
Arash dan Icha sudah kembali di make up dan berganti gaun indah berwarna silver gold sedangkan Arash menggunakan tuksedo berwarna gold. Wajah bahagia terpancar dari keduanya. Arash sedang menyuapi Icha dan juga dirinya sendiri.
"A' lagi sayang"
"Uda kenyang mas"
"Dikit lagi. Biar kuat nanti buat nerima banyaknya tamu yang datang"
"Huh. Mas boleh aku pake snakers aja"
"Kenapa emangnya"
"Pasti akan sakit jika kita berdiri lama"
"Tapi mas gak bawa snakers sayang. Cuma ada flatshoes"
"Ya sudah. Tapi kalau capek aku lepas ya mas"
"Syiap ratuku"
Icha sudah selesai dirias. Arash membantunya berdiri. Para perias membantu Icha merapikan gaunnya. Gaun yang dipake Icha lumayan panjang dan lebar.
"Berat sayang"
"Dikit mas"
"Yuk keluar"
Icha merangkul lengan Arash. Berjalan keluar kamar menuju lift. Ballroom yang digunakan Arash berada dilantai dasar dekat dengan taman dan kolam. Para tamu undangan sudah hadir. Musik pengiring sudah terdengar.
"Sudah syiap"
"Mas jantung icha malah dugem. Sama persis kayak dulu waktu mimpiin mas senyum"
"Separah itu sayang"
"Kan mas tau sendiri selama kita kenal dulu mas gak pernah senyum. Makanya Icha panggil tembok berjalan"
"Tapi kan sekarang nggak lagi sayang"
Mereka berjalan memasuki ballroom. Semua menatap kagum pada pasangan itu. Apalagi status Icha yang hanya dari kalangan bias menambah nilai plus. Namun ada juga yang mencibirnya. Apalagi diantara tamu undangan banyak sekali wanita yang mencoba mendekati pangeran keluarga Malik.
Sang raja dan ratu sehari sudah berdiri diatas pelaminan. Musik band pengiring juga sudah terdengar. Beberapa tamu menyalami dan mendoakan kebahagian keduanya.
"Capek belum sayang"
"Belum kok mas. Ternyata banyak banget tamunya mas"
"Iya. Ini cuma beberapa saja yang diundang keluarga sayang"
Tamu undangan semakin banyak. Dan dari arah panggung terdengar suara dari sahabat sang pengantin pria.
"Assalamualaikum. Selamat malam. Kami mengucapkan selamat menempuh hidup baru untuk sahabat kami. Semoga kalian selalu dikaruniai keberkahan dan kelanggengan. Jangan lupa cepat beri kami keponakan. Haha"
Ghaydan dan Ghaysan sudah berdiri diatas panggung yang digunakan untuk band pengiring acara resepsi Arash.
"Ijinkak kami memberikan hadiah terindah untuk kedua pasangan yang sedang berbahagia. Kado spesial dari kami semua"
"Selamat menikmati"
Duo Ghay turun dari panggung. Lampu diarah panggung dimatikan. Tak lama musik intro berbunyi. Dan lampu yang khusus menyorot kearah panggung menyala satu persatu. Panggung dipenuhi rombongan cowok ganteng bermata sipit bersiap untuk melakukan pertunjukkan.
Para tamu wanita yang didominasi wanita muda berteriak antusias setelah mendengar musik intro. Sang pengantin wanita melongo tak percaya apa yang dilihat didepannya.
"Astaghfirullah. Siapa yang mengundang mereka untuk mengisi acara resepsi gue"
Arash sudah waspada. Bahkan dia menatap istrinya dari samping. Nampak mata Icha sangat berbinar. Arash hanya berharap Icha tidak joged diatas pelaminan. Namun diluar dugaan.
Icha dan Jasmine berlari turun dari pelaminan. Bahkan keduanya kompak melempar highheels mereka yang menegenai tepat dipasangan mereka masing-masing. Icha dan Jasmine langsung berdiri didepan panggung. Disana sudah ada Shanum dan Eneng.
"Abang apa kamu mengundang band cowok sipit itu"
"Nggak dad. Arash gak maulah ngundang mereka"
"Terus gimana mereka bisa datang"
"Ini pasti ada seseorang yang merencanakan"
Arash turun menyusul istrinya yang sedang asyik berdendang dan berjoged mengikuti gaya boyband favorit mereka yang sedang menyanyikan lagu berjudul Mr. Simple.
Boyband asal negeri gingseng yang sedang ada undangan di Indonesia. Kini tampil diacara resepsi Arash. Dan Arash membenci itu karena sang istri kini beraa diatas panggung ikut bernyanyi.
"Eneng ayo goyang"
"Siap non Sha. Kesempatan langka ini. Lihat yang ganteng-ganteng"
"Benar sekali"
Arash dan Jay berdiri menatapa tajam istri-istri mereka. Diikuti oleh Mirza. Sang pengantin wanita bersama ibu mertua dan asisten serta Shanum asyik berselfie ria.
"Gimana bang hadiah dari gue"
"O jadi loe biang keroknya Ars"
"Gue cuma bales apa yang loe kasih ke gue waktu gue merried"
"Kenapa loe balas dengan cara ini sih Ars"
"Karena gue gak bisa nyanyi bang. Loe kan tau gue gak jago nyanyi"
"Tapi kan gak pake mereka juga Ars"
Jay mendengar perdebatan si kembar langsung mendekat. Dia tidak bermaksud membela salah satu dari mereka. Melerai pun tidak.
"Kamu tau apa yang paling daddy bencu"
Terdengar nada dingin dan tatapan mata tajam kearah putra keduanya itu.
"Aduh lupa gue mommy kan satu spesies sama mereka. Mati gue raja singa ngamuk"
Arsya bermonolog sendiri setelah menyadari jika induk singa sedang asyik berselfie ria.
"Sorry daddy arsya tidak sengaja"
"Tidak semudah itu ferguso. Kau lihat esmeraldaku sedang kepincut pria lain. Dan kau harus bertanggung jawab ferguso"
"Baiklah fernando jose aku akan membawanya kembali kesisi kamu"
"Lakukan jika kau bisa melakukannya"
Arsya menelan ludahnya. Ini adalah tantangan terbesarnya adalah ibu ratu yang mengamuk. Pasti dia akan dikutuk disumpah serapahi jika mengganggu kesenangan ibu ratu. Belum juga Arsya melangkahkan kakinya. Dia berhenti karena melihat sang istri sudah duduk manis ditengah-tengah boyband itu. Bahkan mereka ada yang mengelus perut Retha dan menciuminya.
"Ya Allah anakku terkontaminasi"
Jay dan Arash tersenyum smrik melihat Arsya hanya berdiri tegang tak jauh dari panggung. Mereka mendekati Arsya yang masih shock melihat sang istri dikerubuti pria bermata sipit.
"Sejak kapan dia disana. Anakku"
"Sabar ya boy. Sebaiknya kita diam saja menonton disini. Jika tak mau para rati memboikot jatah kita. Kalau kita mah gak masalah diboikot seminggu. Lah ini pengantin baru belum juga gol udah diboikot. Karatan yang ada"
"Ya dad. Kita harus sabar"
Ternyata tak sampai disitu. Diatas panggung Eneng sudah mengambil mikrofon dan bersiap bernyanyi. Eneng menyanyikan lagu terpesona. Dia tak ragu mengajak anggota boyband itu berjoged.
"Dad ini sebenarnya acara nikahan arash atau bintang pantura sih"
"Tepatnya kita nonton konser bang"
"Bukan Arash yang jadi bintang malam ini"
"Sabar bang. Kayaknya eneng bales dendam. Kan waktu nikahan Arsya dia gak bisa datang karena sakit"
"Iya sampai nangis tiga hari tiga malam dia ars gak bisa hadir dipesta loe"
Mereka kembali melihat kearah panggung. Kini semua fokusnya bukan lagi pelaminan. Bahkan pelaminan sudah kosong tanpa penghuni. Entah sejak kapan Eneng dan Shanum duet menyanyikan lagu kesukaan Icha. Geboy mujair. Bahkan Alif dan keluarganya ikut berjoged.
Keluarga Arash juga ikut berjoged ria. Entah sejak kapan virus yang disebarkan oleh Shanum dan Eneng menular kemana-mana. Sang pengantin wanita asyik bergoyang dan bernyanyi. Sang suami hanya menatapnya dari jauh. Arka mendekati sang cucu dan putranya.
"Bang, besok kalau nyari pengasuh yang masih bisa diretur. Jangan kayak yang ono noh. Uda kadaruwarsa gak bisa diretur. Ingat yang nyeleksi harus kondisi fit jangan yang ngatuk"
"Arash sekarang setuju sama opa"
Belum selesai keterkejutan mereka dengan ulah sang pengantin wanita dan para pengiringnya. Kini Bagas berdiri ditengah ballroom dan lampu sorot sudah diarahkan padanya. Dibelakang Bagas sudah ada Mirza, Devin, Duo Ghay dan Keynan.
Bagas menulai aksinya. Namun sebelumnya dia memanggil nama Chila untuk melihat kearahnya. Chila yang sedang berkumpul dengan keluarganya langsung memutar duduknya menghadap Bagas.
"Ini untuk Arsyilla Qeeva Malik"
Musii intro terdengar Bagas mulai menari sambil menari. Diikuti teman-temannya. Namun ternyata diluar dugaan Bagas. Boyband yang tadi tampil ikut berjoged.
Bagas menyanyikan lalu Bruno Mars bertajuk marry you.
Chila dibuat takjub dia baru tahu seorang Bagas bisa melakukan hal itu dihadapan tamu undangan pernikahan sang abang. Pasangan pengantin baru juga ikut terhanyut melihat penampilan Bagas.
"Oh sweet banget. Icha jadi pengen"
"Pengen apa sayang"
"Tuh kayak Chila. Kan waktu itu aq dilamar gak kayak gitu"
Arash cuma diam menatap kearah sang istri. Dia memiliki ide untuk mewujudkan apa yang diinginkan sang istri. Arash tiba-tiba ikut bergabung dengan Bagas dan lainnya. Seisi ballroom riuh melihat aksi sang pengantin pria yang spontan. Diakhir lagu, Bagas berjalan kearah Chila.
"Arsyilla Qeeva Malik. Aku mungkin bukan pria idaman kamu. Aku bahkan selalu membuatmu marah sedari kecil. Namun asal kamu tau itu aku lakukan karena rasa cintaku untukmu. Rasa takut kehilangan dirimu. Kini dihadapan kedua orangtua kita dan seluruh keuarga serta tamu undangan yang hadir, Aku Bagas Putra Gautama ingin meminang dirimu. Maukah kamu menjadi pendampingku. Dan menemaniku untuk selamanya. Bersediakah engkau menjadi istriku dan selamanya dalam penjara cintaku"
Riuh teriakan para tamu undangan dan saudara Chila untuk menerima Bagas. Bahkan aksi nyleneh Eneng mengundang gelak tawa.
"Neng Chila kalau akang ganteng ditolak, kasiin Eneng aja. Ikhlas Eneng mah"
Chila tersenyum mendengar ucapan Eneng. Dia masih belum bisa menjawab. Chila mencari keberadaan kedua orangtuanya. Dan saat tatapan mereka bertemu, kedua orangtua Chila mengangguk.
"Bagas Putra Gautama. Aku menerima kamu sebagai calon suamiku"
Saking bahagianya Bagas berlonjak tinggi dan hendak memeluk Chila. Beruntung ada Rizky disamping Chila. Rizky maju menggantikan Chila untuk dipeluk.
"Maen peluk aja. Halalin dulu kali"
Para penoton tertawa mendengar dan melihat tindakan Rizky yang spontan. Sedangkan Bagas hanya nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Bagas lalu menyematkan cincin yang dibelinya di jari manis Chila. Semua bertepuk tangan.
Kini semua beralih kepada pasangan pengantin baru. Arash berjongkok sama halnya yang dilakukan oleh Bagas. Semua mata tertuju pada mereka.
"Annisa Maharani Safitra. Mungkin ini sudah terlambat. Maafkan aku yang tak memberimu lamaran indah kala itu. Disini aku bukan melamarmu menjadi istriku lagi, karena kita sudah sah. Aku Arash Syauqi Malik ingin memintamu agar tetap berada disisiku apapun keadaanku. Maukah kau menua bersamaku. Maukah kau tetap disisiku walau nanti perutku membuncit dan kulitku keriput. Mau kah kau menggapai surga bersamaku ya humairah"
Annisa menangis bahagia. Dia menjawab apa yang dinginkan Arash.
"Aku akan tetap disisimu apapun kondisimu. Dan Aku berharap kita bisa sehidup sesurga bersama"
Arash berdiri bukan memberi cincin atau bunga namun dia mengecup bibir Annisa dihadapan para undangan yang hadir. Semua bertepuk tangan apalagi tindakan spontan Arash membuat semua bersorak. Annisa yang malu karena ulah suaminya bersembunyi dibalik punggung Arash.
Tak lama terdengar suara gemuruh diatas panggung seseorang kembali beraksi.
"Wah selamat buat neng chila dan akang ganteng. Dan Mas arash mambuat hati eneng melumer. Eneng pengen digituin"
Arash mengacungkan kepalan tangan kearah eneng. Sebenarnya banyak yang penasaran dengan si eneng. Dan semua kompak menjawab jika eneng bagian keluarga malik. Kini eneng berdiri diatas panggung bersama mang toyib.
"Ini hadiah dari kami. Persembahan istimewa untuk Mas kembar dari kami. Berbahagialah kalian. Tugas kami paripurna. Sekarang istri kalian yang akan mengurus kalian. Tapi jika kalian masih membutuhkan kami, kami selalu ada untuk kalian. Kalian tetap anak kami"
Suasana menjadi sedikit mellow dengan perkataan Eneng dan Mang Toyib. Arash dn Arsya mendekati mereka dan memeluk mereka.
"Terimaksih kalian tidak akan terganti. Kalian akan tetap menjadi keluarga kami"
Arash dan Arsya turu panggung. Eneng langsung mengeluarkan suaranya.
"Tarik Sis"
"Semongko"
"Kini tinggal aku sendiri...."
Semua ikut berjoged bahkan sang pengantin dan keluarganya juga larut mengikuti musik. Afnan dan Jay yang sedari tadi menahan diri kini juga turun. Mungkin esok akan ada berita heboh mengenai keluarga Malik.
"Bang sorry gara-gara gue pesta loe jadi ambyar gini"
"Mau gimana lagi ars. Loe sok bayar tuh boyband. Tapi seru juga sih jadi gak capek berdiri kayak patung"
Teriakan dari tamu undangan dan keluarga pengantin. Membuat suasana ballroom layaknya konser musik dangdut.
"Hok a hok e"
________
Pernikahan sultan mah bebas. Mau ngundang siapapun juga sok atuh
Jempolnya ya...jangan lupa
Happy reading