
"Assalamualaikum mama sofi"
"Waalaikumsalam eh anak mama sudah pulang sekolah. Gimana hari ini nak"
"Masih seperti biasa mama"
"Kamu uda makan sayang"
"Uda tadi makan kue sama buna sama al"
"Masih mau makan gak"
"Nanti saja ma meera masih kenyang"
"Ya sudah nanti kalau lapar bilang mama ya"
"Syiap"
Meera setiap hari akan mengunjungi rumah keluarga Prasetya yang tinggal tepat didepan rumahnya. Perkenalan mereka tanpa sengaja. Keluarga itu juga baru pindah saat meera berusia dua tahun. Karena di keluarga prasetya hanya memiliki dua anak lelaki, itulah alasan mengapa meera begitu disayangi disana.
"Mama hari ini kita mau ngapain"
"Meera ikut mama yuk"
"Kemana ma"
"Arisan kerumah teman mama"
"Meera ijin dulu sama buna ya mama"
"Iya sayang"
Meera lalu berlari keluar rumah keluarga prasetya menuju rumah miliknya sendiri. Saat di gerbang meera berpapasan dengan Hanif kakak dari Hanan.
"Meera kenapa berlari"
"Mau pulang bentar kakak"
Hanya sepuluh menit, meera sudah kembali ke rumah hanan. Dia juga sudah berganti pakaian. Walaupun usia meera kini sudah sepuluh tahun namun bakat fashionnya sangatlah apik.
"Mama meera udah siap"
"Wah cantiknya anak mama"
Hanan yang baru pulang sekolah langsung bertanya kemana mereka akan pergi. Hanan memiliki sifat cuek namun hatinya sangatlah hangat.
"Mama mau kemana"
"Arisan"
"Raisya ikut"
"Iya"
"Ya udah. Hati-hati"
"Dagh kak han"
"Hmm. Jangan bandel"
"Pasti"
Hanan tidak mau memanggil meera dengan nama meera. Dia lebih suka memanggilnya dengan nama Raisya. Jika ditanya kenapa. Jawaban hanan sangat simpel karena nama itu cantik.
Hampir setiap hari meera akan mengunjungi rumah hanan. Jika dia tidak datang, mama hanan akan datang ke rumah meera untuk menanyakan kabar meera. Terkadang kedua orangtuanya itu bercanda dengan saling memanggil besan.
Hari ini hari minggu, meera harus mengikuti keluarganya mengunjungi sepupunya yang baru saja tiba di Indonesia. Meera lupa memberitahu mama sofie. Hanan dan Hanif berkali-kali menanyakan dimana meera.
"Ma raisya kemana"
"Mama juga gak tau dek"
"Tumben gak kesini biasanya uda rame rumah ini. Papa tadi juga lewat depan rumahnya sepi banget"
"Apa mungkin mereka pergi pah"
"Bisa jadi"
Hanan dan hanafi hanya diam mendengarkan. Mereka asyik dengan mainan mereka. Namun serasa ada yang hilang tanpa kehadiran meera dirumah mereka.
"Apa gue kirim pesan aja ya"
Seseorang berfikir untuk menanyakan keberadaan meera saat ini. Entah mengapa dia merasa tak bersemangat hari ini.
"Gue rindu loe anak kecil"
Meera baru teringat jika hari ini memiliki janji dengan Hanan dan Hanif untuk bermain game bersama.
"Duh meera baru ingat kalau hari ini mau tanding bola sama kak Han. Ck kenapa pake lupa sih"
Meera mencoba mengirim pesan agar mereka tak menunggu meera pulang. Belum juga berhasil mengirimkan pesan, ghibran sudah mencari meera untuk bermain bersama.
"Kakak meera ayo kita main"
"Ghibran mau main apa"
"Uno"
"Hmm boleh. Ajak kak serkan dan kak al juga ghibran"
"Boleh boleh"
Satu hari mereka berada dirumah Bagas karena jarang sekali mereka bisa bertemu. Semenjak Bagas memutuskan kembali ke paris karena perusahaan mereka bermasalah.
Pagi menjelang. Rasanya enggan membula mata karena rasa lelah mendera. Namun meera harus ke sekolah. Hari liburnya telah usai. Dia bangun dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.
"Uda siap sayang"
"Sudah. Almeer sama abang mana buna"
"Belum turun. Mungkin sebentar lagi"
Tak lama keluarganya berkumpul untuk sarapan sebelum memulai aktifitas. Hanya denting piring yang beradu dengan sendok saja suara diruangan itu.
"Meera sudah selesai. Meera tunggu diteras"
Meera keluar membawa tas sekolahnya juga tak lupa tas bekal yang sudah disiapkan oleh bunanya.
Saat asyik memainkan ponselnya, meera dipanggil seseorang dari balik pagar yang sudah siap dengan sergam putih birunya dan sepeda gunung.
"Anak kecilll"
"Kak han uda mau berangkat"
"Iya. Loe kemana kemarin"
"Kemarin gue ke rumah adik ghibran"
"Kenapa gak kirim pesan"
"Maaf meera lupa"
"Ya sudah. Gue berangkat dulu. Nanti sore gue tunggu loe pulang sekolah"
"Oke kak han"
Meera melambaikan tangan kepada sosok yang sudah berlalu pergi. Tak lama meera juga berangkat sekolah dengan diantar Arash.
Hari berlalu. Bulan berganti. Si kembar dan Serkan mengikuti seleksi akselerasi kelas. Ini kali kedua bagi mereka. Dan hasilnya mereka selalu lolos. Mereka kini sudah berada di penghujung sekolah dasar.
"Ma apakah kita harus pindah"
"Iya sayang untuk sementara saja kok. Nanti setelah papa sembuh kita kembali kesini lagi sayang"
"Kami harus pindah sekolah juga mah"
"Iya kami sudah menyiapkan segalanya. Kalian tinggal masuk saja"
"Berapa lama kah kita akan tinggal disana mah"
"Lima tahun paling cepat sayang. Semoga papa segera sembuh jadi tak sampai lima tahun kita kembali"
Rasa gelisah menyelimuti hatinya. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dia harus melakukan sesuatu untuk gadis kecil yang selama ini telah menyita perhatiannya.
"Gadis kecil gue akan sedih berpisah lama dengan loe. Gue pasti kangen loe"
Walaupun mereka berbeda usia, baginya tak jadi soal. Anak kecil itu telah mengalihkan peehatiannya. Dunianya lebih berwarna setelah mengenalnya.
"Besok kita akan berpamitan kepada keluarga meera. Mama akan sedih berpisah dengan meera"
Hari perpisahan sudah tiba. Sebelum keluarganya bertemu dengan gadis kecilnya. Dia lebih dulu ingin menemuinya dan memberikan sesuatu untuk gadis kecilnya. Dia sudah memesan itu pagi hari setelah mama sofie memberitahu jika mereka akan pindah ke luar negeri dalam waktu yang tak pasti.
"Gadis kecil"
"Loh kak han kok ke sekolah meera"
"Iya gue mau kasih kamu sesuatu. Jangan sampai hilang harus kamu pake terus karena gue bakalan kembali menannyakannya lagi"
"Oke meera akan menyimpannya. Memangnya apa"
"Ini buat loe. Sini gue pakaikan dileher loe"
"Wah cantik sekali kak han"
"Loe lihat ada bantul berbentuk cincin"
"Iya lucu banget"
"Cincin ini sepasang dengan yang gue pakai"
"Wah lucu kita couplean"
"Dengarkan gue baik-baik. Gue akan pergi sementara waktu. Dan gue bakalan kembali nyariin loe. Loe harus jaga baik-baik kalung ini. Gue akan kembali buat loe"
"Meera gak paham kak han"
"Nanti loe akan tau. Pokoknya jangan sampai hilang"
"Okey. Meera masuk dulu ya kak han"
"Iya gue pamit. Jangan nangis ya. Jangan bandel. Tunggu gue balik buat loe"
Meera melambaikan tangannya sambil tersenyum kearahnya. Walaupun anak kecil itu belum paham maksudnya baginya tak masalah. Kini hatinya sudah ada yang memiliki.
"Tunggu aku gadis kecilku"
Dia kembali melajukan sepedanya kembali ke rumah dan bersiap pergi. Dia meminta kedua orangtuanya untuk berpamitan dikala gadis kecilnya tidak ada dirumah. Karena dia tidak akan sanggup melihatnya menangis.
"Selamat tinggal. Aku akan segera menemuimu"
_______
Jadi disini yang paling waras cuma meera. Dan meera memiliki penggemar sejak kecil. Lebih tepatnya seseorang yang menyanyanginya dari kecil. Memang khusus part menceritakan sisi kehidupan mereka dikala kecil. Maaf gak ada candanya yang ini.
Jangan lupa jempol
Happy reading