
Odo dan Fiola berjalan di jalan utama pusat kota, meninggalkan anak-anak panti asuhan yang sedang berlatih meditasi. Dengan menitipkan pesan kepada Firkaf dan yang lainnya kalau mereka tidak akan kembali dalam beberapa hari, kedua orang dari Mansion Luke tersebut pergi dengan santainya dan itu menjadi tanda berakhirnya mereka menginap di tempat tersebut.
Di antara lalu-lalang keramaian mereka dengan ekspresi wajah ringan, tanpa beban atau pikiran suram. Melirik ke arah tuannya, perempuan rambut cokelat kehitaman itu bertanya, “Kenapa Anda tiba-tiba memutuskan pergi? Bukannya rencana itu baru dimulai besok?”
Odo melirik datar mendengar itu. Menghela napas kecil, pemuda rambut hitam itu menjawab, “Rencana baru mulai besok memang, tapi apa kita tidak masalah kalau tidak ikut mempersiapkan rencana itu? Kalau tiba-tiba kita ikut itu rasanya aneh, loh.”
“Ah, benar juga.” Huli Jing tersebut sedikit mendongak, melihat langit yang terlihat mendung. Kembali menatap Odo yang berjalan di sampingnya, ia bertanya, “Tapi ..., tetap saja bukannya lebih baik Anda bilang dulu ke Nona Siska?”
“Hmm, Mbak Fiola sudah akrab dengan Kak Siska, ya ....” Odo melirik datar, ia sedikit menyipitkan mata dan menatap sinis.
“Eh?” Fiola segera membuang tatapan ke depan, lalu berkata, “Ah ..., dia orangnya asyik ternyata. Entah mengapa rasanya seperti nasib kita sama, terutama soal mengurus anak bandel.”
Odo memasang ekspresi datar, berusaha untuk tidak menangkap perkataan itu dan pura-pura tidak dengar. Mengalihkan pembicaraan dengan hal lain, mereka pun berbincang-bincang kecil selama perjalanan menuju tempat persiapan yang ada di sekitar gerbang utama kota. Itu terasa sedikit aneh bagi Fiola berbicara santai dengan anak kecil bertubuh pemuda itu, rasa seperti batasan antara bawahan dan atasan sedikit pudar. Seakan atmosfer nyaman tersebar di sekitar mereka, membuat percakapan yang ada di antara mereka lebih cenderung ke hal-hal sepele untuk mengenal lebih dalam satu sama lain.
Tak terasa begitu lama dalam perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai di tempat persiapan dekat gerbang utama. Itu terletak beberapa ratus meter ke selatan dari gerbang, cukup jauh dari daerah pemukiman atau lalu-lalang penduduk sipil. Sesampainya di sana Odo melihat gerobak-gerobak berisi senjata terparkir rapi, bersama beberapa kuda yang disiapkan. Melihat ke arah lain dari tempat tersebut, terdapat para prajurit yang sedang diarahkan oleh komandan mereka dan juga terlihat beberapa penyihir yang sedang mempersiapkan diri.
Dari jumlah orang yang akan mengikuti rencana pembasmian tersebut, mereka tidak lebih dari 20 sampai 25 orang. Lebih dari setengahnya adalah prajurit, beberapa penyihir, dan pembawa barang serta terlihat juga beberapa pemburu yang hafal daerah pergunungan untuk membantu selama rencana dimulai.
Sekilas Odo merasa kalau jumlah mereka tergolong sedikit untuk sebuah rencana besar demi membebaskan wilayah Luke dari para bandit. Tetapi mengingat kalau prajurit kota tidak bisa dibawa seluruhnya karena bisa membuat pertahanan kota rapuh, pemuda berambut hitam itu sedikit menghela napas ringan. Sebenarnya bukan masalah jumlah yang dirinya khawatirkan, melainkan kehebohan dari persiapan perlu diperlihatkan untuk mendapat pandangan positif yang besar saat rencana berhasil nanti.
Lisiathus Mylta yang sedang bersiap bersama pasukan sedikit terheran melihat kombinasi aneh Fiola yang datang dengan seorang pemuda. Perempuan rambut merah itu menghampiri Shieal tersebut, menatap bingung dan bertanya, “Nona Fiola ..., mana Tuan Odo?” Sekilas Lisia melirik ke arah pemuda rambut hitam di samping perempuan yang dirinya ajak bicara.
Fiola menunjuk ke arah pria di sebelahnya tanpa menatapnya, lalu berkata, “Ini tidak dianggap?”
“Eh? Jangan bercanda .... Apa kamu masih kesal dengan kejadian itu? Bukannya Tuan Odo sudah kembali tadi malamnya? Jangan bergurau!”
“Dia menjadi besar saat kembali ....”
“Ini benar aku, kok. Suaraku masih kenal, bukan?” ucap Odo.
Mendengar itu, pikiran Siska terhenti dan membuat ekspresinya kosong seakan jiwanya melayang. Ia kenal suara pemuda tersebut, tetapi melihat kenyataan kalau anak itu sudah menjadi pemuda berparas lembut seperti itu membuat Lisia benar-benar terbelalak. Saking tidak percayanya, Lisia sempat melongok ke belakang pria itu karena mengira kalau Odo berada di belakangnya dan berbicara seakan pemuda itu memiliki suara yang mirip.
Tetapi, tentu saja anak yang dicarinya tidak ada. Menatap sinis, ia mengamati pemuda rambut hitam itu dengan teliti. Sadar kalau parasnya sangat mirip, Lisia kembali terbelalak pikirannya benar-benar kacau karena bingung.
“A-Apa Keluarga Luke punya kemampuan pertumbuhan secepat ini?! Luar biasa! Kalian bukan manusia biasa!”
Mendapat reaksi seperti itu, Odo melirik datar ke arah Fiola karena tadi perempuan itu bicara hal yang tidak perlu. Memukul kepala Fiola, Odo berkata, “Runyam, deh!”
“Ugh! Tuan ....” Fiola menoleh, menjulurkan lidah ke arah Odo, lalu berkata, “Sekali-kali saya buat Tuan Odo kesal.”
Pada akhirnya, mereka berdua menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Odo dan alasannya mengapa bisa seperti itu. Saat tahu kalau itu hanyalah sihir transformasi dan bukan berarti Odo tubuh dengan sangat cepat, Lisia benar-benar menarik napas lega karena beberapa hal. Tetapi saat mendengar alasan Odo susah-susah menggunakan sihir yang belum dikuasai dengan sempurna dan sampai terjebak dalam bentuk itu, napas Lisia seakan sesak langsung.
Alasan itu lebih berat dari yang diduganya. Karena Fiola menggunakan wewenang kepada para prajurit untuk mencari Odo tadi malam, secara tidak langsung rumor tentang Shieal tertinggi tersebar di kalangan prajurit dan kemungkinan itu semakin menyebar luas sampai terdengar kepada para bangsawan lain nantinya.
Pada awalnya, dalam rencana hanya akan digunakan nama Odo Luke sebagai pembantu dalam rencana pembasmian untuk mendukung pihak perintah Kota Mylta. Tetapi karena tindakkan Fiola tadi malam, hal itu bisa sangat berdampak buruk kalau nama Odo Luke malah tersebar. Alasannya sederhana, itu bisa menghapus prestasi pemerintahan Kota Mylta dan menganggap seluruhnya itu adalah hasil dari tindakkan dua orang penting tersebut.
Mempertimangkan hal itu, Odo menggunakan sihir transformasi dan meminta Lisia untuk memalsukan identitas anak lelaki berwujud pemuda rambut hitam tersebut. Memalsukan di sini berarti secara identitas dan latar belakang, Odo akan dicatat dengan nama lain dalam rencana dan dianggap sebagai pemburu yang disewa oleh Lisia dalam rencana.
««»»
Di depan gudang penyimpanan pada tempat persiapan, beberapa orang berkumpul untuk meninjau ulang rencana yang akan mereka lakukan besok pagi. Pada meja yang diletakkan di luar, sebuah peta besar digelar sampai memenuhi meja persegi tersebut. Peta itu merupakan geografis Wilayah Luke, mencangkup Kota Mylta di selatan sampai St. Lacus di tenggara.
Odo, Lisia, Fiola dan seorang Kepala Prajurit bernama Itla Lots berdiri mengitari meja. Saat melihat pion-pion yang dibagi dalam dua warna di atas peta, Odo sedikit merasa ada yang aneh dengan posisi tersebut tersebut. Pion merah sebagai tanda letak markas bandit, sedangkan pion biru merupakan pasukan Kota Mylta dan anggota rencana pembasmian.
Posisi pion merah yang ada di atas peta sedikit berbeda dengan apa yang Odo perhitungan. Menurut informasi yang dirinya dapat dari para pedagang, seharusnya lokasi bandit berada di sekitar rute datang yang sering dilewati. Tetapi apa yang ada di atas peta berbeda, pion merah diletakkan tidak di dalam hutan melainkan dekat dengan Kota Vadusi di barat daya dan Litista di selatan wilayah Luke.
Kepala Prajurit, Itla Lots, menggerakkan pion biru sesuai dengan rute yang akan ditempuh. Sembari menata pion-pion biru, ia berkata, “Menurut para pemburu, rute paling aman dari ancaman badai adalah lewat jalur barat hutan ini. Setelah sampai di titik transit, kita akan membuat kemah dan mempersiapkan penyerangan di sana.”
Odo mencermati penjelasan tersebut, dirinya memang sudah memperkirakan letak markas bandit di sekitar dua kota yang telah ditunjuk. Tetapi melihat pihak pemerintah kota telah memutuskan akan memindai di sekitar kedua tempat tersebut, itu sedikit membuatnya bingung. Odo mengangkat beberapa pion merah, lalu menggerakkannya ke utara. Pion yang Odo letakkan tepat masuk ke wilayah Rockfield yang merupakan daerah pegunungan, dekat dengan Hutan Pando yang pernah dirinya datangi.
“Oi! Suruh siapa kau memindahkan pion seenaknya?!” ucap Kepala Prajurit dengan bengis.
Pria dengan zirah berwarna perak gelap itu melepas helm pelindung, lalu meletakkannya ke atas meja. Rambut pirang pria itu terurai sampai bahu, menatap dengan mata biru gelapnya. Berbanding terbalik dengan kombinasi mata biru dan rambut pirang lurus yang terlihat anggun, wajah pria berusia tiga puluh tahunan tersebut terlihat sangar dan seperti veteran perang.
“Lagi pula, kau hanya pemburu, bukan?! Hanya karena Nona membiarkanmu ikut rapat ini, jangan besar kelapa!”
Pria yang sedari awal sudah tidak suka dengan keberadaan pemuda itu hanya mencari-cari alasan untuk marah, Odo dengan jelas paham hal tersebut. Mengangkat tangan kanan dari pion merah, pemuda rambut hitam itu menatap balik dengan datar. Ilta mengeram, pria itu langsung berjalan mendekati Odo dan menarik kerahnya.
“Kau ini ....”
“Ilta, sudah! Dia itu orang yang bisa dipercaya!” tegur Lisia dari sisi lain meja. Ia meletakkan kedua telapak tangan ke atas peta, lalu mengamati pion-pion yang tadi dipindahkan Odo.
“Tapi! Dia hanya pemburu! Namanya juga tidak terkenal! Memangnya dia bisa apa?!”
“Tuan Nigrum adalah tunangan saya! Jangan hina dia!” tegas Lisia.
Ketiga orang di dekat meja terkejut mendengar itu. Di antara mereka, Odo mulai panik dengan ungkapan tersebut meski hanya sebuah kebohongan untuk membuat Kepala Prajurit itu diam. Merasakan tatapan datar dari Fiola, pemuda rambut hitam itu tambah gemetar dan keringat dingin mulai bercucuran.
“Tunangan?” Kepala Prajurit tersebut mengangkat tangan dari kerah Odo, lalu menatapnya dengan tajam semari berkata, “Apa ... dia pria yang Tuan Mylta jodohkan? Kenapa aku tidak pernah mendengar itu?”
“Meski paman adalah guru ilmu pedang saya dari kecil, bukan berarti saya harus memberitahu semuanya pada paman!”
Odo melirik datar. Melihat ekspresi yang nampak para pria itu saat mendengar perkataan Lisia, sekilas pemuda itu paham kemungkinan seperti apa yang akan terjadi jika rencana dilanjutkan dalam kondisi hubungan mereka seperti itu. Menarik napas ringan, Odo pasrah masuk ke dalam sandiwara yang dibuat perempuan rambut merah itu.
Menghadap Kepala Prajurit tersebut, Odo meletakkan telapak tangan kanan ke dada kiri dan sedikit menunduk penuh hormat. “Maaf saya tidak memperkenalkan diri dengan baik. Nama saya Nigrum,” ucap Odo dengan nada hormat. Kembali berdiri tegak dan mengajak berjabat tangan, ia berkata, “Mungkin ini memalukan, tapi nama keluarga bangsawan saya sangat rendah statusnya. Saya tidak ada apa-apanya jika dibanding Anda, Tuan Lots.”
Kepala Prajurit itu terkejut, setahunya seorang pemburu tidak memiliki sopan santun seperti itu. Dengan cepat pria itu percaya kalau pemuda itu berasal bukan dari keluarga rendah, tetapi tetap saja rasa tidak suka terlihat dari ekspresinya. Menjabat tangan Odo, ia berkata, “Apa kau benar-benar tunangan Nona?”
“Ya, ayah kami menjodohkan kami sejak kecil. Anda tahu, keluarga bangsawan sering seperti itu. Saya juga baru tahu sebulan yang lalu ternyata kami dijodohkan .... Tiba-tiba ayah saya menendang saya dari rumah dan berkata untuk mencapai prestasi bersama Nona Lisiathus.”
Pria itu tidak merasa ada yang janggal dari perkataan tersebut. Menggenggam erat tangan Odo, pria itu berkata, “Hmm, begitu rupanya.” Pria itu berhenti berjabat tangan dengan pemuda tersebut. Saat Odo kembali menghadap ke arah peta, Fiola dan Lisia terlihat terkejut karena pemuda itu berbohong secara natural dan dengan santainya menyusun kata-kata yang sangat logis tersebut.
“Ada apa, Nona Fiola? Nona Lisiathus?” tanya Odo.
Paham kalau harus masuk ke dalam sandiwara tersebut, Fiola sebagai Shieal di tempat tersebut berkata, “Uhm, Tuan Nigrum, jadi kenapa Anda tiba-tiba memindahkan pion yang telah diletakkan Tuan Kelapa Prajurit? Saya dengar rencana ini sudah ditetapkan Nona Lisia, dan apa yang mereka lakukan sekarang hanya menjelaskan ulang kepada kita ....”
Pemuda itu menghadap ke meja, lalu menunjuk salah satu pion merah dan berkata, “Apa kalian tidak berpikir kemungkinan rencana ini bocor ke bandit?”
Lisia tersentak mendengar itu, perempuan yang sedari tadi melihat ke arah pion yang dipindah mulai mengangkat wajahnya. Dengan rasa bingung, ia bertanya, “Kenapa Anda berpikir seperti itu? Rencana ini hanya diketahui oleh beberapa orang saja, seharusnya informasinya terjaga .... Apa Anda meragukan pasukan saya?”
Kepala Prajurit mengangkat pion yang tadi dipindahkan Odo, lalu mengembalikannya ke tempat semula. “Itu benar! Informasi bocor itu mustahil! Mulut kami tidak seember itu!” ucapnya dengan tegas.
“Berapa lama kalian merencanakan ini?” tanya Odo, pemuda itu menatap datar ke arah Lisia. Wajah yang terlihat ramah itu memancarkan aura tajam, sama sekali tidak memperlihatkan sifat lembut dan berbanding terbalik dengan paras wajahnya.
“Baru sekitar dua bulan ini,” ujar Lisia. Menatap sedikit takut, ia menjelaskan, “Sebenarnya kami ingin segera memulai rencananya tepat di awal tahun baru dengan bentuk serangan kejut. Tetapi karena ada kejadian itu di dermaga, kami menundanya untuk menghindari kecurigaan yang tidak perlu dari bangsawan lain.”
“Dua bulan ..., waktu itu sudah cukup untuk membuat informasi bocor,” tegas Odo. Kembali melihat ke arah peta dan mengamati pion-pion yang telah dikembalikan ke posisi awal, pemuda itu sedikit menghela napas dan berkata, “Nona Lisiathus tahu, serapat apa mulut seseorang pasti mereka akan bicara dan itu bisa saja keceplosan .... Yah, bukan berarti aku meragukan loyalitas pasukan Nona, tapi ini bicara tentang kemungkinan. Terlebih lagi, bukannya ada banyak orang yang berpotensi membocorkan informasi seperti itu?”
“Banyak?” Lisia sedikit menatap heran.
Mengacungkan jari telunjuk setinggi dada, pemuda itu berkata, “Ya, banyak. Contohnya, penyihir dari Kota Miquator yang Anda sewa, pemburu, atau bahkan pedagang yang mempertanyakan untuk apa Nona membeli barang-barang dalam jumlah banyak ....”
“Itu hanya delusimu!” ucap Kepala Prajurit. “Hah! Apa karena itu kau ditendang keluar dari keluargamu! Karena kau pengecut dan terus berpikir seperti itu! Kalau mereka tahu, kita tinggal lawan saja! Mereka hanya bandit! Bangsawan dari di bawah kekuasaan Lord Dart tidak pantas bersikap seperti itu!” ucap Kepala Prajurit.
Perkataan tersebut memang logis. Seberapa kuat para bandit, mereka hanyalah sekumpulan orang yang tidak akan bisa menang melawan pasukan terlatih, apalagi dari wilayah Luke. Tetapi bukan itu masalahnya, bukan hal seperti itu yang Odo cemaskan. Melirik datar ke arah Fiola, ia memberikan isyarat untuk mengatakan informasi tersebut.
“Bagaimana dengan Native Overhoul di pihak mereka?” tanya Fiola. Shieal dengan wujud gadis kecil itu menatap tajam, lalu kembali berkata, “Tuan Kepala Prajurit seharusnya sudah tahu potensi kekuatan mereka itu sangat berbahaya. Satu dari mereka sama saja setara dengan belasan penyihir .... Kalau ditambah dengan kemampuan bela diri yang kuat, itu sangat fatal bagi kelompok kita untuk menerjang langsung ke sarang musuh yang siap menyergap.”
“Memangnya apa yang menakutkan dari Native Overhoul? Mereka hanya orang dengan Inti Sihir cacat dan hanya bisa menggunakan satu sihir saja, bukan?”
“Tolong jaga ucapan, Paman,” tegur Lisia. Menatap tajam, ia berkata, “Paman tahu kalau mendiang kakak dari Tuan Dart adalah Native Overhoul, bukan? Paman juga tahu kemampuan mengerikan yang dimilikinya, ‘kan?”
“Beliau pengecualian! Tuan Griad dari keluarga Luke!”
“Hmm, memang tak perlu khawatir,” ucap Odo tanpa melihat ke arah pria itu. Pemuda itu menatap lurus ke peta, tanpa berkedip dan matanya seakan melotot keluar mencermati apa yang dilihatnya dengan sangat serius. Melihat itu, Kepala Prajurit tersebut sedikit merinding dan merasa ada yang salah dengan pemuda itu.
“Tapi boleh saya beri saran, Tuan Iitla Lots,” ucap Odo seraya menoleh melihat pria itu. Memasang wajah tanpa ekspresi dan dengan tatapan kosong, ia bertanya, “Kalau Tuan sayang nyawa bawahan Anda, bukannya lebih baik merencanakannya matang-matang?”
“Me-Memangnya punya rencana apa kau!?”
“Hmm, aku jamin dalam rencana ini kita tidak akan diserang dari belakang atau disergap. Ya, hanya itu yang aku jamin .... Menggunakannya atau tidak, itu terserah ....”
.
.
.
.
Setelah pembicaraan tersebut dan peninjauan ulang rencana, pria berambut pirang itu segera pergi menuju pasukannya untuk memberitahukan perubahan rencana. Ia pergi dengan tergesa-gesa, dengan wajah terkejut seakan apa yang dijelaskan Odo dalam rencananya membuat pria itu panik.
Masih berdiri di dekat meja, Odo menyingsingkan lengan kemejanya dan memeriksa gelang hitam yang terlihat sempit di lengan kanannya. Ia memasang ekspresi datar, sorot matanya gelap dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sadar akan ekspresi pemuda itu, Lisia merasa memang benar kalau dia adalah Odo Luke.
Dengan nada lirih perempuan itu berkata, “Maaf, Tuan Odo .... Tolong jangan berpikir buruk dengan paman Ilta. Dia sebenarnya orang yang baik, hanya saja sifat protektifnya kepada saya agak terlalu ....”
Odo mengangkat wajah mendengar perkataan tersebut. Menatap ringan dan tersenyum, ia membalas, “Saya tahu, kok. Dia sudah seperti keluarga bagi Nona, bukan?”
Mengangguk ringan, ia tersenyum tipis dan berkata, “Hmm, dia sudah saya anggap keluarga. Tuan Od—”
“Nigrum,” koreksi Odo.
“Ngomong-omong, apa tidak masalah membuat kebohongan seperti itu?” tanya Odo.
Kedua alis Lisia sekilas terangkat. Tersenyum menggoda, ia bertanya, “Soal pertunangan?”
“Ya ....”
“Saya tidak keberatan kalau benar-benar bertunangan dengan Anda, kok.”
Mendengar perkataan itu, Fiola langsung menatap Odo tanpa suara. Dengan tajam, memancarkan aura tajam yang membuat pemuda itu sekilas merinding. Sekilas memalingkan pandangan, ia berkata, “Sayang sekali, karena beberapa alasan aku tidak bisa menerimanya.”
Tersenyum tipis, dengan nada bercanda perempuan itu berkata, “Wah, saya ditolak? Kejam~ Kalau boleh tahu, kenapa?”
Mengangkat kedua pundak secara bersamaan, pemuda itu berkata, “Layaknya para bangsawan pada umumnya, tanpa disadari aku sudah punya tunangan diluar kehendakku.”
“Bohong lagi seperti tadi? Dasar, anda ini ....” Lisia menatap senang dan benar-benar menganggap itu gurauan. Paham kalau perempuan tersebut menganggapnya begitu, Odo hanya tersenyum tipis dan tidak menjelaskan lebih lanjut.
Berbalik dan hendak beranjak dari tempat, Lisia berkata, “Kalau begitu, saya pamit dulu. Paman memang bisa menjelaskan rencana itu kepada para prajurit, tapi untuk pemburu dan penyihir adalah bagian saya.”
“Tunggu sebentar, Nona Lisiathus!”
Lisia terhenti, menoleh dan bertanya, “Hmm, ada apa?”
“Para penyihir itu dari Miquator, ‘kan? Bagaimana caranya menyewa mereka?”
Sekilas Lisia merasa heran untuk apa pemuda itu bertanya seperti itu. Sedikit menatap datar, ia berkata, “Ah, Anda tidak tahu, ya? Miquator menyediakan jasa seperti Guild, loh. Mereka biasa menerima pekerjaan dan mengirim penyihir ke negeri-negeri tetangga. Yah, meski yang saya sewa sebenarnya orang-orang yang berasal dari kota ini dan sedang masa pembelajaran di kota sihir itu, sih.”
“Pembelajaran?” tanya Odo bingung.
“Hmm, mereka belajar di akademi sihir. Untuk biaya pendidikan para murid di sana biasa melakukan tugas seperti ini.”
“Hmm, jadi ada yang seperti itu, ya.” Meletakkan tangan kanan ke depan mulut, pemuda itu sedikit menundukkan kepala dan mencermati informasi yang didapatnya.
“Kalau Tuan, apa Tuan tidak ingin belajar sihir di sana?”
Odo melirik kecil, lalu menjawab, “Yah, nanti kalau waktunya pas.”
“Ah, benar juga ....” Lisia tersenyum saat mengingat kalau umur Odo masih sangat belia. Kembali berbalik, ia beranjak dari tempat dan berkata, “Kalau begitu, saya pamit dulu.”
.
.
.
.
Saat Lisia sudah pergi dan di dekat meja dengan peta besar itu hanya ada mereka berdua, Fiola segera mendekati Odo dengan suasana hati kurang senang. Menatap tajam dari samping, perempuan rambut cokelat kehitaman itu berkata, “Tolong jangan buat kebohongan seperti itu, Tuan tahu kalau sekarang ini posisi—”
“Aku tahu,” potong Odo. Melihat ke arah Fiola, ia berkata, “Sekarang ini aku menjadi calonnya, bukan? Aku paham itu ....”
Fiola hanya terdiam mendapat jawaban seperti itu. Sedikit menghela napas, ia berbalik ke arah meja dan melihat apa yang sedang pemuda itu amati. “Ngomong-omong, apa tidak masalah, Tuan Odo?” Fiola menunjuk ke salah satu pion merah, merasa janggal dengan posisi yang diletakkan pemuda itu.
“Memangnya kenapa?” Odo ikut melihat ke arah pion tersebut dengan tatapan datar.
“Itu ... katanya tempat kelompok bandit yang ada Native Overhoul, loh. Anda dengan penjelasan Kepala Prajurit tadi, bukan?”
Sesaat suasana senyap terasa. Odo berusaha mencerna perkataan tersebut. Menghela napas ringan, ia bertanya, “Hmm, memang di sana. Apa Mbak Fiola takut dengan yang seperti itu?”
Sekilas memasang wajah tak suka, Fiola terdiam. Menatap Odo dari samping, ia berkata, “Bukan takut, hanya cemas.”
“Cemas?” Odo melirik kecil, merasa sedikit heran dengan perkataan tersebut.
“Kekuatan Native Overhoul memang tidak masalah bagi saya, hanya saja mereka mematikan. Berbeda dengan penyihir, kekuatan mereka cenderung terpusat ....”
Odo paham perkataan tersebut. Para Native Overhoul adalah orang-orang yang terlahir dengan bakat sihir tetapi memiliki kelainan pada Inti Sihir mereka seiring berjalannya waktu atau bisa juga memang telah menjadi seperti itu sejak lahir. Kekuatan yang dimiliki oleh orang-orang seperti itu cenderung mengerah seperti kekuatan supernatural, sulit untuk dijelaskan dalam bidang sihir atau secara logika.
“Ya, itu benar juga,” ucap Odo dengan nada sedikit malas. “Kekuatan mereka seperti sebuah senjata yang telah benar-benar dikuasai oleh penggunanya, berbeda dengan para penyihir yang cenderung memiliki variasi dan tidak terpusat kekuatannya.”
“Bukan itu ....”
“Hmm?” Odo menoleh bingung.
“Yang berbahaya dari Native Overhoul bukan hanya itu. Mereka ... cenderung memiliki insting yang sangat tajam dan hampir seperti indra keenam. Apa Tuan tahu kalau Kakak dari ayah Anda itu juga seorang Native Overhoul?”
“Ya, tentu. Aku juga tahu kekuatannya.”
“Dikatakan setiap kali dirinya mengayunkan pedang di medan perang, itu tanda ada seseorang yang tumbang pada saat itu juga .... Tetapi bukan itu masalahnya, mental dari Native Overhoul yang berbahaya dari mereka.”
Mendapat tatapan serius dan perkataan seperti itu, Odo merasa ada sesuatu yang aneh dengan rasa khawatir Fiola yang terkesan berlebihan. Odo memang tahu kekuatan para Native Overhoul luar biasa, tetapi itu tidak lebih dari satu jenis serangan yang dapat digunakan dalam beberapa cara.
“Memangnya mental mereka kenapa?” tanya Odo bingung.
Menatap ke pion di atas peta, Huli Jing tersebut terlihat sedikit muram seakan mengingat sesuatu yang buruk. Sedikit melirik ke arah Odo, ia berkata, “Mengesampingkan Mendiang Putra Sulung Keluarga Luke itu, para Native Overhoul cenderung tidak punya loyalitas. Mereka bisa dengan mudahnya mengorbankan rekan dan bertindak tidak manusiawi, parahnya lagi mereka menganggap itu logis.”
Odo benar-benar baru pertama kalinya mendengar itu. Informasi yang dirinya tahu dari orang-orang dengan Inti Sihir bermutasi itu terlalu minim, tidak ada catatan yang secara jelas membahas mereka. Sedikit membuang pandangan, Odo berpikir, “Kalau tidak salah ada juga buku yang bilang kalau sifat mereka tidak ada bedanya dengan monster.”
“Memang ada yang seperti itu,” ucap Fiola setelah membaca pikiran Odo. “Saya juga sudah beberapa kali melihat orang seperti mereka dan sifatnya memang seperti itu .... Apa Anda tahu kalau Imania itu juga Native Overhoul?”
“Mbak Imania? Ya ..., aku tahu.” Odo sedikit terheran karena Fiola tiba-tiba membahas salah satu Shieal tersebut. Menatap ringan, ia berkata, “Kalau tidak salah, kekuatannya membuat darah menguap menjadi serbuk untuk mengendalikan orang lain.”
“Apa Anda tahu kenapa ia menjadi seperti itu? Maksudku, sampai tidak bisa bicara seperti itu ....”
Alis kiri Odo sedikit terangkat, lalu ia berkata, “Setahuku, itu karena insiden sebelum Mbak Imania menjadi Shieal. Lebihnya aku tidak tahu, sih.”
“Pita suaranya dipotong oleh Tuan Dart.”
“A ...!! Dipotong?” Odo benar-benar terkejut. Meski dirinya tahu kalau latar belakang Imania cukup kelam di antara para Shieal, tetapi dirinya tidak sempat mengira kalau itu benar bahwa yang membuat perempuan itu bisu adalah ayahnya.
“Imania dulunya adalah anak dari salah satu bangsawan di Wilayah Luke ini,” jelas Fiola. Menatap tajam Odo, ia berkata, “Tetapi karena kekuatannya mulai bangkit saat masih kecil, tanpa sadar ia mulai mengusai seluruh keluarganya dengan kekuatan tersebut. Anda tahu, serbuk yang muncul dari darahnya itu adalah fungi. Semacam serbuk jamur yang mengontaminasi inang. Saya tidak tahu jelasnya, tapi sebagai simbol ratu, Imania bisa dengan bebas mengatur orang-orang yang terkontaminasi, entah itu secara sadar atau tidak.”
“Fungi ..., ya.”
Odo paham konsep tersebut. Ada beberapa jenis tanaman jamur yang menggunakan inang dari tumbuhan atau hewan sebagai media hidup, dan konsep dari kekuatan Imania cenderung seperti itu. Mengingat saat Imania pernah menggunakan kekuatan tersebut secara langsung, Odo merasa memang kekuatan tersebut akan sangat berbahaya jika digunakan secara maksimal. Tetapi, meski begitu dirinya tidak menganggap kalau Imania itu seorang yang buruk.
“Hmm, itu sangat mengerikan,” ucap Fiola sembari mengingat kejadian saat pertama kali bertemu dengan individu bernama Imania tersebut. “Saat Tuan Dart bersama Nyonya dan saya memeriksa kastel tempatnya tinggal, itu sudah sangat parah .... Penyebaran sudah sampai ke desa-desa di sekitarnya. Bahkan ..., Nyonya sempat dikendalikan sampai-sampai menyerang ayah Anda. Yah, meski itu hanya sesaat dan Nyonya bisa lepas dari kendalinya, tapi kekuatan Imania memang mengerikan bisa mengendalikan penyihir seperti Nyonya. Karena itulah, sebagai tindakkan pencegahan gadis itu dibisukan.”
Menatap datar Fiola, dengan perasaan campur aduk Odo berkata, “Bukannya sudah tidak ada masalah, Mbak Imania juga terlihat bukan seperti orang jahat, loh.”
Fiola tersenyum tipis mendengar itu, ekspresinya terlihat tidak suka dengan perkataan Odo karena anak itu tidak tahu kenyataan dari sifat perempuan yang tak bisa bicara itu. Menatap dengan sorot mata datar, Huli Jing tersebut berkata, “Karena bukan orang jahat, itu yang membuat mereka mengerikan. Mereka melakukan hal buruk tanpa sadar apa yang mereka lakukan buruk. Para Native Overhoul tidak memiliki loyalitas, mereka berbohong dengan mudah, dan bahkan berkhianat tanpa rasa bersalah. Akal sehat mereka menyimpang.”
Tatapan itu membuat Odo sedikit gemetar. Melihat Fiola sangat ingin menyampaikan pandangan kalau para Native Overhoul memang berbahaya, Odo berusaha menerimanya dan berkata, “Hmm, kurang lebih aku paham.”
“Sungguh?”
“Iya ....” Kembali melihat ke arah peta di atas meja, anak itu mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, “Ngomong-omong, apa Nona Fiola tidak bersiap-siap? Kita akan bertempur, loh.”
“Bersiap?” Sekilas Fiola bingung. Paham kalau persiapan yang dimaksud adalah untuk rencana yang akan dilakukan, ia berkata, “Ah, saya tipe pengguna sihir tanpa katalis. Lagi pula, tingkat pengendalian Mana saya sudah sampai ke tahap empat dan tahap tiga sudah saya kuasai.”
Odo sedikit terusik dengan perkataan tersebut, merasa kalah dalam beberapa hal. “Tahap empat .... Kalau tidak salah, itu tahap khusus setelah pengendalian lepas, bukan?” tanya pemuda itu.
“Iya ....” Tersenyum kecil sembari menatap Odo dari samping, Fiola berkata, “Dari tahap satu berupa perubahan bentuk Mana, tahap dua perubahan sifat Mana, dan tahap tiga pengendalian lepas, tahap empat adalah khusus dan memiliki variasi berbeda pada tiap individu. Kalau Tuan, pengembangannya sampai tahap apa?”
Odo benar-benar merasa terusik mendapat pertanyaan itu, di benak muncul rasa seperti sedang ditanyai hasil nilai rapor oleh orang tua di kehidupan sebelumnya. Melirik dengan sedikit kesal, ia berkata, “Tahap dua, itu pun masih belum lancar dikombinasikan dengan tahap satu. Tahap tiga hanya sebatas 10 meter, kalau lebih dari itu hanya bisa berupa pencaran aura tanpa bisa dikendalikan.”
“Oh, hebat, dong,” puji Fiola. “Di usia Anda sekarang, Anda sudah bisa mencapai tahap itu. Minda yang katanya ahli dalam pengendalian Mana butuh waktu lebih lama, loh.”
Odo hanya tersenyum kaku mendapat sanjungan tersebut. Ia merasa seperti dikasihani, meski tahu Fiola berkata seperti itu dengan niat benar-benar tulus memujinya. Menghela napas ringan, pemuda itu sedikit teringat kalau dirinya belum mengajarkan tentang tahapan pengendalian Mana tersebut kepada anak-anak panti asuhan.
Pengendalian Mana sendiri merupakan metode yang dapat digunakan di antara Sihir dan Battle Art, lebih cenderung kepada sebuah teknik. Pengendalian Mana dibagi menjadi beberapa tahapan yang antara lain, Perubahan Bentuk, Perubahan Sifat, Pengendalian Lepas, dan Tahap Khusus. Meski itu dibagi berdasarkan tingkatan, tetapi bukan berarti tingkatan teratas lebih kuat daripada tingkatan yang di bawahnya. Pengendalian Mana tergantung pada pendalaman penguasaan.
Contoh dari itu adalah Dart Luke yang berpusat pada tahap pertama, yaitu Perubahan Bentuk untuk menciptakan senjata dari Mana yang dipadatkan. Sedangkan untuk tahap kedua dan tiga, itu lebih cenderung dipelajari oleh para penyihir. Orang yang sampai tahap lanjutan setelah tahap tiga sangatlah jarang karena itu cenderung butuh waktu sangat lama. Tahap itu disebut Tahap Khusus karena harus memberikan sifat unik pada Mana di dalam tubuh.
Meski Odo mengatakan baru sampai tahap tiga dan sama sekali belum menguasainya, tetapi nyatanya tanpa dirinya sadar sudah sampai di tahap lanjutan karena Inti Sihir Naga Hitam di dalam dirinya. Bentuk dari sihir khusus Hariq Iliah adalah hasilnya.
Odo sendiri tidak terlalu mendalami metode seperti itu, dirinya lebih suka menggunakan sebuah struktur dalam menggunakan Mana daripada secara langsung mengaksesnya dan mengendalikannya. Alasannya melakukan itu sangat sederhana, Odo lebih suka menggunakan sihir berstruktur dan teratur daripada manipulasi Mana yang cenderung seperti sebuah seni yang tidak memiliki acuan tetap.
\============================
Catatan Penulis:
Why telat?
Tahu sendiri tanggal 11 Agustus kemarin ada apa? Maklumi karena saya juga punya kesibukan.
Capek habis persiapan motong kepala balphegor:v
Dan mungkin ke depannya ada sedikit telat lagi. Agustus sibuk banget. Bukan sok sibuk, tapi memang lagi banyak kegiatan.