembali keruangan bundanya sambil menunggu Devin datang.
"Sudah dibayar nak"
"Belum Bun. Tas Tisya tertinggal di kantor. Nunggu kak Dev baru dijalan"
"Loh emang kamu kesini gak sama Devin"
"Nggak Bun. Tadi kak Dev meeting sama Teddy"
"Udah bilang kamu disini"
"Sudah bun, baru saja"
"Ck. Pasti lupa pamit ya"
"Jangan dibiasakan nak. Sebentar lagi kalian menikah. Semua baktimu beralih kepada Devin"
"Iya Bun"
Devin sudah tiba dirumah sakit. Dia mencari ruangan pemeriksaan darurat. Devin bergegas masuk ruangan setelah menemukan ruangan tersebut.
"Bun. Ay"
"Nak Devin"
"Kakak"
"Bunda gapapa. Sudah benar-benar diperiksa kan Bun"
"Sudah kok. Gapapa cuma lecet smaa terkilir saja"
"Mana yang nabrak Bun. Kok gak hati-hati. Tanggung jawab gak"
"Sudah nak. Mereka tanggung jawab kok. Nyatanya bunda dibawa ke rumah sakit tidak ditinggal dijalan"
Tisya langsung meminta tasnya dan mengambil dompetnya untuk membayar administrasi sang bunda.
"Kak. Tasku dulu"
"Mau kemana Ay"
"Bayar biaya bunda kak. Karena sudah boleh pulang"
"Sudah biar aku saja. Sebaiknya kamu tunggu disini saja sayang. Aku akan mencari kursi roda agar bunda lebih mudah dibawa"
"Ya kak"
Devin keluar untuk membayar semua biaya pengobatan calon mertuanya tersebut. Devin juga membawakan kursi roda untuk bunda. Perlahan Devin memindahkan sang bunda keatas kursi roda. Dan membawanya keluar rumah sakit. Dalam perjalanan, Tisya meminta maaf karena tadi lupa memberi kabar.
"Kak"
"Ya"
"Maaf aku tadi terburu-buru. Dan lupa memberi kabar. Saat dirumah sakit aku juga lupa untuk mengabari. Aku terlalu takut terjadi sesuatu dengan bunda"
"Iya sayang gapapa. Aku paham. Aku cuma khawatir sayang tidak melihatmu dikantor saat aku kembali"
"Maaf kak"
Devin mengusap lembut kepala Tisya. Itulah yang selalu dilakukan Devin kepada Tisya setiap saat. Bunda yang melihat dari kursi belakang tersenyum bahagia. Devin begitu menyayangi putrinya. Bunda yakin Tisya akan selalu bahagia jika bersama Devin. Rasanya bunda ikhlas jika setiap saat dia dipanggil untuk menyusul suaminya.
Devin mengantarkan bunda dan Tisya pulang. Bahkan Devin menggendong sang bunda hingga kedalam kamarnya. Kasih sayang Devin itulah yang selalu membuat Tisya jatuh cinta lagi dan lagi. Tidak membedakan dia ibu kandung atau bukan. Kepada saudaranya juga demikian.
"Kak kamulah jodoh dari Tuhan yang ditakdirkan untukku. Semoga kita bisa terus bersama hingga maut menjemput. Love u Devin Pradipta Alfatir"
Tisya menatap Devin dan bermonolog dalam hati. Begitu lembut perlakuan Devin kepada bundanya. Bahkan tanpa Devin tahu, Tisya meneteskan air mata kebahagian.
Setelah bunda beristirahat, Tisya mengajak Devin untuk duduk diruang tamu. Sekedar melepas rasa penat. Devin selalu menyempatkan diri untuk bertukar cerita kepada Tisya. Devin juga masih penasaran dengan kejadian bunda yang tertabrak.
"Gimana ceritanya bunda bisa ketabrak Ay"
"Tadi bunda katanya mau kepasar Ay. Lagi jalan ditabrak orang"
"Orangnya kabur Ay"
"Nggak kok. Aku pas ke rumah sakit tadi sempat ketemu"
"Terus gak tanggung jawab gitu. Kok aku datang udah gak ada"
"Aku suruh pulang Ay"
"Kenapa"
"Masih dibawah umur. Baru belajar naik kendaraan. Dan dia keluar tanpa sepengetahuan orangtuanya"
"Kamu gak coba menghubungi orangtuanya Ay. Kali aja dia bohong"
"Sudah kok. Dia sampai nangis karena rakitan dihajar bapaknya. Apalagi motor yang dipakainya masih baru kayaknya. Bapaknya juga mau tanggung jawab. Tapi aku gak ijinin Ay. Dia datang dengan seragam security dan wajahnya nampak lelah sekali. Mungkin baru pulang kerja"
"Oh gitu. Ya sudah yang penting bunda gapapa. Tapi kita gak jadi fitting tadi siang Ay"
"Oiya. Maaf lupa kak"
"Iya gapapa. Lagian badan kamu masih sama aja kok. Pasti muat"
"Semoga kak"
____
Bang Dev dulu. Eneng lagi jualan BASKOM😂😂😂
Jangan lupa jempolnya
Happy Reading