
Atha mengantarkan seila menemui gio. Seila tetap menolak untuk menemui gio. Seila tidak mau jika gio akan melukai atha. Atha terus memberikan pengertian kepada seila agar tetap bertemu gio.
Disinilah mereka saat ini. Dirumah keluarga gio. Mama gio sedih melihat putranya mengamuk. Dan saat melihat seila mama gio menjadi emosi. Karena memang dari dulu mama gio tidak menyukai seila.
"Assalamualaikum"
"Waailaikumsalam. Akhirnya kamu datang juga seila. Tante dari dulu sudah meminta kamu menjauhi gio. Dia gak pantes sana kamu. Tapi tetap saja kamu ngeyel. Apa gak ada laki-laki lain yang mau sama kamu kok sampai kamu gak pernah mau ninggalin gio"
"Maaf tante"
"Saya gak perlu maaf kamu. Sekarang kamu jelaskan pada gio dan pergilah jauh dari kehidupan anak saya"
"Permisi tante"
Atha ingin sekali membalas setiap perkataan yang keluar dari mulut mama gio. Namun seila melarangnya dengan menarik ujung kain dilengan atha. Seila masuk ditemani oleh atha. Dan mama atha juga mengikuti mereka.
Pintu kamar gio tertutup rapat. Namun dari dalam terdengar gio berteriak memanggil nama seila dan suara benda pecah. Perlahan seila mengetuk pintu kamar gio.
tok tok
"Pergi mah. Gio gak mau diganggu"
"Gi ini gue seila. Tolomg buka pintunya gi"
"Seila. Beneran loe seila"
"Iya ini gue. Tolong buka pintunya gi. Gue mau ngomong"
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka. Gio nampak semrawut. Bahkan air matanya masih mengalir. Seila tak berani menatap gio terlalu lama.
"Loe datang buat gue kan sel"
"Loe mau batalin pernikahan loe sama dia kan sel"
"Loe uda sadarkan kalau dia gak baik buat loe sel"
Gio terus mencecar seila dengan berbagai pertanyaan. Mama gio sempat kaget mendengar jika seila akan menikah.
"Gi kita duduk dulu disana"
"Masuk kekamar gue aja sel"
"Gak gi. Kalau loe mau kita bicara kita duduk diruang tengah"
"Oke. Ayo"
Seila jalan disamping atha. Dan gio berusaha untuk mendekat. Atha hanya diam mendengarkan. Namun jika seila butuh pertolongannya, atha baru akan bersuara.
"Sel loe beneran mau batalin pernikahan loe sama dia kan. Loe uda percaya sama gue kan kalau dia bukan pria baik-baik"
"Gi. Tolong loe dengarkan perkataan gue dulu sampai selesai. Dan gue harap loe bisa menerima keputusan gue nantinya"
"Sel plis kasih gue kesempatan. Gue tau orangtua gue gak suka sama loe. Tapi gue cowok. Gue gak perlu restu mereka sil. Kita tetap bisa menikah tanpa restu mereka sil"
Mama gio ingin sekali marah. Namun berusaha ditahan agar anaknya tidak menjadi semakin parah.
"Gi. Kita sudah bersahabat lama. Lama banget malah. Loe sahabat terbaik gue. Loe selalu ada disaat gue butuh bantuan. Loe juga jagain gue seperti kakak gue sendiri. Dari dulu gue nolak loe bukan karena gue benci sama loe. Tapi gue takut kehilangan sahabat sebaik loe gi. Jika saat itu gue maksain nerima perasaan loe, gue pastiin persahabatan kita rusak saat sesuatu terjadi pada hubungan kita. Dan loe tau banget gue gak suka pacaran gi. Gi, gue ingin disaat gue nikah nanti semua keluarga gue dan calon suami gue hadir. Karena yang menikah bukan hanya gue sama calon suami gue tapi juga kedua keluarga kami. Kami ingin mereka menyatu dan saling mengenal. Loe tau kan maksud gue apa. Gue lebih nyaman loe jadi sahabat gue gi. Tolong pahami keputusan gue. Kita tetap akan menjadi sahabat"
"Jadi loe tetap memilih menikah dengan dia yang baru loe kenal"
"Gue dan Kak atha mungkin sudah menjadi jodohnya. Dan gue berdoa loe juga segera mendapatkan jodoh loe gi"
"Maafkan gue sel. Selalu memaksakan keinginan gue buat loe. Gue akan mencoba melupakan perasaan ini sel. Asal loe bahagia gue bahagia sel"
"Makasih gi. Gue minta loe tetap datanh diacara walimahan gue gi"
"Insyaallah sel"
"Ya sudah gue pulang ya gi. Ingat jangan seperti ini lagi"
"Ya sel. Maafin gue".
Seila berdiri dan diikuti oleh atha. Seila berpamitan kepada mama gio yang masih memasang muka tak sukanya.
"Tante seila pamit. Maafkan kesalahan seila. Dan seila harap tante bisa hadir diacara pernikahan seila nanti"
"Iya kami usahakan"
"Makasih sudah menjaga seila selama ini. Semoga kamu segera mendapatkan jodoh gio"
"Makasih. Gue titip seila bro. Gue yakin dia akan bahagia sama loe. Gue ikhlasin seila hidup bersama loe. Jangan pernah membuatnya terluka"
"Insyaallah"
Seila dan atha berjalan menuju pintu keluar. Bertepatan dengan papa gio yang baru pulang dari luar kota. Saat melihat seila, papa gio pun juga akan marah. Namun betapa terkejutnya papa gio siapa dibelakang seila.
"Kamu. Ada apa kamu berani kerumah saya. Kamu pasti yang membuat anak saya seperti itu"
"Maaf om"
"Pak Akbar"
"Loh pak ghaydan. Kok anda bisa disini"
"Iya saya mengantarkan calon istri saya bertemu sahabatnya"
"Maksud pak ghaydan, calon istri itu.."
"Iya seila calon istri saya. Kami kemari bertemu gio. Eh saya gak tau kalau itu putra bapak"
Pak akbar masih diam mencerna perkataan ghaydan. Ghaydan adalah investor utama perusahaan papa gio yang sudah diambang kebangkrutan.
"Jadi seila adalah calon istri bapak"
"Iya. Benar. Oya kebetulan kita bertemu disini pak. Saya mau menyampaikan undangan pernikahan saya"
Atha mengambil undangan dari dalam mobilnya. Yang memang akan dibagikan menggunakan kurir. Seila hanya bisa diam menunduk. Atha kembali dan menyodorkan undangan pernikahannya kepada pak akbar.
"Saya harap bapak sekeluarga bisa datang"
"Kami pasti akan datang pak ghaydan"
"Baiklah kami pamit dulu pak. Karena masih ada urusan yang harus kami selesaikan"
"Baik pak. Terimakasih sudah mau mampir dikediaman saya pak ghaydan"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Atha menarik ujung hijab seila dan mengajaknya untuk segera pulang. Karena terlihat jelas dari mata seila rasa sakit dari perkataan yang terlontar dari mulut kedua orangtua gio.
Didalam perjalanan seila hanya terdiam sambil menatap jalanan yang dipenuhi pepohonan. Atha yang melihat perubahan seila dia berusaha menghiburnya.
"Bee kayaknya pepohonan dijalan itu indah banget ya"
"Kenapa emangnya kak"
"Habis diperhatiin sama kamu terus. Aku kan jadi iri"
"Hahaha kakak garing banget ih"
"Hahaha biarin garing daripada lihat wajah bidadari sendu. Sakit hati abang dek"
"Hahaha kak atha lebay banget sumpah. Baru tau seila kalau kakak bisa konyol"
"Yang kamu lihat belum ada sepertiganua sayang. Nanti kalau udah halal aku minta kamu jangan kaget ya. Dan jangan pergi menjauh"
"Hahaha nggaklah kak. Seila malah suka. Biar hidupnya lebih hidup"
"Roso"
"Loh kok malah mbah marijan"
"Hahaha"
_____
Siap-siap hadapi kegajean mas atha ya dek seila....
Jangan lupa jempol
Happy reading