
{Author POV}
Hutan pepohonan oak yang rimbun, tanah lembab bersemak dan rerumputan yang masih berembun. Sembari menjinjing kedua sepatunya, wanita rambut pirang itu berjalan di antara semak-semak dengan penuh kecemasan. Ia tidak memedulikan pakaian serta jubahnya yang kotor dan mulai robek karena semak, kedua kaki yang mulai lecet juga tidak menghentikan wanita dengan gaun hijau toska tersebut untuk segera ke tempat putranya.
Waktu telah berlalu lebih dari setengah jam sejak Odo meninggalkan Mavis, karena itulah wanita tersebut segera bergegas menuju ke gua tempat para Minotaurus berada untuk memastikan keselamatan putranya. Melangkah cepat tanpa alas kaki, penuh kecemasan dan napasnya mulai terengah-engah karena dirinya tidak memiliki stamina untuk berlari-lari seperti itu.
Keluar dari hutan dan sampai pada sebuah lapangan berbatu di depan sarang para monster, kedua mata wanita rambut pirang itu seketika terbuka lebar dan sepatu yang dijinjingnya dijatuhkan. Tepat tercermin di mata Penyihir Cahaya, mayat-mayat monster berkepala banteng bergelimpangan, terpotong dan terpenggal dengan rapi. Darah berceceran dan mulai mengering di atas tanah berbatu, sekilas aroma tak sedap dari semua mayat itu membuat wanita itu mual dan menutup mulutnya dengan tangan.
Menatap pucat pasi ke tengah para mayat, terlihat seorang pemuda rambut hitam sedang berjongkok sembari memungut kristal-kristal sihir di atas tanah. Ia menyingsingkan lengan kemeja, dan pada kedua tangan pemuda itu terlihat penuh dengan bercak darah yang mulai mengering. Pemuda itu sama sekali tidak terluka meski telah melawan banyak monster sendirian, bahkan darah yang ada hanya mengotori tangannya, sedangkan tubuh serta pakaiannya terlihat bersih.
“Odo ....?” Mavis melangkah di antara mayat-mayat monster dan memanggilnya, dengan suara cemas dan tubuh sedikit gemetar. Pemuda itu menoleh dan menatap ringan dengan tatapan yang terkesan sendu, lalu dengan suara sedikit malas menjawab, “Ya? Bunda cepat ke sini, aku butuh wadah untuk semua kristal-kristal ini.”
Pemuda itu bangun seraya membawa kristal-kristal di tangannya, menghela napas kecil dan menunggu wanita rambut pirang itu melepas jubah hitamnya. Mavis dengan tatapan bingung terhenti di depan Odo, segera menggelar jubah hitam yang dikenakannya ke atas tanah.
Pemuda rambut hitam itu menjatuhkan kristal-kristal sihir ke atas kain jubah yang telah digelar, lalu berjongkok dan menekan permukaannya dengan telapak tangan kanan dan mengaktifkan sihir dimensi. Sekilas terpancar sinar dari Rune dan lingkaran sihir pada kain hitam itu, berwarna keunguan dan menelan kristal-kristal sihir yang telah dikumpulkan ke dalam Jubah Dimensi.
“Apa engkau baik-baik saja, putraku?” tanya Mavis cemas. Ia menjalin jemari di depan dada, mendekat ke hadapan putranya dan menatap dengan wajah pucat pasi.
Pemuda rambut hitam itu mendongak ke arah wanita di hadapannya, menatap ringan dan menjawab, “Aku baik-baik saja, malah lebih baik dari sebelumnya.”
“Lebih baik?”
Odo mengambil pedang dari dimensi penyimpanan pada jubah, lalu kembali berdiri dan menarik napas dalam-dalam. Memalingkan wajah dari ibunya, pemuda itu segera berbalik sembari berkata, “Di dalam sarang kawan monster ini benar-benar ada kolam nektar sihir. Energinya melimpah dan itu membantu pemulihan struktur sihirku.” Ia melangkah ke salah satu Minotaurus dan berjongkok di depannya, lalu menusukkan pedang ke kepala monster itu dan memotong tanduknya.
Cratk!
Suara pedang yang menghancurkan tengkorak dan memotong tanduk terdengar nyaring, sampai membuat Mavis merasa ngilu karena itu. Mendekat ke belakang pemuda rambut hitam tersebut, dengan rasa ragu Mavis bertanya, “Bunda bersyukur kau baik-baik saja .... Tapi, apa yang kau lakukan?”
“Hmm?” Odo menoleh ke arah ibunya, sembari menunjukkan sepotong tanduk ia berkata, “Tanduk Minotaurus bisa menjadi bahan alat atau artifak sihir, harganya cukup mahal karena langka. Sayang sekali kalau dibiarkan begitu saja, bukan?”
“Be-Benar juga ....” Mavis sedikit enggan saat melihat darah yang ada, ia memalingkan pandangan dan melangkah ke belakang. Wanita itu sama sekali tidak berniat membantu putranya untuk hal seperti itu. Dengan suara lirih ia pun berkata, “Kalau dibiarkan seperti ini, bisa-bisa mereka menjadi mayat hidup yang lebih menyusahkan dan berbahaya. Lebih baik kita bakar tubuh mereka atau dikubur.”
“Eh?” Odo terkejut, segera berdiri dan menghadap ke arah Mavis. Kedua matanya menatap dengan tajam dan cemas, karena memang pemuda itu sama sekali tidak tahu soal monster yang bisa berubah menjadi mayat hidup kalau mayat mereka ditinggalkan begitu saja.
“Apa kau tak tahu, putraku? Mayat kalau ditinggalkan begitu saja itu bisa menjadi mayat hidup, Zombie. Yah, bukan berarti semua mayat bisa menjadi mayat hidup, perbandingannya hanya kisaran lima puluh banding satu.”
Kening Odo sekilas mengerut, ia sama sekali tidak mengetahui itu dan dari semua buku yang pernah dibacanya tidak ada hal yang menyebut hal tersebut. Memalingkan pandangan dan dikirkannya dalam-dalam, pemuda itu memang sama sekali tidak punya informasi tentang mayat hidup selain mereka diciptakan dengan sihir Necromancy.
Bernapas berat dan berusaha menenangkan diri, ia dengan ragu memastikan, “Bukannya hanya manusia mayatnya bisa menjadi mayat hidup? Karena itu, kalau manusia mati diadakan acara pemakaman untuk melepas jiwa mereka ....”
“Kau tahu, putraku ....” Mavis memasang ekspresi datar dengan tatapan dingin, lalu mengacungkan telunjuknya ke depan dan menjelaskan, “Demi-human juga butuh upacara pemakaman, monster juga memiliki jiwa. Selama itu makhluk berjiwa, saat mati pasti ada yang tertinggal jika jasad mereka masih berbentuk. Dari itu, Ether bisa masuk dan terjadi proses kerusakan karena energi kehidupan malah masuk ke dalam jasad tanpa jiwa. Hal tersebut bisa membuat mereka menjadi kembali bergerak, dengan insting bertahan hidup kuat yang tertinggal dalam jasad. Itulah mayat hidup, monster yang lahir setelah kematian dan tidak sadar kalau diri mereka telah mati.”
Odo sekilas terlihat cemas, selama ini dirinya tidak pernah mengubur atau membakar monster yang telah diburu. Odo hanya membuang mayat-mayat mereka ke semak-semak setelah diambil bagian pentingnya saja. Mengingat jumlah monster yang pernah dibunuhnya di Hutan Pando, sekilas pemuda itu merasa bersalah kalau saja ada beberapa Goblin yang kembali bangkit menjadi mayat hidup di sana.
“Lileian pasti mengurusnya, bukan?” gumam Odo cemas.
“Hmm?” Mavis mendekatkan wajah, sekilas mendengar nama yang disebut putranya dan bertanya, “Kau tadi mengatakan apa, putraku?”
“Itu ....” Tanpa ada niat membahas rasa cemas, Odo Luke menunjukkan tanduk Minosaurus yang dibawanya untuk membuat Mavis melangkah mundur dengan jijik karena darah yang masih mengalir segar. Pemuda itu sekilas menatap ringan dan bertanya, “Berarti tidak semua mayat monster bisa menjadi mayat hidup, ‘kan?”
“Ya, tidak semua.” Mavis sedikit terlihat kesal karena hampir saja darah menetes ke pakaiannya, lalu dengan cemberut menjelaskan, “Tapi tetap saja, mayat hidup itu sangat sulit dibunuh dan gerakan serta kemampuan fisiknya ireguler. Yang lebih parah, monster seperti itu cenderung menjadi pelahap dan tingkat mutasinya tinggi.”
“Tingkat mutasi?”
“Kau tahu kalau monster bisa bermutasi, bukan? Seperti The White Bull tadi ....”
“Ah, yang ada di sana,” ucap Odo seraya menunjuk monster putih yang tergeletak dengan lubang di dadanya.
“Kau juga membunuhnya ...” Mavis menatap datar ke arah monster tersebut. Menghela napas kecil dan kembali menatap ke arah Odo, wanita itu menjelaskan, “Odo, pasti kau sudah dengan tahapan mutasi, bukan? Seperti Tahap Awal, Lanjutan, Mutan Awal, dan Akhir Aeneu. Pada semua tahapan tersebut, monster biasa butuh waktu lama untuk bermutasi.”
“Hmm ....” Odo mengangguk, lalu menghadap ke arah mayat The White Bull dan dengan santai berkata, “Contoh dari tahap lanjutan si banteng putih itu, sesuai tahap biasanya sihir atau kemampuan fisik mereka juga meningkat. Ada juga kasus monster yang semakin cerdas saat bermutasi, bukan?”
“Ya!” Mavis menatap tajam putranya dan kembali mendekat. Sembari was-was dengan tanduk yang masih berlumur darah yang dipegang Odo, wanita rambut pirang itu kembali menjelaskan, “Namun untuk mayat hidup, itu sangatlah cepat karena mereka pelahap. Memakan monster atau makhluk lain tanpa ragu, mempercepat mutasi dengan mengonsumsi Mana atau inti sihir makhluk lain. Tahapan pencapaian mutasi mereka memang sederhana seperti Zombie, Undead, dan Ghoul. Namun saat mereka sampai pada tahap Mutan Awal, mereka bisa menjadi Vampir. Lalu tahap mutasi akan kembali ke awal karena pada tahap itu mereka sama saja mendapat kehidupan baru sebagai makhluk berbada, sehingga mereka bisa berkembang menjadi makhluk yang lebih superior.”
“Hmm ....”
Odo sekilas memalingkan pandangan, sedikit paham dengan konsep perkembangan mayat hidup yang memang lebih cepat dari monster. Melahap atau mengonsumsi kehidupan makhluk lain memang menjadi salah satu cara untuk mempercepat proses mutasi, itu hampir sama dengan metode kultivasi menyerap energi dari kristal sihir yang sering dilakukan Odo.
Menghadap ke arah Mavis di sebelahnya, pemuda itu memastikan, “Saat menjadi Vampir mereka sudah bukan lagi dianggap monster, ya?”
“Tentu saja!” Mavis panik melangkah ke belakang karena darah pada tanduk sedikit menciprat dan hampir mengenai pakaiannya. Menatap tajam dan merasa kalau putranya memang sengaja melakukan itu, ia sekilas terdiam dengan kelas. Menghela napas dan memasang wajah cemberut, pada akhirnya ia kembali menjelaskan, “Vampir punya kecerdasan tinggi! Mereka bisa menggunakan sihir khusus dan juga bisa menjadikan membuat bawahan menggunakan makhluk lain sebagai media!”
Mavis dengan kesal menepak punggung tangan Odo, membuat pemuda itu menjatuhkan tanduk ke samping. Sekilas suasana berubah senyap, apa yang dilakukannya benar-benar memberitahu pemuda rambut hitam itu kalau ibunya memang tidak suka dengan darah. Namun saat Mavis menatap wajah putranya, pemuda itu malah tersenyum ringan seakan senang menjahili dan membuat wanita rambut pirang tersebut tambah kesal.
Menggerung kecil dan memalingkan pandangan, Mavis dengan kesal berkata, “Memang sangat langka ada mayat hidup bisa mencapai tingkat itu! Tapi! Tetap saja mayat hidup harus dicegah kebangkitannya. Para pemburu di Guild juga paham kalau meninggalkan mayat monster begitu saja itu tindak kejahatan! Paling tidak potong-potong atau kubur tubuh mereka!”
“Ma-Maaf ....” Odo tersenyum tipis melihat ibunya mengembungkan kedua pipinya. Setelah mengambil tanduk yang terjatuh, pemuda itu berbalik sembari berkata, “Setelah aku mengambil tanduk-tanduk mereka, akan kubakar mayat mereka.”
“Hemp! Cepat lakukan!”
Sebagai seorang ibu, wanita rambut pirang tersebut tidak bisa mengatakannya secara langsung kalau dirinya memang tak suka dengan darah untuk beberapa alasan. Itu sedikit mengingatkannya dengan tragedi di kota Gahon dan momen melahirkan putranya yang membuatnya takut setengah mati.
Seperti apa yang pemuda itu katakan, ia mengambil semua tanduk dari setiap Minotaurus. Memang ada bagian lain yang bisa diambil dari mereka seperti kulit yang bisa dijadikan perkamen atau jantung yang bisa dijadikan bahan ritual sihir. Namun mempertimbangkan sihir penyimpanan yang ada, Odo tidak mengambil semua itu.
Hal tersebut juga berlaku untuk The White Bull, pemuda itu hanya mengambil tanduknya. Setelah selesai memasukkan tanduk-tanduk tersebut ke dalam dimensi penyimpanan dan kembali mengenakan jubah hitam miliknya, Odo mengganti kemampuannya ke Tipe Magus dan langsung membakar mayat-mayat tersebut dengan sihir khusus Hariq Iliah, sampai tubuh mereka hanya tersisa tulang belulang.
.
.
.
.
Matahari mulai meninggi, sinarnya masuk melalu sela-sela dedaunan pohon oak dan menyinari permukaan dalam hutan. Kabut sepenuhnya menghilang saat menjelang siang, embun-embun yang ada pada dedaunan menguap dan menjadi konsumsi pepohonan. Seakan terpotong-potong oleh rimbunnya daun hijau, sedikit sinar yang masuk sampai ke bawah memapar tubuh pemuda rambut hitam yang berjalan di tengah hutan sembari menggendong ibunya. Wanita rambut pirang yang digendong pemuda terlihat sedikit cemberut, membawa sepatu sembari melingkarkan kedua lengan ke leher putranya.
Mavis memang ingin mengenakan sepatunya dan berjalan sendiri. Namun karena kedua kaki wanita itu kotor sebab sebelumnya berlari tanpa alas dan medan yang dilalui memang tidaklah mulus, ia terpaksa harus digendong kembali oleh Odo selama perjalanan. Cemberut wanita itu berasal dari benak yang merasa hanya menjadi beban bagi putranya, ia memasukan bibir ke dalam mulut dan sesekali menghela napas ringan.
Odo hanya melangkahkan kaki dan tidak memedulikan hal tersebut. Ia telah mendapatkan beberapa bahan yang dinginkan, itu sudah cukup untuknya dan tidak ada alasan lain untuknya mengeluhkan sesuatu. Kalau ada yang tidak membuatnya tenang, yaitu ekspresi wanita yang digendongnya lama kelamaan semakin cemberut sejak membakar mayat para monster dan pergi dari tempat gua berada.
“Bunda, kenapa cemberut terus?” tanya Odo sedikit risih.
Kening pemuda itu mengerut, jawaban seperti itu sudah menandakan ada sesuatu yang membuat ibunya tersinggung. Sejenak menyipitkan mata dan terus melangkah di jalan penuh semak-semak, pemuda itu menghela napas dan berkata, “Rasanya tidak menyenangkan kalau ikut aku, ‘kan? Sudah kubilang tak usah ikut.”
“Bukan itu! Hemp!” Wanita itu mengendus, sembari mengencangkan pelukannya dan dengan kesal berkata, “Putraku, engkau memang perlu belajar banyak hal tentang perasaan perempuan!”
Mendengar itu dari ibunya sendiri malah menambah rasa aneh dalam benak Odo. Tidak memedulikan hal tersebut, ia mulai berlari ringan tanpa memberitahukan wanita yang digendongnya untuk berpegangan. Mavis tersentak dan hampir jatuh ke belakang, lalu dengan kencang wanita itu langsung melingkarkan kedua lengan pada putranya dengan sedikit kesal.
Sedikit menarik napas dan menenangkan diri, Mavis berpikir kalau putranya itu memang sedang marah karena dirinya ikut. Sifat jahil dan iseng yang diberikan pemuda itu menjadi salah satu cara untuknya mengungkapkan rasa kesal. Sembari tersenyum kecil dan mendekatkan mulut ke telinganya, Mavis berbisik, “Putraku, apa sekarang kita akan langsung ke toko yang kau bangun? Pergi ke kota itu langsung, ‘kan?”
“Hmm?” Sembari tetap berlari Odo sedikit menoleh dan menjawab, “Kita akan ke kota, tapi bukan ke toko. Aku ingin menukar kristal sihir di Guild dan ada beberapa barang yang ingin aku ambil di distrik pengrajin. Ada juga beberapa bahan baku yang masih harus dibeli dan ada banyak alat yang kurang dari tokoku.”
“Kau sibuk sekali, ya.” Mavis kembali cemberut karena kembali merasa menjadi beban.
“Memang ....”
Pembicaraan mereka terhenti, tidak ada kalimat yang terucap dan di antara mereka mulai tumbuh kesenyapan. Hanya suara-suara alam seperti binatang dan gesekan dedaunan yang menemani perjalanan. Melewati semak-semak, jalan berbatu sampai menuruni bukit dan menyeberangi sungai dangkal dengan arus deras.
Dalam gendongan pemuda itu, rasa hangat terasa dalam benak Mavis. Itu sangat mengingatkannya dengan Dart, begitu membuatnya nyaman dan ingin sejenak memejamkan mata untuk melupakan semua masalah yang ada.
Di tengah kenyamanan tersebut, tiba-tiba langkah kaki Odo terhenti dan itu membuat Mavis terkejut. Ia mengencangkan kedua lengannya yang melingkar sampai sedikit mencekik leher pemuda yang menggendongnya, lalu dengan sedikit kesal bertanya, “Kenapa tiba-tiba berhenti?”
“Aku baru ingat ....”
“Hmm?”
“Kalau Bunda ikut, bukannya nanti runyam?”
“Runyap kenapa?”
“Bunda orang penting, ‘kan? Kalau orang lihat bunda, pasti mereka akan berlutut atau sujud-sujud gak jelas ... Itu malah percuma nanti, rencanaku.”
“Eng, benar juga.... Kebanyakan orang akan melakukan itu kalau melihat Bunda.”
Suasana berubah senyap, kedua orang itu benar-benar baru menyadari hal tersebut. Memang kalau seorang Marchioness datang ke tempat umum pasti akan menarik perhatian dan pada akhirnya membuat kerumunan. Hal itu juga bisa mempengaruhi pelayanan tempat yang akan Odo datangi nanti, berakhir dengan kesalahpahaman yang bisa mengganggu kinerja perusahaan yang sedang pemuda rambut hitam itu bangun.
“Terus bagaimana?” Odo sedikit menoleh ke belakang, lalu dengan sedikit enggan bertanya, “Bunda aku tinggal tidak masalah?”
“Eh! Jangan, dong!” Mavis sedikit panik, mengangkat wajahnya dan melingkarkan kencang kedua tangan ke leher pemuda itu. Dengan suara lantang ia berkata, “Sudah sampai sini malah ditinggal!”
Pelukan ibunya itu sangat kencang sampai leher Odo tercekik dan kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Memegang kedua lengan Mavis dan melonggarkan pelukan wanita itu, Odo berkata, “Te-Terus bagaimana?”
“Kalau begitu, begini saja ....”
“Eng?”
Mavis turun dari gendongan Odo, menginjak tanah dengan tanpa alas kaki. Wanita itu berbalik dari putranya, lalu mulai menata ulang penampilan. Mavis melepas kedua ikat rambut dan menyisirnya dengan jemari, lalu sedikit mengutak-atik riasan dan benar-benar mengubah penampilannya. Saat berbalik ke arah Odo, seketika pemuda itu tertegun melihat penampilan ibunya itu. Ikat dua ke depan diganti, riasan dihapus dan wanita itu sedikit mengubah ekspresi wajahnya yang biasanya terlihat kalem menjadi penuh keceriaan.
“Siapa kau!!?” tanya tegas Odo dengan wajah tidak percaya.
“Aku ibumu, memangnya siapa lagi .... Jangan berlebihan begitu, ah.”
“Enggak! Enggak! Enggak! Enggak!!” Odo menggeleng-gelengkan kepala dengan tidak percaya, lalu menunjuk lurus wanita itu dan berkata, “Memang Bunda itu awet muda! Tapi gak sampai kayak remaja belasan tahun begini!”
Ikat rambut dengan gaya Twin-tail yang kekanak-kanakan, wajah tanpa riasan yang memancarkan kecantikan alami dan sangat muda, serta ekspresi ceria remaja usia belasan tahun. Di tambah dengan aura dewasa yang benar-benar hilang darinya, Mavis memang terlihat seperti orang yang berbeda hanya dengan mengubah gaya rambut dan menghapus riasannya.
“Jangan berlebihan, sudah .... Apa aneh kalau bunda terlihat muda seperti ini?”
Wajah wanita itu sedikit memerah malu, terlihat enggan memperlihatkan wajah tanpa riasan pada putranya tersebut. Itu benar-benar membuat Odo tertegun melihat Mavis memasang ekspresi seperti itu, tidak menyangka kalau riasan benar-benar menyembunyikan hal tidak terduga.
“Serius?” Odo menepuk jidat, memalingkan pandangan dan berkata, “Hanya menghapus rias dan mengganti gaya rambut saja ....”
“Hmm, apa kau tidak tahu?” Mavis tersenyum tipis dengan wajahnya yang sedikit memerah, lalu penuh rasa percaya diri berkata, “Riasan itu salah satu senjata wanita. Bagaimana? Mungkin ini pertama kalinya kau melihat Bunda tanpa riasan, bukan?”
“Jadi selama ini Bunda pakai rias?” Odo menatap datar dan memasang wajah terkejut, meski pada kenyataannya ia samar-samar menyadari hal tersebut. Dengan nada datar seakan-akan dirinya tidak percaya, pemuda rambut hitam itu berkata, “Aku sama sekali tidak sadar .... Asli, padahal satu rumah.”
“Tentu saja, Bunda tidak pernah keluar dari kamar tanpa rias.”
Perkataan itu sedikit mengusik Odo, ada beberapa hal yang aneh dari hal tersebut dan membuatnya teringat dengan monster iblis yang pernah muncul di kota Gahon. Pemuda itu ingin menanyakan hal tersebut pada Mavis. Namun saat melihat ekspresi ibunya yang sedikit malu-malu, pemuda itu mengurungkan niatnya karena tak ingin mengusik kebahagiaan wanita itu.
Sembari tersenyum kecil pemuda itu malah ganti menyanjung, “Kenapa? Padahal lebih bagus seperti ini, loh. Tanpa rias malah terlihat muda. Kalau pakai rias malah kayak ibu-ibu.”
“Bunda memang sudah menjadi ibu, tahu ....”
Sanjungan malah ditangkap sebagai sindiran. Memalingkan pandangan dan mencari topik lain, pemuda itu berkata, “Ah, aku paham!” Odo menatap lurus ibunya, mengacungkan jarinya dan menebak, “Karena Bunda tidak menua, jadi rias itu untuk membuat Bunda terlihat sedikit lebih tua? Supaya kalau ada orang dari luar Mansion bertamu tidak heran melihat wajah bunda yang sangat muda.”
“Tepat .... “ Mavis sekilas menatap tajam, sadar kalau putranya mengalihkan topik pembicaraan dan menyembunyikan sesuatu. Mengikuti alur pembicaraan yang dibuat Odo, wanita rambut pirang itu kembali berkata, “Kalau ada pertemuan atau tamu yang datang, mereka pasti akan bertanya-tanya kenapa diriku terlihat selalu muda kalau melihat penampilan Bunda yang seperti ini. Awalnya itu hanya beberapa kali, namun karena suka berias akhirnya Bunda ketagihan dan selalu memakai rias entah itu di rumah atau kalau mau pergi keluar.”
Odo memegang dagu, berpura-pura seakan sedang memikirkan sesuatu padahal kesimpulan sudah ada di dalam kepala. Dengan nada ringan pemuda itu berpendapat, “Kalau penampilannya seperti ini kurasa tidak masalah. Tapi ....”
“Tapi?”
“Kenapa aura suci Bunda juga menghilang? Maksudku, tekanan sihir Bunda .... Apa riasan juga mempengaruhinya?”
“Tidak, bukan itu.” Mavis mendekatkan wajahnya, menatap Odo dari dekat dan dengan suara tegas berkata, “Bunda hanya menahannya, seperti engkau yang kadang-kadang menekan sihirmu sendiri, putraku. Terutama aura naga yang ada pada dirimu ....”
“A—!” Odo pura-pura terkejut padahal dirinya sudah tahu kalau ibunya pasti akan berkata seperti itu. Memalingkan pandangan dan tetap berakting seperti sedang gugup, pemuda itu dengan suara cemas berkata, “Ya, sudah! Ki-Kita lanjutkan perjalanannya. Aku ingin sampai di sana sebelum siang.”
“Hmm, iya, iya, Bunda paham.”
Mavis sekias menyadarinya, bahwa memang putranya itu sedang berpura-pura. Namun dirinya tak tahu untuk apa Odo bertingkah seperti itu dan apa yang sedang disembunyikannya. Setiap kali putranya terkejut, tertegun atau memperlihatkan ekspresi yang jelas, itu semua terasa seperti sedang dibuat-buat di mata Mavis.
Setelah menaikkan Mavis ke atas gendongan punggung, mereka melanjutkan perjalanan ke kota. Kali ini Odo meningkatkan kecepatannya dan berlari secepat yang dirinya bisa. Dalam perjalanan mereka pun sesekali mengobrol, namun Mavis merasa memang ada sesuatu yang sedang disembunyikan putranya tersebut. Bukan hal terkait soal dunia, reinkarnasi, atau rencana yang sedang dikerjakannya, namun tentang pemuda rambut hitam itu sendiri.