RashSya Story

RashSya Story
Devin~CLBK 5



"Tis. Ikut saya meeting. Siapkan berkasnya segera"


"Baik pak"


Tisya langsung bergegas menyiapkan segala hal yang dibutuhkan saat meeting. Meeting kali ini sangatlah penting. Dan Devin berharap akan mendapat hasil yang memuaskan.


"Ayo berangkat"


Tisya berjalan dibelakang Devin. Seperti perjanjian mereka, jika didalam kantor mereka harus profesional. Namun diluar kantor mereka adalah teman. Lebih tepatnya hubungan tanpa status. Karena terkadang Devin suka sekali membuat jantung Tisya hampir copot karena perlakuan manisnya.


Mereka sudah tiba di restauran tempat akan dilaksanakan meeting. Tisya selalu setia berada disamping Devin. Walaupun bagi Devin dia pendek, tidak bagi pria lain. Apalagi wajah Tisya juga cantik dan keturunan oriental yang diwariskan oleh sang ayah.


Selama meeting berjalan, Devin menahan rasa kesalnya karena dia lupa jika kliennya kali ini adalah seorang pria paruh baya yang terkenal genit. Bagaimana Devin tidak kesal, sedari meeting dimulai pria itu selalu saja berusaha menggoda tisya.


Bahkan terang-terangan berani memuji Tisya. Dan parahnya langsung meminta nomor ponsel pribadi Tisya. Beruntung Tisya pandai berkelit. Membuat Devin sedikit lega.


"Dasar pendek. Loe besok-besok kalau dandan gak usah menor. Jadi incaran om-om genit kan"


"Yaelah Dev. Gue dandan biasa aja kali gak sampai heboh. Dasar mata tuh bapak aja yang gak bisa lihat cewek manis kayak gue"


"Gula kali manis"


Mereka sudah dalam perjalanan berpindah lokasi meeting. Dan kali ini Devin melupakan sesuatu. Devin akan meeting bersama si kembar Rashsya. Ada proyek yang memang mereka kolaborasi. Dan kini mereka menuju ke hotel Arkmel.


"Dev. Kita ke hotel nih meetingnya"


"Iya. Kenapa. Loe takut gue macem-macem. Hahaha"


"Awas aja berani macam-macam loe Dev. Gue hajar loe"


"Heleh kayak tinggi badan loe bisa ngimabangi gue saja tis. Palingan cukup gue pegang kepala loe kayak gini, loe udah gak bisa gerak"


Devin menaruh telapak tangannya diatas kepala Tisya dan menahannya. Tisya berusaha memukul lengan Devin agar mau melepas tangan diatas kepalanya. Bukannya dilepas, Devin malah mengusap lembut rambut Tisya. Sejenak membuat Tisya kaget. Karena perlakuan manis Devin.


"Apaan sih pake ngelus segala"


"Kenapa memangnya. Ada yang marah kalau gue ngelusin rambut loe"


"Ada"


"Siapa"


Devin langsung menatap tajam kearah Tisya setelah mendengar jawaban singkat Tisya tadi. Tisya yang ditatap seperti itu menjadi malu sendiri.


"Apanya"


"Yang marah"


"Ada deh. Kepo banget sih mas"


"Ck. Menyebalkan"


Devin kembali fokus melajukan kendaraannya. Ada rasa nyaman dihari Devin ketika Tisya memanggil dengan sebutan mas.


"Tis"


"Hmm"


"Kalau lagi berdua panggil gue mas aja"


"Hah. Loe gak sakit kan Dev"


Tisya menempelkan telapak tangannya didahi Devin. Devin tersenyum dan menggeleng pelan"


"Gak demam kok"


"Yang bilang gue sakit juga siapa"


"Lah tadi kenapa tiba-tiba loe minta dipanggil mas"


"Dah lah lupain aja. Anggap gue ngigau"


"Hahahaha. Cie cie ngambek ya mas"


"Ngeselin amat sih"


Saat diperempatan terakhir Devin baru teringat jika tujuannya kali ini adalah hotel Arsya. Tanpa sengaja Devin mengumpat.


"Bego. Kenapa bisa lupa sih. Mampus gue"


"Kenapa loe Dev. Kesambet setan lampu merah"


"Eh sorry. Gak papa kok"


Devin mau tak mau tetap pergi menemui si kembar. Karena tidak ada jalan untuk berputar arah. Dan pastinya si kembar akan marah jika Devin tidak datang.


Mereka sudah tiba di lobby hotel. Devin langsung masuk keruangan Arsya. Devin sengaja menggunakan lift yang langsung menuju ruangan Arsya. Agar menghemat waktu. Didepan ruangan Arsya, Rizky sedang menyiapkan berkas.


"Assalamualaikum pak sutat"


"Waalaikumsalam. Bang"


"Si kembar udah siap ky"


"Tinggal nunggu bang Arash aja bang. Tadi sih udah kesini. Tapi dipanggil ratunya buat jemput"


"Yaelah Arash bucin amat yak"


"Gak usah ngejekin bang. Ingat semua perkataan kembali kepada yang mengatakan loh"


"Iya iya. Gue masuk dulu"


"Eh tunggu. Siapa tuh. Tumben gak sama si Teddy bear"


"Oh asisten baru gue"


"Acieee ada udang dibalik tepung nih"


"Bakwan kali ky"


"Gak dikenalin bang"


"Bukan muhrim. Gak baik. Dosa"


"Pelit amat. Belum juga jadi istri udah posesif. Sabar ya mbak. Bang Devin memang gitu orangnya"


Devin langsung menatap tak suka pada Tisya saat mendengar Tisya memanggilnya dengan sebutan mas.


"Gak boleh panggil mas. Panggil saja Rizky"


"Tapi kan dia lebih tua dari saya pak"


"Siapa bilang. Dia itu umurnya dibawah kita dua tahun. Mukanya saja yang boros jadi kelihatan tua. Hahaha"


"Puft"


"Yaya. Gapapa hina saja diriku ini bang. Ikhlas gue bang".


Devin langsung masuk kedalam ruangan Arsya sambil tertawa melihat wajah kusut Rizky.


"Assalamualaikum ya calon mayit"


"Waalaikumsalam ya saiton"


"Gue gak telat kan ars"


"Nggak. Masih nunggu Abang. Lagi otewe kesini katanya"


"Oke"


Arsya memang tidak melihat kearah Devin. Dia sedang menyelesaikan pekerjaannya. Devin duduk disofa dan mengajak Tisya juga duduk disampingnya.


"Alhamdulillah selesai"


Arsya merapikan kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Rizky masuk membawa berkas baru. Untuk ditandatangani oleh Arsya.


"Ars. Abang loe bawa cewek"


Mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh Rizky, Arsya pun mengangkat wajahnya dan melihat sekilas siapa yang dimaksud Rizky. Senyuman disudut bibir Arsya terlihat jelas oleh Rizky. Sambil membubuhkan tanda tangan, Arsya menjawab perkataan Rizky.


"CLBK dia tuh"


"Maksud loe dia mantan bang Dev"


"Bukan. Tapi cinta lama belum kelar ky"


"Hahahaha. Bisa gitu ya"


"Bisalah. Namanya cinta terpendam dan saling tak sadar"


Devin melihat gelagat aneh sepupu dan asistennya menjadi kepo sendiri. Bahkan suara tawa Rizky tadi sempat membuat penasaran Devin.


"Kalian ngomongin gue ya"


"Kalau iya kenapa"


"Gak sopan banget sih ky. Ngomongin orang didepannya"


"Ya bagus dong bang. Berati gue gak ghibahin loe"


"Serah deh serah. Arash lama banget sih"


Orang yang dimaksud Devin sudah membuka pintu.


"Kangen loe sama gue bang"


"Emang gue terong makan terong. Loe kemana saja rash. Lama"


"Urusan negara"


Arash melirik gadis yang duduk disamping Devin. Senyum yang sama yang ditunjukkan Arsya tampak terlihat jelas. Arsya meninggalkan mejanya dan berdiri disampingnya Arash. Si kena kompak mengolok Devin. Dan Rizky pun sama.


"CLBK"


"Kasih tak sampai"


"Kalian bertiga bisa diem gak sih. Yuk meeting gue masih ada acara lain"


"Maaf pak Devin. Setau saya ini meeting terakhir. Dan setelah itu bapak free"


Arash semakin menggoda Devin.


"Besok yang kompak ya bang"


"Sialan loe rash"


Arsya langsung mengulurkan tangan menanyakan kabar Tisya. Karena si kembar masih mengingat wajah Tisya. Tisya bingung karena merasa pernah bertemu si kembar tapi lupa dimana.


"Apa kabar kak"


"Baik. Maaf apa kita pernah kenal"


"Kami sepupu bang Devin. Yang dulu sering main sama bang Devin. Dan kami selalu ada saat bang Devin bully kakak"


"Ah ya saya ingat. Tambah ganteng aja kalian. Apa kabar kalian"


"Alhamdulillah baik kak"


"Sudah merried"


"Alhamdulillah sudah"


"Wah Devin kalah dong"


"Karena kutukan membuat bang Devin belum menikah kak"


Tisya diam mengingat sesuatu. Tisya menatap kearah Devin dan Devin juga menatap matanya.


"Stop jangan tatap-tatapan. Belum muhrim dosa. Awas setan lewat"


Rizky menutup mata Devin dengan tatapan tangannya. Si kembar hanya tersenyum tipis saja.


_____


Maaf lama ya. Awalnya othor sudah putus asa mau lanjut ini. tapi demi kalian emak akan menuntaskan.


Jangan lupa jempolnya


Happy reading