Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 34 : Reş û Rabe 1 of 5 (Part 01)



 


 


Pada pagi hari berikutnya di Panti Asuhan Inkara. Telah bergadang semalaman, Fiola dan Siska duduk di ruang makan sembari membereskan berkas-berkas pekerjaan yang baru mereka selesaikan. Mengangkat kertas-kertas perkamen yang ditumpuk, Huli Jing bertubuh gadis kecil rambut cokelat kehitaman itu sedikit menghela napas panjang.


 


 


“Haaaah~”


 


 


“Ada apa, Nona Fiola? Kok, Anda terlihat resah seperti itu?” tanya Siska di sisi lain meja.


 


 


Tidak jauh berbeda dengan Fiola, perempuan rambut pirang yang terlihat mengenakan pakaian Alba itu juga sedang membereskan berkas. Sedikit terlihat lebih mengantuk dan kantung matanya menghitam karena memiliki stamina yang berbeda dengan gadis di hadapan, ia menatap sedikit lemas.


 


 


“Nona Siska lihat kelakuan Tuan Odo, bukan? Kenapa ia selalu saja seperti itu? Apa susahnya izin kalau mau pergi, sih?” keluh Fiola.


 


 


“Ah ....” Siska hanya tersenyum kecil mendengar itu, ia memahami perasaan Fiola karena salah satu anak asuhnya juga sering melakukan hal serupa.


 


 


Selesai membereskan berkas-berkas tentang lajur dana dari hasil penjualan Kristal Kualitas Terbaik yang Odo berikan kepada Pihak Religi, mereka menumpuknya pada satu tempat di atas meja. “Saya akan membuat sarapan dulu,” ucap Siska seraya berjalan ke arah dapur.


 


 


“Ya .....” Fiola sedikit menatap heran perempuan itu. Tidak bisa menahan rasa penasaran, ia pun bertanya, “Bukannya Nona Siska orang penting di Pihak Religi kota ini? Kenapa Nona susah-susah mengasuh anak yatim di tempat seperti ini?”


 


 


Langkah kaki perempuan rambut pirang itu terhenti, menoleh dan tersenyum ringan mendapat  pertanyaan seperti itu. “Saya suka merawat anak-anak,” ucap Siska. Membaca pikiran perempuan itu, Fiola paham kalau ada alasan lain yang tidak dikatakan perempuan itu.


 


 


“Yah, awalnya saya juga tidak terlalu mengerti untuk apa saya mengurus mereka. Bisa saya menyerahkan kewajiban ini pada yang lain,” ucap perempuan itu dengan sara pelan. Menatap dengan lemas, ia berkata, “Tapi saat melihat mereka, saya tak bisa melakukan hal itu.”


 


 


“Hmm, saya tak paham apa yang Nona rasakan.” Fiola menatap datar, dirinya tidak mengerti apa yang sedang ingin perempuan itu sampaikan.


 


 


“Awalnya saya tak bisa memasak, anak-anak panti asuhan juga bilang kalau masakan saya tidak enak. Tetapi saat mereka meminta ingin makan ini atau itu, entah mengapa saya mulai belajar sampai mereka mau memakan masakan saya dengan senyuman .... Itu sangat memuaskan sekali, hatiku rasanya terobati oleh mereka.”


 


 


Fiola hanya terdiam, menatap dalam-dalam dan berusaha memahami apa yang dirasakan perempuan tersebut. Tetapi, itu tetap saja tidak dimengerti Fiola. Merasa terpuaskan dan bergantung pada sesuatu yang lebih lemah, melindungi sesuatu dan berjuang demi hal tersebut sangat tidak bisa dimengerti olehnya. Ia menganggap itu tidak berarti.


 


 


Sekilas mengamati ekspresi Fiola yang benar-benar terlihat bingung, Siska tersenyum kecil dan merasa sedikit lega saat tahu Huli Jing tersebut juga memiliki sifat lembut. “Kalau begitu, saya pergi ke dapur dulu,” ucap perempuan rambut pirang itu seraya berbalik dan melangkah ke arah dapur.


 


 


Dengan sedikit lemas perempuan rambut pirang itu berjalan. Tetapi sebelum dirinya sampai di dapur atau Fiola kembali duduk di kursi, suara teriakan dua anak terdengar cukup keras sampai membuat mereka tersentak.


 


 


“UWAAAH!!”


 


 


Suara tersebut berasal dari arah lorong. Tidak jadi duduk, gadis berpakaian kimono itu segera berlari ke lorong untuk memeriksa sumber suara sebelum Siska sempat bereaksi. Di depan pintu kamar tempat anak laki-laki panti asuhan tidur, terlihat Daniel dan Firkaf yang kebingungan dan panik. Mereka gemetar, melihat ke dalam kamar dan enggan untuk masuk.


 


 


Segera menghampiri mereka dan melihat ke dalam kamar, Huli Jing tersebut terkejut melihat sosok pemuda yang duduk setengah telanjang dengan pakaian robek-robek di atas ranjang. Usia pemuda itu terlihat sekitar 19 tahunan, berambut hitam pekat dengan dan memiliki warna mata biru laut. Sekilas Fiola tidak mengenali pemuda tersebut. Tetapi saat pemuda itu menatapnya, ia langsung paham siapa pemuda itu karena setahunya yang tidur di kamar tersebut hanyalah tiga orang.


 


 


“Tuan ... Odo?”


 


 


“Ouh, langsung kenal aku, ya? Mbak Fiola memang hebat,” ucap pemuda rambut hitam tersebut dengan senyuman khas yang Fiola kenal. Bangun dari atas ranjang, bajunya mulai robek karena tidak muat dengan ukuran tubuh dan otot sempurna pemuda itu. Saat berdiri, tingginya mencapai lebih dari 170 sentimeter dan terlihat lebih besar daripada saat dirinya duduk.


 


 


Fiola hanya bisa menganga, tidak percaya majikannya itu bisa tubuh secepat itu dalam waktu semalam. Melangkahkan kaki ke arah mereka, celana yang Odo kenakan robek dan baju sobek sepenuhnya, ia pun telanjang dada. Melihat bentuk tubuh ramping dengan otot kekar yang seakan dipaksa untuk menjaga bentuk tubuh tetap langsing, alis Fiola sedikit berkedut melihat sesuatu yang terasa tidak wajar itu. Tubuh pemuda rambut hitam itu benar-benar memiliki otot yang kekar dan terpusat, tidak membengkak besar seperti kebanyakan orang-orang kekar dari kalangan prajurit.


 


 


Nanra ikut datang ke depan kamar karena mendegar teriakkan sebelumnya, ikut melongok ke dalam kamar karena penasaran dan melihat sosok pemuda telanjang dada dengan otot kekar tersebut. Ia terbelalak, saking terkejutnya napas gadis itu sempat sesak, lalu menatap heran bercampur rasa jijik dengan pemuda tersebut. Gadis itu dalam benak benci orang berotot karena beberapa hal.


 


 


“Si-Siapa? Siapa orang mesum maniak telanjang itu!!?” ucap Nanra dengan panik, menunjuk ke arah pemuda itu dan menatap Fiola seakan meminta penjelasan darinya.


 


 


“Aku bukan maniak, kejamnya.”


 


 


“Eh?!” Mendengar suara yang tak asing itu, Nanra menoleh dengan kaku dan tidak ingin percaya apa yang dirinya sedang pikirkan. “Serius? Itu ... dia?” ucapnya dengan kaku dan gemetar.


 


 


Siska baru datang, menoleh ke dalam kamar dan langsung menjerit, “Kyaa! Kenapa ada pria setengah telanjang?! Nona Fiola?! Siapa dia?!”


 


 


“Ini aku, Kak Siska. Aku Odo!”


 


 


Mereka semua benar-benar membatu mendengar itu dan terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda berbadan kekar tersebut, bahkan Daniel dan Firkaf yang berada di belakang ketiga perempuan itu menatap dengan datar dan sama sekali tidak berbicara. Tatapan mereka benar-benar memandang rendah, seakan mengadili pemuda itu dengan tatapan yang seperti sedang melihat sebongkah kotoran dalam pembuangan sampah. Odo hanya memasang wajah pasrah mendapat hal tersebut, ia tidak bisa mengelak atau membuktikan kalau dirinya benar-benar Odo.


 


 


Memikirkan hal lain, pemuda itu pun berkata, “Mbak Fiola, ini aku .... Aku sedang mencoba sihir transformasi.”


 


 


Fiola langsung tersentak, berhenti menatap curiga dan langsung paham apa yang sebenarnya terjadi pada majikannya tersebut. Menghela napas dengan lega, ia mengelus dadanya sendiri dengan sedikit lemas. Menatap heran, ia bertanya, “Jadi Anda benar-benar bisa menyalin sihir itu dari saya, ya?”


 


 


“Hmm, analisanya selesai tadi malam dan aku mencobanya,” jelas Odo dengan santai.


 


 


“Baiklah, baiklah, saya paham! Tolong kembali ke bentuk semula. Anda membuat yang lain takut! Lagi pula, apa-apaan tubuh kekar itu?! Apa Anda berencana mengembangkan otot sampai seperti itu nanti saat dewasa?”


 


 


Odo terdiam. Meski wajahnya terlihat dewasa, ekspresi khas kekanak-kanakan dengan jelas nampak padanya, dan itu terlihat sangat tidak cocok dengan tubuhnya tersebut.  Memalingkan pandangan dengan kaku, pemuda mata biru itu berkata, “Maaf. Mbak Fiola .... Kunci struktur untuk kembali ke bentuk semula aku lupa buat .... Paling tidak, aku terjebak dalam wujud ini dalam beberapa hari ke depan.”


 


 


“Heh? Serius?”


 


 


“Serius.”


 


 


“Terus bagaimana ini, dong? Bukannya besok itu sudah mulai rencananya?”


 


 


Tersenyum miris dengan rasa pasrah, pemuda itu menatap ke depan dan berkata, “Yah, terpaksa aku harus pergi dengan wujud ini .... Paling tidak, tolon—!” Saat Odo melangkah ke arah mereka, celana yang memang sudah ketat akhirnya robek saat ia bergerak dan benar-benar rusak. Pemuda itu telanjang bulat, tepat di hadapan ketiga perempuan yang berdiri di hadapannya.


 


 


“!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”


“!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”


“!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”


 


 


Berbanding lurus dengan tubuhnya yang jantan, bagian kejantangan pemuda itu juga sangatlah jantan dan membuat mereka berbelalak. Siska sampai pingsan melihat hal tersebut dan ambruk ke belakang, ditangkap oleh Daniel dan Firkaf. Berbeda dengannya, Nanra malah menatap jijik seperti melihat seekor ulat hama di atas daun hijau pada kebun.


 


 


Berbeda dengan mereka, Fiola menjilat bibirnya sendiri dan karena beberapa alasan hasratnya sebagai seorang Huli Jing sedikit bangkit setelah sekian lama. Merasakan tatapan itu, Odo melangkah mundur dan segera mengambil selimut.


 


 


“Bi-Bisa tolong ambilkan pakaian untukku?”


.


.


.


.


 


 


Beberapa menit berlalu, Odo pun mendapat pakaian yang sesuai dan ukurannya pas dengan dirinya yang sekarang dalam bentuk pemuda berusia sekitar 19 tahunan. Duduk di ruang makan bersama yang lain, suasana terasa sedikit canggung dan tatapan semua orang terpaku pada pemuda rambut hitam itu yang terasa tidak cocok dengan tempatnya.


 


 


Odo sekarang mengenakan pakaian kemeja hitam lengan panjang dengan tambahan kerah merah bercorak, dan pada bawahan ia mengenakan celana panjang hitam. Kemeja tersebut adalah pakaian yang sering digunakan pendeta pria pada gereja di luar kegiatan peribadatan, terlihat pas dengan ukuran tubuh Odo sekarang tetapi tidak cocok dengan wajahnya itu yang malah cenderung terlihat lemah lembut seperti anak-anak.


 


 


Nanra yang duduk di sebelah pemuda itu gemetar canggung, merasakan tekanan berbeda darinya dan tidak bisa tenang menyendok sup sarapan. Odo memakan rotinya sendiri, terlihat santai tanpa memedulikan tatapan semua orang di tempat tersebut. Melihat ke arah Siska, pemuda itu berkata, “Makasih Kak Siska, kalau tidak ada pakaian ini bisa-bisa aku telanjang terus.”


 


 


“Iya ..., sama-sama.”


 


 


Perempuan rambut pirang itu memalingkan pandangannya, mengingat sesuatu yang bisa dikatakan mungkin tidak perah dilihat lagi oleh orang puritan sepertinya. Menatap pemuda rambut hitam itu, ia berkata, “Anda cocok dengan pakaian itu, persis seperti mendiang ayah saya.”


 


 


“Ah ..., ini milik Ayah Kakak? Maaf merepotkan ..., jadi tak enak. Pasti ini banyak kenangannya dengan ayah Kak Siska, ‘kan?”


 


 


“Tak masalah, itu seragamnya. Ada masih banyak dan semua itu sudah tidak pernah dipakai, kok.”


 


 


Mendengar percakapan semacam itu, Fiola yang duduk di sisi lain anak itu menatap sipit dan benar-benar merasa heran. Apa yang dilihatnya sekarang seharusnya adalah wujud dari Odo Luke beberapa tahun ke depan. Tetapi saat mengamati wajahnya, jelas-jelas pemuda itu malah terlihat sedikit feminin dan mirip dengan ibunya.


 


 


“Hmm, ada apa, Mbak Fiola?” tanya Odo sembari memakan roti. Melirik kecil, pemuda itu sedikit terganggu dengan tatapan tersebut.


 


 


“Tunggu sebentar, Tuan Odo ....” Fiola memegang pergelengan tangan kanan Odo yang sedang memegang roti. “A ....” Wajahnya terbelalak, mulai meraba-raba dan remas tangan kanan pemuda itu dengan dua tangan. Meski terhalang lengan kemeja, dengan jelas Fiola dapat merasakan bentuk tubuh pemuda itu yang bisa dikatakan tidak wajar.


 


 


“Otot apa ini? Keras sekali! Padahal wajahnya seperti perempuan tapi kenapa punya tubuh begini?” Menatap heran, Fiola menyipitkan mata dan bertanya,  “Anda ... benar-benar menggunakan sihir transformasi?”


 


 


“Ya ..., ini memang sihir transformasi.”


 


 


“Anda paham konsepnya, bukan?”


 


 


“Hmm, tentu. Meski bernama transformasi, tetapi bukan berarti itu benar-benar berubah secara muatan.” Menghabiskan roti yang dipegang dan memasang wajah sedikit terganggu karena Fiola terus memegang lengannya, pemuda itu kembali berkata, “Massa tidaklah berkurang atau bertambah saat menggunakan sihir itu. Jadi meski bentuk berubah, kadar dan berat sama sekali tidak bertambah atau berkurang ....”


 


 


Fiola kembali meraba-raba tangan pemuda itu, merasa heran dan bertanya, “Lantas kenapa bisa ototnya sekeras ini?!”


 


 


“Ototku memang sekeras itu meski belum menggunakan bentuk anak-anak,” jelas santai pemuda itu. Menatap ringan semari berusaha melepaskan tangan Fiola, ia berkata, “Yah, hanya lengan dan beberapa bagian tubuh. Yang paling rapuh di punggung dan sekitar pinggang belakang, aku tidak melatih otot bagian itu ....”


 


 


“Eh?” Tangan Fiola berhenti meraba lengan pemuda itu, tetapi tetap memegangnya dan wajah perempuan tersebut benar-benar terbelalak. Ia memang sudah tahu kalau Odo memang memiliki otot yang terbentuk rapi, tetapi dirinya tidak pernah menyentuhnya atau tahu kalau ototnya sekeras itu.


 


 


 


 


“Aku sering berburu monster, wajar harus punya tubuh kuat. Yah, bukan berarti otot bisa menahan serangan benda tajam, sih.” Perkataannya terhenti sejenak, benar-benar merasa terganggu dengan tingkah Fiola yang tidak henti-henti menggosong lengannya. Saat perempuan itu mendekatkan wajah dan hendak menjilat lengannya, Odo berkata, “Ngomong-omong, bisa berhenti memegang tanganku seperti itu? Dan juga, kenapa sampai disingsingkan? Mau apa mendekatkan wajah seperti itu”


 


 


“Ah, maaf ....”


 


 


Fiola menjauhkan wajah, melepaskan tangan pemuda itu dan kembali duduk menghadap meja. Tidak tahan tiga detik, ia kembali duduk menghadap Odo dan menatap dengan penuh rasa tertarik. Matanya berseri, alis tebalnya sedikit terangkat dan napasnya sedikit terengah.


 


 


“Eit!” Fiola coba menusuk bagian pinggang Odo dengan jari telunjuk. Merasakan sensasi empuk tidak seperti tangan pemuda itu, ia terkejut dan berteriak, “Ouh! Benar-benar lembek! Apa-apaan ini?!”


 


 


“Oi, bisa berhenti enggak?” Pemuda itu menatap datar. Benar-benar merasa terganggu dengan sifat aneh Fiola.


 


 


“Maaf, maaf .... Lagi pula, kenapa Anda tiba-tiba menggunakan sihir transformasi? Untuk apa?” tanya Huli Jing tersebut sembari tersenyum tipis dan melirik ke lengan Odo yang masih disingsingkan. Menyadari hal tersebut, pemuda itu paham kalau Fiola suka hal semacam otot atau semacamnya.


 


 


“Uji coba,” ucap pemuda itu sedikit kesal. “Yah, banyak orang yang berkata seperti, ‘apa kau benar anak-anak?’ padaku, bukan? Makannya sekalian saja, kupikir kalau begini tidak ada lagi yang protes.”


 


 


“Uwah, logika macam apa itu?” Fiola sedikit merasa heran dengan pemikiran itu. Tetapi, dirinya lebih tertarik pada otot pemuda tersebut. Saat Odo menurunkan singsingan kemejanya, ekspresi sedikit kecewa terlihat pada raut wajah Fiola.


 


 


“Tuan penyihir jadi besar!” ucap Erial.


 


 


“Jadi besar ...,” ucap Mila.


 


 


Mereka berdua menunjuk ke arah Odo, terlihat senang dan tidak seperti yang lainnya malah canggung dengan wujud anak dari Keluarga Luke itu sekarang. Mendapat perkataan tersebut, Odo menatap ramah mereka dan berkata, “Hmm, itu karena aku makan banyak. Kalian juga harus makan banyak supaya cepat besar, ya.”


 


 


“Ya!”


“Hmm!”


 


 


Mendengar itu, setiap orang di meja makan merasa kalau makan sebanyak apapun pasti tidak akan bisa besar secepat pemuda itu. Mereka terlihat gemetar, sedikit tertekan dengan keberadaan pemuda yang cara bicara dan ekspresinya malah terlihat lebih kekanak-kanakan dari tubuhnya.


 


 


««»»


 


 


 


 


Di halaman panti asuhan, Odo berdiri dan sedikit melakukan peregangan untuk menyesuaikan tubuhnya. Karena dirinya tidak sempat membuat kunci struktur untuk kembali ke bentuk anak-anak, ia terpaksa harus menyesuaikan diri dengan bentuk tubuh dewasa tersebut. Mengambil pedang yang merupakan hasil tempa dari Bengkel Osel, ia memasang kuda-kuda dan mengayunkannya untuk pemanasan.


 


 


Satu sampai dua ayunan secara vertikal dan diagonal tidak masalah dilakukan. Tetapi saat ayunan ketiga, ia kehilangan keseimbangan dan tersandung kakinya sendiri. Pedang terlepas dari tangan dan tertancap di tanah, sedangkan dirinya jatuh tersungkur. Melihat hal itu dari tempat yang sedikit jauh dari pemuda itu mengayunkan pedang, Fiola terheran melihat kemampuan pedang yang sangat payah itu.


 


 


“Uh ..., Tuan Penyihir jatuh!”


 


 


“Apa sakit?”


 


 


Erial dan Mila berkata. Berbeda dengan kedua anak kembar tersebut, anak-anak lain panti asuhan menatap bingung melihat gerak kaku Odo saat mengayunkan pedang dengan pola retak tersebut. Nanra menatap paling bingung, dirinya yang pernah melihat kemampuan pedang Odo merasa sedikit heran dengan gerakan pedang payah yang ditunjukkan pemuda itu.


 


 


“Kamu kenapa, Tuan Odo? Payah ... sekali kemampuanmu ....”


 


 


Segera bangun, Odo terlihat tersinggung karena itu. Menghela napas ringan dan memalingkan pandangan, ia berkata, “Tingginya berbeda ....”


 


 


“Tinggi?” tanya bingung Fiola yang berdiri di antara anak-anak panti asuhan.


 


 


Odo melihat ke bawah. Dirinya baru sadar kalau tumbuh terlalu cepat membuat keseimbangan terganggu dan visualnya sedikit berubah, itu membuatnya sedikit sulit memperkirakan langkah kaki yang sesuai dalam kuda-kuda berpedang.


 


 


“Hmm, rasanya seperti berjalan pakai egrang ....”


 


 


“Egrang?” tanya Fiola bingung mendengar itu.


 


 


“Tak apa! Dari pada membahas itu ....” Odo menunjuk ke arah anak-anak panti asuhan, lalu dengan tegas berkata, “Bukannya sekarang ini kalian harus latihan meditasi lagi!”


 


 


Mereka tersentak, saling menatap satu sama lain dan terlihat sedikit meremehkan Odo dalam bentuk dewasa tersebut. Merasa kurang dihormati daripada saat dalam bentuk anak-anak, Odo menatap datar dan mengamati anak-anak panti asuhan itu. Dari semua anak, mereka semua ada di halaman kecuali Nesta, karena gadis tersebut sedang pergi ke Gereja Utama untuk melanjutkan pelatihan sebagai biarawati bersama Siska.


 


 


Menunjuk ke arah Daniel yang terlihat paling meremehkan, Odo berkata, “Baiklah, akan aku tunjukkan perbedaan kekuatan. Dani! Coba lawan aku!”


 


 


“Eh ..., tapi bukannya Tuan Odo belum bisa bergerak bebas dengan tubuh itu?” ucap Daniel dengan nada sedikit meremehkan.


 


 


“Hmm, seperti orang-orangan sawah geraknya,” sambung Firkaf.


 


 


Sedikit memasang ekspresi datar karena kedua anak itu berkata demikian, Nanra menggandeng Mila dan Erial untuk sedikit mundur karena merasa akan ada hal buruk terjadi pada mereka berdua. Pedang kayu diambil dari gudang panti asuhan, itu adalah alat latihan bekas yang Daniel dapat dari tempat pelatihan para prajurit kota. Meski pun itu bekas, tetapi pedang kayu itu masih terlihat kuat dan cukup sakit jika dipukulkan ke tubuh.


 


 


Odo kembali memasukkan pedang tempaan ke dalam dimensi penyimpanan sebelum bersiap menghadapi mereka untuk menempa kembali sifat anak-anak itu. Yang pertama akan menghadapi Odo adalah Daniel, anak laki-laki berambut cepak itu menatap tajam dengan mata merahnya. Anak-anak lain menjaga jarak dari mereka, sedangkan Fiola berdiri di antara Odo dan Daniel sebagai pengawas pertandingan dan sedikit resah dengan apa yang majikannya itu hendak lakukan.


 


 


“Jangan tuntut kalau Anda terluka, ya! Tuan Odo!”


 


 


“Tenang saja, itu tidak akan terjadi.”


 


 


Nanra yang melihat mereka semakin cemas, bukan pada Odo tetapi Daniel. Merapikan gaun dan berjongkok, gadis itu berkata, “Mila, Erial, jangan contoh Kak Daniel, ya ....” Kedua anak kembar itu bingung mendengar hal tersebut, menoleh dan sedikit memiringkan kepala saat menatap Nanra.


 


 


“Memangnya kenapa? Kau lihat tadi gerakan Tuan Odo, bukan? Dia sangat kaku. Mungkin dia berbakat dalam sihir, tapi dalam teknik pedang ia sebatas itu.” ucap Firkaf. Menutup buku tentang bahan-bahan logam, anak laki-laki dengan tatapan sedikit sipit itu menghela napas seakan sudah tahu akhir dari pertandingan yang bahkan belum dimulai itu.


 


 


Ekspresi kesal sekias terlihat pada raut wajah Nanra saat mendengar perkataan dari anak yang mulai sombong itu. Tidak memedulikannya, bersama anak kembar gadis itu pun kembali menatap ke arah Odo dan Daniel yang hendak memulai pertandingan.


 


 


“Kalian berdua, bersiap. Ingat ..., hanya satu pukulan dan tidak lebih .... Dilarang juga menggunakan sihir,” ucap Fiola seraya mengangkat tangan kanannya dan bersiap memberi aba-aba.


 


 


“Ya, tentu!” ucap Daniel penuh percaya diri. Mulai memasang kuda-kuda berpedang, anak lelaki bermata merah itu memegang pedang kayu ke depan dengan kedua tangan dan posisi kaki kanan sedikit lebih maju dari kaki kanan.


 


 


Odo tahu kuda-kuda tersebut adalah salah satu posisi yang sering diajarkan kepada para ksatria di Wilayah Luke. Meski Daniel hanya meniru sikap tubuh tersebut dari mereka, Odo merasa kalau anak lelaki tersebut benar-benar memiliki potensi yang cukup untuk dikembangkan.


 


 


“Kedua pihak, bersiap!”


 


 


Mendengar aba-aba tersebut, Odo memasang kuda-kudanya. Ia melebarkan kedua kaki dengan menekuk lututnya, mengurangi keuntungannya dalam hal tinggi badan dan memegang pedang ke samping dengan tangan kanan. Melihat kuda-kuda yang terlihat aneh dilakukan oleh orang dengan tinggi badan lebih dari 170 sentimeter tersebut, Daniel semakin meremehkan. Anak itu tidak tahu kemampuan Odo, karena itu dirinya benar-benar tidak paham seberapa kuat lawannya meski dalam kondisi tidak maksimal.


 


 


Di tengah langit yang kembali menurunkan salju setelah terang kemarin, mereka saling menatap dan menyusun strategi sebelum memulai pertandingan. Odo hanya menatap datar, sedangkan Daniel mengawati persendian Odo dan memperkirakan gerakan apa yang akan diakukan lawannya tersebut.


 


 


“Mulai!!”


 


 


Saat Fiola menurunkan tangan dengan cepat, Daniel langsung melesat ke arah Odo menggunakan kaki kiri sebagai tumpuan pertama. Saat kaki kanannya kembali menapak pada permukaan tanah bersalju dan lawannya masuk dalam jarak serangan, ia langsung menebaskan pedangnya secara vertikal untuk mengambil pukulan pertama.


 


 


Saat pedang datang ke arahnya, Odo segera berhenti menekuk lutut dan berdiri tegak. Daniel terkejut saat menyadari perbedaan tinggi badan yang ada, pedangnya sedikit goyah tetapi ia tidak berhenti dan tambah mempercepat tebasannya. Dalam hitungan kurang dari satu detik, Odo menarik kaki kiri ke belakang dan menghindari tebasan vertikal tersebut dengan mudah.


 


 


Kaki kanan Daniel segera memantapkan pijakkan, mengubah posisi pedangnya dan kembali menebas ke arah Odo secara horizontal. Tetapi saat menatap Odo yang memang terlihat sangat tinggi di mata Daniel, ia membatalkan serangan dan meloncat menjauh karena merasakan intimidasi kuat.


 


 


“Hmm, instingmu lumayan juga ....” Odo tersenyum ringan, pemuda itu bahkan sama sekali belum mengayunkan pedangnya. Tanpa sadar tubuh Daniel mulai gentar, kakinya tidak bisa mempertahankan posisi kuda-kuda dengan mantap dan kedua tangannya memegang pedang dengan gemetar.


 


 


Odo memasang kuda-kuda serupa kembali, melebarkan kedua kakinya ke samping dengan menekuk lututnya dan memegang pedang dengan satu tangan. Tersenyum ringan, pemuda mata biru itu berkata, “Ayo, coba serang lagi.”


 


 


“Hah!” Daniel dengan cepat terprovokasi. Anak lelaki rambut cepak itu langsung menerjang ke arah Odo. Memijakkan kaki kanan ke depan dengan matang sebagai pusat tumpuan, anak itu menebaskan pedang dari bawah ke atas secara diagonal.


 


 


Sebelum benar-benar melihat apa yang terjadi, pedang kayu yang dirinya ayunkan patah dan rasa sakit karena getaran terasa pada kedua telapak tangan. Ia terdiam, melihat dengan bingung ke arah lain dari tebasan. Tepat di tanah tertancap pedang milik Odo yang masih digenggam pemuda itu. Daniel menjatuhkan pedangnya yang patah, lalu melihat telapak tangannya sendiri yang memar.


 


 


Berbeda dengan Daniel, Nanra dan Firkaf dengan jelas melihat apa yang terjadi. Saat Daniel hendak menebas Odo, pemuda itu dengan sangat cepat mengayunkan pedangnya dari arah yang berlawanan dan menghancurkan pedang miliknya. Itu bukan hanya sekadar kecepatan belaka, tetapi memang teknik dan sudut dari tebasan pemuda itulah yang membuat pedang Daniel patah.


 


 


Odo keluar dari posisi kuda-kuda, mencabut pedang yang ujungnya menancap di tanah dan mulai berdiri. Menodongkan pedang ke leher Daniel yang masih terbelalak, Odo berkata, “Saat pedang lawan hancur juga menjadi kemenanganku, bukan?” Mendongak melihat ke arah Odo, anak bermata merah itu benar-benar menyadari perbedaan kemampuan yang ada.


 


 


“Pemenang, Odo!” ucap Fiola. Segera berjalan menghampiri majikannya tersebut, Huli Jing itu menegur, “Anda berlebihan! Kalau tebasan tadi mengenai anak itu pasti tulangnya remuk!”


 


 


“Hahah, benar juga ....”


 


 


Daniel terkejut takut mendengar itu, sedikit lega hanya pedangnya saja yang hancur. Memalingkan pandangan ke Firkaf, rekan yang ditatapnya itu malah menggelengkan kepala dan kehilangan niat untuk menjadi lawan selanjutnya dari pemuda itu. Nanra menepuk punggung Firkaf, lalu menyeringai kecil seakan dirinya menang dalam sesuatu.


 


 


Pada akhirnya, mereka dengan patuh mengikuti perkataan Odo untuk melatih meditasi di halaman meski hawa udara sedang dingin karena salju. Sebenarnya tanpa diminta Odo pun mereka akan berlatih, anak-anak itu hanya ingin mengetahui sebera besar kekuatan yang dimiliki oleh orang yang melatih mereka. Melihat hasil yang ada, dalam benak Firkaf dan Daniel bersumpah tidak akan berani menantang Odo lagi.