RashSya Story

RashSya Story
Ghaydan~Bau



Setelah bertemu dengan Ayu dan Angga, Atha langsung menuju rumah kedua orangtuanya. Sesuai dengan janji seila kepada mami mertuanya saat bertemu di kafe.


"Sayang kalau lelah tidur saja dulu. Sini biar kakak perbaiki kursinya biar kamu nyaman"


Seila hanya mengangguk saja. Rasanya dia hanya ingin tidur. Atha menepikan mobilnya dan mengatur posisi kursi milik seila. Setelah melihat istrinya nyaman, Atha melajukan kembali mobilnya.


"Kak nyalain musik dong"


"Bentar kakak download musik klasik dulu"


"Buat apa musik klasik"


"Musik klasik kan bagus buat perkembangan anak kita sayang"


"Gak mau. Aku maunya goyang dumang"


Atha melihat seila sekilas. Lalu kembali fokus mengendarai mobilnya.


"Kenapa goyang dumang sayang. Kan bagusna musik klasik"


"Biar hati senang"


Seila malah menirukan salah satu lirik lagu goyang dumang saat menjawab pertanyaan Atha. Atha langsung memutarkan lagu permintaan sang istri.


"Kebanyakan gaul sama markoneng anak gue bisa-bisa terkontaminasi. Baby jangan sampai virus markoneng terpapar ke kamu ya sayang"


Sepanjang jalan seila tertidur dengan mendengarkan lagu goyang dumang. Atha hanya bisa tersenyum saja melihat istrinya sedang tersenyum. Sesekali saat lampu merah, Atha mengusap pelan kepala sang istri yanh tertutup hijab. Dan menciumi telapak tangan seila.


Saat sampai dirumah kedua orangtua Atha, seila masih tertidur nyenyak. Karena tak ingin membangunkan seila, Atha mengangkat tubuh sang istri perlahan. Awalnya baik-baik saja, tapi saat seila mengarahkan wajahnya di dada Atha, seila terbangun dengan marah.


"Kakak turunin. Aku mau muntah"


Atha menurunkan seila perlahan. Seila langsung menuju wastafel di dapur. Bahkan dia tidak sempat menyapa kedua mertuanya. Friska mengikuti seila dari belakang. Dan lihat sang menantu memuntahkan isi perutnya.


"Kamu kenapa nak. Masuk angin apa salah makan"


Seila hanya bisa menggeleng karena masih terus memuntahkan isi perutnya. Atha yang juga berada disana langsung memijit tengkuk sang istri perlahan.


"Sudah sayang"


"Iya kak"


Saat menghadap kearah atha, seila kembali mual dan mendorong tubuh Atha hingga hampir terjatuh.


"Kakak awas bau"


Friska dan Tian yang melihat itu sama-sama bingung melihat seila seperti itu. Atha yang berusaha kembali mendekati sang istri, langsung mendapat penolakan dari sang istri.


"Sayang"


"Jangan mendekat. Mending kakak jauh-jauh. Kakak bau"


Atha menciumi badannya sendiri. Dia tidak merasa berkeringat yang menyebabkan bau badan.


"Sayang aku tidak bau"


"Kakak bau pergi sana"


"Mam, pap. Apa Atha bau"


"Gak bang"


Friska dan Tian yang sedari tadi didekat Atha kompak menjawab pertanyaan sang putra.


"Tuh kan sayang"


"Tapi badan kakak emang bau bikin mual saja"


Friska menenangkan menantunya. Dan Tian merangkul pundak sang putra dan diajak untuk keruang keluarga.


"Seila minum air hangat dulu ya. Mami bikinkan"


"Makasih mam"


Friska membuatkan teh hangat untuk Seila dan menemani sang menantu diruang makan. Sedangkan Atha sedang ditanyai oleh papinya.


"Ada apa bang. Seila sedang sakit"


"Tidak pap. Seila sedang hamil tujuh minggu"


"Alhamdulillah bang. Jaga baik-baik seila bang. Masih awal-awal perjuangan kamu masih panjang. Jaga emosinya"


"Iya. Harus itu. Karena emosi wanita hamil berbeda sekali dengan wanita yang sedang tidak hamil bang"


"Iya pap. Makasih sudah diingatkan"


"Oya mama mertua kamu sudah tau bang"


"Belum pap. Rencananya nanti pulang dari sini langsung kerumah mama nindi"


Friska juga sudah mendengar berita dari seila langsung. Friska bahkan menangis bahagia mendengar sang menantu sudah hamil. Friska langsung mengatakan agar seila mengatakan kepadanya jika menginginkan sesuatu. Seila ikut terharu melihat mertuanya bahagia.


Sepulang dari rumah Tian, Atha langsunge menuju rumah Mama nindi. Tak jauh beda dengan Friska, Mama nindi juga sangat bahagia. Mereka tidak lama dirumah milik keluarga seila. Seila merengek ingin segera pulang. Bahkan mamanya memintanya untuk menginap, seila tidak mau.


Mereka sudah dalam perjalanan pulang. Ki ini seila tak ingin duduk disamping Atha. Atha menahan rasa kesalnya. Apalagi seila selalu berkata jika Atha bau.


"Jadi suamimu ini merangkap supir pribadi mu sayang"


"Kok gitu ngomongnya sayang. Aku kan gini juga bukan karena mauku. Menyebalkan"


Atha langsung panik melihat istrinya kembali marah. Beruntung mereka sudah masuk kedalam area perumahan. Setibanya dirumah, Seila langsung membuka pintu mobil dan langsung meninggalkan Atha masuk ke rumah.


"Ya Allah luaskan kesabaran hamba ini. Menghandapi makhluk teristimewamu ini"


Atha berjalan dibelakang seila. Seila sudah masuk kedalam kamar dan menguncinya. Atha menyusulnya. Saat memutar handel pintu, dia hanya bisa menghela nafas. Sambil mengetuk pelan.


tok tok


"Sayang kok dikunci"


"Kakak tidur dikamar lain aja. Kakak bau"


"Tapi pakaian kakak didalam sayang. Kakak mau mandi"


"Nanti seila keluarin baju kakak"


"Ya sudah. Kalau nyariin, kakak ada dikamar tamu sebelah ya sayang"


Karena tak ada jawaban dari istrinya, Atha berjalan menuju kamar tamu yang berada disamping kamarnya. Sesampainya dikamar Atha langsung mandi. Dengan hanya menggunakan bathrobe, Atha kembali mengetuk pintu kamarnya untuk mengambil baju.


"Sayang. Tolong buka bentar dong"


Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Atha mengulang kembali panggilannya untuk Seila.


"Sayang. Buka dulu dong pintunya. Kakak mau ambil baju"


Bukan jawaban yang diberikan oleh seila. Seila langsung membuka pintu kamarnya. Melihat Atha yang hanya menggunakan bathrobe, seila kembali kesal.


"Sayang..."


"Ck. Mau pamer lagi gitu. Biar pada ngiler lihat badan kakak. Apalagi tuh otong gak disarungin kan"


"Pamer sama siapa sayangku. Dirumah cuma kita berdua. Lagian kakak mau ambil baju"


"Alasan aja"


Atha mengalah tidak menjawab perdebatan dengan seila. Atha masuk kedalam kamar ingin mengambil pakaiannya. Seila duduk tepat dibelakang Atha dengan gelisah. Entah kemana rasa mualnya pergi. Melihat sang suaminya setelah mandi dan rambut dalam keadaan basah, ada rasa aneh menjalar dalam darahnya.


Setelah mendapatkan pakaian yang diinginkannya, niatnya Atha ingin mengganti pakaian didalam kamar tamu agar seila tak kembali mual. Namun melihat seila yang terus memandanginya dari belakang tanpa berkedip dan wajahnya terlihat baik-baik saja tidak menahan mual, Atha ingin menggoda istrinya itu.


Atha sengaja membuka bathrobenya secara perlahan. Sambil melirik seila dari depan kaca lemari, Atha bisa melihat jika wajah seila berubah memerah bahkan matanya. Atha senyum disudut bibirnya. Saat sesuatu yang menjadi kebanggaan Atha terpampang jelas dari pantulan kaca, seila langsung berdiri mendekat kearah Atha. Atha tersenyum tipis. Dia sengaja memperlama melepas bathrobenya.


Seila berjalan mendekat dan memegang bahu polos Atha. Tangannya menyusuri bahu Atha menjalar kebawah. Atha yang merasakan sensasi geli dan nikmat hanya bisa menahannya. Dia masih ingat apa yang dikatakan oleh dokter Fahmi. Tangan seila sudah berada di pinggang Atha. Saat tangan itu berada dislebor montok Atha sesuatu yang terduga terjadi.


Plak Plak


"Dasar genit. Sukanya pamer"


"Aduh ampun sayang. Ampun. Aku gak genit"


Seila memukul pantat Atha berkali-kali. Atha Berlari memutari kamarnya dengan kondisi polos tanpa pakaian. Dan seila berusaha mengejarnya dengan berjalan cepat dan memukuli pantat Atha.


_____


Maaf baru keluar gaessss


Jangan lupa jempolnya


Happy Reading