
"Hahaha. Rasain kalian. Emang enak gue kerjain balik"
"Kesel banget tuh mereka kak"
"Banget sayang. Makasih sayang. Kamu emang cerdas"
Tisya senyum tersipu malu. Devin terhipnotis dengan senyuman itu. Perlahan nalurinya meminta untuk mengulangi apa yang tadi tertunda saat dihotel. Devin mulai terhanyut dengan permainan panas yang dia mulai.
"Sayang. Apa boleh"
Tisya hanya mengangguk malu. Suara Devin pun sudah berubah menjadi berat. Gelora asmara sudah menyelimuti dirinya. Perlahan dia melakukan dengan penuh cinta. Tisya sangat terbuka dengan permainan Devin. Devin sengaja mengulur waktu agar Tisya lah yang meminta terlebih dahulu. Tisaypun menyerah dengan perlakuan Devin.
"Kak. Sekarang. Kak"
"With your pleasure baby"
Permainan panas dengan suara sendu saling bersahutan dalam kamar tidur apartemen Devin. Mereka benar-benar menikmati malam panjang tanpa gangguan siapapun. Pengalaman pertama bagi Devin dan Tisya sangat memiliki kesan mendalam. Cinta ya g sempat bertepuk sebelah tangan kini mereka bisa bersatu dalam ikatan yang halal.
"Terimakasih sayang. Kamu sudah menjaganya untukku. I love you Tisya Alfatir"
"Love to my hubby"
Mereka terlelap karena kelelahan. Disaat adzan subuh berkumandang, Devin berusaha membuka mata dan membangunkan Tisya.Bagunya kewajiban seorang hamba harus tetap dilaksanakan sekalipun matanya sangat mengantuk.
Usai menunaikan kewajiban seorang hamba. Devin kembali menarik Tisya untuk kembali tidur. Mereka memang baru memejamkan mata hampir subuh tadi. Dan sekarang mereka sangat mengantuk. Ponsel mereka sengaja dimatikan agar tidak ada gangguan.
Mungkin terlalu lelah yang mereka rasakan saat ini. Baik Devin maupun Tisya matanya benar-benar lengket. Seperti tak ada tenaga untuk membuka kelopak mata mereka.
"Hmmm. Paper banget perut gue"
Tisya terbangun lebih dulu. Merasakan betapa lapar perutnya itu. Rasa nyerinya masih sangat Tisya rasakan. Apalagi semalam Devin melakukan berkali-kali. Seperti tak ada puasnya. Berjalan perlahan, Tisya mencoba mencari dapur. Berjalan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi.
Karena Tisya baru pertama kali datang ke apartemen Devin dan itu malam hari, Tisya belum begitu memperhatikan apa yang ada didalam apartemen Devin.
"Bersih juga tempatnya. Pemandangannya juga indah. Sejuk lagi"
Tisya membuka pintu balkon dan menikmati sejuknya angin yang melintas. Disekitar apartemen Devin memang ditumbuhi pepohonan besar. Itu yang membuat udara semakin sejuk. Setelah puas menghirup udara segar, Tisya kembali melangkah kearah dapur.
Beruntung isi lemari pendingin Devin masih tersisa sayur mayur dan beberapa potong ayam dan beberapa butir telur ayam. Tisya pun bersiap menanak nasi terlebih dahulu. Sambil menunggu nasi matang, Tisya menyiapkan bahan-bahan untuk membuat capcay sayur dan ayam goreng. Karena hanya bahan itu yang tersisa didalam lemari pendingin.
Tisya yang sedang sibuk didalam dapur, tidak menyadari jika sang suami sedang mencarinya. Saat Devin membuka matanya tadi, dia tak melihat Tisya. Devin pun mencari Tisya. Mencium aroma masakan yang langsung membangunkan cacing diperutnya, Devin langsung menuju dapur.
Devin menikmati pemandangan indah dihadapannya. Tisya yang sibuk memasak hanya menggunakan dress mini rumahan. Devin berjalan mendekati Tisya. Dan langsung mengecup pipinya dari arah belakang.
"Heh. Udah bangun"
Devin langsung memeluk Tisya dan menyandarkan dagunya dipundak sang istri. Sifat manjanya pun keluar.
"Gak ada yang nemenin bobok jadi bangun"
"Emang sebelum nikah ada yang nemenin bobok kak"
"Ada. Guling"
"Guling dikamar juga ada kan. Belum dibuang"
"Gak asyik. Enakan guling hidup"
"Hmmm. Begitukah"
"Lagian kenapa bangun pagi sih sayang. Gak capek apa. Semalaman kita perang"
"Ini udah siang kak. Nih lihat jamnya. Aku juga lapar banget. Makanya kebangun"
"Wuih udah jam satu aja. Udah sholat sayang"
"Udah. Kakak sholat dulu sana"
"Oke"
Devin berlari kembali ke kamar. Dan langsung menunaikan kewajibannya setelah membersihkan diri. Masakan Tisya sudah siap. Semua sudah tertata rapi diatas meja makan. Sambil menunggu Devin, Tisya memasukan pakaian kotor kedalam mesin cuci.
"Sayang"
"Ya kak. Aku ditempat cucian baju"
Devin langsung menuju ruangan mencuci pakaian. Melihat istrinya sedang berusaha meraih baju yang sudah kering dari atas jemuran sambil melompat-lompat, Devin pun tertawa.
"Dasar pendek. Segitu aja gak sampai"
"Iya percaya yang tinggi. Dasar cungkring"
Devin membantu Tisya mengambil pakaiannya yang sudah bersih dan kering.
"Dimasukin tas aja sayang. Nanti biar aku antar ke laundry buat disetrika"
"Gak usah. Aku bisa setrika sendiri kak"
"Apa kamu gak capek sayang"
"Nggak. Ini pekerjaan rumah biasa kak. Waktu sama bunda juga gini"
"Ya sudah. Tapi jangan memaksa. Kalau capek langsung bilang. Nanti semua baju bisa aku laundry"
"Ayolah. Saatnya isi tenaga. Buat pertarungan berikutnya. Hahahaha"
"Ih kok gitu kak"
"Iyalah. Kita kan pengantin baru sayang"
"Huh. Nyebelin"
Tisya melayani Devin menyiapkan makanannya. Saat asyik menyantap makanan mereka, bel apartemen Devin berbunyi. Devin meminta Tisya berganti pakaian terlebih dahulu. Karena memang pakaian Tisya sangat seksi. Ditambah jejak cinta Devin bertebaran dimana-mana.
Devin membuka pintu apartemen miliknya. Disana sudah ada geng semprul berkunjung.
"Ngapain kalian kesini"
"Mau minta pertanggung jawaban bang. Lihat muka gue bengep gini. Digebukin asisten loe"
"Hahaha. Minta tanggung jawab sama Teddy lah masa sama gue"
"Bang kita gak disuruh masuk nih"
"Gak usah. Kalian balik aja sono. Gangguin acara gue aja"
"Lagi apa sih bang penasaran gue"
"Anak kecil gak boleh tau"
"Jahat banget bang. Mentang-mentang gue belum nikah"
"Makanya sono nikah"
Tisya yang sudah mengganti pakaiannya, mencoba melihat tamu yang datang.
"Heh kalian. Kenapa gak masuk. Ayo masuk sini"
"Suami kakak nih gak bolehin kita masuk"
"Kak. Jangan gitu ih"
"Mereka kesini cuma mau ganggu sayang"
"Udah ayo masuk. Kebetulan kita lagi makan. Mau gabung"
"Jangan ditawarin sayang. Habis nanti makanan kita"
"Jangan pelit-pelit kenapa bang"
Ghaisan sudah duduk dikursi ruang makan dan mengisi piringnya dengan nasi dan lauk yang ada diatas meja.
"Woy Sinchan. loe siapa yang nyuruh makan"
"Kakak ipar. Laper gue bang"
"Laper beli sendiri. Jangan ambil makanan gue"
Tisya langsung menengahi mereka.
"Udah gapapa kak"
"Itu jatah kita sayang. Habis noh sama dakocan"
"Berisik amat loe bang. Hmm lezat banget sih masakan kakak ipar. Jadi nagih"
"Awas aja loe tiap hari kesini minta makan Chan. Gue kirim loe ke Alaska"
Mereka semua tertawa. Devin akhirnya melanjutkan makan dengan Tisya menggunakan satu piring untuk berdua.
"Ada apa kalian kesini"
"Disuruh bunda Andini nganter baju kakak ipar"
"Oh..Kalian tau darimana gue disini"
"Teddy"
"Dasar ember bocor emang si Teddy"
Akhirnya semua berkumpul diapartenen Devin untuk bermain game bagi para pria. Para emak sedang berusaha menarut kelapa.
"Icha jangan ajari Tisya aneh-aneh. Awas loe ya"
"Ini ilmu bang"
"Ilmu ghoib gak jelas"
"Terserah apa mau mu"
________
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading