Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 64 : Aswad 11 of 15 “Glaub mir” (Part 08)



 


 


Odo sama sekali tidak mengubah ekspresinya, hanya menatap datar seakan memang telah menghapus rasa empati. Membuka telapak tangan kirinya sendiri dan menatap dengan sorot mata datar, sejenak Odo memikirkan beberapa cara untuk memanipulasi Kontrak Jiwa supaya kondisi Arteria kembali normal.


 


 


“Aku tak punya hak untuk itu, tanya ke Ayah dan Kakak gadis yang tubuhnya kau gunakan,” ujar Odo seraya menutup telapak tangan dan menurunkannya.


 


 


“Mana mungkin diriku bertanya seperti itu. Jika diriku melakukannya, Raja yang telah kehilangan gairah memimpin itu pasti akan mengambil tindakan bodoh sampai rela mengorbankan kerajaan ini untuk menyelamatkan Arteria.”


 


 


Odo sejenak terdiam, merasa setuju dengan apa yang disampaikan perempuan itu. Raja Gaiel memang terlihat seperti tak memiliki gairah seorang pemimpin, seakan-akan dirinya ingin segera melepaskan singgasana atau memasrahkan kewajibannya kepada orang lain.


 


 


Paham bukan hal seperti itu yang perlu dibicarakan sekarang, Odo sedikit menggeser topik dengan pertanyaan, “Jadi, kenapa kau mengajakku bicara seperti ini? Aku sekarang tak punya kekuatan untuk mengubah struktur kontrak serumit itu.”


 


 


“Sekarang tak bisa ….” Perempuan itu tersenyum tipis, lalu dengan aksen sedikit angkuh berkata, “Kalau diberi waktu, apa engkau bisa mengubahnya? Paling tidak supaya sebagian kekuatanku tertinggal pada gadis ini supaya ia bisa tetap hidup normal.”


 


 


“Kenapa kau peduli padanya sampai seperti itu? Apa karena dia Darah Murni terakhir?”


 


 


“Itu juga termasuk.” Perempuan rambut biru tersebut menundukkan wajah, kembali muram dan berkata, “Namun …, ada alasan lain. Sekarang diriku tak bisa mengatakannya.”


 


 


Odo mengerutkan kening dan dengan tegas berkata, “Katakan itu sekarang, lalu akan ku pikirkan permintaanmu itu.”


 


 


“Diriku tak bisa⸻”


 


 


“Katakan itu,” tegas Odo sekali lagi. Dengan ekspresi datar, pemuda rambut hitam itu mengancam, “Jika tidak, berarti aku tidak akan memenuhi permintaanmu.”


 


 


“Engkau sungguh pemaksa.” Perempuan itu memasang senyum pasrah, menggelengkan kepala dan menghela napas kecil. “Baiklah, akan diriku beritahukan …. Aku peduli gadis ini karena permintaan terakhir Ratu Dahlia. Wanita yang pernah membuat kontrak denganku itu mengharapkan keselamatan putrinya,” ujar perempuan itu dengan suara pelan.


 


 


“Permintaan Ibu untuk putrinya, ya ….” Odo memasukkan belati yang dipegangnya dengan tangan kanan ke dalam dimensi penyimpanan, tanda dirinya setuju soal permintaan perempuan itu. Menatap ke arah Arteria dengan tatapan sedikit malas, pemuda itu pun berkata, “Baiklah, aku paham situasi kalian. Akan ku usahakan soal caranya. Tapi untuk tambahan, boleh aku tanya beberapa hal lagi?”


 


 


“Silakan ….”


 


 


“Perkataan tadi pagi, itu yang bicara siapa? Kau atau Arteria?”


 


 


Pertanyaan tersebut membuat perempuan itu tersentak, merasa kalau pemuda di hadapannya tersebut memang sedikit memendam perasaannya. Memasang senyum tipis dengan wajah pucat, perempuan rambut biru itu menjawab, “Yang bicara padamu tadi pagi adalah Arteria …. Gadis ini sedikit unik, ya? Ia suka sekali mengambarkan bentuk jiwa seperti itu.”


 


 


“Hmm, begitu ….”


 


 


Odo sama sekali tidak mengubah ekspresi datarnya, hanya menerima jawaban tersebut sebagai informasi dan sama sekali tidak dimasukkan ke dalam hati. “Yah, kurasa kau tak perlu terlalu berharap. Aku bukanlah makhluk maha kuasa, Lileian juga bicara seperti itu kepadamu, ‘kan?” ucapnya seraya memetakan telapak tangan kanan ke depan mulut.


 


 


Sekilas memalingkan sorot mata dan terlihat enggan, pemuda itu berkata, “Aku hanyalah Jiwa dari masa lalu. Kelebihan ku hanya pada pengetahuan ⸻ Aku hanya sedikit lebih tahu dari kalian semua.”


 


 


“Diriku rasa memiliki pengetahuan melebihi para Dewa juga merupakan hal yang sangat menakjubkan.”


 


 


Odo tidak terlalu memedulikan perkataan tersebut. Menatap ke arah Arteria dan menurunkan tangan dari depan mulut, pemuda itu kembali bertanya, “Kau … bisa mempertahankan jiwanya berapa lama lagi? Aku kenal orang dengan kasus mirip seperti apa yang kau alami sekarang, namun prosesnya sangat berbeda.”


 


 


“Jika tanpa pengaruh dari luar, diriku bisa mempertahankan Arteria sampai dua tahun. Selebihnya …, mungkin proses runtuhnya kepribadian akan dimulai.”


 


 


Jawaban tersebut membuat perkiraan Odo menjadi pasti, bahwa kondisi berbagi tubuh yang dialami Arteria sangat berbeda dengan apa yang dialami oleh Putri Ulla dan Or’iama dari kerajaan  Moloia. Memikirkan kesimpulan lain, pemuda itu kembali bertanya, “Itu masih termasuk Invoke, ‘kan? Medium tubuh ditempati dua Jiwa ….”


 


 


“Itu benar ….” Arteria menyodorkan kedau telapak tangan yang terbuka ke depan, lalu memasang ekspresi cemas dan menjelaskan, “Namun hal ini sangat berbeda dari Invoke pada umumnya. Dalam kondisi umum, Jiwa Entitas yang dipanggil untuk merasuki biasanya hanya akan menetap sementara dan bisa dengan mudah lepas.”


 


 


“Kondisi kalian berbeda?” tanya Odo.


 


 


Perempuan rambut biru tersebut mengangguk, menutup kedua telapak tangan yang terbuka dan kembali menjelaskan, “Dalam kondisi Arteria sekarang, Jiwaku malah menyatu dengan paten pada tubuh ini dan akulah yang membuat Jiwa Arteria tetap menetap ke tubuh ini. Degan kata lain, kondisinya terbalik. Ini seperti diriku yang meng-invoke Arteria ….”


 


 


“Begitu, ya ….” Odo mulai paham konsep serta kondisi Invoke tersebut. Menggaruk bagian belakang kepala, pemuda itu merasa kalau situasi tersebut terlihat sangat rapuh dan bisa saja runtuh dengan mudah jika mendapat gangguan dari luar.


 


 


Menatap ke arah Arteria, pemuda rambut hitam itu memastikan, “Wajarnya proses Invoke hanya memanggil entitas untuk merasuki dan membuat entitas yang dipanggil tersebut bisa ada di masa dan dunia tempat pemanggil berada. Tapi karena pemanggil tak kuat menerima kekuatan entitas yang dipanggil, koneksi pada tubuhnya sendiri terputus dan pada akhirnya malah kau yang menjadi penguasa tubuh ⸻ Sedangkan Arteria malah masuk dalam kondisi Tamu pada tubuhnya sendiri. Kalau kondisi itu dilepas, maka jiwa Arteria akan terlempar langsung ke dalam aliran kehidupan. Itu sama saja dengan kematian …. Apa benar begitu?”


 


 


“Tepat ….” Perempuan rambut biru tersebut mengangguk. Sembari mengacungkan jari telunjuknya ke depan ia bertanya, “Setelah tahu itu, apa engkau punya gambaran untuk mengatasi kondisi ini? Engkau tahu, melepas diriku dari tubuh Arteria sudah sangat mustahil. Meskipun Arteria benar-benar lenyap, diriku akan tetap terus hidup di dalam tubuh ini.”


 


 


“Caranya sederhana, tinggal buat saja organ tambahan,” jawab Odo dengan ringan.


 


 


“Eh?” Perempuan itu benar-benar bingung, tak paham apa yang diungkapkan pemuda itu. Menurunkan jari telunjuk dan memikirkannya baik-baik, ia tetap tidak bisa mengerti maksudnya.


 


 


Odo menghela napas ringan, mengacungkan dua jari tangan kanan dan satu jari tangan kiri sebagai perumpamaan. Sembari menggerakkannya, pemuda itu mulai menjelaskan, “Kau terikat kencang dengan tubuh itu karena sinkronisasi sangat tinggi, ‘kan? Kalau begitu, buat saja sebuah organ tambahan supaya tubuh Arteria tidak cocok untukmu lagi. Tentu organ tersebut tidak asal-asalan, harus yang sesuai dengan jiwa Arteria dan menambah sinkronisasi jiwanya.”


 


 


Perempuan itu bisa memahami konsep yang disampaikan Odo. Memang dalam Invoke kecocokan tubuh sebagai wadah sangat diperlukan. Saat tubuh tidak cocok, secara otomatis entitas yang dipanggil akan terpental. Dalam kondisi sebaliknya, entitas yang dipanggil ke dalam tubuh yang sangat cocok akan melekat kencang seperti kondisi sang Dewa Kota sekarang.


 


 


Karena memahami hal tersebut, perempuan itu meragukan, “Apa bisa engkau membuat hal semacam itu?”


 


 


Odo menurunkan kedua tangannya, lalu menatap datar sembari tersenyum tipis dan menjawab, “Aku punya gambarannya, namun sekarang belum bisa menerapkannya. Metodenya sederhana, tinggal cari perbedaan kalian dan buat itu menjadi nyata. Kau pasti punya masalah kompleks dengan bagian tubuh, ‘kan?”


 


 


“Hmm, diriku mulai paham.” Perempuan itu sekilas memalingkan pandangan, memikirkan kembali teori yang disampaikan Odo dan memastikan, “Berarti tinggal cari apa yang tidak diriku sukai dari bagian tubuh ini, lalu membuatnya semakin berat sampai koneksinya putus, bukan? Namun, pada saat yang sama itu harus sesuatu yang disukai Arteria. Apa benar seperti itu?”


 


 


Odo sekilas terdiam mendengar metafora yang dipakainya. Sembari menatap datar ia bertanya “Kau punya masalah kompleks dengan berat badan?”


 


 


“EH?! Ke-Kenapa?” Arteria seketika panik, memalingkan pandangan dan wajahnya memerah.


 


 


“Enggak, hanya tanya doang. Yah, kebanyakan perempuan juga tak suka itu.” Odo sejenak terdiam dan memikirkan alternatif lain jika cara itu tidak bisa. Tidak mengungkapkannya secara gamblang, pemuda itu berkata, “Intinya, pikirkan dulu itu dengan baik-baik dan cari perbedaan kalian. Jika cara ini tidak berhasil, aku akan pakai alternatif lain.”


 


 


“Ada yang lain?”


 


 


“Tentu. Setiap masalah punya penyelesaian lebih dari satu. Kalau memang koneksi Arteria dengan tubuhnya sangat lemah, tinggal buat saja tubuh yang baru atau modifikasi tubuhnya supaya cocok dengan jiwanya. Tubuhnya berubah ketika dia membuat Kontrak Jiwa, ‘kan?”


 


 


“Ah, benar juga!” Perempuan itu baru menyadarinya. Dengan mata berseri-seri seakan menemukan titik terang, ia dengan semangat berkata, “Kalau dikembalikan ke wujud anak-anak, mungkin Jiwanya bisa menetap ke tubuh ini tanpa kekuatan Kontrak!”


 


 


Beberapa detik setelah mengatakan itu, dirinya sendiri langsung sadar kalau hal semacam itu sangatlah sulit dilakukan. “Tapi …, bagaimana caranya? Perubahan fisik merupakan salah satu efek mutlak dari Kontrak Jiwa, terutama untuk Arteria yang masih anak-anak,” ujarnya dengan murung.


 


 


“Sederhana, tinggal batalkan saja Kontraknya.”


 


 


“Eh …? I-Itu mustahil! Sekali dibuat, kontrak tak bisa dibatalkan tanpa kompensasi yang setara dengan jumlah kekuatan yang digunakan selama kontrak berlangsung.”


 


 


“Tenang saja, aku akan mencari caranya.” Odo tersenyum penuh rasa percaya diri dengan apa yang dipikirkannya. Mengacungkan jari telunjuk ke depan, pemuda itu menyampaikan, “Kebetulan aku sedang meneliti Kontrak Jiwa supaya bisa membuat Kontrak dengan Vil ….”


 


 


“Roh Laut Utara yang menelantarkan teritorialnya itu?”


 


 


 


 


“Tunggu sebentar, engkau yakin ingin melawan Leviathan? Sungguh?”


 


 


“Tentu!”


 


 


Perempuan rambut biru tersebut terlihat begitu khawatir mendengar jawaban cepat tersebut, merasa kalau pemuda itu terlalu meremehkan Leviathan yang ditakuti bahkan telah ditakuti sebelum Kalender Pendulum dimulai. Dengan nada cemas ia memperingatkan, “Engkau pasti akan mati. Leviathan berbeda dengan para saudarinya, keberadaannya menyamai orang tuanya ⸻ Sang Dewa Naga.”


 


 


“Aku lebih paham itu daripada kau.”


 


 


“Lalu kena⸻”


 


 


“Karena aku perlu,” potong Odo. Ia menatap tajam dengan sorot mata yang penuh dengan keputusan bulat. Setelah menarik napas dalam-dalam ia pun berkata, “Dengar baik-baik, Dewi Kota. Aku membantu bukan untuk tujuan utama, tapi selingan. Ada hal lain yang pergi aku lakukan, dan itu lebih penting daripada nyawa satu orang gadis …. Paham?”


 


 


“Ba-Baiklah, diriku tak akan mengusik itu lagi ….” Arteria seketika terdiam. Pada momen itu, dirinya tahu ada sesuatu yang sangat menyimpang pada diri pemuda tersebut. Itu bukanlah sesuatu yang bisa digolongkan baik atau buruk, namun terkesan mutlak dan tak bisa lepas darinya.


 


 


Arteria menggelengkan kepala dan berusaha tidak menanyakan hal tersebut. “Terus, apa yang perlu diriku lakukan untuk membantu?” tanyanya untuk mengganti topik pembicaraan.


 


 


“Eng ….” Odo memalingkan pandangan dan berpikir, lalu kembali menatap ke arahnya dan bertanya, “Apa kau bisa berkomunikasi dengan Arteria?”


 


 


“Tentu bisa, kami sering bicara bersama saat sendirian.”


 


 


“Kalau begitu, kalian berdua pikirkan cara supaya kesalahpahaman sebelumnya diluruskan.” Odo sedikit memasang mimik wajah pasrah, merasa tidak ada yang bisa dilakukannya sendiri untuk membenarkan kesalahpahaman. Menghela napas sekali, pemuda itu kembali berkata, “Meski mereka tak tahu kalau aku adalah Odo, tapi tetap saja setelah sampai di kediaman Luke pasti semuanya akan terbongkar. Sekarang aku tidak bisa menggunakan sihir untuk kembali ke wujud anak-anak ….”


 


 


“Eng, benar juga ….” Arteria kembali mengingat kesalahpahaman besar yang terjadi tadi pagi. Sedikit memasang senyum tipis dengan wajah pucatnya, perempuan rambut biru tersebut sedikit menggoda, “Kalau kesalahpahaman itu berlanjut, engkau bisa saja diusir dari keluarga dan bahkan paling buruk sampai harus menjadi kriminal. Baiklah, nanti akan aku sampaikan ke Arteria dan kami pikirkan. Serahkan saja pada calon istrimu ini.”


 


 


Sorot mata Odo sekilas menjadi datar saat mendengar dua kata yang mengingatkannya dengan sang Kaisar. Dalam benak, ia merasa sedikit muak dengan perempuan yang memiliki sifat seperti itu. Menggaruk bagian kepala dan berbalik, pemuda itu dengan malas berkata, “Kalau begitu aku pergi dulu, kau juga sebaiknya kembali sebelum ada yang mencarimu.”


 


 


“Tu-Tunggu sebentar!”


 


 


“Apa lagi?” Odo tak jadi melangkah dan kembali berbalik ke arahnya.


 


 


“Boleh diriku memastikan satu hal? Itu ….” Arteria terlihat ragu, sekilas menundukkan wajah sembari menjalin jemari tangannya. Kembali menatap lurus pemuda itu, ia dengan penasaran bertanya, “Bagaimana caranya engkau tahu kalau diriku bukan Arteria? Engkau baru bertemu dengannya tadi bagi, bukan?”


 


 


“Oh, itu ….” Odo merasa hal tersebut tidak terlalu penting. Tanpa berpikir untuk memberikan jawaban yang memuaskan rasa penasaran perempuan itu, ia dengan asal berkata, “Hanya intuisi, tak lebih dari itu. Lagi pula, kau pikir aku tidak akan menyadarinya? Aura yang dipancarkan setiap orang berbeda-beda, mengidentifikasikan itu bukanlah hal yang sulit bagiku …. Sebaiknya kau tidak muncul saat di depan Dart, pria tua itu lebih ahli mendeteksi hal-hal semacam itu.”


 


 


“Meski dirinya tidak bisa mengenali putranya sendiri dan bahkan sampai memenggal kepalamu?”


 


 


“Kenapa kau malah menyindir?” Odo mamang ekspresi sedikit kesal.


 


 


“Apa engkau tidak sakit?” tanya Arteria sekali lagi.


 


 


Sekilas Odo terdiam, melihat wajah Arteria yang benar-benar ingin tahu jawabannya. Menghela napas dan kembali menggaruk bagian belakang kepala, pemuda itu dengan nada enggan menjawab, “Tentu saja sakit, aku bukan orang mesum yang kegirangan saat dibunuh.”


 


 


“Bukan itu ….” Arteria berjalan mendekat, meraih tangan kiri Odo dan kembali berkata, “Maksudku, hatimu …. Apa di dalam dadamu tidak sakit? Tidak dikenali oleh ayahmu sendiri bahkan sampai diserang sampai seperti itu ….”


 


 


Odo mulai merasa kalau perempuan itu serasa ingin masuk ke zona privasinya, mengharapkan sebuah hubungan yang lebih dalam. Menghentikan napas sejenak, pemuda itu dengan nada ringan menjawab, “Awalnya memang sakit, tapi setelahnya aku tak peduli.”


 


 


“Tak peduli? Kenapa …?”


 


 


“Hah? Apa kau ingin aku merengek-rengek di depannya dan bilang kalau diriku itu putranya? Konyol sekali!”


 


 


“Bukan itu ….” Arteria melepaskan tangan Odo, mengambil satu langkah ke belakang dan menatap dengan sedih. “Diriku hanya heran, mengapa engkau terlihat sedih dan kesepian seperti itu? Saat engkau melawan Ahli Pedang, sesekali kau terlihat kesepian dan seperti ingin menangis,” ujarnya dengan penuh empati.


 


 


“Itu Persepsi siapa? Kau atau Arteria?”


 


 


“Itu persepsi kami ….”


 


 


Odo sejenak terdiam dan meletakkan telapak tangan kanan ke wajah, sekilas tak merasa kalau saat itu menampakkan emosi yang disebutkan Arteria. Sembari menatap datar dari sela jemari ia berkata, “Kesepian dan sedih, ya. Huh! Aku sarankan, wahai Dewi Kota. Sebaiknya kau tak usah ikut campur urusanku, pikirkan saja masalah yang kau miliki.”


 


 


“Maafkan aku ….”


 


 


“Kenapa minta maaf? Kau tidak salah ….” Odo menurunkan tangan dari depan wajah, menarik napas ringan dan kembali berkata, “Cukup lakukan saja apa yang perlu kau lakukan, itu hanya saran.”


 


 


Setelah mengatakan hal tersebut, Odo segera berbalik dan melangkah ke dalam semak-semak. Sekilas melirik ke arah perempuan itu, ia sekali lagi berkata, “Kita akan bertemu lagi. Lain kali, kuharap kau tidak menyerang ku dengan Sihir Roh, Tuan Putri.”


 


 


Mendengar apa yang dikatakan Odo sebelum pergi, kedua mata perempuan rambut biru tersebut seketika terbuka lebar dan terkesima. Memasang senyum tipis, ia memalingkan pandangan ke samping dan berkata, “Sepertinya dia tahu kalau kau sudah bangun, Arteria. Pemuda itu memang tak bisa dibohongi ….”


 


 


Berbalik dan melangkah ke arah yang berbeda dengan yang Odo ambil, kesadaran Tuan Putri Arteria kembali ke tubuhnya. Sembari berjalan ia pun berkata, “Arteria juga merasa kalau dia bukan orang jahat …, meski memang sangat menakutkan. Asmali tak takut dengannya? Apa karena teman Aslami yang mengenalkan pemuda itu?”


 


 


“Tidak juga. Kami dari awal memang tertarik dengan Unsur Hitam. Kau tak perlu berberat hati, putuskan saja apa yang kau inginkan. Ibumu mengharapkan itu,” suara sang Dewi Kota di dalam kepala Arteria.


 


 


“Hmm, baiklah …. Arteria akan memilihnya sendiri ..., apakah ia baik untuk Arteria atau tidak.”


 


 


\====================================================


 


 


Catatan :


 


 


See You Next time‼


 


 


Jaga sehat kawan! Korona di mana-mana!


Jangan sampai kehilangan kemanusiaan kalian dan bertingkah layaknya hewan karena panik.