RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



"Assalamualaikum sayang. Lagi apa nih"


"Waalaikumsalam. Baru selesai gosok gigi mau tidur. Kenapa mas. Tumben telepon malam-malam gini"


"Emang gak boleh calon suami nelpon"


"Hehehe. Iya boleh. Lupa kalau udah jadi calon suami"


"Ih gitu amat yak. Gak dianggap banget"


"Maaf. Maaf. Ada apa sih"


"Hmm. Besok mama sama papa ada acara keluar gak"


"Gak tau ya mas. Coba nanti Arumi tanya. Memangnya kenapa"


"Atuk sama papa mau bertemu keluarga kamu sayang"


"Lah kok dadakan sih mas. Kan janjinya Minggu depan"


"Maaf sayang. Ini bukan untuk lamaran resmi"


"Lah terus mau apa"


"Aku kasih tau. Tapi jangan ketawa ya"


"Iya"


"Jadi mereka itu gak percaya kalau aku sudah melamar seorang gadis. Mereka pikir aku berbohong sayang"


"Hah. Kok gitu. Memangnya mas pernah berbohong sebelumnya. Sampai mereka gak percaya"


"Gak pernah ya. Itu mungkin efek kelamaan jomblo. Jadi mereka kira mas ngelantur. Apalagi saat mas bilang putri Wijaya Anggara. Makin gak percaya mereka"


"Hahahaha. Nasib jomblo"


"Kan kan malah ketawa. Ih kamu ngeselin deh sayang"


"Hahaha. Maaf maaf. Habis lucu aja gitu"


"Ya udah. Kamu kasih tau mama papa tentang Atuk sama papaku"


"Iya nanti aku kasih tau mas"


"Sudah malam. Bobok sayang. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ghaisan menutup panggilan teleponnya dengan senyum terkembang. Bahkan dia berguling-guling tak jelas diatas ranjang. Sama seperti anak remaja baru jatuh cinta. Efek terlalu lama jomblo jadi oleng.


Sedangkan dirumah Arumi, sedang terjadi keributan setelah Arumi mengatakan apa yang diminta Ghaisan. Apalagi papa Arumi mendengar Atuk Ghaisan sendiri yang akan datang, secara otomatis panik. Papa Arumi juga cukup kenal dengan Atuk Syakir.


"Kok dadakan sayang. Mama gak ada persiapan apa-apa ini. Masa tamu istimewa dijamu air putih saja. Kan gak banget"


"Hmm. Mama coba deh telepon rumah makan yang langganan kita. Pesan makanan disana saja"


"Apa masih buka pah"


"Ini weekend mah. Sampai malam mereka. Udah buruan sana mah"


"Oya pah"


Mama Arumi langsung menghubungi restoran langganan mereka untuk memesan makanan. Namun sayangnya untuk hari Minggu mereka tidak menerima order. Terpaksa mereka harus mencari alternatif tempat lain.


"Gimana ini pah. Minggu mereka tidak menerima pesanan keluar"


"Haduh. Iya juga papa lupa. Dadakan gini juga"


Arumi yang melihat kedua orangtuanya sedang kebingungan, hanya diam duduk disofa.


"Rumi. Tahu tidak jam berapa mereka akan datang"


"Gak tahu juga mah. Tapi pastinya siang. Mama kenapa gak masak aja. Masakan mama kan juga enak"


"Oh benar kata Arumi mah. Lagian kalau siang pasti sempat kan"


"Tapi mama belum belanja ke pasar tadi pah. Persediaan di kulkas udah habis"


Mereka kompak melihat jam dinding. Dan langsung menemukan solusinya.


"Supermarket depan"


"Ayo buruan. Mereka tutup satu jam lagi loh"


"Iya. Papa ambil jaket sama kunci mobil dulu"


"Rumi ikut gak ini mah"


"Ikut"


Arumi dan kedua orangtuanya seperti sedang mengejar maling. Mereka hanya menutupi piama mereka menggunakan jaket dan bergegas menuju supermarket didepan komplek perumahan Arumi.


Tiba di supermarket, mama Arumi membagi tugas agar cepat selesai. Arumi harus mengambil bahan-bahan yang akan digunakan membuat kue dan puding. Hampir tiga puluh menit mereka sudah siap dengan bahan-bahan yang mereka butuhkan. Setelah membayar mereka segera pulang kerumah.


"Arumi. Besok habis subuh gak usah joging. Bantu mama masak"


"Beres mah"


"Papa juga. Jangan tidur lagi habis subuh. Bantuin juga"


"Iya mama sayang"


Mereka kembali kerumah dengan perasaan yang sedikit lega. Walaupun malam ini mereka mungkin tidak bisa tidur nyenyak karena esok akan bertemu tamu istimewa, namun mereka yakin semua akan baik-baik saja.


Suara panggilan untuk menghadap sang pencipta terdengar begitu merdu, membangunkan setiap umat untuk melaksanakan kewajibannya. Begitu juga dengan Ghaisan. Ghaisan yang baru saja bangun, memilih untuk duduk sejenak sebelum mengambil air wudhu. Dia melihat kearah ponselnya. Niatnya akan mengisi daya, namun melihat pesan Arumi yang masuk lewat dari tengah malam, Ghaisan pun membacanya.


Sebelum tidur semalam, Arumi mengirim pesan kepada Ghaisan agar membangunkannya saat subuh menjelang. Dia mengatakan jika baru terlelap hampir pukul satu dinihari dan takut bangun kesiangan. Ghaisan tersenyum dan langsung menghubungi Arumi.


Suara lemah dan parau khas bangun tidur terdengar dari Arumi. Ghaisan tersenyum mendengar suara itu.


"Assalamualaikum. Belum bangun"


"Waalaikumsalam. Hmm. Sudah kok"


"Ayo bangun sayang. Keburu habis waktu subuhnya"


"Hmmm. Iya mas. Udah bangun kok"


Gubrak


Terdengar suara benda jatuh dan suara kesakitan dari Arumi. Ghaisan sedikit panik.


"Aduhhhh"


"Sayang. Kamu gapapa"


"Aduh. Sakit mas"


"Kamu kenapa"


"Jatuh dari tempat tidur"


"Hahaha. Sudah besar masih aja jatuh"


"Ck. Masih ngantuk ini. Jadi jatuh. Jahat ngejekin"


"Iya maaf. Tapi gak luka kan"


"Gak kayaknya. Ya udah aku sholat dulu mas"


"Iya sayang. Mas juga. Sampai ketemu nanti. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Setelah mematikan panggilan dan meletakkan ponsel kembali keatas nakas, Ghaisan bergegas mengambil wudhu dan berbakat ke masjid didekat rumahnya.


Kembali pagi ini keributan terjadi di rumah Arumi. Setelah subuh, dalam kondisi masih mengantuk Arumi membantu sang mama. Papa Arumi juga ikut membantu. Tak jauh beda dengan kedua pembantu Arumi.


"Mah jadi masak apa"


"Masakan padang aja gimana sayang. Kata papa atuknya Ghaisan itu dari Malaysia"


"Iya Mah. Memang dari Malaysia"


"Ya sudah kita masak makanan padang saja"


"Oke. Rumi bikin kue dulu mah"


"Ya sayang. Mama masak sama bibi"


Mereka mengambil tugas masing-masing. Papa Arumi sedang membersihkan ruangan tamu dan juga sedikit merapikan taman. Beliau ingin memberikan kesan terbaik untuk keluarga Ghaisan.


"Mah. Bolu mau bikin berapa"


"Bahannya bisa untuk berpamitan loyang sayang"


"Hmm. sekitar tiga loyang mah"


"Ya sudah buat semua. Yang dua beda rasa. Dan yang satu terserah kamu. Nanti bawakan untuk keluarga Ghaisan"


"Ya mah"


"Jangan lupa pudingnya juga dilebihkan sayang. Biar bisa dibawa mereka juga"


"Ya mah"


Kembali mereka sibuk dengan pekerjaannya. Benar-benar tak ada waktu untuk mereka istirahat. Bahkan mereka sarapan roti sambil bekerja. Karena semua masakan dimasak langsung oleh mama Arumi.


Jika dikediaman Arumi sedang sibuk mempersiapkan penyambutan keluarga Ghaisan, dirumah Ghaisan sedang terjadi perdebatan. Atuk Syakir tidak mengetahui jika perempuan yang akan dijodohkan kepada Ghaisan adalah perempuan yang sudah lama disukai oleh Azzam adik Ghaisan. Dan setelah subuh Azzam tiba-tiba saja sudah muncul dihadapan keluarganya.


Kini Azzam sedang bertanya kepada Ghaisan secara pribadi. Ghaisan pun mulai menjahilinya. Sengaja tak mengungkap siapa Arumi.


"Jadi loe pagi buta sampai sini cuma karena masalah ini"


"Bang. Kalau masalah lainnya, Azzam masih aku mengalah sama Abang. Tapi untuk satu ini jangan harap"


Ghaisan berusaha untuk tidak tertawa melihat sang adik yang sedang kesal namun salah sasaran.


"Lagian loe dapat berita dari siapa sih"


"Mama. Semalam Azzam telpon mama. Dan mama cerita. Ck. Bang plus deh. Jangan perempuan ini. Azzam suka udah lama"


"Tapi dia gak suka sama loe gitu"


"Gak tau. Azzam belum coba tanya"


"Ya sudah. Bukan salah Abang dong. Loe harus ikhlas menerimanya sebagai kakak ipar"


Ghaisan menepuk pundak Azzam dan berlalu meninggalkan kamarnya. Azzam merasa kesal dengan sikap Ghaisan langsung berteriak.


"Gue bakalan hancurin acara loe bang"



Azzam Mahendra


_____


Sisanya nanti....


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading