
Arash meluangkan sedikit waktunya untuk Malika..Semenjak dia benar-benar menjadi pewaris waktunya sangat sibuk apalagi sebentar lagi dia akan mengikuti ujian akhir sekolah..Bahkan dia harus mencuri curi waktu untuk sekedar bertemu Malika.. Disekolah mereka sudah jarang bisa bertemu karena berbeda kelas
"Ay aku bentar lagi otewe ke kafe ya"
"Iya aku tunggu ya Ay"
Arash langsung mematikan sambungan teleponnya setelah mendapat jawaban dari Malika
"Daf jam berapa lagi ada meeting hari ini"
"Sudah selesai semua Rash..Loe kosong habis ini"
"Ya uda gue mau ketemu Malika dulu Daf"
"Iya udah sono gue naik taksi aja"
"Hahaha..Sorry ya Daf bukan bermaksud meninggalkan kamu tapi emang niat aja hahahaha"
"Sialan loe Rash"
Arash beranjak pergi meninggalkan kafe tempat meeting yang baru saja dia lakukan. Butuh waktu satu jam untuk sampai kafe milik Malika..Di depan kafe Arash bertemu dengan Syamil secara tak sengaja
"Papa Syam"
"Kamu Arash apa Arsya... Haha..Papa masih bingung buat membedakan"
"Arash Pah"
"Hahaha..Maaf ya Papa akan belajar lagi buat membedakan kalian berdua..Ada meeting juga disini"
"Nggak Pah mau ketemu teman aja..Papa habis meeting"
"Iya baru aja selesai tadi harusnya sama Ichan tapi kamu tau kan sepupu kamu itu sok sibuk"
"Yang sabar ya Pah.. hehe"
"Ya sudah Papa mau balik kantor dulu..Oya jangan lupa besok kamu papa tunggu dikantor"
"Iya Pah Arash kesana besok"
Arash mencium tangan Syamil kebiasaan yang selalu dia lakukan jika bertemu orang yang lebih tua..Arash lalu melangkah masuk ke dalam kafe Ayesha menemui Malika
"Siang Mas Arash mau pesan apa"
"Nanti aja Mbk"
"Ya Mas...saya panggilkan mbk Malika dulu"
"Ya Mbk terimakasih"
Seluruh pegawai kafe itu tau jika pemuda rupawan itu kekasih sang pemilik kafe..Tak lama Malika datang menghampiri meja Arash
"Ay maaf lama"
"Gapapa Ay"
"Kamu gak pesan minum atu snack Ay"
"Ntar aja masih kenyang aku Ay habis meeting diluar tadi"
"Oh oke Ay"
Malika nampak memainkan jarinya mencoba menghilangkan kegugupannya..Arash yang melihat itu langsung mengambil tangan Malika dan mengusapnya lembut
"Ada apa..kenapa gugup"
"Ay..aku..aku"
"Hm.. kenapa Ay"
Malika sama sekali tak berani menatap mata Arash rasanya begitu sesak di dadanya untuk mengungkapkan sebuah kebenaran..Arash mengubah posisi duduknya menjadi disamping Malika...Dia lalu merangkul pundak Malika dan mengusapnya pelan
"Ay aku..aku minta maaf Ay...maafin aku"
Arash yang tadi diam menatap kearah depan refleks menunduk menatap kearah Malika yang masih menunduk..Arash mengangkat dagu Malika dan mata mereka pun beradu
"Memang kamu salah apa Ay"
Bukan menjawab Malika malah menangis dan melepas tangan Arash dari dagunya dia kembali menunduk merasa sangat bersalah..Tak lama datang seorang pelayan ke meja Arash...Arash yang berusaha menenangkan Malika semakin bingung mendengar ucapan pelayan kafe tersebut
"Maaf Mas Mbk dipanggil bapak diruangan Mbk"
Malika hanya mengangguk diam..Dan membuat Arash semakin penasaran ada apa sampai ayah Malika sudi menemuinya karena selama ini ayahnya selalu menganggap Arash tak layak untuk Malika
Malika membawa Arash keruangannya untuk menemui sang Ayah dan disana juga sudah ada Bunda Malika
"Yah"
"Hem"
Ayah Malika hanya memandang remeh Arash namun Arash tetap menghormatinya..Arash menyapa dan menyalami Ayah Bunda Malika walaupun mereka seakan jijik pada Arash namun Arash tak peduli
"Assalamu'alaikum Om Tante"
"Waalaikumsalam"
Bahkan menjawab salam dari Arash pun nadanya sangat ketus..Tanpa basa basi Ayah Malika langsung mengungkapkan maksudnya bertemu Arash
"Langsung saja ya saya pikir juga gak perlu basa basi dengan Anda hanya akan membuang waktu saya saja"
"Ya Om"
"Oya siapa nama kamu"
"Arash Om"
"Arash..Tolong mulai saat ini detik ini juga kamu jangan lagi dekat dengan Malika putri saya...Karena Malika sudah memiliki calon suami jauh lebih baik dari kamu dan sebentar lagi mereka akan bertunangan"
Hati Arash tiba-tiba nyeri mendenagr penuturan dari Ayah Malika.. Walaupun Arsya pernah menceritakan hal tersebut namun dia belum sepenuhnya percaya jika bukan dari Malika langsung
Bunda Malika bahkan gamblang menyebut siapa calon menantu yang menjadi pilihan mereka itu
"Asal kamu tau ya calon menantu saya dari keluarga terpandang dan tak pa tas dibandingkan dengan kamu yang hanya anak pegawai biasa saja"
"Bun sudah cukup jangan seperti itu..kalian tidak mengenal siapa Arash sebenarnya"
"Alah gak usah kamu belain dia kalau kamu nikah sama dia yang ada hidup kamau susah..Bahkan buat belikan bedak kamu aja Bunda yakin dia tidak mampu"
"Bun...Malika sudah bilang menolak perjodohan ini..Malika gak mau apalagi Malika belum kenal siapa orangnya"
"Mau tidak mau..suka tidak suka ayah sudah memutuskan kalian segera tunangan...tidak ada bantahan"
Arash yang sedari tadi diam mendengar setiap celaan dari keluarga Malika membuatnya sangat paham..Jika harta adalah segalanya buat mereka..Beruntung Arash belum terlalu dalam mencintai Malika walaupun hatinya sakit jika haus berpisah dari Malika tapi dia yakin itu tak akan lama..Arash pun akhirnya bersuara
"Baik Om saya terima keputusan Om jika itu menjadikan keluarga Om bahagia..Tapi ijinkan saya sekali saja berbicara dengan Malika"
"Ok tapi ingat setelah itu kamu harus segera pergi dan jangan mengganggunya lagi"
"Ya Om"
Arash berdiri hendak menyalami kedua orangtua Malika namun mendapat penolakan Arash hanya tersenyum dan mengucapkan salam sebelum meninggalkan ruangan itu bersama dengan Malika
Arash mengajak Malika ke taman tak jauh dari kafenya...semenjak didalam kafe Malika masih saja menangis bahkan saat Arash menggandeng tangannya Malika tetap menangis dan menunduk
"Duduk sini Ay"
Mendengar penuturan lembut Arash membuat Malika terkejut...Malika mengira Arash akan mengamuk karena berita tadi..Namun Arash tetap memperlakukannya dengan lembut dan panggilan sayang mereka pun masih terdengar lembut dari bibir Arash
"Ay...."
Dengan senyum Arash memegang tangan Malika dan menghapus air mata Malika dengan ibu jarinya
"Kamu dengerin aku ya Ay...jangan kamu potong selagi aku masih bicara"
Malika mengangguk sambil menatap manik mata Arash yang sedikit kebiruan
"Ay..orangtua kamu adalah hal terpenting dalam hidup kamu saat ini karena ridho mereka adalah ridho Allah..Aku gapapa Ay kalau harus mundur mungkin bagi mereka aku memang tak layak..Ay kamu tau kan aku menyayangimu apa adanya kamu bukan ada apanya kamu..Tapi aku gak mau kamu jadi durhaka..Aku minta turuti kemauan orangtua kamu..Jangan kamu kira aku tidak kecewa..Aku sangat kecewa bahkan jika keluarga ku mengajarkan aku untuk membantah perkataan orangtua...Ingin rasanya aku berteriak mengatakan keluarga mana yang bisa menyaingi keluarga Malik..Namun keluarga ku tidak mengajarkan itu bahkan aku tidak suka berdiri dibalik bayang bayang mereka Ay..kamu tau itu kan Ay"
Malika mengangguk membenarkan perkataan
"Ay tapi Aku gak pengen pisah sama kamu"
Arash masih dengan senyum manisnya seperti tak ada sakit dihatinya senyum itu begitu tulus tanpa beban
"Apa kamu kira aku mau..tidak Ay..Karena aku sudah memilih kamu sebisa mungkin aku menjaga kamu hingga waktunya aku menghalalkan kamu Ay"
"Berarti kita tetap menjalin hubungan kan Ay.. walaupun harus sembunyi-sembunyi"
"Maaf Ay aku gak mungkin ingkar janji kepada kedua orangtua kamu"
"Jadi kamu mau kita tetap menuruti permintaan Ayahku Ay"
"Iya..itu yang terbaik saat ini.. Yakinlah jika kita memang berjodoh pasti akan dipertemukan sesulit apapun itu"
Arash berkata dengan menahan rasa sesaknya dada apalagi mata Malika tampak tak terima mendengar penuturannya tadi
"Kamu gak ingin gitu berusaha memperjuangkan aku Ay"
"Ay sekuat apapun aku berjuang jika orangtuamu tak menghendaki akan tetap sulit jalan yang ku lalui nantinya"
"Kamu tinggal bilang saja siapa kamu sebenarnya Ay ..Orangtuaku pasti setuju"
"Ay kamu lupa aku gak mau membawa nama keluargaku"
"Kamu cuma gak mau saja berjuang untuk kita Ay..jangan jangan rasa kecewa dab sayang mu hanya pura-pura saja"
Arash masih tetap tersenyum tak mau terjebak dalam emosi sesaat yang akan disesalinya nanti..Dengan tetap tenang Arash menjawab
"Terserah apapun kamu bilang tentang aku..aku cuma ingin kamu berbakti kepada mereka...Ingat Ay surga kamu masih berada di mereka..Ayo aku antar kamu kembali ke kafe sekalian aku juga harus kembali ke kantor"
"Apakah prinsipmu itu akan tetap kamu pertahankan Rash"
Arash sedikit terkejut mendengar Malika menyebut namanya saja bahkan nadanya terdengar ketus
"Iya itu adalah prinsipku...Dan tak bisa kuubah..Ayo aku antar kamu Ay"
"Tidak perlu kamu pergi saja dengan prinsip kuno mu itu..Memang sebaiknya kita berpisah.. Selamat tinggal"
Arash mematung mendengar ucapan Malika yang sudah berlari menjauh dari taman dan langsung masuk kedalam taksi yang sudah dia berhentikan
"Asal kamu tau Ay...aku lebih sakit dari kamu..Sekali aku mencintai wanita akan susah bagiku melupakannya..Aku hanya tak mau keluargamu memanfaatkan kamu jika tau aku siapa Ay..Kamu bukan barang kamu orang yang aku cintai..Aku akan tetap menjagamu hingga kamu benar-benar yakin bisa bahagia dengan pilihan orangtuamu Ay...Ich liebe dich Malika Ayesha Putri .. immer"
Arash bergumam sendiri sambil menatap kepergian Malika..Setelah taksi itu tak nampak lagi Arash kembali ke kafe mengambil mobilnya..Kebetulan Daffa menelpon untuk segera bertemu Arsya di kantornya
Arash melajukan mobilnya dengan pikiran yang tak menentu disatu pihak dia ingin mempertahankan Malika namun di lain pihak dia sudah ikhlaskan Malika menjadi milik orang lain...Mungkin bukan jodohnya itu pikiran Arash..
Walaupun keinginan Arash sangat kuat memiliki Malika namun kini rasa ikhlasnya lebih dominan karena dia teringat ucapan sang Mommy saat pertama kali mengenalkan Malika kepada keluarganya
"Kamu boleh jatuh cinta pada siapapun nak..asal dia satu keyakinan dengan kita dan yang harus kamu ingat mencintai sewajarnya jangan berlebihan jika suatu saat kamu ditinggalkan atau harus meninggalkan tak begitu menyakitkan..Tanamkan rasa ikhlas sedari sekarang nak agar rasa sakit tak begitu kamu rasakan nantinya jika kalian tak berjodoh..Dan semoga bukan kamu yang meninggalkan dan menyakiti hati wanita karena jika kamu melakukan itu sama artinya kamu melukai hati Mommy"
Kata kata mujarab itu perlahan menyembuhkan luka Arash saat ini walaupun sesaat.. Setidaknya hatinya sedikit tenang sekarang
Arash sudah sampai dikantor temoaya Arsya bekerja..Di lobby dia bertemu dengan Rizky sahabat sekaligus asisten Arsya
"Bang..Loe kesini ada apa"
"Bukannya tadi Arsya nelpon Daffa nyuruh gue kesini"
"Oh Sorry gue baru balik dari cek lokasi"
"Pantas dia langsung nelpon Daffa bukan loe yang nelpon"
Rizky dan Arash berjalan beriringan.. walaupun tersenyum saat berbicara dengan Rizky namun Rizky dapat melihat ada sesuatu yang sedang terjadi pada sahabatnya itu
"Loe baik baik saja kan bang"
"Baiklah..kenapa emang"
"Gue yakin loe lagi gak baik bang...Loe bisa nipu orang lain tidak dengan gue dan Arsya"
"Hehe..Uda jadi cenayang loe Ky"
"Iya cenayang buat kalian berdua..Jika Arsya gue gampang nebak karena dia akan uring uringan kayak cewek PMS..Haha"
Arash memang menuruni sifat Jasmine yang tenang dan tidak mudah cemburu namun tetap ada sisi posesif dari Jay...Sedangkan Arsya lebih ke Jay yang suka langsung meluapkan amarahnya jika tak suka
Tiba diruangan Arsya..Nampak sang pemilik ruangan sedang asyik dengan tumpukan kertasnya
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam..Bang..Loh kok bisa bareng Iky bang"
"Nemu tadi diemperan toko sedang jongkok"
"Ngapain loe jongkok dipinggir jalan Ky..kenapa gak nyari toilet umum aja sih..jorok"
"Emang gue lagi pup apa..Gue ketemu nih orang di lobby"
"Hahahaha sensi amat loe Ky"
Arash duduk di sofa ruangan Arsya dam diikuti Rizky dan Arsya..Arash masih menampakkan wajah tenangnya
"Ada apa manggil gue kesini Ars"
"Ini bang kita mau bahas masalah kepemilikan WO yang selama ini dipegang aunty Rafika"
"Ada apa dengan WO itu"
"Gimana kalau kita gabung aja sama EO milik Opa... kasian gak ada yang ngurus"
"Kita bicarakan dulu sama Daddy dan Opa terutama Mommy"
"Iya nanti pulang kita bicarakan Bang"
Arash menerima pesan dari Mirza yang memberitahukan jika sang adek mengurung diri sambil terus menangis..Mirza juga sudah mengetahui dari asisten Ayahnya tentang perjodohan Malika
Arash tak membalas pesan dari Mirza dia hanya menyandarkan kepalanya disofa sambil memijat pelipisnya
"Ars... Gue mau lanjut kuliah ke London"
Arsya dan Rizky langsung menaruh berkas dan ponsel diatas meja didepan mereka..Mereka langsung menatap kearah Arash yang tidak merubah posisinya
"Bang jangan main main..Mommy paling gak suka kita kesana..Kita boleh kuliah dimana saja tapi tidak disana Bang"
"Abang akan membujuk Mommy"
"Loe kenapa sih bang tiba-tiba gini"
"Ars..Gue rasa Bang Arash lagi ada masalah deh loe lihat aja mukanya gak enak gitu"
Arash tak menggubris omongan Arsya dan Rizky dia mengambil headsetnya dan memasangkan dikedua kupingnya..Dia menutup matanya menikmati lagi yang sedang didengarkan..Lagu yang tak sengaja terdengar menggambarkan suasana hati Arash saat ini
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Sepenggal lirik yang begitu dalam Arash rasa...Arash hanya bisa menghela nafasnya dalam..Tak lama pintu ruangan Arsya diterobos oleh Devin dan Ghaydan
Brakk
"Arash mana"
Rizky dan Arsya kaget melihat tamu tak diundang yang langsung saja masuk tanpa permisi
"Assalamu'alaikum ya penghuni kubur"
Rizky mengingatkan dua tamu tak diundang itu dengan nada ejekan
"Oiya.. Assalamu'alaikum pak Sutat"
"Waalaikumsalam"
"Kalian kenapa sih langsung nerobos tanpa permisi"
"Diem Loe Ars...mana Arash"
"Noh siapa"
Arsya menunjuk Abangnya dengan dagunya..Devin langsung menarik tubuh Arash secara paksa dan membuat Arash marah
"Bangun Rash...bangun"
"Apaan sih bang ganggu aja"
"Rash loe harus tau Ghaisan kabur dari rumah"
"Kenapa emangnya"
"Uda kalian semua ayo ikut gue nyari Sinchan Mama Qilla uda nangis tuh"
Arash yang masih malas pun mau tak mai ikut mencari sepupunya itu..bahkan dia mencoba melupakan dulu masalahnya
"Kalian berdua uda nyari Sinchan kemana"
"Baru ketempat tempat dia suka pergi aja"
"Ayo ke Bandung kerumah Shanum"
"Ngapain kesana Ars"
"Sinchan disana"
"Loe tau darimana"
"Hanya disana dia merasa aman"
RashSya sangat tau apa yang menjadi kebiasaan sepupunya itu..Karena hanya dengan Shanum dia merasa nyaman untuk menceritakan segala hal
Rombongan itu langsung masuk ke dalam dua mobil karena tak mungkin mereka hanya menggunakan satu mobil saja.. Arash langsung menghubungi rumah untuk memberitahukan keluarganya
Hanya dua jam mereka sudah sampai di kota kembang nan sejuk itu dan langsung menuju kerumah Shanum..Benar perkataan Arsya jika Ghaisan ada di Bandung nampak dari mobil milik Ghaisan yang terparkir manis digarasi Varo
Tanpa menunggu lama mereka langsung saja masuk rumah Varo yang pintu utamanya terbuka mereka sampai ke kota itu sudah larut hampir waktu makan malam
"Assalamu'alaikum"
Sambil berteriak dan berlari mereka langsung menuju ruang makan Varo..Dan nampak keluarga itu baru akan memulai makan malamnya..Tanpa aba-aba juga Devin langsung menarik kerah kemeja yang dipakai oleh Ghaisan
"Heh anak tengik...Loe main kabur aja dari rumah gak mikir perasaan Mama Qilla"
"Lepas bang..Loe apa apaan sih"
Arsya yang ikut marah pun menampar pipi Ghaisan dia paling gak suka sikap sepupunya yang seenak hatinya itu hingga membuat auntynya pingsan dan terus menangis
"Loe mikir gak sih Chan perbuatan loe itu membuat semua orang khawatir dan sekarang Mama Qilla sakit..mikir gak loe itu"
Arsya yang kembali akan memukul Ghaisan ditahan oleh Arash..Dan Varo yang melihat perkelahian diruang tamunya itu langsung melerai dan mencoba menanyai masalah yang sedang mereka hadapi
"Kalian semua duduk dan Sha ambil kotak obat..kamu obati luka Sinchan"
Varo duduk diikuti istrinya sedangkan Shadam adik Shanum sudah dibawa pergi oleh pengasuhnya agar tak melihat adegan tak layak untuk dilihat oleh Shadam
"Kalian ada apa datang datang langsung ngasi Sinchan hadiah..Bahkan kalian lupa menyapa kami"
"Maafkan kami yah"
Arsya maju mencium tangan kedua orangtua Shanum
"Sekarang ceritakan kepada Ayah ada apa ini"
Devin yang merasa lebih tua diantara mereka maka dia akan menjelaskan semuanya secara detailnya tanpa dikurangi atau dilebihkan bahkan Devin juga mengatakan kondisi terakhir Syaqilla saat ini
Varo langsung menatap kearah Ghaisan yang sudah selesai diobatin oleh Shanum...Shanum pun ikut gabung dengan para sahabatnya itu
"Ichan kamu tau apa salah kamu"
Ghaisan hanya mengangguk dia merasa menyesal telah membuat Mamanya sakit
"Sekarang Ayah minta kamu hubungi Mama kamu bilang malam ini kamu menginap disini karena ini sudah sangat larut jika kalian akan kembali ke Jakarta"
"Ayah tidak akan menanyakan apa yang membuat kamu harus kabur dari rumah jika kamu belum mau bercerita tapi Ayah tidak suka dengan cara seperti ini apalagi membuat seorang ibu menderita ingat surga kalian ada di ibu kalian..Kalian sudah dewasa bisa menyelesaikan masalah dengan baik.. Sekarang kalian makan lalu istirahat"
"Baik Yah"
Varo dan istrinya berjalan meninggalkan anak muda yang masih belum bergeming dari duduknya.. Tak lama mereka semua berkumpul diruang makan Varo
Usai makan malam mereka membersihkan diri dan berganti pakaian yang sebelumya mereka beli melalui toko online didekat rumah Shanum
Dikamar Shanum sedang berbalas pesan dengan Mirza
*My beloved❤
sayang kangen aku😥😥😥
^^^Prince Omes😎^^^
^^^Main sini dong*^^^
*My beloved❤
weekend ya..tapi kok lama ya😥
^^^Prince Omes😎^^^
^^^sekarang juga gapapa🙊🙊*^^^
*My beloved❤
serius😉😉
^^^Prince Omes😎^^^
^^^Gak😤 awas aja kalau nekad ya*^^^
My beloved❤
😄😄😄😄
Sayang aku pengen cerita
^^^Prince Omes😎^^^
^^^Apa sayang ku😙😙^^^
My beloved❤
Sayang emoticon nya kondisiin dong
bikin pengen aja sih😭😭😘😘😘
^^^Prince Omes😎^^^
^^^Dasar omess^^^
My beloved❤
😄😄😄😄😄😄😄Love u
Mirza pun menceritakan masalah Maliak dan Arash..Shanum sebenarnya sudah lama diberitahu Mirza namun karena belum pasti dia pikir itu hanya wacana..Kini masalah itu benar benar terjadi dan bisa dipastikan sahabatnya Arash juga terluka walaupun dia menutupi nya
Usai mengakhiri berbalas pesan dengan Mirza..Shanum mengirimi sahabatnya pesan mengajak berkumpul di taman belakang kecuali Arash...Malika ingin menceritakan masalah Arash pada semua dan mencari cara menghibur Arash
____
Maafkan baru muncul si emak lagi kencan sama Lee Min ho..Hyu bin
Yang yang dan bang Leo luo yunxi😄😄😄😄
Jangan lupa like komen rate dan vote seikhlasnya kakak
Happy Reading