
Malam ini ulangtahun Danish. Seperti biasa hanya akan dirayakan bersama keluarga. Malam ini spesial Danish mendapatkan kado dari sepupunya si kembar untuk merayakan diresort keluarga. Bahkan keponakannya sikembar Al sudah menyiapkan kado spesial. Begitu juga kakek dan neneknya.
Devin ingin mengajak Tisya ke acara tersebut. Sebagai tamu spesial. Devin ingin Tisya petrvya jika niatnya mempersunting dirinya bukanlah kebohongan semata. Dia benar-benar serius ingin menikahi teman kecilnya itu. Bahkan Devin ingin membawa serta bunda Tisya menghadiri acara Danish. Apalagi setelah kejadian Devin melamar dadakan, Tisya seakan menjaga jarak darinya.
"Tis. Bisa keruangan saya sebentar"
"Baik pak"
Sebelum menemui Devin, Tisya menghela nafasnya dalam. Dan dia melangkah dengan berat. Setelah mengetuk pintu dan Tisya masuk keruangan Devin. Tanpa basa-basi Devin langsung mengutarakan niatnya.
"Tis. Aku gak mau basa-basi. Jujur setelah kejadian seminggu yang lalu, kamu seakan menghindari aku. Bahkan setiap pesanku kamu abaikan. Apa kamu meragukan niatku tis. Bahkan waktu satu Minggu yang aku berikan untuk kamu berfikir, sepertinya kamu abaikan. Sampai saat ini belum ada kepastian dari kamu. Ada apa tis"
"Dev. Gue sudah bilang, kalau kita gak bisa bersama. Begitu jauh perbedaan diantara kita Dave. Dan lagi pula, gue gak mau jadi perempuan perebut"
"Perempuan perebut. Maksud kamu apa tis. Siapa yang kamu rebut"
"Sudahlah Dev. Kita berteman saja. Itu akan lebih baik"
"Tidak tis. Malam ini aku akan kerumah kamu. Malam nanti adikku ulangtahun dan aku akan membawamu dan bunda kehadapan orangtua dan keluarga besarku. Tidak ada penolakan. Dan satu hal yang harus kamu tau. Kamu tidak merebutku dari siapapun"
"Dasar pemaksa"
Tisya bergumam pelan namun masih didengar Devin. Devin berdiri dan mendekati tisya.
"Aku dengar sayang. Dan kuharap malam nanti kamu tampil mempesona untukku bukan untuk orang lain. Kamu boleh pulang cepat hari ini. Kalau perlu ke salon. Ingat sayang aku akan menjemputmu sore nanti"
"Ck"
Devin tersenyum bahagia melihat wajah Tisya yang kesal karena permintaan darinya. Tisya kembali kemejanya dengan mengumpat.
"Apa maksudnya gak merebut dari wanita lain. Gue mau dijadiin istri kedua gitu. Ogah bener. Dasar maruk. Pemaksa. Menyebalkan"
Tisya tetap membereskan pekerjaannya sebelum pulang lebih awal. Walaupun kesal entah mengapa kakinya tetap saja melangkah meninggalkan kantor bahkan dia sempat browsing salon terdekat dan juga membeli gaun melalui butik online untuk dirinya dan bunda. Bekerja enam bulan diperusahaan Devin, membuat tabungannya semakin gemuk. Bahkan sedikit demi sedikit Tisya bisa membuatkan warung kecil untuk bundanya agar tidak berjualan keliling lagi.
Tisya sudah kembali dari salon. Hari ini memang dia tidak membawa kendaraan karena sedang mogok. Tisya baru menyadari ada sesuatu yang salah pada dirinya saat berada didalam mobil online.
"Ngapain gue ke salon sih. Bege banget jadi orang. Mau dijadiin istri kedua kok seneng"
Tak lama notifikasi pemesan pakaian dari sebuah butik masuk ke dalam ponselnya. Dan pakaian tersebut telah sampai dirumah Tisya.
"Bege. Bege. Habiskan uang tabungan gue. Ngapain coba tadi pesan gaun segala. Aturan pakai aja daster biar sekalian ditolak jadi mantu. Istri kedua. Hiii. Bayangin aja udah ngeri"
Penyesalan memang datang diakhir. Jika diawal namanya berharap. Dengan kesal Tisya masuk kedalam rumah. Belum juga dia masuk sang bunda sudah bertanya tentang gaun yang baru saja diterimanya.
"Tisya. Kamu beli gaun"
"Iya Bun. Sudah sampai kan Bun"
"Sudah nak. Tapi buat apa"
"Ada undangan acara ulangtahun adiknya bos Bun"
"Kok dua nak gaunnya. Apa gak sayang uangnya"
"Yang satu punya bunda"
"Loh kenapa beli buat bunda. Bunda kan gak ada acara"
"Bunda juga diminta ikut sama bos Tisya"
"Kok bisa. Memangnya bos kamu kenal sama bunda nak"
"Kenal pake banget"
"Benarkah"
Tisya memang belum pernah menceritakan kepada bundanya jika selama enam bulan ini dia bekerja dengan teman sekaligus tetangga saat kecil dulu. Bunda begitu terkejut mendengar jika Tisya kembali bertemu dengan Devin. Apalagi keluarga Devin begitu baik pada keluarganya saat mereka bertetangga dulu.
"Devin punya adik"
"Katanya sih gitu Bun. Tisya juga baru tahu kalau dia punya adik"
"Iya Bun. Ya sudah Tisya istirahat dulu Bun. Nanti Devin kesini jemput kita"
"Ya nak. Bunda juga Maya beres-beres diwarung dulu"
Tisya masuk kedalam kamarnya dan merebahkan badannya. Dia masih bingung dengan apa yang dia lakukan sekarang. Karena terlalu lama larut dalam pikirannya, Tisya terlelap dengan sendirinya.
.
.
Dikediaman Bintang, mereka sedang bersiap berangkat menuju resort milik Arash. Namun Devin menolak untuk berangkat bersama. Devin mengatakan akan menjemput seseorang terlebih dahulu kepada keluarganya.
"Bang beneran gak bareng kita"
"Nggak mah. Devin mau jemput seseorang dulu"
"Kayaknya spesial nih. Siapa sih bang"
"Nanti mamah juga tau. Oya mah nanti Devin mau ngomong penting sama mamah papah"
"Apa nak"
Tunggu papa bentar"
Bintang baru saja keluar dari toilet. Devin langsung mengutarakan niat baiknya kepada kedua orangtuanya.
"Mah. Pah. Devin mau melamar seseorang malam ini"
"Bang jangan bercanda"
"Serius mah. Nanti diacara Danish, Devin mau melamar dia"
"Siapa gadis itu bang. Kalian sudah lama kenal"
"Bukan hanya Devin yang kenal. Mama dan papa juga sangat mengenalnya dan keluarganya"
"Benarkah. Siapa Dev"
"Nanti kalian akan tahu siapa yang Devin maksud. Tapi Devin meminta ijin kepada mama dan papa untuk melamar gadis tersebut"
"Apa tidak sebaiknya kita melamar kerumahnya saja langsung bang"
"Itu harus pah. Devin hanya melamar secara simbolis saja nanti malam. Dan resminya Devin serahkan kepada kalian kapan akan datang kerumah orangtuanya"
"Bang jangan bikin kami penasaran. Siapa gadis yang sudah meluluhkan hati anak mama ini"
"Simpan penasaran mama. Nanti setelah mama bertemu pasti mama akan tahu siapa dia"
"Ya sudah papa dukung kamu nak. Asalkan itu yang terbaik. Ingat harus seiman nak. Masalah dia berharta atau tidak, itu bukan soal penting. Kamu sebagai imam yang nantinya menafkahinya"
"Iya pah. Devin paham itu. Dia seiman dengan kita. Dia anak yatim pah. Ayahnya meninggal saat bertugas. Dan sekarang hidup hanya dengan bundanya saja"
"Anak istimewa. Bahagiakan dia bang. Anak yatim itu mulia. Papa setuju. Kita segera atur kapan melamar kerumah keluarga mereka nanti"
"Pah mah. Terimakasih. Bagi Devin restu kalian yang paling utama. Doakan Devin agar nantinya bisa menjadi imam yang baik"
"Pasti. Tapi halalin dulu bang baru jadi imam dia. Sekarang mah baru berkhayal"
"Ye mama merusak angan Devin saja"
____
Diterima gak ya....
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading