RashSya Story

RashSya Story
Ghaydan~Sebuah Kabar



...**Disetiap novel receh othor tidak ada yang namanya PELAKOR. Saya anti cerita seperti itu....


...Jadi gak usah khawatir ya gaesss.....😅😅😅😅**...


..._________...


Setelah bertemu dengan Atha dua hari yang lalu, Ayu sudah beberapa kali menghubungi Atha. Dan hari ini saat makan siang mereka akan bertemu disebuah kafe dekat dengan kantor Ayu.


Sedari pagi ayu sudah bahagia karena akan bertemu Atha. Bundanya pun juga ikut bahagia mereka bisa kembali bertemu dan melanjutkan silaturahmi.


"Yu. Jadi kamu nanti ketemu sama Atha"


"Jadi Bun. Kenapa"


"Gapapa. Jangan sampai hubungan baik yang selama ini pernah kita jalin kembali putus. Mereka sudah seperti saudara kita Yu"


"Iya Bun. Ya udah ayu berangkat dulu Bun"


"Ya nak. Hati-hati dijalan ya"


"Ya Bun. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ayu melajukan kendaraannya menuju kantor. Pagi hari jalanan belum begitu padat. Ayu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Empat puluh lima menit waktu yang ditempuh Ayu untuk sampai di hotel milik Arsya.


.


.


.


Pagi ini seila baru pulang dari rumah sakit. Karena semalam dia mendapat sift malam. Saat pulang kerumahnya, seila masih melihat Atha tertidur lelap sambil memeluk guling. Beruntung seila sempat mandi dirumah sakit saat akan sholat subuh tadi. Dia naik ke atas ranjang dan mencoba membangunkan sang suami.


"Sayang. Uda pagi ayo bangun"


Tak ada respon dari Atha. Dia masih tenang dalam tidur nyenyaknya.


"Kak. Ayo dong bangun. Udah siang nih"


"Hmmm"


Atha hanya berdehem dan membalikkan badannya membelakangi seila. Seila mengeluarkan senjata terakhirnya.


"Kalau kakak gak mau bangun juga. Rasakan ini"


Seila menciumi seluruh wajah Atha dan mengenduskan kepalanya kearah leher sang suami. Atha yang tak tahan geli pun langsung tertawa.


"Ampun sayang. Udah geli sayang"


"Makanya bangun kak"


"Apanya yang bangun sayang"


"La mau apanya"


Atha langsung menarik tubuh sang istri masuk kedalam dekapannya.


"Ah kangen banget sama istri aku ini"


"Udah biasa juga ditinggal jaga malam kak"


"Mau jaga malam atau nggak aku selalu merindukan kamu sayang"


"Ah bahagianya hatiku"


"Eh sayang kamu kapan periksa lagi"


"Besok kak. Aku besok libur"


"Oke. Besok kakak juga libur"


"Loh kok gitu"


"Gapapa kita habis periksa jalan-jalan lagi sayang"


"Oke bos"


Atha perlahan mendekat kearah seila. Bibir mereka sudah saling bersatu saat Atha akan **********, Seila mendorong dada Atha dan berlari kedalam toilet.


"Huekkkk. Huekkkk"


"Sayang kamu kenapa. Apa mulutku bau sekali sayang"


Seila terus memuntahkan isi perutnya sambil menggeleng memberi jawaban kepada Atha. Seila yang lemas hanya bisa bersandar pada dada bidang sang suami. Dan saat Atha akan memeluknya kembali seila memuntahkan isi perutnya.


"Huekkkk"


"Sayang. Ya Allah kamu kenapa ini. Jangan bikin aku takut sayang"


Seila berusaha berjalan dengan meraba dinding dan tidak mau disentuh oleh Atha. Membuat Atha semakin frustasi.


"Sayang ayo aku gendong saja"


"Stop. Kakak menjauh saja. Seila mual"


"Ya Allah. Ya sudah kamu duduk saja dulu sayang. Aku mandi dulu biar kamu gak kebauan sayang"


Atha langsung berlari masuk kedalam kamar mandi. Dia mandi secepat kilat. Dia tidak tenang dengan keadaan seila saat ini. Atha yang hanya menggunakan bathrobe dan menghampiri sang istri.


"Bagaimana sayang apa masih mual"


"Nggak kak. Cuma pusing saja"


"Kita ke dokter. Ayo kakak gendong"


Tanpa menyadari apa yang sedang dipakainya, Atha langsung menggendong seila. Seila pun tak menyadari apa yang Atha pakai saat itu. Eneng yang melihat Atha dari tangga menggendong seila, langsung histeris.


"Mas Atha situ yang gelantungan dibawah apaan"


Atha dan seila sama-sama melihat kearah yang ditunjuk jadi oleh Eneng. Atha teriak begitu juga seila. Berbeda dengan reaksi Eneng.


"Aaaaaaa"


"Kakakak"


"Wow bapaknya worm"


Atha memutar tubuhnya kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Seila langsung mengomel pada suaminya.


"Seneng ya pamerin pusakanya sama Eneng. Gak sekalian tadi dipamerin dirumah sakit. Biar semua perempuan menganga mulutnya"


"Aduh sayang beneran gak sengaja. Mas lupa tadi sayang"


"Alasan saja. Sebenarnya emang mau dipamerin kan"


Atha merasa aneh dengan perubahan drastis dari seila. Seila tidak pernah merepet sepanjang ini. Dia juga bukan tipe yang suka berdebat. Selesai berpakaian, Atha duduk disamping istrinya lalu memeluknya.


"Maafin kakak. Kalau kakak salah sayang"


"Hiks hiks. Kakak jahat. Si Otong kan cuma punya seila kenapa dipamerin ke Eneng"


"Seila kenapa ngomong pake bahasa Eneng sih. Curiga gue. Sudah terpapar virus markoneng ini"


Atha berbicara dalam hati setelah mendengar perkataan sang istri. Atha berusaha menenangkan perasaan istrinya.


"Cup sayang. Iya Otong cuma punya kamu. Abang gak akan bagi kesiapapun itu. Termasuk Eneng"


"Tapi Eneng tadi lihat kak"


"Nggak mungkin. Dia ngaco orangnya"


"Beneran loh kak"


"Iya sayangku. Cintaku. Permata hatiku"


"Ya udah. Ayo katanya mau ke dokter"


"Yuk"


Atha merangkul pinggang istrinya. Entah apalagi yang terjadi, seila merasa risih dengan perlakuan Atha.


"Lepas dong kak. Gerah tau"


"Tumben. Biasanya juga gini kan sayang"


"Gak mau ah. Lepasin kak. Jalan sendiri aja"


"Ohh. Oke"


Atha berjalan dibelakang seila. Saat Eneng melihat Atha dan seila yang tidak mesra, mulut somplaknya pun berkata.


"Lagi habis ya lemnya mas Atha. Kok bercerai berai"


"Diem loe neng"


"Idih. Galak amat sih. Gak dapat jatah ya mas"


Seila yang melihat Eneng menggoda Atha dengan memainkan alisnya, dia langsung kesal.


"Ada istri disini kalian masih saja bermesraan"


"Eh siapa yang mesra-mesraan sih sayang. Aku mah ogah sama makhluk oleng kayak dia"


"Biarin wle"


Atha langsung menarik pinggang seila agar reda marahnya. Namun seila kembali menolak apa yang dilakukan Atha. Atha hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Panas kak. Gak usah peluk-peluk"


"Huft"


"Idih kasian ditolak bini. Peluk tuh tiang rumah"


"Markoneng"


Seila sudah lebih dulu masuk kedalam mobil. Atha menyusulnya setelah berpamitan kepada eneng dan mengatakan, jika mereka akan pulang malam nanti.


Selama didalam mobil, seila meminta Atha memutar musik dengan genre dangdut koplo. Musik kesukaan Eneng. Atha tahu jika musik seperti itu bukanlah kesukaan seila.


"Sayang sejak kapan suka musiknya Eneng"


'Emang kenapa. Gak boleh"


"Boleh saja sayang. Cuma kakak bingung saja. Kok tumben kamu suka musik kayak gitu"


"Salah ya"


"Nggak kok. Nggak salah"


Atha memilih diam dari pada kembali bertanya. Dia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi. Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai dirumah sakit. Seila kembali berulah.


"Aku maunya sama dokter cowok yang ganteng. Gak mau yang tua"


"Sama dokter cewek saja ya sayang"


"Ya udah kakak aja yang periksa sana"


"Kan kamu yang sakit sayang"


"Tapi kakak yang mau ganjen"


"Nggak ya sayang. Aduh"


"Pokoknya kalau dokternya gak tampan, aku gak mau"


"Oke-oke kita cari dokter yang tampan"


Atha hanya bisa pasrah saja mengikuti langkah seila. Setelah mendapat apa yang seila inginkan, kini keduanya sedang duduk menunggu antrian.


"Sayang biasanya kita pake dokter Fahmi kan. Kenapa sekarang beda"


"Dokter Fahmi udah tua kak, aku mau yang muda. Dan dokter Ashraf dokter tertampan disini"


Atha yang mendengar seila memuji seorang lelaki selain dirinya, sempat kesal. Namun dia masih mencoba bertanya ada apa dengan seila karena tiba-tiba berubah.


"Apa seila kena pelet ya"


Pikiran Atha sudah tidak waras lagi melihat perubahan istrinya itu. Atha hanya diam saja. Beberapa perawat yang mengenal seila, langsung menyapanya.


"Dokter Seila silahkan masuk"


Seila berjalan meninggalkan Atha dibelakang. Atha hanya bisa diam mengikutinya. Dan didepan dokter yang akan memeriksanya, seila langsung sumringah. Atha menarik tangan sang istri pelan dan berbisik pelan.


"Sayang jangan senyum gitu, aku cemburu"


"Apasih kak"


Dokter Ashraf yang melihat seila masuk, langsung menyapanya.


"Wah tumben dokter muda berbakat kita periksa pagi gini"


"Namanya juga manusia dok, pasti juga bisa sakit"


"Ada keluhan apa"


Atha yang menjawab pertanyaan dokter Ashraf sedangkan seila sibuk menatap dokter tampan itu.


"Istrinya pagi tadi tiba-tiba muntah. Dan pusing dok"


"Sudah sarapan"


"Sudah"


"Ya sudah saya periksa dulu ya"


"Oke dok"


"Seila tampak antusias. Berbeda dengan Atha yang sangat tidak suka istrinya begitu bahagia melihat dokter tampan itu.


"Hmmm. Sepertinya ini memang harus ke dokter Fahmi ya dokter seila"


"Maksudnya gimana dok"


"Yang lebih berhak menjelaskan biar dokter Fahmi saja. Saya takut salah dalam menganalisa"


"Tapi saya maunya sama dokter Ashraf saja"


"Haha tidak bisa dokter seila. Ini sudah wilayah dokter Fahmi"


"Sayang ayo kita temui dokter Fahmi saja"


"Tapi dokter Ashraf ikut ya"


"Saya masih praktek dokter seila"


"Ya sudah saya tunggu disini"


Atha semakin bingung saja dengan apa yang terjadi dengan sang istri. Dokter Ashraf melihat kegusaran Atha. Dia berjalan mendekati Atha dan berbisik. Atha langsung melotot tak percaya.


"Sayang ayo sebaiknya kita ketempat dokter Fahmi"


"Nggak mau kak. Maunya sama dokter Ashraf saja. Dokter Fahmi sudah tua"


"Hahaha. Nanti dokter Fahmi dengar bisa diceramahi dokter seila"


"Hmmm dokter Ashraf sebaiknya anda mau mengantar istri saya sebentar saja keruangan dokter Fahmi. Bagaimana"


"Hmmm. Baiklah daripada ada patung dituangkan saya akan mengganggu pasien lain hahaha. Mari saya antar dokter seila"


Atha pun harus ikhlas melihat sang istri lebih senang berjalan disamping dokter tampan itu daripada berjalan disampingnya. Dokter Ashraf langsung mengetuk pintu ruangan dokter Fahmi.


tok tok


"Masuk"


"Siang dok"


"Eh dokter Ashraf. Tumben ada apa ini"


"Mengantarkan pasien spesial dok"


Seila muncul diikuti Atha dibelakang dokter Ashraf. Dokter Fahmi menurunkan sedikit kacamatanya.


"Dokter seila. Ada apa ini"


Dokter Ashraf langsung berbisik kepada dokter senior itu. Sama dengan atha, dokter Fahmi juga merasa kaget.


"Ya sudah ayo saya periksa"


"Gak sama dokter Ashraf dok"


"Gak bisa dia. Bukan jurusannya"


"Tapi saya mau sama dokter Ashraf"


"Dokter Ashraf masih banyak pasien. Mau apa dokter tampan ini diberi sanksi karena meninggalkan pasiennya. Terus gak kerja lagi dirumah sakit ini"


"Gak maulah dok"


"Ya sudah biarkan dokter ganteng ini bertugas kembali"


"Baiklah"


Ashraf pun langsung pergi menuju ruangannya. Dokter Fahmi langsung memeriksa seila. Sesuai apa yang diduga oleh dokter Ashraf.


"Jadi Alhamdulillah semua adalah kehendak sang pencipta. Saya sebagai manusia hanya sebagai perantara saja. Selamat ya anda sedang hamil tujuh Minggu dokter seila"


"Apa. Dokter gak salah ngomong. Bukannya saya harus berobat paling tidak selama enam bulan"


"Kembali saya katakan semua kehendak yang maha kuasa. Dan inilah buktinya. Saat ini sudah tumbuh janin didalam rahim dokter seila"


Atha langsung memeluk seila. Seila bahkan menangis bahagia. Apa yang mereka harapkan sudah terwujud hampir satu tahun mereka menanti anugerah ini.


Dokter Fahmi memberikan resep vitamin dan juga asam folat agar kandungan seila sehat. Tak lupa dokter Fahmi memberikan saran kepada Atha mengenai kehamilan sang istri. Atha juga baru mengerti jika perubahan seila karena kehamilannya.


____


Maaf ya gaesss baru update. Kemarin si dedek panas karena imunisasi. Dan tadi maknothor habis vaksin jadi baru sempat.


Jaga kesehatan gaessss


Jangan lupa jempolnya


Happy reading