Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 56 : Aswad 3 of 15 “To Feel” (Part 05)



 


 


««»»


 


 


Pada waktu yang hampir bersamaan, di salah satu jalan yang menghubungkan Gerbang Utama dengan balai kota. Hembusan angin dingin semakin terasa, menerbangkan debu dan beberapa helai daun dari beberapa pohon hias di sepanjang jalan. Langit semakin mendung sampai sepenuhnya menutupi matahari, gemuruh mulai terdengar meski tanpa ada kilatan petir yang terlihat di atas sana.


 


 


Dalam lalu-lalang yang ada di jalan utama masih tetap saja ramai, di antara mereka Odo melangkahkan kakinya dengan santai sembari memanggul karung kain besar di pundak kanannya. Pemuda rambut hitam itu masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin, celana bahan hitam dan kemeja putih yang dirangkap kain jubah yang memuliki dua lubang pada permukaan.


 


 


Berjalan di samping pemuda itu, seorang gadis kecil rambut putih keperakan melirik penasaran dan mencari-cari waktu yang tepat untuk bertanya. Nanra sudah penasaran sejak tadi malam saat Odo datang membawa beberapa orang baru, ingin bertanya soal itu namun belum bisa mendapat momen yang tepat.


 


 


Menyadari tatapan serius gadis gaun putih yang berjalan bersamanya, Odo melirik kecil dan bertanya, “Kenapa? Ingin tanya sesuatu?”


 


 


“Emm-hmm ....” Nanra mengangguk satu kali, sedikit melambatkan langkah kakinya untuk melihat lubang pada jubah pemuda itu dan bertanya, “Kenapa jubahmu berlubang seperti itu? Memangnya tadi malam kamu pergi ke mana?”


 


 


Dengan tetap melangkahkan kaki, Odo memalingkan pandangan dan merasa kalau Nanra sebaiknya tidak tahu soal manifestasi malaikat yang digunakannya tadi malam.  Mengacungkan telunjuk tangan kirinya, pemuda itu memasang senyum kaku dan menjawab, “Banyak keperluan mendadak tadi malam, karena itu aku bahkan tidak sempat mencari apa yang kubutuhkan ini.”


 


 


Nanra kembali menyesuaikan kecepatan langkah kakinya dengan Odo, berjalan di sampingnya dan tatapan datar langsung terarah pada karung yang pemuda itu bawa. Sembari memasang ekspresi heran, Nanra bertanya, “Memangnya untuk apa semua daun jati hijau itu? Apa kamu ingin bereksperimen lagi untuk membuat ramuan atau semacamnya? Sampai kita pergi keluar gerbang pagi-pagi sekali ....”


 


 


“Bukan, bukan ....” Odo menurunkan jarinya, memegang dagu dan menatap ke depan dengan ekspresi serius. Dengan nada menyombongkan diri ia berkata, “Ini untuk toko, bungkus alami untuk produk kita.”


 


 


“Ah, seperti orang-orang penjual ikan asap, ya?”


 


 


Odo hanya tersenyum kecil mendengar itu. Ia sekilas kembali melirik ke arah Nanra, merasa kalau gadis kecil itu sebenarnya ingin membicarakan hal lainnya daripada membahas daun jati yang mereka kumpulkan di hutan. Namun karena gadis tersebut sama sekali tidak berani bertanya, pemuda rambut hitam itu mulai berkata, “Apa kau cemas soal dua orang baru yang kubawa itu?”


 


 


Gadis itu sedikit tersentak, pandangannya lekas berpaling ke samping dan terdiam tanpa mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya. Odo paham mengapa Nanra hanya terdiam, gadis itu masih trauma pada hal-hal terkait Moloia setelah kasus percobaan pembunuhan di dermaga pada musim dingin. Karena hal itulah, gadis itu terlihat enggan untuk membahas dua orang Moloia yang dibawa Odo meski dirinya ingin tahu.


 


 


Suasana menjadi senyap di antara mereka berdua, beberapa pembicaraan yang mereka lakukan selama perjalanan terputus dan keheningan di antara mereka dengan cepat tumbuh. Tak terasa saat saling diam, mereka sampai di balai kota tempat persimpangan semua jalan utama bertemu. Saat hendak ingin belok ke arah jalan menuju distrik perniagaan, Odo segera meraih tangan kanan Nanra dengan tangan kirinya dan menariknya ke arah yang berbeda.


 


 


“Selagi ini akhir pekan dan kau terlanjur tidak ikut misa, ayo kita jalan-jalan dulu!”


 


 


“E—Eeeh?”


 


 


Tanpa bisa menolak ajakan pemuda itu, Nanra ikut mengubah haluannya dan mengambil jalan yang berbeda dari tujuan awal mereka kembali ke toko Ordoxi Nigrum. Dengan setengah berlari, mereka melangkahkan kaki ke arah barat laut kota. Mereka tidak melewati jalan utama yang penuh lalu-lalang orang, namun melewati gang-gang sempit di antara bangunan dan jalan setapak yang sepi. Sampai pada kanal buatan di sudut kota yang dialiri air dari daerah perbukitan, mereka menyeberangi jembatan kayu di atasnya dan berjalan keluar melalui rute yang saat pertama kali Odo dan Nanra datang bersama ke kota.


 


 


Kali ini mereka tidak melewati gorong-gorong, namun memanjat pohon yang tingginya setara dengan tembok yang mengelilingi kota Mylta. Sampai di atas Odo melemparkan karung yang telah diikat ujungnya ke bawah terlebih dahulu, lalu pemuda tersebut dan Nanra menggunakan itu sebagai tempat mendarat setelah terjun dari tembok yang pada bagian itu setinggi lebih dari empat meter.


 


 


Setelah keluar, mereka berjalan ke arah selatan dan melewati jalan menanjak untuk sampai pada sebuah tebing tinggi di dekat kota. Itu tidak terlalu jauh dan hanya butuh waktu beberapa puluh menit untuk sampai, namun hembusan angin yang kaut dan semak-semak membuat langkah mereka lebih berat saat melewati jalan setapak yang cukup curam.


 


 


Sampai di puncak tebing yang menghadap ke arah laut di selatan, sekilas Odo terpana dan meletakkan karung kain yang dipanggulnya ke bawah. Duduk di atas tanah berbatu dan melihat pemandangan laut gelap yang pada ujung cakrawala mulai turun hujan, pemuda itu tersenyum tipis dan dalam benak merasa tidak sia-sia datang ke tempat tersebut.


 


 


Nanra merapikan gaunnya dan ikut duduk di sebelah kiri pemuda itu, ia menatap sedikit heran dan bertanya, “Untuk apa kamu datang ke Tebing Harapan ini?”


 


 


“Tebing Harapan?” Odo menoleh kecil.


 


 


“Itu nama tempat ini, kamu datang tanpa mengetahuinya? Katanya ini tempat leluhur keluarga Luke datang dari tanah yang amat jauh, loh. Aku hanya mendengar itu dari Mbak Siska, sih. Benar atau tidaknya, aku tak tahu.”


 


 


Odo kembali melihat ke arah laut, mengingat asal usul keluarga Luke yang memang dalam sejarah dikatakan berasal bukan dari Michigan. Menyipitkan mata dan sedikit menghela napas, ia merasa kalau memang dunia tempatnya tinggal penuh dengan misteri yang belum dirinya pahami secara penuh.


 


 


Duduk bersila dan menyangga kepalanya dengan tangan kanan, pemuda rambut hitam itu menjawab, “Aku hanya sekilas lihat tempat ini dari kota, kupikir pasti akan sangat indah melihat pemandangan senja di sini. Menonton matahari terbenam dari atas tebing dekat laut, rasanya romantis, bukan?”


 


 


“Sayangnya sekarang sedang mendung dan bukan senja.”


 


 


Sekilas Nanra tidak mengerti kenapa Odo sangat menyukai matahari terbenam. Ingin menanyakan hal tersebut, perkataannya terhenti dalam tenggorokkan dan gadis itu kembali menutup mulutnya tanpa bisa mengutarakan kalimat. Nanra mengambil rumput ilalang yang sebelumnya dirinya ia petik dari semak saat di perjalanan, menjadikannya tali dan mengikat kucir rambutnya supaya tidak kacau tertiup angin kencang.


 


 


Sejenak menikmati hembusan sejuk dari laut, pemuda itu bangun dan berjalan ke sisi lain dari tebing. Melihat ke arah kota, sorot matanya berubah datar dan sekilas korneanya berubah kehijauan. Sembari memasang ekspresi lega, ia menunjuk ke arah panti asuhan Inkara dan berkata, “Tempatmu terlihat kecil kalau dilihat dari sini, ya?”


 


 


“Hmm?” Nanra bangun, berjalan ke samping Odo dan ikut menatap ke arah pemuda itu menunjuk. Tidak bisa melihat dengan baik karena terlalu jauh, ia bertanya, “Kamu bisa melihat panti asuhan dari jarak sejauh ini? Apa itu juga karena sihir? Apa benar letaknya di sekitar sana?”


 


 


Odo tertawa kecil, menatap wajah Nanra dari samping dan menjawab, “Yah, mungkin saja ....”


 


 


“Hmm, begitu ....”


 


 


Pembicaraan terputus, suasana senyap kembali tumbuh dan mereka hanya saling diam memandang ke arah kota. Dari tempat terdekat dengan tebing, bisa terlihat distrik rubah bordil dan daerah pelabuhan, lalu terus ke arah timur terdapat distrik pengrajin dan terus lurus mengikuti jalan terhubung dengan balai kota. Pintu masuk distrik perniagaan berada di dekat Gereja Utama yang terletak pada bukit di ujung kota.


 


 


Pada kompleks yang sama dengan pusat peribadatan tersebut, terdapat jalan utama yang mengarah ke pemukiman kelas atas tempat Mansion Walikota berdiri. Pada kompleks itu juga merupakan tempat tinggal para pejabat, perwira tingkat menengah sampai atas, dan juga beberapa bangsawan kelas bawah seperti kalangan ksatria yang gelarnya warisan dari keluarga.


 


 


Dari tebing tempatnya berada, Odo dengan jelas melihat perbedaan yang ada dari semua pembagian pemukiman tersebut. Pusat dari kekumuhan di sekitar dermaga dan pusat dari kemegahan di kompleks para pejabat kota, melihat hal tersebut Odo bergumam, “Kesenjangan, ya ....”


 


 


“Hmm? Kesenjangan?”


 


 


“Ya, kota ini cukup mencerminkan hal itu.”


 


 


Nanra tidak mengerti kenapa Odo mengucapkan hal tersebut dengan ekspresi sedikit sedih. Gadis itu paham kalau memang ada sebuah kesenjangan di kota Mylta, namun itu memang hal yang wajar karena hal tersebut tidak hanya terjadi di kota pesisir saja. Hampir setiap wilayah di Felixia terdapat fenomena sosial tersebut, mungkin hanya desa-desa kecil seperti pemukiman Klista yang tidak terdapat kesenjangan karena masih menggunakan peraturan adat sederhana.


 


 


Menatap dengan rasa sedikit penasaran, dengan serius Nanra bertanya, “Meski seorang anak bangsawan, kenapa kamu lebih cenderung ingin dekat dengan kalangan bawah dan mendukung mereka? Bahkan sampai susah-susah membangun toko untuk menyejahterakan dan memberi mereka pekerjaan .... Rasanya tanpa pamrih seperti itu, jujur bagiku sedikit aneh.”


 


 


“Entahlah ....” Odo berjongkok, menatap datar ke arah kota dan dengan nada sedikit enggan ia menjawab, “Aku juga tidak tahu, Nanra.”


 


 


Gadis rambut putih keperakan tersebut sedikit memiringkan kepala dan menatap bingung pemuda rambut hitam itu. Setelah memikirkan beberapa hal, Naran kembali bertanya, “Lalu kenapa kau menolong orang-orang? Apa yang kau inginkan? Apa tujuanmu?”


 


 


Menoleh ke arah gadis di sebelahnya, Odo balik bertanya, “Kalau aku bilang hanya ingin melihat semua orang bahagia, apa kau akan percaya?”


 


 


Gadis rambut putih keperakan itu sesaat terdiam, menatap datar dan dengan nada sedikit kesal menjawab, “Kalau kamu mengatakan itu sebelum memberiku semua informasi ini, mungkin diriku akan percaya.”


 


 


“Informasi yang kuberi sangat berdampak, ya?”


 


 


Nanra melipat kedua tangannya ke depan dada, menggembungkan pipinya dan sedikit menggeram seperi kucing. Memalingkan pandangan dengan sorot mata datar, gadis rambut putih keperakan itu berkata, “Jangan pura-pura bodoh seperti itu, kamu sengaja melakukannya, ‘kan? Supaya aku sadar diri ....”


 


 


“Apa kau marah?”


 


 


 


 


Senyuman manis itu sama sekali tidak menyentuh hati Odo yang terasa mati. Namun mempertimbangkan situasi yang ada, pemuda rambut hitam tersebut memasang senyum tipis dan berkata, “Syukurlah, aku kira kau akan menyesal.”


 


 


“Kalau dibilang menyesal, ada satu hal yang kusesali ....”


 


 


“Hmm, apa itu?”


 


 


Sembari tersenyum sombong dan menunjuk ke arah Odo, gadis rambut putih keperakan itu menjawab, “Aku tidak bisa lagi bolos untuk santai-santai, waktuku habis untuk toko yang kamu bangun.”


 


 


“Ah ....” Odo menatap ke arah pemukiman peribadatan di kota, lalu dengan nada menyindir berkata, “Kalau dipikir-pikir, hari ini bukannya kau harus ikut sekolah mingguan di gereja? Setelah misa diadakannya, bukan?”


 


 


“Aku sudah bolos!” Nanra menurunkan tangannya, memalingkan pandangan dan beralasan, “Kalau tiba-tiba ikut di tengah-tengah rasanya tak menyenangkan. Tatapan para orang dewasa di sana terkadang sangat menusuk, tahu.”


 


 


“Hmmm ....” Odo menurunkan tatapannya, terdiam sesaat dan mulai berdiri seraya merentangkan kedua tangannya ke atas untuk meregangkan tubuh. Menarik napas ringan dan tersenyum kecil, pemuda itu berkata, “Kira-kira Totto dan yang lainnya bisa pilih baju sendiri atau tidak, ya?”


 


 


“Padahal kamu sendiri yang meninggalkan mereka di toko pakaian dengan orang dari Serikat Dagang itu? Huh, aku juga cemas .... Bisa saja mereka diolok-olok atau ditipu.”


 


 


“Karasa kalau soal Paman Aprilo, hal seperti itu kurasa tak perlu dicemaskan.”


 


 


Nanra melirik tajam, memasang wajah cemberut dan bertanya, “Kamu percaya sekali pada pedagang itu, ya? Padahal auranya kayak orang kikir yang sukanya cuma cari untung doang.”


 


 


“Apa iya?” Odo balik melirik dengan senyuman sombong. Sembari menghadap ke arah gadis itu, Odo mendekatkan wajah dan berkata, “Bisa saja, tidak disangka-sangka dia itu orangnya sangat baik kalau sama orang-orang penurut, loh.”


 


 


Nanra memalingkan wajahnya dengan tidak percaya, memiringkan bibirnya dan menyangga, “Masa iya? Bukannya semua pedagang itu monster yang rakus dengan harta?”


 


 


Odo menjauh, memalingkan pandangan dan tidak bisa berargumen soal itu. Sifat pedagang memang begitu, kalau tidak memiliki hasrat pada harta pasti mereka akan gagal sebagai seorang pengusaha. Memikirkan hal lain untuk dibicarakan, pemuda itu memutuskan untuk masuk ke topik utama dan bertanya, “Ngomong-omong, Nanra .... Soal orang-orang Moloia, boleh aku bicara tentang mereka?”


 


 


Nanra tersentak, rasa bersalahnya kembali naik ke permukaan dan ingatan saat dirinya menusuk Odo terngiang dalam kepala. Itu sekilas membuat gadis rambut putih keperakan itu gemetar, memegang bahu kanannya sendiri dan menundukkan wajah dengan murung.


 


 


“Me-Memangnya bicara soal apa?”


 


 


Suara penuh rasa takut itu sekilas membuat Odo menghela napas kecil. Sembari meletakkan tangan kanan ke atas kepala Nanra dan mengelusnya, pemuda itu berkata, “Aku sudah tidak lagi menyalahkanmu soal kejadian itu, kau tidak perlu cemas atau takut. Kau tidak akan dihukum soal itu, kasusnya sudah ditutup dan ditetapkan itu sepenuhnya kesalahan orang-orang Moloia ....”


 


 


“Ta-Tapi—!”


 


 


“Lagi pula,” potong Odo dengan suara tinggi, pemuda itu lekas mengangkat tangannya dari atas kepala Nanra. Sentak gadis rambut putih keperakan itu menatap pemuda rambut hitam tersebut dengan cemas, kembali gemetar dan tidak bisa berkata apa-apa melihat ekspresi marah yang nampak padanya. Tanpa membiarkan Nanra beralasan, dengan jelas Odo menegaskan, “Meskipun aku mati saat itu, kurasa itu malah merupakan hal baik untuk dunia ini.”


 


 


“A-Apa yang kamu bicarakan?” Nanra tambah gemetar, perkataan tersebut tidak terdengar seperti orang yang sedang bergurau.


 


 


Memasang senyum dingin dan menatap dengan sorot mata kosong, Odo meletakkan jari telunjuk kanannya ke depan mulut dan berkata, “Sebelumnya kau tanya kenapa aku melakukan semua ini dan menolong banyak orang seakan tanpa pamrih, bukan? Soal aku yang tidak tahu ..., itu bohong. Aku sangat tahu arahnya ..., sangat paham kenapa alasannya.”


 


 


“O-Odo ...?”


 


 


“Kau tahu, Nanra .... Aku hanya ingin mengakhirinya, aku ingin menyelamatkan seseorang dan ditolong oleh orang lain. Hanya itu ....”


 


 


“Ka-Kamu bicara apa, sih? Menyelamatkan? Diselamatkan? Apa yang kamu maksud, Odo?”


 


 


“Saat waktunya tiba kau akan paham. Untuk sekarang, mari kita tolong orang-orang di kota ini, lalu selamatkan daratan ini. Paling tidak ..., supaya perang tidak pecah dalam sekala besar.”


 


 


Angin bertiup kencang, gerimis mulai turun dan tetes air dingin dari langit mengenai kulit kedua orang yang berdiri di tebing itu. Di bawah langit gelap mereka saling menatap, tidak mengucapkan apa-apa dan terdiam membantu dalam suasana tegang.


 


 


Paham kalau Nanra benar-benar menatapnya dengan takut, Odo segera menarik napas dalam-dalam dan dengan senyuman berkata, “Kurang lebih begitu? Apa kau puas dengan jawabanku, Nanra?”


 


 


Wajah cerita yang nampak padanya tidak menghapus rasa cemas Nanra. Sembari memaksa senyum, gadis rambut putih keperakan itu menjawab, “Be-Begitu, ya?”


 


 


“Hmm, sebelum hujan lebat turun, sebaiknya kita kembali ke kota.”


 


 


Odo berbalik dan melangkahkan kaki ke arah karung kain yang dirinya letakkan sebelumnya. Mengingat sesuatu, langkah kaki pemuda itu terhenti dan ia mengeluarkan sebuah papan tablet perak dari salah satu dimensi penyimpanan pada jubah yang masih bisa diakses.


 


 


Papan perak itu memiliki garis-garis Rune pada permukaannya, struktur sihir dan sedikit memancarkan kekuatan sihir yang aneh. Odo melemparkannya ke permukaan tanah berbatu, lalu papan tablet perak itu langsung meleleh menjadi zat cair dan meresap ke dalam tanah secara penuh tanpa meninggalkan jesak.


 


 


Nanra yang melihat itu penasaran. Ia segera mengesampingkan rasa takutnya, lalu bertanya, “Waktu di hutan kamu juga melakukannya? Sebenarnya itu untuk apa?”


 


 


“Hmm ....” Odo memanggul karung kain, menoleh ke arah gadis itu dan berkata, “Menjelaskannya rumit. Intinya, ini untuk pembasmi serangga.”


 


 


“Serangga?”


 


 


“Kau akan tahu itu nanti, ayo kita turun ke kota! Oh, iya .... Sebelum kembali ke toko, kita mampir dulu ke sekitar Gereja Utama, ya.”


 


 


“Eeeeeh? Keburu hujan, loh.”


 


 


\==================


 


 


Catatan :


 


 


Satu hari di seri ini terasa begitu lama:v


 


 


Yah, mari kita kesampingkan itu.


 


 


Untuk Next, dari judul kali ini bisakah kalian menebaknya? Ada polanya .... Aku beri petunjuk : {Chakras/ Mudra}


Jangan lupa komen, vote, dan share ceria ini, ya!! Bisa perlu masukan ke perpustakaan kalian!


 


 


 


 


See You Next Time!!