RashSya Story

RashSya Story
CPS~Rizky Story



Setelah menyandang istri sah dari Rizky, Medina tidak diijinkan untuk bekerja. Jika Medina merasa bosan, Rizky mengijinkan Medina untuk berjalan-jalan sekedar melepas penat. Medina meminta ibu Rizky untuk tinggal bersama dengan mereka. Agar Medina tidak kesepian. Namun ibu masih tidak mau. Dan berjanji akan pindah jika beliau sudah ingin.


Mengenai Bu Safitri, beliau dirawat secar intensif. Penyakit kanker yang diderita olehnya sudah cukup parah. Rizky masih berusaha agar sang istri mencoba berdamai dengan masa lalunya. Memang sulit, tapi Rizky masih berusaha.


Siang ini Rizky bertemu dengan pengacara almarhum ayah Medina bersama pengacara keluarga Malik dan Arsya. Seperti permintaan Rizky kepada si kembar sebelumnya, dia meminta pertolongan si kembar untuk membantu pengalihan hak perusahaan ayah Medina yang masih dikuasai sang paman.


"Maaf bang, Iky telat". Rizky datang terburu-buru karena dia sedikut terlambat dari waktu yang dijanjikan.


"Gak papa. Tadi sekretaris loe juga ngomong loe lagi ada meeting. Lagian Pak Purnomo belum datang. Jadi santai aja dulu". Jelas Arsya. Rizky segera duduk dan menunggu kedua pengacara yang memang belum datang.


Tak berselang lama, kedua pengacara yang mereka tunggu sudah tiba. Mereka segera membahas permasalahan keluarga Medina. Yang didapat dari kedua pengacara tersebut.


"Jadi ini semua bukti konkrit. Kami sudah menyelediki ini. Dan benar ada kecurangan dalam proses pengalihan perusahan tersebut.


"Jadi mereka benar-benar berbuat curang. Dasar manusia tidak tau diri". Arash sudah sangat geram dengan orang-orang seperti paman Medina.


"Jadi kita bisa ambil tindakan pak". Rizky sudah yakin jika Medina akan bisa mendapatkan perusahaan ayahnya kembali.


"Langkah awal mungkin kita bisa mencoba secara baik-baik. Ya walaupun itu hal yang tidak mungkin. Tapi kita harus mencobanya. Jika masih tetap gagal. Kami akan melaporkan ini sebagai kasus penggelapan". Si kembar dan Rizky mengangguk paham.


"Saya tidak begitu paham tentang hukum. Jadi saya pasrahkan ini semua kepada bapak. Saya yakin bapak akan melakukan yang terbaik". Rizky memilih menyerahkan semua persoalan ini kepada kedua pengacara tersebut.


"Baik pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Dengan bukti kuat surat wasiat dan surat kuasa ini, saya yakin kita bisa menang". Walaupun belum ada hasil, mereka tetap optimis menang.


Setelah pertemuan itu, Rizky memilih pulang kerumah. Apalagi sehari ini Medina tidak ada kabar. Biasanya Medina akan mengirimi Rizky pesan jika dia mulai bosan. Atau hanya sekedar iseng. Karena khawatir, Rizky memilih pulang.


Rizky segera masuk kerumah mencari keberadaan Medina. Masih belum ada tanda-tanda Medina diruang tamu hingga dapur. Rizky hanya bertemu dengan asisten rumah tangganya yang sedang mencuci piring.


"Bi. Medina kemana ya". Tanya Rizky ramah kepada asisten rumah tangganya.


"Mbak Medina dari siang tadi berada dikamar mas". Rizky terkejut mendengar jawaban asisten rumah tangganya itu.


"Terimakasih bi. Bibi istirahat saja. Malam ini tidak usah masak. Saya akan beli dari luar". Pesan Rizky kepada asisten rumah tangganya sebelum menuju kamar.


Rizky bergegas masuk kedalam kamar agar bisa mengetahui kondisi sang istri. Begitu tiba didalam kamar, Rizky melihat Medina berada didalam selimut tebal mereka. Perlahan Rizky mendekat dan mengecup kening Medina.


"Assalamualaikum sayang. Kakak sudah pulang". Rizky berbisik ditelinga Medina agar tidak menganggu tidurnya. Rizky juga mencoba mengecek suhu tubuh Medina yang sedikit panas.


"Sayang sakit. Kok demam badannya". Rizky masih berbisik pelan. Namun masih belum ada pergerakan dari Medina.


Karena khawatir dengan sang istri, Rizky segera mengangkat tubuh Medina dan membawanya ke rumah sakit. Dalam perjalanan Rizky tetap mencoba berbicara dengan Medina walaupun tidak ada tanggapan.


Rizky segera menggendong Medina menuju ruang gawat darurat agar segera ditangani. Rizky menunggu dengan cemas saat Medina diperiksa didalam ruangan tanpa dirinya bisa mendampingi.


Ceklek


"Sayang apa yang kamu fikirkan hingga membuatmu sakit seperti ini. Apa kamu juga jarang makan saat kakak bekerja". Rizky mengusap telapak tangan Medina. Medina masih belum sadar.


Rizky menghubungi asisten rumah tangganya dan memberitahu kondisi Medina. Rizky juga meminta tolong agar asisten rumah tangganya besok pagi bisa ke rumah sakit agar Rizky bisa pulang mengambil pakaian Medina.


Melihat kondisi sang istri yang drop, membuat Rizky kehilangan nafsu makan. Tapi dia sadar jika dia tidak menjaga kesehatan, siapa yang akan menjaga Medina. Hampir tengah malam, Medina baru tersadar.


"Sayang kamu sudah bangun". Rizky bahagia melihat Medina tersenyum.


"Kak, Dina haus". Rizky segera mengambilkan air putih dan perlahan menyuapkan kepada Medina.


"Apa Dina lapar. Kakak belikan makanan". Medina menggeleng pelan. Dia kembali merebahkan tubuhnya karena lemas.


"Tidak kak. Dina cuma pusing dan pengen tidur". Rizky mencoba memanggil perawat yang sedang berjaga untuk memeriksa keadaan Medina.


Perawat meminta agar Medina tetap makan Walaupun sedikit. Medina hanya mengangguk pelan. Dan Rizky mencoba memesan makanan online sesuai anjuran dokter. Sambil menunggu pesanan datang, Rizky berbicara dengan Medina.


"Gimana hari ini sayang. Kenapa tidak menelpon kakak kalau kamu sakit". Medina hanya tersenyum tipis melihat kekhwatiran dimata Rizky.


"Dina baik-baik saja kak. Hanya butuh istirahat sebentar nanti juga baikan". Rizky hanya menggeleng tak percaya dengan jawaban Medina.


"Ck udah diinfus masih aja bilang baik-baik saja". Rizky mengerucutkan bibirnya membuat Medina tertawa pelan. Sikap manja Rizky hanya ditampakkan kepada ibu dan Medina.


"Kakak belum mandi ya". Medina berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Karena kamu demam kakak panik sampai gak sempat mandi. Hehehe. Tapi masih wangi ya". Medina menutup hidungnya menggunakan dua jari.


"Pantes ada asem-asem apek gitu baunya". Rizky mencoba mencium ketek dan pakaiannya. Namun tidak ada bau yang seperti Medina ucapkan.


"Enggak bau sayang. Coba deh cium". Dengan jahilnya Rizky mengarahkan ketiak kehidung Medina.


"Ih kakak jorok banget. Masa suruh nyium ketek". Rizky tertawa melihat reaksi Medina.


"Alah sok jual mahal. Siapa yang tiap malam tidur diketek kakak. Siapa coba". Medina mendelik kearah Rizky. Membuat Rizky gemas.


"Gak ada ya. Mana pernah Dina tidur diketek asem". Medina masih mengelak.


"Oke, berarti besok-besok kalau ada yang ngedusel diketek kakak, kakak pindahin". Ancaman Rizky kembali membuat mata Medina melotot.


"Dasar ngeselin". Rizky tertawa terbahak melihat Medina cemberut.


Rizky selalu berusaha membuat Medina tertawa. Sudah cukup kesedihan dan kesusahan yang Medina alami. Rizky sudah berjanji dipusara kedua orangtua Medina, akan selalu membuat Medina tersenyum. Sekalipun menangis, itu karena bahagia.


"Teruslah tertawa sayang. Kakak akan selalu ada untukmu dan membuatmu tertawa". Gumam Rizky dalam hati yang masih melihat Medina tertawa.