
Sudah hampir satu minggu Icha tinggal di Paris. Sedangkan Chila sudah kembali. Dan Bagas juga ikut kembali. Mereka baru tau masalah foto dibandara yang diambil oleh Daffa. Karena takut hal itu kembali terulang, Bagas meminta ijin kepada sang papa untuk kembali ke Jakarta.
Di Paris Icha mulai menerapkam ilmunya. Dia menjadi asisten Arash. Beruntung otak Icha cukup encer dan mudah sekali menerima ilmu baru. Sedangkan untuk Arash, Icha adalah pelindungnya dari godaan para mak lampir.
"Sayang kamu mau makan apa"
"Ada gak sambel terasi sama ikan peda aja mas"
"Hahaha. Kamu ini ada-ada aja. Di paris mana ada makanan kayak gitu"
"Ck. Lidahku dan perutku sudah capek makanan sini mas. Takut mereka lupa negara asal"
"Ngasal aja kamu sayang. Aku pesanin makanan ya. Atau mau kerumah Bagas. Tadi mamanya nawarin sarapan"
"Hmmm jujur aku lagi pengen makanan lokal mas. Uda gak selera sama makanan yang keju-kejuan"
"Ya sudah bentar mas tanya dulu sama mamanya Bagas ada gak makanan yang kamu pengen"
"Oke. Aku mandi dulu ya mas"
"Iya sayang"
"Mau ikut gak. Hahaha"
"Anak nakal"
Annisa tertawa karena senang mengganggu suaminya itu. Arash langsung menghubungi orangtua Bagas. Karena setau Arash mereka juga suka makanan lokal bahkan pembantu mereka impor dari tanah air.
Arash langsung menyiapkan beberapa dokumen. Karena setelah sarapan mereka langsung akan pergi ke proyek pembangunan. Icha yang sudah selesai mandi keluar hanya menggunakan bathrobe dan handuk membungkus rambutnya.
"Dasar suami tak berakhlak"
"Heh berani ya ngatain suami"
"Lihat hasil mahakaryamu ini mas. Uda kayak tersangka kasus pembunuhan aja. Badan semua biru ungu gini"
"Hahaha. Maha karya tak ternilai harganya sayang"
"Ini jadinya sarapan apa mas"
"Mama Bagas punya apa yang kamu mau sayang"
"Yes. Ikan peda aku padamu"
"Kayak dapat undian miliaran aja kamu sayang"
"Itu harganya lebih dari miliaran hubby"
Untuk menghilangkan rasa bosan Icha memutar lagu dangdut kesukaannya. Perlahan Arash mulai mengenal sifat asli Icha yang selalu apa adanya tidak ada kata jaim untuk Icha. Icha yang somplak membuat sifat asli Arash yang juga gesrek jika sedang berhadapan dengan Icha.
Digeboy geboy mujair
Nang-ning-nong, nang-ning-nong
Pak guli pak, bang dung ding ser
Mustopa jadi nggak kuat
Mustopa tergila-gila
Mustopa jatuh cinta
Sama seorang biduan
Digeboy geboy mujair
Nang-ning-nong, nang-ning-nong
Pak guli pak, bang dung ding ser
"Cihaaa. Goyang terus mas"
"Asyek asyek jos"
Sambil bergoyang dan bernyanyi mereka benar-benar lepas tanpa beban. Bahkan keduanya sama-sama belum berpakaian hanya menggunkan bathrobe dan handuk.
"Hokya hokye. Terus neng"
"Abang awas handuknya lepas"
"Biarin yang lihat cuma kamu aja sayang. Ayo kita dugem baby"
Dugem dengan kearifan lokal menurut mereka berdua. Icha juga baru paham jika pasangannya tak kalah somplak.
"Sayang udahan. Keburu siang. Ntar malam lanjut jaran goyang"
"Cie cie yang ketagihan jaran goyang"
"Sesuatu yang nikmat baby"
"Nagih ya. Goyangan eneng mah yahut. Bikin max kelimpungan"
"Dasar mesum"
Setelah siap Arash membawa Icha kerumah Bagas yang jaraknya tak befitu jauh dari penhouse mereka. Sebenaranya ada dapur yang lengkap. Arash sengaja membeli penhouse itu agar mudah jika mereka sedang berkunjung ke Paris. Namun karena Icha yang tak begitu biasa dengan makanan Paris dan bahan - bahan masakan yang tak familiar untuknya. Membuat Icha jarang masak.
Tiba dikediaman keluarga Gautama, mereka disambut dengan hangat. Mereka langsung sarapan dengan menu yang Icha rindukan selama beberapa hari ini.
"Ah yummy sekali tante"
"Habiskan sayang. Jika kurang tante masih ada persedian ikan peda. Ikan jambal pun ada"
"Wah surga itu namanya"
Melihat sang istri makan dengan sangat lahap membuat dia sangat bahagia. Mama Bagas pun ikut tertawa melihat cara makan Icha.
"Tante impor ikan ini"
"Nggak sayang. Kebetulan waktu ke Indonesia tante sengaja beli banyak"
"Apa gak disita dibandara tante. Kan ini bau menyengat"
"Nggaklah kita pake pesawat pribadi sayang"
"Ou ou. Ya ya ya"
"Oya kamu kalau mau bawa pulang ikannya boleh kok. Siapa tau nanti masih pengen masak ikan ini"
"Ah tante terbaik"
"Eh ada pete sama jengkol juga loh"
"Ah lophe pull tante"
Arash dan Papa Bagas hanya bisa geleng-geleng sambil tertawa. Makanan biasa bagi Icha adalah makanan mewah. Melihat perubahan badan Icha membuat mama Bagas penasaran.
"Icha kamu gemukan ya sekarang"
"Biasa aja kok Tan"
"Gak ah. Yang tante lihat kamu gemukan dari terakhir kali kita ketemu"
"Hmm. Agak cubby sih sayang. Gapapa lucu kok"
"Huh harus diet dong"
"Nggak usah. Nanti dikira aku gak ngasih makan kamu sayang"
"Tapu aku gak pede mas"
"Gak usah pikirin omongan orang. Yang penting kamu bahagia"
Usai makan pagi, Arash dan Icha langsung pamit kerja. Begitu juga orangtua Bagas yang akan mengunjungi tempat yang sama. Mereka menggunakan mobil masing-masing.
Saat mereka tiba diproyek selalu saja afa kuntilanak bertebaran. Icha sudah biasa. Selagi mereka tidak melampaui batas, Icha masih santai. Icha dan Arash sangat profesional saat bekerja. Mereka bisa membedakan saat dimana sebagai pasangan atau sekedar anak buah dan bos.
"Pak Arash ini sudah sesuai prosedur semua"
"Hmm baik. Kamu sudah salin semua kan"
"Sudah pak"
Begitulah mereka saat sedang bekerja. Tiba-tiba saja Icha merasa mual dan pusing saat salah satu asisten investor mendekati mereka.
"Gila dia pake parfum apaan sih bikin mual banget"
Arash melihat perubahan wajah sang istri yang sedikit pucat. Arash berpamitan kepada para investor lainnya. Karena dia khawatir dengan kondisi sang istri.
"Sayang kamu gapapa kok pucat banget"
"Gak tau mas. Tadi pas asisten Mr Edward datang bau parfumnya bikin pusing mas"
"Tumben biasanya kamu gapapa loh sayang"
"Iya mas gak tau ini"
"Ya udah kita ke kantor. Kamu istirahat disana saja sayang. Mas hari ini cuma sekali ke proyek"
"Ya mas"
Icha memilih untuk bersandar agar pusingnya bisa berkurang. Arash langsung melajukan mobilnya menuju kantor. Setiba dikantor, Arash memapah Icha hingga keruangannya. Saat akan masuk ruangan mereka berpapasan dengan Mama Bagas.
"Icha kenapa Rash"
"Gak tau tan. Tiba-tiba pusing"
"Suruh istirahat. Mungkin kecapean"
"Iya tan"
Arash merebahkan tubuh Annisa disofa ruangannya. Dia menyelimuti dengan jas yang digunakan. Memang ruangan Arash tidak memiliki ruangan pribadi.
"Aku kerja dulu sayang. Kamu tidur saja"
"Hmmm"
Arash kembali bekerja agar segera bisa pulang kerumah dan menjaga Icha. Tiba-tiba mama Bagas masuk ruangan membawakan teh hangat dan minyak angin.
"Rash. Ini coba disuruh minum dulu"
"Ya tan. Makasih"
Arash membangunkan Icha dan memberikan minum.
"Sayang minum dulu"
"Iya mas"
Mama Bagas mencoba bertanya kondisi Icha. Dia memang sedikit merasa curiga dengan kondisi Icha.
"Sayang gimana perasaan kamu"
"Masih mual tan"
"Kamu periksa saja ya. Biar tau kamu kenapa. Tante panggilkan dokter pribadi ya"
"Gak usah tante. Icha cuma masuk angin kok"
"Ya sudah. Kamu makan sesuatu sayang"
"Sebenarnya Icha lagi pengen makan cilok saos kacang"
"Hah. Dimana kita nyari makanan itu sayang. Ini Paris"
"Tapi aku mau itu mas"
Mama Bagas langsung memberikab ide setelah melihat Icha bersedih.
"Nanti tante buatkan sayang. Apa ada lagi"
"Es oyen"
"Syiap. Sekarang tante pulang. Nanti setelah matang tante antar ke penhouse. Arash ajak pulang icha biar bisa istirahat"
"Iya tan"
Mama Bagas menarik tangan Arash agar mengikutinya keluar ruangan sebentar.
"Rash. Sebaiknya kamu beli testpack. Tante curiga istri kamu hamil"
"Benarkah tante"
"Coba saja dulu. Jika benar dia hamil. Kamu belum bisa kembali ke Indonesai sampai usia kandungan dia empat bulan. Kecuali atas saran dokter"
"Iya tante. Bagas nanti beli testpack. Oya apa tante punya nomor dokter kandungan"
"Ada. Nanti tante bawa ke penhouse kamu"
"Makasih tante"
"Sama-sama. Jaga Icha"
"Pasti tente"
Arash sangat bahagia mendengar kabar Icha hamil. Walaupun belum pasti. Arash kembali masuk ruangan.
"Sayang. Kamu istirahat. Sebentar lagi kita pulang"
"Iya mas. Tapi Icha lapar"
"Mau makan apa"
"Karedok"
________
Wah kayaknya icha midun ini. Tapi selera dia masakan lokal....akankah anaknya seperti afnan bule berlidah lokal....kita tunggu saja
Jangan lupa jempol
Happy Reading