Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 42: Mutual-Evîn 2 of 10 “Amaranth Globe” (Part 01)



Bagimu ...  diriku ini apa? Hanya sebuah pijakkan? Alat? Atau hanya sebuah ....


 


 


Kutahu sifatmu yang selalu idealis, tanpa memikirkan perasaan dan terus melangkah maju meski kaki penuh luka sekalipun. Engkau selalu saja seperti itu, tak memedulikan sekitarmu dan terus melangkah ke arah tempat yang kau tuju itu.


 


 


Aku yang selalu mengawasimu sejak dulu paham hal tersebut, apa yang kau tuju pasti tak akan ada kata akhir bahagia untukmu.


 


 


Kelak kau’kan menyadarinya, bahwa apa yang kau tuju itu hanyalah sebuah ladang kosong, hanya ada ladan tunggal yang akan menjadi peneduh-mu seorang.


 


 


Karena memang seperti itulah dirimu, yang mengharapkan kebahagiaan orang lain namun selalu lupa untuk membahagiakan dirimu sendiri.


 


 


Kuingin melihatmu terus tersenyum ... Kuingin kau kembali seperti dulu, tetap polos dan murni mengharapkan pengetahuan. Saling berbagi satu sama lain, saling bersandar dan duduk di lantai yang dikelilingi buku.


 


 


Alasanku mengikutimu hanya satu, ku tak ingin kau menghilang dari kehidupanku. Namun—


 


 


Idealisme, sesuatu yang menjadi panutan hidupmu memang selalu saja seperti itu. Membuatku selalu menyerah untuk menghentikanmu. Akhir yang diambil hanya ini, berdiri di sampingmu tanpa bisa mengutarakan apa yang kurasa.


 


 


Meski kuutarakan pun, diriku ragu engkau akan mengiyakan perasaan ini.


 


 


Di ujung cahaya dan kegelapan yang menghampiri, engkau akan selalu berjalan lebih cepat, berpikir lebih keras, bertindak lebih matang, dan pasti akan selalu ... lebih maju dari apa yang dipikirkan orang lain tentangmu.


 


 


Itu tak berarti jika kau tak tersenyum, apa yang kulakukan takkan berarti jika kau tak tersenyum! Aku melakukan ini untukmu!


 


 


.... Ku harap diri ini bisa terjun bebas dan menyelam dalam mimpi. Menjaga perasaan ini, tetap bersamamu yang terus tersenyum. Namun kutahu bukan hal seperti itu yang kau cari, kau hanya mengharapkan sebuah kehampaan tanpa rasa bahagia dan kesedihan.


 


 


Sebuah ketenangan murni.


 


 


Karena itu, kumohon ... biarkan diriku bermimpi sebentar lagi. Biarkan waktu ini berjalan lebih lama lagi.


 


 


Sebelum semuanya berakhir dan aku terbangun, terus tujukan senyum itu padaku meski itu palsu. Jangan hancurkan momen ini demi masa depan, Odo ....


 


 


Biarkan diriku terus bermimpi sampai fajar nanti ’kan datang.


 


 


««»»


 


 


Perlahan membuka matanya dengan berat, Vil berkedip dua kali dan menatap datar langit-langit kamar penginapan Porzan. Menutup kedua mata dengan lengan kanan, perempuan rambut biru tersebut sekilas kembali mengingat-ingat mimpinya tadi yang samar.


 


 


“Apa ... aku mengharapkan hal seperti itu?” gumamnya lirih.


 


 


Bangun dan segera duduk bersila, rambut panjang Roh Agung tersebut terurai liar di atas ranjang. Pakaian sedikit lusuh, tatapannya masih setengah terbuka dan sedikit melindur.


 


 


“Ouh, gak biasanya kau tidur sampai seperti itu, Vil?”


 


 


Mendengar suara itu, Roh Agung tersebut segera membuka mata lebar-lebar dan menatap ke arah seseorang yang berdiri di dekat jendela yang terbuka. Silau, Vil sekilas menyipitkan mata dan tetap berusaha melihat ke arah pemuda itu.


 


 


“Kamu sudah bangun, Odo? Tumben sekali ....”


 


 


“Yah, aku kemarin tidur gak terlalu malam, sih.”


 


 


“Hmm, begitu?”


 


 


“Kau sendiri, tumben bisa tidur nyenyak begitu?”


 


 


“Ah .... Tadi ....”


 


 


Vil menghentikan perkataannya, mengurungkan dan menelan kembali apa yang hendak keluar menjadi kata-kata dari mulutnya. Memalingkan pandangan, Roh Agung tersebut sekilas menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Meski Roh Agung, saya juga perlu tidur. Bukan secara fisik, tapi lebih semacam mengistirahatkan kesadaran.”


 


 


“Begitu, ya ....”


 


 


Pemuda rambut hitam itu kembali melihat keluar, mengamati orang-orang yang lalu-lalang di jalan dengan kegiatan mereka. Kereta kuda dan gerobak dagang yang keluar masuk kota datang terlihat, para pedagang dari dalam dan luar sudah memulai kegiatan perekonomian mereka dengan aktif.


 


 


“Apa ... hari ini juga mau lanjut lagi cari-cari tenaga kerjanya?” tanya Vil. Roh Agung itu menurunkan kaki ke lantai kayu, tetap duduk di atas ranjang dan menatap Odo dengan tatapan sedikit muram.


 


 


Sedikit melirik ke arahnya, Odo sadar apa yang sedang dirasakan Roh Agung tersebut. Kembali berpaling, pemuda itu berusaha untuk tidak terbebani akan hal tersebut. Ia sedikit tersenyum tipis, lalu menjawab, “Tidak .... Hari ini cari tenaga kerjanya sudah dulu. Lagi pula, kurasa jumlahnya untuk sekarang sudah cukup. Para Imigran gelap itu kurasa sudah cukup.”


 


 


“Jadi ..., hari ini mau apa? Menyelamatkan penjahat itu? Kamu sudah berjanji pada wanita itu untuk menyelamatkan suaminya, ‘kan?”


 


 


Odo sesaat terdiam, sadar betul kalau Vil merasa tidak puas dengan rencana yang ada. Menatap Roh Agung tersebut, ia bertanya, “Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja. Dipendam begitu tak ada gunanya, nanti tambah runyam.”


 


 


“Tidak apa .... Aku hanya mengikuti kamu. Kamu yang memimpin.”


 


 


Kening Odo sedikit mengerut mendengar itu. Merasa kesal dan segera berjalan ke arah Vil. Menahan kedua tangan Roh Agung tersebut dan menjatuhkannya ke atas ranjang, Odo menaikinya dan mendekatkan wajah sampai hidung mereka berdua hampir bersentuhan.


 


 


“Kau tahu Vil, aku tidak mengharapkan hal seperti itu darimu. Alasanku mengajakmu karena aku ingin kau menjadi pengekang ..., kuingin kau menjadi membatasiku.”


 


 


 


 


Roh Agung rambut biru itu hanya menatap datar meski dalam situasi seperti itu. Dirinya tahu apa maksud perkataan Odo, namun tak ingin memperlihatkan kalau dirinya paham. Memalingkan wajahnya ke samping, Vil lirih berkata, “Kalau begitu, jangan lakukan itu.”


 


 


“Itu ... apa?”


 


 


Menatap lurus ke arah pemuda yang menindihinya, dengan tegas Vil berkata, “Kamu ingin menyelamatkan pemimpin bandit itu, bukan? Hentikan rencana itu! Dia penjahat .... Apapun alasannya, dia harus diberi hukuman yang setara dengan perbuatannya.”


 


 


Odo terdiam sesaat, sedikit mengerti kalau Vil memang memiliki sifat seperti itu. Berbeda dengan Fiola yang cenderung bersifat apatis dengan hal semacam itu. Berhenti menahan kedua tangan Vil, Odo sedikit menghela napas dan memaklumi sifat tersebut karena Roh Agung tersebut memang seperti itu.


 


 


“Boleh kutahu alasanmu melarangku, Vil?”


 


 


“Alasan? Apa diriku butuh alasan untuk melarang kamu melakukan hal salah?”


 


 


Itu menjelaskan semuanya pada Odo, membuat pemuda itu mengerti apa yang diinginkan Roh Agung tersebut. Berhenti menindihinya dan turun dari atas ranjang, pemuda rambut hitam tersebut berbalik dan menghadap ke arah jendela.


 


 


Vil sedikit menaikan kemejanya yang sedikit turun, menutupi dada dengan lengan kanan dan menundukkan wajah. “Tadi ... Odo benar-benar marah?” benaknya seraya menatap ke arah Odo, dengan sedikit gemetar.


 


 


“Apa memang harus tetap menolong orang jahat, Odo? Kamu tahu kalau bandit itu penjahat, ‘kan? Bukannya ... gadis rambut putih itu juga menderita karena bandit? Kalau dia tahu kamu ingin menyelamatkan ketua komplotan pembunuh keluarganya ....”


 


 


Odo hanya terdiam mendengar perkataan itu, namun bukan karena mendengarkan. Pemuda itu fokus memikirkan hal lain, mencari jalan lain dengan Spekulasi Persepsi untuk mencari titik yang dianggapnya tepat. Susuran struktur sihir pada kornea matanya berputar-putar, dalam susunan seperti ratusan roda gerigi yang bergerak cepat.


 


 


Memejamkan mata, pemuda itu mendapat kesimpulan. Saat kembali membuka matanya dan berbalik, ia berkata, “Baiklah ....Aku tidak akan menyelamatkan Tox Tenebris. Namun ... suami Isla akan tetap hidup.”


 


 


Vil menatap bingung mendengar itu, apa yang dikatakan Odo sangatlah kontradiksi dan sama sekali tidak masuk akal. Namun sebelum bertanya, pemuda itu langsung menjelaskan rencananya kepada Vil dengan jelas.


 


 


“Aku akan mencari bandit lain untuk dieksekusi. Dia akan menjadi Tox Tenebris dan dieksekusi. Karena itu ..., pria yang menjadi suami Isla akan tetap hidup menjadi orang lain.”


 


 


Mendengar itu Vil hanya menganga, mengerti dengan jelas dan tetap tidak menerimanya. “Kalau begitu apa bedanya?! Itu sama saja kau menyelamatkan nyawa bandit itu!” bentak Vil.


 


 


Menatap datar, Odo berkata, “Tox Tenebris akan mati, keluarga Tenebris akan benar-benar lenyap. Namun, individu yang menjadi ayah anak itu akan hidup untuk menjadi orang lain. Kurasa itu tidak masalah untukmu, bukan?”


 


 


Vil bangun dari atas ranjang, mendekat ke arah Odo dan berkata, “Itu ...! Itu ...! Bukan itu yang kumaksud ....”


 


 


“Kenapa kau memaksa seperti itu? Memangnya apa yang telah bandit lakukan padamu?”


 


 


“Itu ....” Vil tidak bisa menjawab dan terdiam, dirinya memang tak ada kaitannya dengan masalah para bandit. Namun, tetap saja dalam benak Roh Agung tersebut yang salah haruslah dihukum.


 


 


“Tidak ada, ‘kan? Lalu kenapa?”


 


 


Kembali memikirkannya, Roh Agung tersebut mengerti bukan alasan seperti itulah yang membuatnya melarang Odo, Dalam benaknya yang paling dalam, dirinya merasakan hal berbeda. Menatap lurus pemuda itu, Vil jelas berkata, “Aku tak ingin kamu melakukan hal buruk! Odo ..., kamu harus selalu bersih! Aku—!”


 


 


“Bersih?” potong Odo. “Hah, serius? Asal kau tahu, dari awal aku sudah kotor. Memangnya sejauh ini sudah berapa orang yang telah kubunuh?”


 


 


Vil terbungkam, benar-benar gemetar dan kehabisan alasan untuk meyakinkan Odo. Menatap penuh rasa resah, ia bertanya, “Lalu kenapa kau ingin menyelamatkan penjahat?”


 


 


“Aku perlu kekuatan Nativ itu. Ini bukan berarti aku benar-benar menolongnya.”


 


 


“Tapi ....”


 


 


“Kalau kau tetap melarangku, bagaimana kalau begini saja .... Vil, aku perintahkan kau untuk menyelamatkannya!”


 


 


“Hah?” Alis Roh Agung tersebut terangkat. Mengerutkan keningnya, ia berkata, “Apa yang kau katakan? Ini malah tak masuk akal!”


 


 


Odo mengangkat tangan kanan, lalu meletakkan telapaknya ke atas ubun-ubun Vil. Menatap datar, ia berkata, “Aku memerintahmu, aku memintamu untuk melakukan hal kotor ini untukku. Apa kau paham maksudku ini?”


 


 


Meski dibatasi oleh sarung tangan, informasi yang disampaikan melalui telapak tangan pemuda itu benar-benar dipahami oleh Vil. Roh Agung itu mengerti apa yang diminta Odo padanya, membuatnya menundukkan kepala.


 


 


“A ... itu ...”


 


 


“Bukannya tadi kau yang bilang sendiri, bukan? Aku harus tetap bersih. Kalau begitu, maukah kau melakukan hal kotor untukku? Bagaimanapun aku memerlukan itu ....”


 


 


Menyingkirkan tangan Odo dari atas kepalanya, Vil menatap tajam dengan mata berkaca-kaca seakan ingin menangis. Bibirnya mengerut, dengan gemetar berkata, “Kamu memang berubah, ya .... Kamu sudah bukan lagi Odo yang kukenal, bukan lagi Odo yang selalu datang dan membaca buku di perpustakaan itu dengan polos.”


 


 


“Maaf .... Aku memang seperti ini, aku akan selalu berubah dan terus berkembang. Entah itu kekuatan atau kepribadian, aku tidak akan pernah sama lagi.”


 


 


Tatapan sedih pemuda itu membuat Vil gemetar karena alasan lain, dari dalam dadanya terasa getaran aneh seakan berdebar-debar. Ia paham rasa apa itu. Membuatnya menundukkan wajah, lalu dengan rasa pasrah menjawab, “Baiklah .... Aku ... akan melakukan itu untukmu, Odo.”


 


 


“Terima kasih, Vil .... Aku sangat bersyukur kau yang pertama menerima rencanaku ini. Aku lega kau tidak membantah tujuanku ....”