
Keluarga Ghaisan sedang menuju ke kediaman keluarga Arumi. Azzam yang masih mengira jika Ghaisan menerima perjodohan dari atuk mereka, nampak masih kesal. Ghaisan sudah memberitahu kedua orangtuanya dan atuknya agar Azzam tidak diberitahu dahulu siapa wanita itu. Dan mereka setuju.
"Pokoknya nanti jangan ada yang menghalangi Azzam. Azzam gak terima dibohongi gini"
"Iyalah. Terserah loe aja"
Ghaisan masih saja menggerutu tak terima perempuan incarannya di rebut Ghaisan. Padahal kenyataannya bukan perempuan itu yang akan Ghaisan kenalkan.
"Dek. Memangnya kamu yakin perempuan itu mau sama kamu. Hahaha"
"Ih mama malah gitu"
"Habis kamu itu umur udah banyak. Kelakuan kayak bayi"
"Mama"
"Lagian ya dek, emang kamu yakin kalau Abang menerima perjodohan dengan anak Datuk Hamid"
"Gak mungkin Abang gak terima. Secara Nabila itu cantik. Sholeh. Lembut lagi orangnya"
"Cie. Cie udah pandai memuji ya sekarang anak papa"
"Papa. Azzam itu serius"
"Iya iya papa tau"
Sepanjang perjalanan menuju rumah Arumi, Azzam masih saja berprasangka jika Ghaisan akan bertunangan dengan Nabila. Gadis Malaysia incarannya. Kini mereka sudah sampai didepan kediaman keluarga Wijaya. Ghaisan turun terlebih dahulu. Penjaga rumah mendatangi Ghaisan dan mempersilahkan masuk.
"Mas Ghaisan. Langsung saja diparkir didalam mas"
"Makasih pak"
Pintu gerbang dibuka lebar agar mobil Ghaisan bisa masuk kedalam. Keluarga Ghaisan masih berdiri didepan. Mereka menatap keseluruh rumah Arumi. Azzam baru menyadari sesuatu. Setelah keluarga Arumi keluar menyambut.
"Assalamualaikum pak Wijaya"
"Waalaikumsalam pak Syamil dan Datuk Syakir. Mari silahkan masuk"
Azzam menarik tangan Ghaisan agak menjauh dari rombongan. Dan menanyakan sesuatu.
"Abang jadi bukan Nabila"
"Lah emang bukan. Siapa bilang Abang terima perjodohan itu"
"Alhamdulillah. Sayang abangku"
"Ih minggir deh. Nanti kakak ipar loe lihat dikira Abang gak normal"
"Ih gak gitu juga kali. Yuk masuk. Azzam pengen kenal kakak ipar"
"Udah gak marah lagi ini"
"Nggaklah"
Dengan penuh kebahagiaan Azzam berjalan didepan Ghaisan. Ghaisan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik bontotnya. Didalam rumah kedua keluarga sedang berbincang. Mereka semua menoleh ketika mendengar Azzam mengucapkan salam.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Ini..."
"Oh ini Azzam adik Ghaisan yang paling kecil"
"Jadi ini adik Ghaisan yang tinggal di Malaysia dan tak kalah hebat dengan abangnya. Walaupun usianya masih muda"
"Alhamdulillah"
"Wah wah. Masuk nak. Mari duduk"
"Terimakasih om"
Azzam dan Ghaisan bergantian menyalami dan mencium tangan kedua orantua Arumi. Arumi dan Azzam memang seusia hanya berbeda beberapa bulan saja. Ghaisan yang duduk disamping Azzam memang sedikit minder. Ada rasa khawatir Arumi lebih memilih Azzam yang seusia. Azzam berbisik kepada Ghaisan setelah dia berkenalan dengan Arumi.
"Bang. Kok kayaknya umurnya sama kayak gue ya"
"Hmmm"
"Wah daun muda nih. Pucuk pucuk"
"Diem loe"
"Wajib kasih tau kak Naom ini"
"Loe bisa diem gak"
"Hehehe"
Arumi yang duduk dihadapan Ghaisan penasaran dengan kedua kakak beradik yang tampak berbeda watak itu. Semua perhatian saat ini tertuju kepada Atuk Syakir yang langsung memecah keheningan.
"Sebenarnya saya kesini awalnya penasaran. Bagaimana bisa cucu saya yang kakunya minta ampun bisa mengenal gadis cantik keluarga Wijaya. Dan juga setau saya putri anda berada diluar negeri. Bagaimana bisa Arumi berada disini"
"Kedua. Berati putri bapak ada dua begitu"
"Lebih tepatnya mereka kembar. Arumi memiliki adik bernama Aruna. Saat ini Aruna lebih memilih menetap diluar negeri. Tempat mereka dilahirkan"
"Hmm. Begitu. Baiklah karena semua sudah jelas. Saya sebagai kakek dari Ghaisan dan kedua orangtuanya juga sudah setuju, kami kembali melamar Arumi hari ini dan akan diadakan acara secara resmi Sabtu depan. Bagaimana"
"Kami sekeluarga sangat merasa terhormat bisa menjadi bagian dari keluarga besar Mahendra. Kami sebagai orantua hanya bisa merestui. Semua keputusan ada ditangan Arumi. Karena nanti Arumi yang akan menghabiskan sisa waktunya bersama Ghaisan"
"Bagaimana Arumi. Lamaran Atuk untuk Ghaisan diterima tidak. Atau kamu lebih tertarik dengan Azzam yang jika dilihat usia kalian sama. Hahaha"
Ghaisan yang mendengar sang Atuk mulai melucu hanya bisa menghela nafas saja. Azzam pun sama. Raut wajahnya juga berubah.
"Arumi terima lamaran dari mas Ghaisan Atuk"
"Alhamdulillah. Ghaisan ternyata laku juga. Hahaha"
"Atuk. Mulai lagi kan"
Semua tertawa mendengar lelucon dari Atuk Syakir. Syaqilla yang terus tersenyum bahagia langsung memberikan tanda simbolis untuk Arumi.
"Rumi. Mama Qilla senang Arumi mau menerima lamaran dari Abang. Dan ini adalah kalung dari keluarga besar mama. Sekarang menjadi milik kamu sayang. Sebagai tanda kamu adalah calon menantu mama"
Kedua orangtua Arumi tersenyum bahagia. Arumi bahkan hampir meneteskan air mata. Kalung bertahta berlian dengan nama keluarga Santoso ditengahnya kini berada dileher Arumi. Papa Wijaya melihat nama Santoso merasa sangat terhormat. Bahkan papa Wijaya sama sekali tak menyangka akan benar-benar masuk kedalam lingkup keluarga besar Santoso dan Alfatir yang begitu ternama.
Acara mereka lanjutkan dengan makan siang bersama. Semua berkumpul diruang makan. Semua sudah tertata rapi. Arumi menjalankan perannya sebagai calon istri. Dia mengambilkan makanan untuk Ghaisan. Betapa bahagianya mama Arumi, mendapat pujian. Bahkan keluarga Ghaisan begitu menikmati masakan yang terhidang.
"Alhamdulillah. Enak sekali ini masakannya"
"Terimakasih atas sanjungannya pak Syakir. Ini semua dimasak oleh Arumi dan mamanya"
"Wah. Benar-benar calon istri yang baik. Gak salah memang pilihan Ghaisan kali ini. Nanti setelah lamaran jangan kasih lama. Langsung ijab sah. Hahaha"
"Wah ini yang ngebet malah atuknya ya. Hahaha"
Mereka sudah mencapai kesepakatan akan melaksanakan pertunangan akhir pekan. Keluarga Ghaisan meminta agar mereka tidak perlu memikirkan tempat dan catering serta dekorasi. Semua akan diurus keluarga Ghaisan.
Berita bahagia Ghaisan langsung sampai ke telinga Jay. Karena setelah mereka meninggalkan kediaman keluarga Arumi, Atuk meminta mengunjungi keluarga Jay. Kehebohan pun terjadi dirumah Jay. Si kembar Rashsya paling antusias menyambut momen detik-detik status jomblo Ghaisan dilengserkan.
"Ada juga akhirnya wanita yang mau sama loe dakocan"
"Emang sue loe Ars. Ngasih selamat kek"
"Belum saatnya Chan. Nanti setelah ijab sah baru kita kasih selamat. Ini mah masih belum halal. Masih rawan kangkung"
"Apa tuh kangkung. Sayuran"
"Tukang tikung. Gak gaul"
"Dapat istilah darimana sih loe Ars"
"Markoneng"
"Ajaran Eneng masih aja loe pakai"
"Kapan mau nyebar undangan tunangan. Gak mungkin kan putra pertama dari Syamil Mahendra bertunangan tanpa mengundang koleganya"
"Ini juga mau ngomongin itu Ars. Kan Arash yang punya Wedding Organizer. Tapi Arash mana kok gak kelihatan"
"Ada. Lagi nganterin Almeer beli layang-layang"
"Oh. Ars gue pake hotel loe ya"
"Atur aja"
"Asyikkk. Gretong kan"
"Ghaisan Mahendra Santoso pemilik pusat perbelanjaan di Indonesia minta gretongan. Gak malu sama nama"
"Heleh. Gak usah bawa nama. Secara ini kan spesial buat keluarga gue"
"Nanti kalau loe nikah baru gue gratisin. Sekarang tidak"
"Oke deh. Janji loe"
"Hmmm"
Mereka membicarakan semua hal tentang persiapan pertunangan Ghaisan. Ghaisan akan membicarakan juga kepada Arumi. Agar mereka sama-sama adil dalam mengambil keputusan.
_______
Azzam udah salah sangka dulu gaessss
Jangan lupa jempolnya
Happy reading