RashSya Story

RashSya Story
Mr. Jutek (Ghaisan Story)



MAAF BARU BISA MUNCUL. EMAK BARU KELUAR OPNAME GAESS. JADI HARUS BENERAN BEDREST KEMARIN. KINI EMAK SUDAH SEHAT DAN COMEBACK....


_______


"Bagaimana hasilnya dok". Ghaisan menanyakan kondisi Arumi setelah dokter memeriksanya.


"Tidak apa-apa pak Ghaisan. Ibu Arumi hanya kelelahan saja". Dokter menjelaskan kondisi Arumi saat ini.


"Alhamdulillah. Saya sempat khawatir tadi dok. Takut ada sesuatu yang berbahaya". Ghaisan mengutarakan kekhawatirannya kepada sang istri.


"Tidak perlu khawatir bapak. Ibu hanya butuh istirahat cukup dan tolong untuk tidak terlalu berfikir terlalu berat". Dokter kembali meyakinkan Ghaisan dan memberikan pesan kepada Ghaisan untuk Arumi.


"Kalau begitu kami pamit dokter". Ghaisan berpamitan kepada dokter yang telah memeriksa Arumi.


"Jangan lupa vitaminnya dihabiskan ya Bu Arumi". Dokter memberikan pesan kepada Arumi.


"Baik dokter". Arumi membalas dengan anggukan dan senyuman.


Ghaisan merangkul pundak Arumi dan membawanya keluar ruangan. Arumi terdiam terhanyut dalam lamunan dan dikiranya sendiri. Ghaisan menyadari itu. Ghaisan akan mengajak bicara sang istri setelah keluar dari rumah sakit.


"Sayang kamu duduk sini dulu. Mas antrikan resep sebentar". Ghaisan meminta Arumi untuk duduk sementara dirinya menuju apotek.


Arumi tertunduk memainkan ujung bajunya. Ghaisan yang melihat dari kejauhan mengerti akan kegundahan yang sedang dialami sang istri. Ghaisan kembali dengan kantong berisikan beberapa vitamin untuk Arumi.


"Sayang. Yuk pulang". Ghaisan menepuk pelan pundak sang istri yang asyik memainkan ujung bajunya.


"Oh. Sudah mas". Arumi sedikit tersentak karena tepukan pelan sang suami.


"Sudah. yuk". Ghaisan menuntun pelan sang istri.


Mereka berjalan keluar rumah sakit. Ghaisan setia merangkul pundak sang istri. Ghaisan sudah berencana akan mengajak Arumi kesuatu tempat. Saat Ghaisan mengantri obat tadi, Ghaisan sempat mengirim pesan kepada Kumala, jika dia tidak kembali ke kantor. Bagi Ghaisan Arumi lebih utama daripada pekerjaannya.


Didalam mobil Ghaisan melihat Arumi terus melamun menghadap kearah jalanan. Ghaisan mengarahkan laju kendaraannya menuju kearah pantai. Arumi masih belum menyadari jika sang suami tidak membawanya pulang ke rumah.


"Sampai sayang. Turun yuk". Ghaisan menyadarkan Arumi dari lamunan panjangnya.


"Loh mas kok ke pantai. Emang mas gak kerja lagi apa". Arumi baru menyadari jika mereka saat ini bukan berada dirumah melainkan disebuah pantai.


"Hari ini mas mau menemani istri mas yang sedang galau ini". Ghaisan mencolek ujung hidung sang istri.


Ghaisan membuka pintu mobil dan juga tak lupa membukakan pintu untuk Arumi. Layaknya seorang ratu, Ghaisan memperlakukan Arumi begitu istimewa. Sambil bergandengan tangan mereka menyusuri tepian pantai dengan deburan ombak yang begitu menenangkan.


"Ada apa sayang. Apa yang kamu pikirkan. Jangan pernah kamu pendam sendiri. Apa gunanya mas kalau kamu memendam semuanya sendiri". Ghaisan menanyakan apa yang menjadi ganjalan dalam pikiran sang istri.


"Rumi sudah membuat kecewa mas". Arumi menjawab sambil menunduk dan terisak.


Ghaisan menarik Arumi kedalam pelukannya. Ghaisan bisa merasakan betapa sakit perasaan sang istri saat ini.


"Mas Arumi mau tanya. Dan mas jawab dengan jujur. Tolong jangan menjawab hanya tak ingin Arumi sedih". Arumi melepas pelukan sang suami dan mengajukan persyaratan sebelum dia mengutarakan pertanyaannya.


"Iya sayang. Kamu mau tanya apa". Ghaisan menatap wajah sang istri secara intens.


"Saat mas dapat telepon dari Bu Minah Rumi pingsan tadi, apa yang ada dipikiran mas". Arumi mengajukan pertanyaan kepada Ghaisan.


"Mas khawatir. Mas takut kamu kenapa-kenapa sayang". Ghaisan menjawab dengan sangat meyakinkan karena itulah yang Ghaisan rasakan saat itu.


"Saat dokter memeriksa tadi. Apa yang mas harapkan". Arumi kembali bertanya kepada Ghaisan.


"Mas berharap tidak ada yang serius dengan kamu sayang. Tidak ada sesuatu yang membuatmu dalam bahaya". Ghaisan sebenarnya masih bingung dengan arah pertanyaan sang istri. Namun dia tetap berusaha menjawab pertanyaan sang istri.


"Mas bohong. Mas gak jujur". Arumi melepaskan paksa pelukan Ghaisan dan berdiri membelakangi Ghaisan.


Ghaisan sedikit kaget dengan perubahan sikap sang istri. Dengan tenang Ghaisan mendekati Arumi dan memeluk sang istri dari belakang. Ghaisan masih belum memahami apa yang sedang terjadi.


"Ada apa. Sejak kapan mas berbohong kepada kamu sayang. Mas masih belum mengerti apa yang sebenarnya kamu pikirkan sayang. Katakan kepada mas sayang". Ghaisan mencoba membujuk sang istri agar mau berterus terang.


"Rumi takut mas kecewa. Mas pasti mengira jika tadi Rumi pingsan, Rumi sedang hamil". Arumi mengutarakan apa yang menjadi pemikirannya.


"Hah. Kok gitu. Mas malah gak kepikiran sampai situ sayang. Yang mas pikirkan kamu gak kenapa-kenapa. Itu saja". Ghaisan kembali menegaskan jika apa yang Arumi sangkakan itu salah.


"Mas gak kecewa jika sampai saat ini Arumi belum hamil". Arumi kembali menunduk dan memainkan ujung bajunya.


Ghaisan kembali meraih tubuh sang istri dan memutarnya menghadap kearahnya. Ghaisan meraih dagu sang istri agar tidak menunduk.


"Sayang dengarkan mas baik-baik. Anak adalah hak proregatif dari Allah. Kita manusia hanya perlu berusaha dan berdoa. Jika Allah sudah berkehendak pasti kita akan memiliki keturunan. Namun jika Allah masih menghendaki kita berpacaran terlebih dahulu, kita mau buat apa. Kita gak bisa melawan kan. Jadi jangan lagi itu menjadi beban kamu sayang. Kita menikah belum genap satu tahun. Banyak pasangan yang hingga berpuluh-puluh tahun masih sabar menantikan kehadiran buah hati. Kita yang masih sebentar sudah gusar. Jadi mas minta nikmati jalan yang ada dihadapan kita saat ini sayang. Kita masih punya banyak waktu untuk berusaha dan berdoa. Hasil akhir kita pasrahkan sang pemilik kehidupan. Oke. Jangan berfikir terlalu keras sayangku". Ghaisan meyakinkan sang istri agar tak terlalu terbebani. Tak lupa Ghaisan mengecup kening sang istri.


"Mas gak akan poligami kan. Mas gak akan ninggalin Rumi kan kalau Rumi belum bisa memberikan keturunan". Arumi mengutarakan semua ketakutan dalam hatinya.


"Pemikiran darimana itu. Dalam keluarga Mahendra dan Malik tidak ada istilah seperti itu. Kami bukan orang yang berfikiran singkat sayang. Memutuskan sesuatu hanya berdasarkan nafsu semata. Kamu tak perlu khawatir sayang. Jangan terbebani akan hal itu. Mas gak akan pernah meninggalkan kamu dalam kondisi apapun". Ghaisan kembali berusaha meyakinkan Arumi. Jika apa yang difikirkan Arumi itu salah.


"Rumi hanya takut mas. Keturunan adalah hal paling utama dalam sebuah rumah tangga. Arumi takut jika Arumi tak bisa memberikan itu mas". Arumi masih saja dalam rasa takut dan bersalahnya.


"Sst. Sudah jangan dibahas lagi sayang. Kita jalani saja takdir yang sedang kita hadapi. Kita tetap berusaha dan berdoa sayang. Selebihnya biar Allah yang mengatur untuk kita. Saat ini yang mas minta jauhkan segala fikiran negatif kamu sayang. Jaga kesehatan kamu. Mungkin kita perlu mempersiapkan diri untuk menyambut buah hati kita. Kita siapkan mental dan juga kesehatan kita sayang". Ghaisan berusaha membuat Arumi agar tidak berfikiran negatif.


"Iya mas. Maafkan Rumi. Maafkan pemikiran negatif Rumi mas". Arumi menangis menyesali perkataannya tadi.


"Sudah jangan dibahas lagi. Kita jalani saja sesuai takdir yang terjadi sayang". Ghaisan mengecup mesra kening sang istri untuk memberikan kekuatan kepada istrinya tersebut.


____


Next...pak sutat akan muncul gaesss....


Happy reading jangan lupa jempolnya gaesss