
"Sakti"
"Ternyata kau masih mengenaliku manis"
Wajah Tisya menjadi pucat. Devin yang disampingnya mendengar nama Sakti, langsung mengambil langkah melindungi sang tunangan.
"Wah wah sepertinya sedang ada acara perkumpulan keluarga. Apa kamu tak ada niat mengenalkan aku kepada keluargamu manis"
Tisya terdiam. Tangannya menggenggam erat tangan Devin. Devin bisa merasakan kegugupan Tisya dari tangannya yang dingin dan berkeringat. Kedua orangtua Devin mulai bertanya-tanya tentang siapa Sakti melalui tatapan mata.
Semua mata juga tertuju pada sakti yang berdiri dengan gaya pongahnya. Bahkan perempuan yang juga berdiri dibelakang Sakti hanya bisa terdiam seperti menahan amarah.
"Pergilah sak. Kita sudah tidak ada hubungan"
"Aku tidak pernah mengatakan kita setuju berpisah sayang. Sampai kapanpun kamu kekasihku"
"Cukup sakti. Aku sudah memiliki tunangan. Hubungan kita sudah berakhir tiga tahun yang lalu"
"Ingat aku tidak pernah berkata kita sudah berakhir. Asal kamu tau, aku mencarimu sayang. Aku merindukan dirimu"
Sakti melangkah ingin memeluk Tisya. Dengan cepat Devin melayangkan bogeman kepada Sakti.
"Siapa kamu berani-berani memukul Sakti Adiwiyata"
"Kenakalan saya Devin tunangan Tisya"
"Oh jadi pria ini yang membuatmu berpaling dariku sayang"
"Pergi kau. Jangan pernah menampakkan wajah anda didepan kami lagi. Tisya adalah tunangan saya. Jangan berani-berani menyentuhnya"
"Hahahaha. Tak ada satu orangpun yang berani menentang Sakti Adiwiyata"
"Benarkah. Percaya diri sekali anda. Apa anda tidak mengenali kami semua yang berada diruangan ini"
"Hahaha. Orang-orang seperti kalian tak layak untuk saya kenal. Bagi keluarga Adiwiyata kalian hanyalah seujung kuku bagi kami"
Jay dan si kembar mengeluarkan senyum mengerikan disudut bibirnya. Mendengar sakti mengucap kata Adiwiyata, seketika Arash langsung tersenyum meremehkan. Walaupun mereka tidak tau ada masalah apa antara anak Adiwiyata dengan calon menantu keluarga Alfatir, bisa dipastikan dia sudah masuk kedalam sarang singa yang sedang tenang.
"Oh begitukah"
"Sayang ayo kita pulang. Gak ada gunanya kamu berada disini. Hidupmu akan lebih terjamin jika bersama denganku sayang"
"Lepaskan tangan anda tuan sakti"
"Apa hak anda melarang saya"
"Saya adalah tunangan Tisya. Dan anda adalah masa lalu yang memang harus dilenyapkan"
"Hahaha. Berani sekali anda berkata demikian"
"Pergi anda dari sini"
Perempuan yang berada dibelakang sakti, mencoba menarik sakti untuk pergi.
"Baby sudahlah. Ayo kita pulang"
Devin mendengar panggilan sayang perempuan tadi, langsung mencibir sakti.
"Baby. Sudah ada panggilan sayang masih ingin mengusik milik orang lain"
"Heh Tisya itu milik saya. Sampai kapanpun dia milik saya"
"Obsesi anda sangat menyedihkan. Menyia-nyiakan yang ada demi obsesi. Anda sehat"
"Anda berani sekali menghina saya"
Sakti akan memukul Devin. Namun tangan sakti ditahan oleh perempuan yang setia menunggu sakti.
Sakti mendengar nama papa disebut, langsung mundur dan mengikuti perempuan tadi.
"Aku akan pergi sekarang sayang. Tapi aku akan kembali membawamu pergi"
Sakti pergi dari restoran tersebut. Tisya menunduk antara malu dan takut jika keluarga Devin membencinya. Devin yang mendapat tatapan tajam sang papa, mau tak mau harus menceritakan semuanya.
Devin menceritakan tentang masa lalu Tisya. Mama Devin langsung menangis mendengar kisah mengerikan Tisya. Tisya hanya bisa menunduk. Dan tiba-tiba Andini memeluk Tisya erat.
"Tenang sayang. Ada kami. Dia tidak akan berani menyentuh kamu"
Jay langsung mendekat kearah bintang diikuti si kembar. Sakti memang telah salah memilih lawan. Jay dan si kembar telah merencanakan sesuatu yang mengerikan. Tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk menjalankannya. Tentunya setelah mendapat persetujuan Devin.
Acara makan malam berakhir dengan tetes air mata Tisya. Bahkan tanpa sepengetahuan tisya, Devin sudah meminta beberapa anak buahnya menjaga dari jauh rumah Tisya. Karena orang nekad seperti sakti pasti akan melakukan segala cara.
Sepanjang perjalanan mengantarkan Tisya pulang, tak ada sepatah kata terlontar dari bibir Devin. Sedangkan Tisya sedang terlarut dalam kesedihan dan juga ketakutan. Dia tau pasti jika sakti pasti akan kembali menghampirinya.
"Sayang. Masuklah sudah sampai"
"Kak. Maaf acara malam ini harus hancur karena aku"
"Hust. Tidak ada yang seperti itu. Kamu jangan sedih. Sekarang istirahatlah. Besok aku jemput"
"Iya kak"
Devin mengecup kening Tisya. Dan menunggu Tisya sampai masuk kedalam rumah. Devin melihat kesekitar rumah Tisya. Anak buah yang dimintanya sudah standby. Bahkan Devin menyadari jika sedari tadi ada mobil lain yang mengikutinya. Dan bisa dipastikan itu suruhan sakti.
"Hem. Tolol. Kalian sudah masuk kedalam perangkap singa. Tunggu kehancuran kalian secara perlahan"
Setelah memastikan Tisya masuk kedalam rumah dengan aman, Devin melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah Tisya.
Tisya yang sudah masuk kedalam rumah sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Bunda yang melihat langsung memeluknya. Karena tadi bunda ada acara sehingga tak bisa ikut makan malam. Tisya menceritakan kejadian direstoran tadi. Bunda kaget mendengar nama Sakti kembali menghampiri nkehidupan putrinya.
"Kamu jangan khawatir sayang. Bunda yakin Devin bisa melindungi kamu. Sekarang yang perlu kamu lakukan hanya jujur kepada Devin setiap apa saja yang kamu alami"
"Iya bunda. Tisya sempat takut keluarga Devin membenci Tisya. Tapi ternyata tidak"
"Mereka memang keluarga terhormat sayang. Namun mereka tidak mudah merendahkan orang lain dan menghina orang lain. Kamu beruntung masuk kedalam keluarga Devin sayang. Bunda juga lega ada yang bisa melindungi kamu"
"Iya bunda"
"Sekarang kamu istirahat dulu. Sudah malam"
"Iya Bun"
Tisya masuk kedalam kamarnya. Setepah membersihkan diri, Tisya merebahkan tubuhnya. Ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Tisya bisa menebak itu Sakti. Tisya tak mengangkatnya sama sekali.
Tisya memilih mengirim pesan kepada Devin. Mengatakan jika sakti mulai menerornya. Bukan jawaban pesona dari Devin yang dia terima, melainkan pesan dari sakti.
"Hai my dear. Kamu itu milikku. Jangan berharap kamu bisa dimiliki orang lain. Kamu lupa apa yang terjadi pada kita dihutan itu. Jika tak ingin aku membuka aib itu, kembalilah padaku sayang. Aku merindukan suara merdumu itu"
Itulah pesan sakti untuk Tisya. Tisya merasa lega karena sudah menceritakan terlebih dahulu kepada Devin sebelum sakti melakukannya. Tisya langsung teringat kepada Reza. Tisya mengirim pesan kepada Reza menceritakan pertemuan dirinya dengan sakti.
"Jangan takut. Keluarga Devin tidak akan melepaskan sakti. Bahkan keluarga sakti pasti juga akan merasakan dampak dari perbuatan anaknya. Kali ini aku sudah tak begitu khawatir tentangmu. Karena Devin lebih bisa melindungi mu"
Itulah balasan pesan Reza kepada Tisya. Dalam hati Tisya memang masih sedikit ragu. Akankah Devin bisa melindungi nya atau tidak. Tisya hanya belum begitu mengenal lebih dalam keluarga Devin. Dan rasa takut yang begitu kuat masih menghantuinya.
______
Mumpung NT eror...jadi besok bisa up double
Jangan lupa jempolnya
Happy Reading