
"Kenapa ayah tega sama bunda. Sampai kapanpun hanya bunda yang menjadi ibu Dina. Tidak ada yang lain". Ayah Medina hanya bisa menangis dan menyesali apa yang sudah terjadi. Bunda pun ikut menangis.
"Ayah, sejak kapan ayah memiliki hubungan dengan dia". Tanya bunda lembut. Membuat hati ayah Medina semakin sakit.
"Dia teman lama ayah Bun. Kami bertemu tanpa sengaja. Jika malam itu ayah tidak terpengaruh bujuk rayu Bang Rudi, ini tidak akan terjadi. Ayah menyesal Bun". Bunda semakin menangis. Rudi adalah kakak dari ayah Medina. Dia selalu mengatakan jika ayah Medina tidak memiliki anak lelaki, Medina tidak berhak mewarisi semua kekayaan ayah Medina. Dan memang saat itu keadaan ayah Medina sedang labil. Dia ingin sekali memiliki seorang putra. Namun itu sudah tidak mungkin lagi dengan kondisi bunda Medina yang sudah tidak memiliki rahim.
"Kami tidak melakukan zina Bun. Ayah menikah siri dengan Safitri". Satu lagi fakta yang sangat mengejutkan. Bahkan Medina sudah tidak bisa lagi berkata-kata mendengar cerita sang ayah.
"Jika kalian sudah menikah siri, mengapa dia datang meminta ayah menikahinya. Apakah pernikahan sah yang ayah janjikan padanya". Dengan suara parau, bunda meminta penjelasan.
"Ayah tidak pernah menjanjikan hal semacam itu Bun. Karena hanya bunda istri sah ayah. Sejujurnya dalam pernikahan siri itu ada perjanjian diantara ayah dan safitri". Bunda dan Medina kembali diam mendengarkan fakta lain yang akan bermunculan.
"Ya, ayah melakukan perjanjian dengan Safitri. Dia harus melahirkan anak lelaki untuk ayah. Dan setelah itu kami akan berpisah. Mungkin ayah jahat, ayah egois. Tapi itu karena ayah selalu teringat bunda. Jika malam itu ayah tidak melanjutkan ijab qobul, mungkin ini tidak akan terjadi". Ayah Medina tersungkur meratapi semua apa yang sudah terjadi.
"Apakah malam yang ayah maksud, saat bang Rudi datang menjemput ayah dan meminta ayah mengantarkan ke luar kota karena mobil bang Rudi rusak". Ayah Medina hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan istrinya. Dan benar malam itu bunda Medina selalu gelisah. Bahkan tidak ikhlas suaminya pergi.
"Dan berapa usia kandungan Safitri yah". Ada rasa sakit dalam hati bunda menanyakan hal itu.
"Safitri mengatakan jika sudah tiga bulan". Bunda menangis mendengar itu. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Safitri kepada bunda beberapa waktu yang lalu.
"Tapi Bun, ayah masih ragu. Ayah tak merasa melakukan hal itu dengan Safitri. Karena setiap ayah akan melakukannya, bayangan bunda selalu hadir. Dan tiba-tiba pagi hari ayah terbangun tanpa busana begitu juga dengan Safitri". Bunda berusaha tersenyum mendengar cerita suaminya. Medina pun sama tak menangani perkataan sang ayah.
"Ayah tidak boleh seperti itu. Anak itu tidak bersalah. Jika memang ayah ingin menikahi Safitri secara resmi, bunda ijinkan". Medina menolak langsung apa yang diputuskan sang bunda.
"Gak Bun. Gak boleh. Medina gak mau Bun". Medina semakin menangis dan memeluk tubuh sang bunda.
"Tidak Bun. Ayah juga tidak mau. Sudah cukup kesalahan ayah Bun. Ayah hanya menunggu sampai anak itu lahir saja Bun. Ayah mohon Bun". Ayah Medina memegang kaki sang istri meminta agar bunda tidak melakukan hal itu.
"Ayah tidak boleh seperti itu. Anak itu butuh ayah. Nikahi dia ayah" Bunda tetap pada pendiriannya. Ayah terus menggeleng.
"Apa bunda tidak membutuhkan ayah lagi. Apa bunda tidak mau ayah dampingi lagi". Bunda menggeleng dan menangis mendengar perkataan ayah.
"Bunda masih bisa mengurus bunda sendiri, ayah tidak usah khawatir. Medina akan menemani bunda". Medina dan bundanya saling berpelukan. Bunda terus meminta ayah menikahi Safitri. Hingga membuat ayah jengkel dan pergi meninggalkan ruangan bunda.
Satu Minggu bunda dirawat dirumah sakit dengan ditemani Medina. Sejak ayah Medina pergi waktu itu, sampai saat ini ayah belum juga datang menjenguk bunda. Bunda kembali kerumah bersama supir dan Medina. Dirumah ayah juga tidak ada. Tidak mungkin seorang istri tidak khawatir dengan keadaan suaminya yang tanpa kabar. Bunda berusaha untuk tenang dan mendoakan ayah baik-baik saja.
Medina merawat sang bunda dengan telaten. Sebelum berangkat sekolah Medina selalu menyiapkan semua keperluan sang bunda. Dan saat pulang pun dia juga mengurusi semua keperluan bundanya.
Satu Minggu ayah Medina menghilang, dan siang ini ayah pulang bersama wanita yang sudah tak asing bagi bunda. Wanita yang sama yang menemui bunda saat itu. Medina semakin membenci ayahnya. Bahkan mereka meresmikan pernikahan tanpa dihadiri sang bunda.
"Mas, boleh Fitri tinggal dirumah ini juga". Safitri mulai merengek meminta tinggal dirumah yang sama dengan bunda dan Medina.
"Tidak. Kamu tetap tinggal dirumah yang sudah saya belikan". Memang ayah Medina sudah menyiapkan sebuah rumah kecil untuk Safitri.
"Tapi rumah itu tidak seluas rumah ini. Kasian nanti kalau anak kita lahir mas. Gak leluasa bermain". Medina berdecih mendengar ucapan ibu tirinya itu. Bunda hanya diam tak mau menanggapi. Melihat sikap anak dan istrinya tidak begitu baik, ayah Medina segera mengambil keputusan.
"Sekali tidak tetap tidak. Kamu akan tetap tinggal dirumah itu atau kamu pilih saya pulangkan ke kampung halaman kamu". Safitri kesal dengan perkataan suaminya itu. Dia duduk dengan wajah cemberut. Ayah berdiri dan mendekati bunda.
"Bun. Ayah mau bicara dengan bunda sebentar". Bunda mengangguk. Ayah segera menggendong bunda saat bunda akan berjalan masuk kedalam kamar. Safitri semakin kesal melihat itu.
"Dasar wanita penyakitan". Gerutu Safitri yang dapat didengar Medina. Medina pun membalas perkataan Safitri.
"Geh anak kecil gak ada sopannya. Bukannya menyiapkan air minum atau makanan buat saya, malah ngomon gak sopan seperti itu kamu. Gak dididik apa sama bunda kamu itu". Medina kembali melawan Safitri. Apalagi dia sudah berani membawa-bawa nama sang bunda.
"Bunda selalu mendidik saya dengan baik. Dan saya bukan pembantu anda. Untuk apa saya melayani anda. Anda hanya tamu yang tak diharapkan. Seperti benalu yang tiba-tiba tumbuh, lama-lama akan mati dengan sendirinya. Atau perlu benalu ini saya basmi dengan obat pembasmi hama". Safitri mengira jika Medina bisa ditekan tapi nyatanya tidak.
Usai berbicara dengan bunda, ayah pamit akan mengantarkan Safitri pulang. Ayah berjanji jika malam ini akan tidur dirumah. Safitri mulai berakting seolah Medina menganiaya dirinya.
"Mas, anak kamu jahat banget. Dia ngatain aku yang jelek-jelek mas. Dia juga gak mau ngakuin ini adiknya mas. Tadi dia juga hampir dorong aku mas. Kalau aku jatuh gimana mas. Kan kasian anak kita". Ayah Medina hampir tersulut emosi mendengar aduan Safitri. Tapi beruntung ayah Medina masih mempercayai sang putri. Beliau segera membawa pergi Safitri dari rumah itu.
Bulan berganti kehidupan keluarga Medina semakin tidak baik. Safitri selalu saja mengusik kehidupan mereka. Jika ayah Medina berada dikantor, Safitri selalu datang kerumah itu dan mengusik bunda dan Medina. Jika Medina tidak ada dirumah, selalu Safitri manfaatkan untuk membuat bunda semakin tertekan dan kelelahan.
Safitri merasa menang karena didukung oleh Rudi. Ayah Medina tidak pernah bisa melawan kakaknya itu. Hingga akhirnya kesehatan bunda semakin menurun karena ulah Safitri. Bunda kembali dirawat dirumah sakit. Tak hentinya Safitri berulah. Tekanan batin yang terus menerus dia dapat membuatnya tak bisa bertahan lama. Bunda menghembuskan nafas terakhirnya saru hari setelah kelulusan Medina.
Ayah Medina semakin terpuruk karena merasa gagal menjaga bunda. Selama ini ayah selalu saja marah jika mengunjungi bunda. Entah apa yang Safitri katakan hingga membuat ayah selalu marah. Hak itu juga membuat bunda semakin sedih. Kandungan Safitri semakin besar. Dan usianya sudah tujuh bulan.
Entah ide darimana, ayah tiba-tiba mengajak Safitri pindah kerumah Medina, satu Minggu setelah bunda dimakamkan. Dengan alasan agar ada yang menemani Medina. Medina berusaha menolak, namun ayah semakin marah. Medina hanya bisa mengalah. Safitri tak hentinya mengusik Medina. Bahkan selalu saja mengadu hal yang tidak benar kepada ayahnya.
Setelah lulus sekolah, Medina memutuskan untuk bekerja. Dia menolak permintaan ayahnya untuk melanjutkan kuliah. Dia bahkan tidak pernah meminta uang lagi kepada ayahnya. Ada rasa sakit dan kecewa dihati ayahnya, namun semua itu disimpan oleh sang ayah.
Malam itu Medina mendapat shift siang dan pulang hampir pukul sebelas malam. Medina bekerja diresto mewah dengan gaji yang sangat lumayan. Medina berencana akan mengumpulkan uang itu dan menyewa kos agar tidak diganggu oleh Safitri. Medina pulang seperti biasanya diantar oleh temannya. Entah apa yang Safitri katakan kepada ayahnya. Saat Medina masuk kedalam rumah, Medina mendapati sang ayah yang murka kepadanya.
"Darimana kamu pulang hingga larut seperti ini. Jadi seperti ini kelakuan kamu saat ayah tidak ada dirumah. Dan benar kata ibu kamu kalau kamu selalu pulang bersama pria". Medina melihat senyum jahat diwajah Safitri. Namun ada yang aneh dengan penampilan ibu tirinya itu.
"Ayah kenapa berkata seperti itu. Ayah kan tau Dina bekerja. Dan ini shift malam Dina. Dina pulang memang diantar teman Dina. Lalu dimana salah Dina". Bukan jawaban yang baik yang Dina dapat melainkan sebuah tamparan.
"Tak perlu berbohong lagi kamu. Ayah sudah tau jika selama ini kamu berbohong. Kamu bukan kerja diresto melainkan diclub malam kan. Jawab dengan jujur Medina". Medina terkejut mendengar tuduhan sang ayah. Memang selama ini ayah Medina belum pernah datang ke resto tempat Medina bekerja.
"Kenapa ayah memfitnah Dina. Apa karena perempuan licik itu. Ayah tega sama Medina". Medina meluapkan kemarahannya.
"Dia ibumu, hormati dia". Ayah kembali emosi. Membuat Safitri semakin senang.
"Ibuku sudah meninggal karena dia. Jangan harap dia menjadi ibuku". Ayah kembali menampar Medina. Medina hanya diam tanpa bisa menangis.
"Dan apa yang kamu lakukan kepada ibumu Medina. Kenapa dia sampai keguguran". Medina melotot mendengar ucapan ayahnya. Medina baru menyadari apa yang membuat Safitri berbeda.
"Bahkan ibumu dirawat dirumah sakit selama satu Minggu kamu pun tidak tau. Anak macam apa kamu. Kamu sudah membunuh adikmu". Medina menngepalkan tangannya karena marah. Dia dituduh tanpa mengetahui sebabnya.
"Kalaupun Medina menyangkal, ayah tidak akan percaya. Ayah bukan lagi ayah yang Medina kenal. Bahkan ayah lebih percaya bualan wanita itu dibanding Medina. Terserah ayah mau berkata apa. Jika ayah belum puas menampar Medina, silahkan tampar lagi. Jika ayah lebih puas melihat Medina tak bernyawa, silahkan lakukan. Karena spai akhir hayat, Medina tidak akan ikhlas difitnah dan diperlakukan seperti ini". Ayah diam membeku mendengar perkataan Medina. Medina berlalu masuk kedalam kamarnya.
Medina tak lagi berbicara dengan sang ayah semenjak kejadian itu. Bahkan Medina memutuskan mencari rumah kos dan hanya sesekali pulang kerumah jika dia ingin. Karena Safitri semakin menjadi. Mengiba kepada para tetangga dan membuat seolah-olah Medina selalu berbuat jahat kepadanya.
Entah apalagi yang Safitri lakukan hingga membuat ayah Medina kembali murka, bahkan meminta Medina keluar dari rumah itu. Medina pun pergi dengan janji akan merebut kembali rumah itu. Hingga beberapa bulan setelah kepergian Medina, Medina mendapat kabar sang ayah masuk rumah sakit karena serangan jantung.
Medina hanya bisa melihat kondisi sang ayah dari jauh. Medina sudah mengetahui kebenaran tentang keguguran Safitri. Medina mendapat bukti itu tanpa sengaja. Ayah Medina dirawat selama dua Minggu dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Belum juga luka kehilangan sang bunda sembuh, kini Medina harus kembali terluka. Dan kali ini lebih dalam. Karena sang ayah tidak mengetahui kebenaran apa yang harus dia ketahui.
Medina hanya bisa melihat proses pemakaman sang ayah dari jauh. Dan mendekati makam sang ayah ketika semua orang pergi. Medina menangis dipusara sang ayah berdampingan dengan sang bunda.
"Ayah, maafkan Dina ayah. Dina terlalu banyak salah kepada ayah. Sekarang Dina hanya hidup sendiri tanpa siapapun lagi. Bahkan ayah tidak pernah tau kebenaran apa yang sesungguhnya Safitri tutupi. Dina tidak melakukan apapun yang diharamkan agama ayah. Dina selalu mengingat pesan ayah. Ijinkan Dina mengambil kembali apa yang sudah mereka rebut. Istirahatlah yang tenang ayah. Berbahagialah bersama bunda". Medina pergi meninggalkan makan kedua orangtuanya. Dia mulai menyusun rencana kehidupan kedepannya. Terutama perusahan yang ayahnya rintis dan rumah milik bundanya.