Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 51 : Quod (Part 02)



“Engkau tahu, diriku bukanlah manusia.” Mavis membuka telapak tangannya sendiri, lalu menatapnya dan menjelaskan, “Jiwa dan raga ini, tidak diragukan lagi adalah sebuah bentuk Artificial. Diriku adalah Homunculus, Seri Intara Hexe ciptaan sang Penyihir Agung.”


“!!!”


Minda hanya terbelalak, fakta bahwa sosok yang dilayaninya selama ini adalah sesuatu yang hampir mirip dengan apa yang Odo katakan sebelumnya benar-benar membuatnya terpukul. Melihat ke arah Tuan Mudanya, perempuan itu tambah terkejut karena pemuda itu terlihat sangat tenang, padahal fakta tersebut seharusnya membuatnya terkejut dan tidak bisa diterima dengan mudah.


Mavis kembali melihat ke arah Odo, lalu bertanya, “Apa ... engkau juga sudah tahu soal itu, putraku?”


“Ya ....” Odo mengangguk, sekilas tersenyum sedih dan menjawab, “Soal Bunda yang bukan manusia aku sudah tahu. Struktur sihir seperti itu memang mustahil ditanamkan pada manusia, ini menjelaskannya.”


“Struktur sihir?” tanya Mavis bingung.


“Apa yang membuatku datang ke dunia ini.”


Itu membuat semua orang yang mendengar itu tersentak, termasuk Mavis sendiri. Dengan sedikit ragu, wanita rambut pirang itu bertanya, “Apa ... yang kau bicarakan, Odo?”


Pemuda rambut hitam itu menggaruk bagian belakang kepalanya sendiri, menyandarkan tubuh ke kursi dan menatap sedikit enggan. Dengan nada resah ia berkata, “Sebelum membahas itu, ayo kita bicara soal Bunda dulu. Aku ingin mengenal Bunda lebih dalam, setelah itu baru ....”


“Mengenal?”


“Bukan Bunda sebagai Mavis, namun sebagai diri Bunda sendiri.”


Perkataan itu membuat wanita rambut pirang itu terkejut, lalu tersenyum tipis karena merasa senang. Odo memang anak yang seperti itu, Mavis sendiri mengerti kalau putranya tersebut pasti tidak akan mempermasalahkan hal tersebut dan mengubah persepsi pada dirinya.


Dengan rasa lega yang sedikit muncul dalam benak, Mavis bertanya, “Apa yang ingin kau tanyakan, putraku?”


“Intara Hexe ....” Odo menatap serius, lalu meletakkan tangan kanan ke atas meja dan berkata, “Itu adalah Seri Homunculus Generasi Pertama yang diciptakan oleh Penyihir Agung di Kota Miquator, dengan tugas sebagai senjata utama saat Perang Besar. Seri pertama itu setahuku terdiri dari lima unit .... Bisa bunda cerita tentang saudari-saudari bunda itu?”


“Saudari, ya ....” Mavis terlihat bingung harus berkata apa. Sebagai kepribadian yang diciptakan pertama untuk Intara Hexe, tubuhnya paling terakhir diciptakan dan bisa dikatakan sama sekali tidak ikut serta dalam Perang Besar. Menatap sendu, wanita rambut pirang itu menjawab, “Jujur Bunda sendiri tidak tahu soal mereka selain nama .... Ibio, Iiagram, Iin, Vib, dan terakhir adalah Mavis. Itulah lima Intara Hexe yang ikut serta dalam perang penghabisan itu.”


“Aku tahu itu.” Odo menutup wajahnya sendiri dengan tangan kanan dan sekilas bergumam sesuatu dengan suara sangat pelan tanpa didengar siapa pun. Kembali meletakkan tangan kanan ke atas meja, ia berkata, “Soal mereka, soal kejadian itu juga. Keluarga Luke dan para Intara Hexe, keduanya pernah saling bunuh habis-habisan, ‘kan? Saat perang ....”


Mavis terkejut mendengar perkataan itu. Namun setelah memikirkannya kembali, Mavis sekilas mulai tahu kalau Odo tahu hal-hal seperti itu dari arsip yang disimpan pada ruang pengarsipan kediaman Luke. Dengan ekspresi sedih wanita itu bertanya, “Apa ... kau tak marah soal itu, putraku? Itu sama saja para saudari Bunda membunuh paman dan kakekmu.”


“Tentu aku marah, tapi bukan kepada Bunda .... Aku marah pada mereka yang membuat perang seperti itu bisa pecah dengan cara yang terburuk.”


“Pada Penyihir Agung?”


“Bukan dia. Tapi pada orang-orang yang menyebut diri mereka anak-anak Korwa.”


Mavis, Fiola, dan Minda terkejut mendengar itu. Huli Jing di belakang Mavis segera berjalan ke arah Odo, lalu menggebrak meja di depannya dan lantang berkata, “Jadi benar perang itu juga ulah mereka?!”


Odo sekilas melirik, lalu mengacuhkan perempuan rambut cokelat kehitaman itu dan kembali menatap ke arah Mavis. Dengan suara berat ia berkata, “Bukan hanya perang, kurasa semua tragedi yang terjadi selama seratus tahun terakhir itu ulah mereka semua. Perang Besar, Pemanggilan Iblis, Pembantaian, semuanya itu ulah mereka ....”


Fiola terlihat sangat murka mendengar itu, membuatnya mengingat kebenciannya pada anak-anak Korwa tersebut. Sekilas aura putih tipis keluar dari tubuh Huli Jing itu, membuat rambut dan pakaiannya terangkat oleh tekanan udara yang berubah di sekitarnya.


“Fiola, tenanglah,” ucap Mavis.


Huli Jing itu langsung menurunkan tekanan sihirnya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan segera berlutut di sebelah Odo. Dengan tatapan serius ia bertanya, “Tuan Odo, apa semua tindakkan Tuan selama ini untuk melawan mereka? Tuan Odo juga seakan sudah tahu kedatangan Raja Iblis Kuno itu saat berada di pemukiman Klista, lalu Tuan saat itu melakukan tindakan untuk mengalahkannya. Jika memang seperti itu, saya rela mengorbankan diri i—”


“Kau salah,” potong Odo. Menoleh dengan ekspresi datar dan menatap tajam perempuan yang berlutut di samping kanannya itu, pemuda rambut hitam itu berkata, “Kita saat itu hanya diarahkan, semua itu sudah direncanakan mereka dari awal. Peran para Korwa itu sudah berakhir saat aku lahir ke dunia ini ....”


Fiola bangun dengan ekspresi terkejut, tidak bisa menangkap maksud perkataan itu. Dua dari kesembilan ekor Huli Jing itu menampar wajah Vil yang duduk di belakangnya, membuat Roh Agung tersebut sedikit kesal karena bulu lebatnya menghalangi pandangan.


Mavis dan Minda terdiam dengan ekspresi pucat, tak berani untuk bertanya dan mereka berdua hanya menatap bingung dan menunggu penjelasan pemuda rambut hitam tersebut.


Menatap ke arah Ibunya, Odo Luke bertanya, “Apa Bunda tahu alasan— Tepatnya, dalih yang mendasari anak-anak Korwa itu? Apa yang membuat mereka rela mengorbankan nyawa? Apa yang membuat mereka tega membantai? Dan apa yang membuat mereka sampai mengobarkan kekacauan?”


Mavis terdiam, ia dari awal tidak terlalu memikirkan alasan mereka. Aliran sesat itu adalah bentuk kejahatan, mereka melakukan pembunuhan dan pembantaian tanpa pandang bulu. Hal tersebut sudah menjadi alasan kuat untuknya melawan anak-anak Korwa itu. Dengan nada sedikit ragu, wanita rambut pirang itu menjawab, “Mereka ... ingin memanggil para Iblis, lalu ... tujuan akhir mereka adalah memanggil Raja Iblis Kuno.”


“Apa Bunda yakin hanya itu tujuan utama mereka? Seharusnya Bunda sudah tahu, tujuan akhir dari anak-anak Korwa itu sebenarnya apa.”


Mavis tersentak, mengingat sesuatu yang pernah diucapkan oleh salah satu anak Korwa. Dengan bimbang ia pun berkata, “Memanggil makhluk yang mereka sebut ... Ayahanda? Pembawa perubahan, kehancuran dan penata ulang.”


“Ya, benar.” Odo sekilas memalingkan pandangannya ke arah Fiola, lalu kembali menatap Mavis dan berkata, “Mereka ingin memanggil itu. Namun, sampai sekarang tidak ada yang tahu sebenarnya sosok Ayahanda itu apa. Hubungannya dengan pembantaian serta pemanggilan para iblis yang dilakukan mereka pun juga tidak jelas.”


“Apa ... itu memang ada hubungannya denganmu, putraku?” tanya Mavis. Wanita itu sudah mulai mengerti inti pembicaraan dan apa yang hendak Odo sampaikan, namun semakin dirinya mengira-ngira itu membuatnya semakin gemetar.


“Itu memang sangat ada hubungannya. Sejak Bunda dan Mavis tertelan Monster Iblis itu di kota Gahon, tujuan akhir mereka sudah tercapai ....”


“Dan Mavis ...?” Minda menatap wanita yang dihormatinya dengan cemas, pikirannya sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa Mavis yang sekarang berkata dirinya bukanlah Mavis yang asli.


“Minda ....” Wanita rambut pirang itu menatap dengan mata birunya, lalu dengan sedikit enggan menjelaskan, “Diriku, jiwaku adalah Proten. Sosok kepribadian pertama yang diciptakan untuk Sihir Manifestasi Malaikat, namun tubuhku terlambat disempurnakan. Seri Prototipe dari Intara Hexe, Proten .... Itulah jiwaku yang sebenarnya.”


“Pro ... ten?” Minda benar-benar bingung. Tidak seperti Fiola atau Vil, dirinya tidak terlalu tahu tentang sang Penyihir Cahaya. Perempuan itu tambah gemetar, jatuh dalam kebingungan dan mulutnya sedikit menganga namun takut untuk bertanya.


Mavis kembali menatap ke arah Odo dan mengesampingkan ekspresi Minda, lalu dengan nada ingin tahu ia bertanya, “Apa kematian Mavis juga rencana mereka?”


“Mavis tidak mati, bukan?” Odo tersenyum ringan, lalu lurus menunjuk ke arah Mavis dan berkata, “Dia seharusnya masih ada di dalam diri Bunda .... Kalau tidak, mana mungkin Bunda bisa menggunakan sihir cahaya dengan tingkat kemurnian tinggi.”


Minda kembali terkejut mendengar itu, begitu pula Fiola yang baru kembali ke belakang Mavis duduk. Mereka berdua tidak tahu sama sekali soal hal tersebut. Vil yang sudah pernah mendengar perkiraan Odo itu sama sekali tidak mengubah ekspresinya datarnya dan hanya menatap ringan pemuda rambut hitam itu.


“Begitu, ya.” Mavis tersenyum tipis, lalu dengan ekspresi sedih berkata, “Putraku, kau bahkan tahu sampai sejauh itu. Tapi, sayangnya Mavis memang telah mati .... Sebagian jiwanya memang ada dalam diriku, namun ia tidak merespons lagi. Memang belakangan ini ia sering menemuiku dalam mimpi, namun Mavis hanya diam.”


“Kurasa itu kurang tepat, itu sudah menjadi tanda kalau jiwanya masih ada. Apa Bunda tahu kenapa jiwanya mulai bisa muncul ke permukaan kesadaran Bunda?”


“Apa ... kau tahu, putraku?”


“Hmm, aku tahu. Karena itu ada kaitannya juga dengan jiwaku.”


“Jiwamu?”


“Bunda ....” Odo meletakkan telapak tangan kanan ke depan dada, lalu dengan suara tegas berkata, “Aku adalah jiwa yang direinkarnasikan. Dalam kalimatku ini, berarti jelas ada pihak yang sengaja membuatku terlahir kembali ke dunia ini sebagai Odo Luke ...”


“Reinkarnasi ...? Tuan Odo ....” Minda menatap pucat pemuda tersebut.


Berbeda dengan pelayan rambut hitam itu, Mavis hanya memasang ekspresi tenang seakan telah tahu hal itu dari awal. Fiola yang berdiri di belakang wanita itu pun tidak berubah ekspresinya, Huli Jing tersebut dari awal sudah mengira-ngira hal tersebut karena sering mengawasi isi kepala Odo dari kecil sampai sekarang.


“Ya .... “ Odo menundukkan wajah, lalu dengan muram berkata, “Jujur masih banyak hal yang tidak aku ketahui, tapi soal reinkarnasi itu jelas. Aku ingat banyak hal di kehidupanku sebelumnya.”


“Apa ... anak-anak Korwa itu yang membuatmu berinkarnasi?” tanya Mavis.


“Seharusnya Bunda tahu ....” Odo menatap, membuka kedua telapak tangannya dan menatap itu dengan sedih sembari berkata, “Monster Iblis yang menghancurkan kota Gahon itu, tidak diragukan lagi adalah sebuah peti mati untuk mengumpulkan jiwaku dalam satu tempat dan memasukkannya ke dalam tubuh Bunda.”


Mavis dan Fiola terkejut, mereka berdua yang ada di tempat tersebut sama sekali tidak berpikir sampai ke titik itu. Fiola menutup mulut dengan tangan kanan, menundukkan wajah dan dengan cemas bergumam, “Benar juga .... Para bajingan itu, saat itu tidak biasanya menyerang duluan.”


Menutup kedua telapak tangan dan meletakkannya ke atas pangkuannya sendiri, Odo kembali berkata, “Alasan anak-anak Korwa itu melakukan pemanggilan iblis, pembantaian, dan membuat kekacauan hanyalah sebuah cara untuk mempermudah mereka mengumpulkan jiwaku yang tersebar di daratan ini .... Bunda tahu alur kehidupan, ‘kan? Soal siklus hidup dan mati, sebuah Samsara.”


Kepingan-kepingan pertanyaan yang mengisi benak Mavis seketika tersusun rapi dalam kepalanya. Pemanggilan Iblis, Pembantaian, Perang Besar, dan dirinya yang mendapat pengetahuan dari salah satu anak Korwa, semua itu menuntunnya pada satu pertanyaan besar yang membuatnya takut.


“Se-Sebenarnya ... jiwamu siapa? Siapa kau sebelum menjadi Odo?” tanya Mavis gemetar. Meski dirinya tahu jiwa yang menjadi individu bernama Odo itu sebenarnya siapa, dirinya mulai meragukan hal tersebut.


Odo sekilas tersenyum tipis, lalu dengan tanpa ragu berkata, “Aku ... hanyalah pemuda biasa, yang dengan kebetulan mendapat cinta dari sang Dewi.”


“““Dewi?”””


Semua orang di dalam ruangan secara serentak menanyakan itu, bahkan Vil yang dari tadi acuh ikut penasaran.


Odo menghela napas kecil, lalu menjawab, “Dewi yang menata dunia ini, Bunda seharusnya tahu.”


“Dewi ... Helena?” Wanita rambut pirang itu gemetar, menutup mulut dengan kedua tangan dan dengan ekspresi tidak percaya bertanya, “Sosok yang berdiri di puncak kehidupan itu?”


“Ya ....” Odo sesaat mengangkat kedua pundaknya, lalu dengan nada kurang meyakinkan berkata, “Aku dulunya hanya orang biasa, lalu dibunuh olehnya dan dipaksakan sebuah keabadian. Menjalani hidup panjang, namun pada akhirnya mati juga. Saat aku kira semuanya telah berakhir, aku malah terlahir kembali ke dunia. Awalnya aku juga tidak ingat semua itu, kenanganku tentang kehidupan sebelumnya hanyalah sebatas sebelum aku mendapat hidup panjang. Namun setelah dibunuh Raja Iblis Kuno itu dan dihidupkan kembali, aku hampir mengingat semua itu ....”


“Di-Dibunuh?” Fiola terkejut, segera berjalan ke arah Odo dan dengan gemetar bertanya, “Saat itu  ... Tuan Odo mati?”


Odo menatap tajam dan membuat langkah Huli Jing tersebut terhenti sebelum sampai. Menatap dengan ekspresi sedikit mengejek, ia pun berkata, “Memangnya ada manusia yang tidak mati setelah hampir semua tulangnya patah dan kepalanya hancur? Tentu saja aku mati kalau diremas seperti itu! Tapi ..., setelahnya aku dihidupkan kembali dengan ingatan lengkap.” Memalingkan pandangan dari Huli Jing tersebut, Odo menghela napas ringan dan kembali berkata, “Lengkap kurasa bukan kata yang tepat. Ingatanku hanya penuh.”


“Penuh?” Fiola terlihat bingung. Mavis dan semua orang di tempat tersebut pun tidak mengerti perbedaan antara ingatan lengkap dan ingatan penuh.


Menatap Mavis, pemuda rambut hitam itu menjelaskan, “Aku memang punya semua ingatan tentang kehidupanku yang sebelumnya, tapi masih banyak yang masih belum aku buka. Itu masih seperti kotak-kotak kayu yang masih dipaku rapi. Dan kalau aku membuka semua itu, pasti kepribadianku sebagai Odo Luke akan lenyap.”


“Le ... nyap?” Mavis semakin pucat saat mendengar itu. Semua orang yang ada di tempat tersebut gemetar, benar-benar terkejut mendengar perkataan pemuda rambut hitam tersebut.


“Kondisiku hampir sama seperti Bunda ....” Pemuda itu memasang senyum yang tersirat kesedihan, lalu dengan suara ringan ia berkata, “Jiwaku akan ditindih oleh semua ingatan itu, lalu aku pasti akan berubah. Aku memang akan tetap menjadi diriku, tapi dengan jelas semuanya pasti akan runtuh ....”


Perkataan Odo terhenti, seketika sorot matanya terlihat kosong dan mulutnya sedikit menganga tanpa mengeluarkan suara. Itu terlihat sangat tak wajar, seakan-akan jiwa pemuda itu keluar dari tubuhnya. Mavis cemas dan bangun dari tempat duduknya, namun saat itulah Odo mulai berbicara.


“Runtuh .... Bangunan beton bertingkat perlahan runtuh. Permukaan besi, lampu sorot pada ruangan tertutup di bawah tanah. Kamar bedah, pisau dan gunting. Saraf otak. Mutasi paksa .... Penanaman unsur radiasi. Bedah isi kepala, bedah jaringan pembuluh darah dan beserta pencernaan, bedah jantung, bedah punggung dan mengganti tulang belakang  .... Darah dikeringkan, daging di atur ulang komposisinya, otot dirangkap dengan mineral imitasi, kulit yang kurang diganti dengan karet, organ tambahan ditambahkan. Uji coba untuk penyesuaian harus dilakukan, semua itu, membunuh dan menghidupkan kembali. Menanamkan unsur pe—!”


“Odo!”


“Ah ....” Kesadaran Odo kembali dan dirinya tersentak. Melihat Mavis berdiri di dekatnya dan memegang erat tangan kanannya, pemuda itu terlihat seakan ingin menangis dan dengan lirih berkata, “Ini, sudah kuduga. Ingatannya ....”


Mavis merapikan gaunnya dan berlutut di sebelah Odo, lalu dengan cemas wanita rambut pirang tersebut bertanya, “Apa ... itu ingatanmu?”


“Entahlah, aku tak tahu ini ingatan siapa. Ini seperti menonton ingatan seseorang ... dan seseorang itu ....” Perkataan Odo terhenti, menatap ke arah Mavis dan malah bertanya, “Aku ... aku ... Aku siapa?”


“O-Odo ....”


“Ah, benar juga. Aku ... Odo.”


“Ada apa dengamu?! Kau kenapa, putraku?” Mavis sangat cemas, ia bangun dan memegang kedua pundak putranya tersebut.


“Tunggu, Bunda ....” Mengerutkan kening karena rasa sakit luar biasa yang menyerang kepalanya, Odo memalingkan pandangan dan berkata, “Penyelarasannya sedang kacau. Saat aku mengingat-ingat dan membuka itu, ternyata memang seperti ini. Aku .... Ah, jangan cemaskan, ini sudah baik-baik saja.”


“Mana mungkin Bunda tidak cemas!” benak Mavis.


“Sungguh ....” Odo menatap ringan, lalu memasang senyum palsu dan berkata, “Ini tak apa. Asal aku tidak membuka ingatan itu dan menyelesaikan rencanaku sesegera mungkin, semuanya akan baik-baik saja.”


Mavis terlihat sangat marah, memegang kencang kedua pundak putranya ia dengan tegas berkata, “Rencana apa memangnya?! Kenapa kau masih berbicara seperti itu?! Lebih baik kau tidak usah berurusan dengan masalah-masalah itu?! Ayo, kau harus kembali ke kamar .... Kau pasti sedang sakit.”


Saat Mavis hendak menggandeng Odo dan mengajaknya kembali ke kamar, pemuda itu menepis tangannya dan memasang ekspresi kosong. Suasana berubah senyap, tanpa ada kalimat keluar dan pemuda itu terlihat sangat hampa.


Berkedip satu kali, sorot mata Odo kembali dan ia dengan rasa bersalah berkata, “Maaf, Bunda .... Aku harus tetap bangun .... Bunda tahu, karena kedatanganku penderitaan memenuhi dunia ini. Sebagai gantinya aku ingin memperbaiki kesalahan itu. Paling tidak sampai kembali ke titik dimana semuanya—!”


“Daratan ini sudah damai!” bentak Mavis. Ia emosinya meluap-luap dan dengan kasar memagang kedua bahu Odo, lalu dengan suara lantang berkata, “Putraku, di sini sudah tak ada perang lagi! Memangnya apa yang ingin kau lakukan?! Memangnya apa yang ingin kau perbaiki?”


Kedua kaki Mavis mulai lemas, ia melepaskan tangan dari bahu putranya dan mulai terduduk pucat di sebelah pemuda yang duduk pada kursi itu. Menggenggam tangan kanan putranya dengan erat, Mavis berkata, “Odo ..., kumohon .... Kau satu-satunya alasanku untuk tetap hidup. Tolong jangan berkata seperti itu, putraku.”


Odo hanya terdiam, memberikan tatapan kosong seakan perkataan itu tidak menyentuh hatinya. Turun dari kursi, Odo langsung memeluk ibunya tersebut dengan erat. Itu pemuda itu lakukan tanpa gemetar, tanpa rasa ingin membuat ibunya tenang, dan hanya melakukan itu karena memang itulah tindakkan yang tepat.


“Bunda ....” Odo melepaskan pelukan, menatap Mavis dan bertanya, “Apa Bunda mencintaiku? Apa bunda menyayangiku?”


“Tentu!” jawab Mavis langsung. “Engkau adalah putra tercintaku. Kebanggaanku!”


“Kalau begitu, tolong biarkan aku melakukannya sampai akhir. Tenang saja, aku tidak akan mati atau menghilang sebelum kewajibanku ini berakhir.”


“Kewajiban apa?” Mavis menatap bingung dengan tubuh gemetar, lalu berkata, “Tak ada yang mewajibkanmu untuk memikul semua itu ....”


“Ini kewajibanku, sebuah keharusan untukku melakukannya.”