RashSya Story

RashSya Story
Devin~CLBK 23



"Assalamualaikum Bu"


"Waalaikumsalam. Dev. Tisya kambuh lagi"


"Kambuh kenapa Bu"


"Tisya minta pulang kerumah ibu"


"Loh kok bisa Bu. Apa mual lagi"


"Nggak tau. Nggak mual juga. Cuma sampai nangis minta pulang kerumah ibu"


"Ya sudah Devin pulang Bu. Biar Devin antar"


"Gak usah nak. Tisya mintanya sama Ghaisan"


"Hah. Ghaisan lagi Bu"


"Iya. Malah ini ibu telepon kamu diam-diam. Tisya gak mau kamu tahu nak. Tisya juga sudah telepon Ghaisan"


"Ya sudah Bu gapapa. Nanti Devin telepon Ghaisan"


"Ya sudah nak. Ibu pamit ya. Yang sabar. Assalamualaikum"


"Iya Bu. Waalaikumsalam"


Devin kembali berdecak kesal. Rasa bahagianya hanya sesaat. Bayangan bisa tidur memeluk sang istri pun pudar sudah. Devin langsung menghubungi Ghaisan.


"Dakocan"


"Hahahaha. Santai bang. Gue ini juga belum jalan. Mau minta ijin dulu sama loe"


"Loe apain sih calon anak gue Chan. Sampai semua keinginannya harus loe yang nurutin"


"Hahaha. Mana gue tau bang. Besok kalau udah lahir kita tanyain bareng-bareng ajang bang. Eh bang. Ini bini loe telepon gue lagi nih. Gimana boleh gak gue antar"


"Ya sana antarin. Pelan-pelan saja gak usah ngebut. Jagain baik-baik bini gue sama ibu"


"Asyiap. Uang bensin bos jangan lupa"


"Nolong itu yang ikhlas dakocan"


"Iya iya. Pelit amat"


"Nanti gue transfer"


Devin sudah mematikan panggilannya. Karena masih ada meeting lagi, Devin mengurungkan niatnya untuk menyusul Tisya kerumah ibunya.


.


.


Berbeda dengan sang suami, Tisya bukan hanya meminta tolong diantar pulang oleh Ghaisan namun juga meminta Ghaisan menemaninya makan siang disebuah rumah makan Padang. Ghaisan pun menyanggupinya. Dan saat berada dirumah makan, Ghaisan iseng mengambil foto-foto dirinya dan Tisya saat makan siang. Dia mengirimkan kepada Devin.


"Kenapa chan kok ketawa"


"Ah gak kak. Ini loh ada orang yang hatinya gosong. Hahahaha"


"Kena penyakit hati apa kok gosong"


"Penyakit cemburu. Hahahaha"


"Loe Chan bisa aja"


"Udah kenyang belum kak"


"Hmm. Sudah. Makasih uncle Ichan udah mau nemani makan siang"


"Santai aja. Untung gue meeting nanti sore kak"


"Huahmm"


Tisya tiba-tiba menguap setelah selesai makan. Ghaisan hanya tersenyum saja melihat tingkah lucu sang ibu hamil.


"Ngantuk kak. Pulang yuk"


"Heem"


Tisya benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Begitu masuk kedalam mobil Ichan, Tisya langsung terlelap.


"Hahaha. Lucu. Emang gini ya Bu sifat ibu hamil"


"Iya nak. Seperti itu. Makanya kalian para pria harus sabar. Jangan langsung emosi. Berat loh jadi perempuan hamil itu"


"Iya Bu. Tapi kok bisa kak Tisya ngidamnya aneh"


"Setiap bayi punya pembawaannya sendiri-sendiri nak"


"Oh gitu"


"Nak Ichan belum menikah ya"


"Belum nemu jodoh bu"


"Ibu doakan semoga segera bertemu dengan jodohnya ya nak"


"Aamiin Bu"


Tak lama mereka sudah sampai dirumah ibu Tisya. Karena Tisya agak susah dibangunkan semenjak hamil, mau tak mau Ghaisan menggendongnya. Dalam hati Ghaisan tertawa membayangkan wajah Devin yang murka melihat sang istri berada didalam gendongannya.


Ghaisan tidak singgah dirumah ibunya Tisya. Setelah menidurkan Tisya diatas ranjang, Ghaisan langsung berpamitan. Karena memang pekerjaannya masih banyak.


Davin pun demikian. Setelah menyelesaikan meeting terakhir dengan sukses, dia bergegas menuju rumah ibu mertuanya. Sebelum pergi Devin menanyakan kepada Tisya, makanan apa yang saat ini sedang dia inginkan. Namun karena Tisya masih tertidur nyenyak, ibu Tisya menyarankan agar Devin tidak usah membelikan sesuatu dulu sebelum Tisya memintanya.


Dalam perjalanan, Devin berdoa semoga hati Tisya bisa berubah dan mau kembali bersama dengan dirinya. Hari ini Devin ingin sekali memakan makanan yang benar-benar selama ini dia benci.


"Hmm kayaknya gue pernah deh lihat tuh penjual didaerah sini. Mana ya"


Mata Devin terus menatap disepanjang jalan yang dilewati. Mencari penjual makanan yang saat ini sedang sangat dia inginkan.


"Mana sih. Apa sudah gak mangkal disini lagi ya"


"Maaf pak yang jualan salad buah disini dimana ya"


"Oh itu mas pindah ke ujung gang"


"Terimakasih pak"


Devin berjalan menuju gang yang dimaksud oleh penjual bakso tadi. Devin sangat tidak menyukai salad buah ataupun sayur karena mengandung susu. Devin paling benci bau susu. Dia pasti akan muntah jika mencium bau susu.


Akhirnya Devin sudah bertemu dengan penjual salad buah yang dia inginkan. Devin langsung memesan dua mangkok untuk dibungkus. Bagaikan menemukan berlian dalam tumpukan sekam, begitulah gambaran perasaan Devin saat ini. Dengan riang gembira, Devin membawa pulang dua mangkok salad buah.


Jarak antara taman dan rumah ibu Tisya tak begitu jauh. Saat akan memasuki pekarangan rumah sang ibu mertua, Devin melihat Tisya sedang duduk diteras sambil memakan cilok yang nampak begitu merah.


Devin bergegas turun. Dia sangat khawatir melihat makanan Tisya yang begitu merah menyala. Bahkan raut wajah Tisya nampak keringat bercucuran.


"Assalamualaikum sayang"


"Waalaikumsalam kakakkkk"


Tisya hendak berlari menuju arah Devin. Devin langsung mencegahnya. Devin langsung berlari terlebih dahulu sebelum Tisya.


"Jangan lari sayang. Hati-hati"


"Kakak kenapa lama"


"Kenapa sayang"


"Kangen"


"Hehe. Kenapa pulang kerumah ibu lagi"


"Gak ada kakak. Gak mau"


"Sekarang pulang mau gak"


"Mauuu"


"Yuk. Ajak ibu sayang"


"Iya kak"


Tisya masuk memanggil sang ibu dan mengatakan apa yang diinginkan. Ibu Tisya tersenyum dan mengangguk kecil.


"Yuk kak"


"Iya sayang. Pelan saja jalannya"


Devin merangkul pinggang Tisya. Membimbing ya masuk ke dalam mobil. Setelah sang ibu mertua masuk kedalam mobil, Devin melajukan kuda besinya menuju rumah pribadinya.


"Kak nanti mampir taman ya"


"Mau beli apa sayang"


"Pengen jajan"


"Okey nyonya Devin"


Tiba ditaman yang dia inginkan, Tisya begitu kalap melihat para pedagang makanan. Bahkan Tisya berjalan dari ujung ke ujung untuk membeli semua jajanan. Devin hanya mengikuti Tisya kemanapun kakinya melangkah.


"Banyak banget sayang"


"Heem kak"


"Masih mau lagi apa sudah cukup sayang"


"Sudah kak. Pulang yuk. Mau tidur"


"Hah. Gak dimakan dulu itu"


"Kan aku mau beli jajanan bukan mau makan jajanan kak"


"Lah itu jajanan banyak banget siapa yang mau makan sayang"


"Kakak"


"Aku sayang"


"Iya. Kan suami Tisya kakak. Masa mau Tisya kasih Ichan. Gak mungkin kan"


"Gak boleh. Ya sudah nanti kakak makan"


"Suamiku emang terbaik"


Tisya mencium pipi Devin. Devin langsung tersenyum mendapat perlakuan manis dari sang istri.


"Oya sayang lupa. Tadi si kembar ngajakin nengok anaknya markoneng"


"Udah lahir ya kak"


"Udah tadi malam katanya"


"Cowok apa cewek"


"Gak tau. Si kembar gak ngasih tau"


"Penasaran aku kak. Kayak apa wajah Anka markoneng"


"Kalau wajah pasti tampan atau cantik sayang. Yang mengkhawatirkan itu sikap ya nanti kayak siapa"


"Hahaha benar banget kak"


_________


Akhirnya berhasil membujuk istrinya pulang


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading