
Di sepanjang pesisir dengan garis pantai yang terbentang panjang, aku duduk di atas pasir putih seraya memandang ke arah laut. Seluas kedua mata memandang, di sana terlihat banyak sekali bangkai-bangkai kapal perang dan pesawat tempur. Bocornya tangki bahan bakar mencemari laut menjadi keruh, mayat mengapung memenuhi perairan, dan bau busuk keluar dari daerah yang seharusnya membawa segar itu. Pada beberapa sudut laut, terlihat bangkai makhluk humanoid berbentuk raksasa yang memiliki sayap, serta pada titik lain terlihat bangkai raksasa seperti reptil bersayap yang tubuhnya terbelah menjadi dua bagian. Karena darah yang mengalir dari kedua jenis makhluk tersebut, warna laut perlahan berubah merah.
Mengamati apa yang ada di hadapan, anehnya diriku tak merasa kaget atau takut, hanya ada kehampaan mengisiku. Perlahan menaikkan pandangan dan melihat ke langit, di sana hanya terlihat ruang hampa dari angkasa. Lapisan atmosfer yang memuat awan seperti yang kutahu tak ada, di sana langsung terhubung dengan angkasa bebas dengan puing-puing bulan yang telah hancur menjadi empat bagian. Matahari di atas sana bersinar merah terang dan bukan kuning, suhu panasnya tak terasa olehku, tetapi saat kembali melihat ke arah lautan yang ternyata mendidih dan perlahan menguap airnya dengan jelas diriku tahu kalau matahari itu ratusan lebih panas dari apa yang kutahu.
Aku tak tahu mengapa bisa berada di sini, tetapi yang jelas saat melihat semua itu terasa penyesalan dan kesedihan yang menusuk dada. Itu ..., semua apa yang kulihat sangat menyakitkan, seakan memang semua itu adalah salahku ..., hasil dari apa yang telah kulakukan.
Muak dengan apa yang kulihat, aku menoleh ke belakang. Di sana, terlihat hal yang lebih parah dari yang kuduga. Puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan mayat terlihat bergelimpangan di atas puing-puing bangunan-bangunan yang rata dengan tanah. Dilihat dari puing-puing yang ada, aku tahu kalau itu berasal dari kota sangat megah ..., dulunya ... mungkin. Seperti yang terlihat sekarang, itu lebih parah dari sekedar kota mati karena terdapat banyak sekali mayat.
Anak-anak, orang dewasa, lansia, perempuan, laki-laki, banyak sekali dan tak terhitung jumlahnya. Kondisi mayat-mayat itu juga sangat mengenaskan, ada yang kepalanya tergantung kabel jalanan, ada yang kepalanya terpenggal, ada yang tubuhnya tersetrum listrik sampai gosong, ada yang penuh lubang tembakan timah panas, ada yang tubuhnya hancur karena ledakan, ada yang tubuhnya tertimpa puing-puing .... Apapun kondisinya, mereka semua telah menjadi mayat, tak bernyawa dan tak akan bisa bergerak lagi. Melihat semua itu, aku tidak merasa mual atau semacamnya, hanya ada rasa sesal dan sedih yang mengganjal seperti saat aku melihat ke arah laut.
Mengamati hal lain dari pemandangan hancurnya peradaban tersebut, terlihat beberapa bangkai pesawat luar angkasa yang hancur, bongkahan asteroid raksasa di tengah kota, dan mayat-mayat makhluk raksasa yang hampir mirip dengan yang ada di laut. Itu terlihat sangat tidak wajar melihat makhluk-makhluk itu, tetapi anehnya diriku tak merasa ada sesuatu yang ganjil.
Aku berdiri, lalu berbalik ke arah kota besar yang sudah menjadi puing-puing tersebut. Kembali melihat memindai, kedua mataku menangkap sosok yang terasa ganjil di pemandangan penuh kegilaan senyap dan kehancuran itu. Tepat di ujung garis pantai tempatku berada dengan tanah tandus, terlihat seorang gadis yang mengenakan gaun putih polos panjang sampai mata kaki. Umurnya terlihat kurang dari dua puluh dan rambutnya berwarna hitam pekat, tetapi saat melihat wajahnya, entah mengapa itu tak bisa terlihat dengan jelas. Mataku langsung tertuju padanya, saat gadis itu mendekat pun mataku mengikuti. Sampai di sebelah kananku, Ia melihat ke arahku dan mulai mengatakan hal aneh.
“Pada akhirnya semuanya akan berakhir seperti ini, ya .... Sungguh, setiap masa ..., semua makhluk di semesta memang tidak pernah belajar atas kegagalan pendahulu mereka. Berselisih, berperang, merebut, dan tak pernah mau mengerti satu sama lain.”
Gadis itu sedikit merapikan gaunnya, lalu duduk di atas pasir pantai seraya melihat ke arah laut. Aku pun ikut duduk di sebelahnya, kembali melihat laut yang mengerikan itu. Di saat aku hanya diam dan memandang ke depan dengan kosong, gadis itu kembali membuka mulutnya dan berkata.
“Moyet sekalipun bisa jatuh dari pohon ..., terlalu banyak berkah bisa mengakibatkan orang bijak jatuh ke bawah .... Pernahkah kau mendengar itu? Itu merupakan salah satu pepatah dari orang-orang bermata sipit dari timur .... Tapi, apa benar begitu ...? Kalau memang iya, kenapa kau masih berada di sini dan tetap bisa bertahan, ya? Apa kebetulan? Kurasa tidak juga .... Itu sudah ditetapkan, kau tahu .... Berbeda dengan mereka, kau diberi kesempatan ... untuk mengubah hasilnya ....”
Kesempatan ...? Mengubah?Mereka ... siapa ....?
“Mereka loh, mereka .... Masa kau tak ingat ...? Wanita serakah yang selalu iri dan cemburu dengan sekitarnya, dan berakhir mati dengan sangat menyedihkan .... Seorang pembunuh bayaran yang akhirnya bertobat dan punya keluarga, tetapi pada akhirnya mati dikhianati .... Seorang gadis menyedihkan yang diperkosa ayahnya sendiri dan berakhir dijual untuk bahan penelitian untuk kepentingan militer, dan pada akhirnya mati tanpa mendapat kebahagiaan yang pantas ..... Seorang petapa muda yang bijak yang berhasil membawa banyak perdamaian di dunia, tetapi dalam satu hari segalanya hancur dan pada akhirnya bunuh diri karena stres .... Orang tua yang hanya ingin bersama keluarganya, dan hanya dengan alasan itu dia bahkan rela menghancurkan seluruh dunia dan dirinya sendiri .... Seorang ksatria yang berjuang mati-matian membela negara ..., tetapi pada akhirnya dibuang oleh negara yang diperjuangkannya sendiri .... Seorang diktator yang gagal menguasai segalanya .... Seorang pengamat yang berhenti mengamati, dan berakhir hancur .... Seorang cinta damai yang berakhir menjadi pembunuh berantai dan pembantai .... Apa kau melupakan semua orang itu? Ya, mau bagaimana lagi .... Huh, karena itu ... sudah ditetapkan.”
Kenapa ...., apa yang dia katakan? Aku tak tahu orang-orang yang disebutkannya.
“Tentang ini, kau tahu .... Semua apa yang terjadi di dunia ini, loh. Apa kau tak paham, meski sudah melihat semua itu? Kurasa aneh untuk orang sepertimu bisa bertahan sejauh ini, tetapi jujur diriku sangat senang karena kali ini yang berhasil selamat adalah makhluk sepertimu .... Kau memang tak layak bertahan, tetapi bisa selamat dari dunia ini .... Ya, dunia yang kacau dan hancur ini .... Kau telah melihat berbagai bangsa hancur, dan melihat berbagai macam pembunuhan tak manusiawi dan tak masuk akal. Kekacauan dan kehancuran, kau melihatnya dan tidak berpaling .... Meski itu terngiang di dalam jiwamu, rasa kesadaran dan identitas diri tak pernah pudar sedikit pun. Perbudakan yang dilembagakan, pemburuan manusia, perang saudara, perang senjata biologi dan nuklir, perdagangan manusia, prostitusi tak manusiawi, genosida, orang tua dan anak saling membunuh, pemusnahan suku, krisis sumber daya dan kelaparan, diskriminasi radikal, saling bunuh hanya karena prasangka, balas dendam yang melahirkan bahas dendam lain ..., wabah dan penyakit sekala regional .... Bukankah kau telah melihat semua itu? Tidak ..., kau bahkan hampir pernah merasakan lebih dari setengahnya ..., iya bukan? Apa kau merasa menyesal? Apa kau sedih? Frustrasi dengan hasil ini ....?”
“Begitu ya, menyesal .... Kalau memang kau merasa seperti itu, daripada berakhir seperti ini ..., mungkin lebih baik ini menjadi awal baru bagi dunia tak ada salahnya. Lagi pula kau hampir mirip seperti pemenang dan berhak atas semua itu .... Sebab itu ..., paling tidak kau harus benar-benar mati dulu untuk bisa menyusunnya kembali ....”
Mati ....?
“Ya, mati .... Tapi ..., jujur aku ragu ada hal yang bisa membunuhmu sekarang. Oleh karena itu, biarkan diriku ini membunuhmu secara langsung ....”
Gadis itu bangun, membersihkan gaunnya dari pasir yang menempel, lalu menatap ke arahku. Aku ikut bangun, dan berdiri saling berhadapan dengan gadis tersebut. Tanpa memberi perkataan lain, gadis itu menyentuh dadaku dan tersenyum.
“Sekarang kau telah ditandai ...,” ucapnya seraya mengangkat tangannya dari dadaku, kemudian melangkah mundur. Dalam hitungan detik, gadis itu langsung lenyap menghilang dari hadapanku. Aku berusaha mencarinya, melihat ke laut, ke kota, dan sekeliling, tetapi saat melihat ke langit, aku sadar kalau gadis itu tidak sedang bergurau soal membunuhku.
Tepat di langit yang terhubung langsung dengan angkasa, terlihat meteor raksasa yang bergerak jatuh ke arahku. Ukurannya lebih besar dari mayat-mayat makhluk raksasa yang ada di laut dan daratan, lebih besar dari bukit atau gunung, dan parahnya lagi jumlahnya bukan hanya satu tapi sampai belasan. Melihat itu, aku hanya bisa menganga. Sadar tak bisa menghindar atau lari, aku memejamkan mata dengan pasrah, menunggu batu luar angkasa raksasa itu menghantamku. Angin dari tekanan semakin kuat, dan saat meteor itu semakin dekat denganku ......
.
.
.
Bug!
Sesuatu membentur wajahku. Membuka mata dan mengamati, ternyata sebuah labu kaca yang jatuh dari atas lemari menimpa wajahku. Bangun dan mengamati sekitar, ternyata aku sedang berasa di dalam kamarku sendiri yang berantakan dan penuh dengan alat-alat meracik obat serta kertas perkamen yang berserakan.
“Itu ... ternyata hanya mimpi, ya? Rasanya terlalu asli ..., dan itu sedikit menakutkan .... Tunggu, apa benar itu mimpi?”
Aku terdiam sesaat memikirkan hal tersebut. Tetapi saat berpikir dan berpikir kembali, mimpi tersebut semakin pudar dan tak bisa kuingat dengan jelas. Merasa tidak penting dengan hal itu karena ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan, aku berusaha melupakannya dan mulai membersihkan kamar yang berantakan setelah kugunakan untuk belajar meracik ramuan dan sihir baru semalam. Bangun dan mencari dokumen yang aku susun selama beberapa hari terakhir, aku menemukannya di atas meja.
“Untung tidak rusak ....” Menarik napas lega, aku berjalan ke arah jendela dan membuka gorden, lalu melihat pemandangan dari penghujung musim gugur.