
Melesat cepat di udara, Odo mulai mengalirkan elektrik pada pedangnya dan mulai memperlambat kecepatannya untuk fokus mendeteksi langkah kaki dua orang yang sebelumnya menembaknya.
“Sudah kuduga, sonar tidak bisa mendeteksi mereka .... Apa orang-orang itu menggunakan jubah yang sama seperti yang Nanra pakai?”
Odo mendarat pada salah satu atap gudang, lalu sejenak memikirkan cara lain karena mengejar mereka sudah bukan menjadi pilihannya sebab dirinya benar-benar kehilangan jejak. Menyeringai kecil seakan telah menemukan ide, anak itu lekas mengulurkan tangan kirinya ke depan dan membuat lingkaran sihir pelontar dalam sekala berlapis.
“Kalau mereka tidak muncul, tinggal pancing mereka!”
Odo langsung meloncat ke atas lingkaran sihir, dan tubuhnya langsung terlontar sangat tinggi ke udara dengan cepat. Ketinggian yang dicapai membuat anak itu sampai bisa melihat hampir ke penjuru kota, hembusan angin menerpa kuat wajahnya.
“Kalau mereka berniat membunuhku, pasti mereka tidak akan melewatkan kesempatan ini? Bagaimana? Cepat tembak dan beritahu keberadaan kalian padaku!!”
Odo meningkatkan tekanan sihirnya, lalu memperkuat gelombang elektromagnetik pada zirah rantai. Ia juga menggunakan sihir gravitasi dan memperlambat jatuhnya, menunggu orang-orang yang dicarinya menembakkan senjata ke arahnya.
Dari kejauhan, dua perempuan yang berlari di antara gang bangunan menyadari kedatangan Odo di udara yang memancarkan aura sihir kuat. Langkah kaki mereka terhenti dan langsung meloncat ke dalam bayangan gang bangunan, memasang wajah cemas takut keberadaan mereka diketahui.
“Tenang saja, jubah yang kita pakai benar-benar menyamarkan keberadaan kita,” ucap perempuan rambut cokelat yang bersembunyi di balik bayangan bangunan.
“Tapi ..., kenapa dia memancarkan sihir kuat di udara seperti itu? Lagi pula, kenapa dia bisa loncat setinggi itu!!?” ucap panik gadis rambut pirang pendek di sebelahnya.
Kedua orang itu mengenakan jubah yang warnanya bisa berubah menyesuaikan dengan kondisi untuk kamuflase. Jubah yang dulu berwarna putih itu sekarang berubah menjadi abu-abu, menyamarkan dengan warna fondasi bangunan dan dinding bangunan tempat mereka bersembunyi, serta menurunkan tingkat keberadaan penggunanya karena partikel Ether yang menempel pada jubah.
“Ketua, bukannya dia dalam sasaran empuk saat di udara seperti itu? Kalau kita menembak kepalanya lagi, mungkin kita bisa menghabisinya,” ucap gadis rambut pirang. Ia memakai teropong jari, lalu melihat sosok Odo yang terlihat sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka.
“Kau sudah lihat tadi anak itu tidak mati meski tertembak kepalnya, bukan? Kita mundur saja!”
“Tapi setelah dana yang dikeluarkan pihak pemerintah untuk misi ini, kemungkinan besar pihak Pengembangan dan Penelitian juga akan kena imbasnya. Kita tidak bisa menyusahkan Tuan karena kegagalan ini ....”
Perkataan gadis rambut pirang itu membuat ketua Unit Rahasia PTP (Pengembangan Teknologi dan Penelitian) tersebut mulai ragu dengan keputusan. Sepenuhnya setuju dengan pendapat gadis tersebut, ia menyiapkan senjatanya dan segera membidik Odo yang melayang di udara.
“Koordinatnya!”
“Hmm!”
Mereka mulai membidik, benar-benar mengincar kepala Odo dengan ujung laras senapan tipe Springfield tersebut. Saat titik hitam pada bidikkan tepat berada pada kepala sasaran, perempuan rambut cokelat itu menarik pelatuknya dan peluru 30 inci melesat dengan kecepatan sekitar 800 meter per detik. Kecepatan itu tidak membiarkan siapa pun bereaksi meski telah mendengar suara tembakkan, apa lagi kalau itu melesat pada jarak lebih dari 400 meter dari sasaran.
Peluru mengarah ke kepala Odo dengan sangat akurat. Tetapi sebelum tepat mengenai sasaran, tiba-tiba kilatan elektrik dari zirah memancarkan gelombang elektromagnetik yang kuat dan membuat laju peluru berubah pada jarak sekitar 100 meter dari sasaran. Tepat seperti apa yang Odo rencanakan, peluru tersebut tertarik dan mengarah ke zirah rantai yang dikenakannya.
“Meleset?!” Perempuan yang berada di bawah kaget, peluru yang ditembakkan tidak mengenai kepala anak rambut hitam tersebut.
Tubuh Odo melayang berputar-putar di udara dengan cepat dan kacau, momentum dari tembakkan yang mengenai tubuhnya membuat sihir gravitasi menjadi kacau. Darah berceceran dari bahu kanannya, zirah cincin yang rapuh sama sekali tidak bisa menahan peluru yang melesat dan membuat bahu kanan anak itu hancur dan membuat tangannya tidak bisa digerakkan. Pedang yang digenggam terlepas dan jatuh lebih dulu darinya.
“Ketemu kau!!” teriak anak itu. Ia segera melepaskan pengait zirah cincin, lalu melemparkannya ke udara dengan tangan kiri. Memusatkan petir pada kaki kanan dan memanfaatkan momentum tubuhnya yang berputar-putar di udara, anak itu menendang zirah cincin tersebut dan menjadikannya proyektil yang ditembakkan layaknya sebuah Railgun berkekuatan rendah.
Zirah hancur dan kepingan-kepingan rantai yang melesat dengan kecepatan tinggi menyebar, memberikan dampak kerusakan lebih luas secara brutal. Menghancurkan atap-atap gudang, permukaan tanah, dan serangan itu mengenai kedua orang yang menembak Odo. Senapan mereka hancur karena hujan proyektil tersebut, senjata itu terjatuh dan serpihan komponennya berserakan di tanah.
Jemari tangan kanan perempuan rambut cokelat terpelintir karena terkena proyektil dengan telak, sedangkan gadis rambut perak di dekatnya tepat terkena proyektil pada paha kanan dan membuatnya tidak bisa berdiri. Odo jatuh pada salah satu atap gudang. Ia segera mengambil pedang yang terjatuh dengan tangan kiri, dan tanpa membuang waktu anak itu langsung kembali bangun dan meloncat turun untuk mengejar kedua orang tersebut.
“Ra’an!! Mine, Set!!” teriak perempuan rambut cokelat.
Gadis rambut pirang di sebelahnya segera mengambil peledak yang dibungkus kotak karet dari sabuk di pinggangnya, lalu melemparkannya ke arah Odo yang datang ke arah mereka. Menyadari ada yang janggal dengan itu, Odo segera meloncat mundur. Tetapi, petir yang menyelimuti tubuhnya tanpa disadari menyambar ke depan dan mengenai kotak karet kecil tersebut.
Duarkk!!
Kotak itu meledak kuat, apa yang dikatakan insting Odo tepat. Kotak yang dilemparkan ke arahnya adalah bahan peledak, sebuah ranjau instan yang seharusnya dapat meledak saat diaktifkan dan diinjak oleh seseorang.
Mereka berdua terpental masuk ke dalam gang, sedangkan Odo terpental sampai membentur dinding gudang ke arah yang berlawanan dengan kedua orang tersebut. Beberapa tulang rusuk Odo retak karena jatuh dengan posisi salah, napas sesak membuatnya tidak bisa langsung berdiri.
Memanfaatkan kesempatan yang ada, kedua orang yang telah bersiap akan ledakkan dan hanya mendapat luka lecet segera kabur melalui gang. Mereka pergi ke arah laut, pada daerah teluk dengan dasar laut cukup dalam jika dibandingkan dengan garis daerah pelabuhan lainnya di tempat itu. Bersandar pada pembatas kayu, perempuan rambut cokelat yang memapah rekannya mengambil pistol suar dari sabuk.
Duar!!
Suar ungu ditembakkan ke udara sebagai sinyal untuk rekannya yang masih belum terlihat. Sebelum bantuan mereka datang, Odo yang selesai memulihkan diri datang ke arah mereka. Ia meloncat dari atap bangunan, lalu langsung mendaratkan tendangan tepat ke wajah perempuan rambut cokelat.
Tubuh perempuan itu terpelanting ke permukaan jalan, menjatuhkan rekannya yang terluka. Seraya mendarat, Odo menginjak paha gadis rambut pirang yang terluka dan memastikannya tidak bisa berjalan lagi. Kraktak! Suara tulang patah dengan jelas terdengar.
“AKKKKH!”
Perempuan rambut cokelat segera bangun panik mendengar suara jeritan, lalu lekas mengambil tabung besi dari sabuknya dan menebarkannya ke udara dengan segera. Menyasari kalau bubuk itu adalah mesiu, Odo segera mematikan sihir petir yang menyelimuti tubuh dan meloncat mundur untuk menjaga jarak.
“Tch! Apa kau gila, ya! Kalau meledak kalian juga kena!” bentak Odo.
“Heeeh, jadi kau tidak berniat membunuh kami, ya? Apa mau diinterogasi? Disiksa?” balas perempuan rambut cokelat tersebut. Ia melepas beberapa sabuk yang melingkar pada pakaian ketat hitamnya, lalu mengambil beberapa tabung berisi bubuk mesiu dan bahan peledak lain.
Melihat apa yang dilakukannya, Odo menegakkan posisi berdirinya dan berhenti memasang kuda-kuda hendak menerjang. Ia benar-benar mematikan sihirnya, berjalan ke arah gadis yang meringkuk kesakitan karena pahanya yang terluka diinjak Odo tadi.
Tanpa belas kasih atau rasa ragu, anak berambut hitam itu menendang wajah gadis rambut pirang tersebut. Dua giginya lepas dan tubuhnya langsung terkapar. Menginjak wajah gadis tersebut dengan kaki kiri, Odo berkata, “Lakukan saja, sebar semua mesiu itu dan kita lihat siapa yang masih hidup setelah ledakkan!”
Apa yang dikatakan Odo bukanlah gertakan, mengingat kemampuan regenerasi anak itu membuat perempuan rambut cokelat tersebut tambah gemetar dan kehabisan pilihan. Saat perempuan di hadapannya memikirkan tindakkan antara menyebar bubuk mesiu atau tidak, Odo mulai meregenerasi bahu kanannya yang hancur karena tembakkan sebelumnya dan tanpa menunggu lebih lama ia langsung meloncat ke arah perempuan itu.
Ayunan pedang dengan tangan kiri diarahkan pada leher perempuan tersebut. Tetapi dengan refleks cepat dan pengalaman bertarung jarak dekat, perempuan rambut cokelat itu langsung mengunci pergelengan tangan Odo dan menjatuhkan tubuhnya ke jalan. Tabung-tabung berisi bubuk mesiu yang terjatuh menggelundung, suasana hening terasa.
Baik Odo ataupun perempuan itu, mereka sama-sama terkejut atas apa yang terjadi. Odo tidak mengira akan dikunci semudah itu, dan perempuan tersebut tidak mengira bisa melumpuhkan anak itu dengan mudah.
“Kau ..., tidak bisa teknik bela diri, ya?”
Odo menggeser persendian tangan kirinya yang dikunci dan melepaskan kuncian, lalu lekas mengayunkan tangannya seperti cambuk ke wajah perempuan itu. Itu dengan mudah dihindari, dan perempuan itu meloncat mundur menjaga jarak. Odo segera mengambil pedang, lalu memperbaiki letak sendi bahu kirinya.
“Apa yang terjadi? Apa dia sangat kuat, atau ... fungsi otakku masih ada yang salah? Kenapa seranganku tidak tepat sasaran? Padahal tadi aku seharusnya sudah menghajar telak perempuan itu dua kali,” benak Odo dengan wajah pucat. Situasi yang ada benar-benar berubah dari dirinya yang unggul, menjadi tertekan.
Sebelum Odo memahami apa yang terjadi pada tubuhnya dan memikirkan langkah selanjutnya, sebuah ledakkan dahsyat yang menghancurkan gudang di dekat mereka membuat semua pikirannya kacau. Ledakkan itu sangat besar, bahkan lebih dari ledakkan yang sebelumnya Odo buat di dekat dermaga dari bubuk mesiu.
Secara refleks anak itu tidak melihat ke sumber ledakkan, tetapi ke arah laut tempat meriam yang membuat letakkan itu berasal. Wajahnya langsung terbelalak, penuh rasa takut dan langsung gemetar. Tepat di luar hamparan laut yang membeku, dari dalam air mulai keluar sebuah bongkahan besi raksasa dengan beberapa meriam dan senapan mesin pada geladaknya.
Odo sangat paham apa itu apa, bongkahan besi raksasa yang keluar dari dalam air tersebut adalah kapal selam kelas jelajah. Memikirkan ada benda seperti itu di dunia yang dikiranya penuh dengan hal fantasi dan memiliki tingkat peradaban abad pertengahan, anak itu langsung menyeringai layaknya anak kecil yang menemukan mainan baru.
“Oi, oi .... Keseimbangan peradaban dunia ini bagaimana? Teknologi di Kerajaan Moloia sudah semaju itu? Sialan, kalau seperti ini ....”
Dari pada senang melihat rekannya yang datang, perempuan rambut cokelat di hadapan Odo malah gemetar ketakutan saat melihat anak itu menyeringai gelap. Tubuh dan pikirannya berhenti sesaat, jatuh dalam ketakutan yang membuat bulu kuduknya merinding. Saat Odo menoleh dan menatap tajam, perempuan itu benar-benar semakin melemas. Tatapan anak itu seakan seekor monster yang benar-benar menemukan mangsanya.
“Kapal itu temanmu, bukan? Kalau iya, bisa kita hentikan dulu pertarungan tidak berguna ini? Sepertinya kalian punya sesuatu yang lebih menarik daripada yang aku kira ....”
Anak itu menghadap perempuan rambut cokelat tersebut. Meriam kembali ditembakkan dan menghancurkan salah satu gudang lainnya di dekat mereka. Dari hal tersebut, Odo memastikan kalau kapal selam yang berada di luar lautan yang membeku itu tidak melihat kedua orang tersebut.
“Mereka hanya mengincar tempat di dekat suar yang kalian tembakkan, bukan? Apa tidak apa-apa? Kalau kalian tidak memberi sinyal lagi, bisa-bisa kalian terkena bombardir ....”
Perempuan itu terbelalak, anak itu berkata seakan dirinya paham kode rahasia yang digunakan dalam militer Kerajaan Moloia. Berusaha bangun dan menggertakkan gigi, perempuan itu menjawab, “Kalau itu bisa membunuhmu, tak masalah kalau kami mati!”
Mendengar itu dari perempuan yang bahkan tidak bisa berdiri dengan benar karena saking gemetarnya, Odo hanya menatap datar dan berkata, “Itu tidak akan membunuhku. Meski tubuhku hancur, itu tidak akan membunuhku .... Kalau kalian ingin membunuhku, lebih baik bawa saja orang yang bisa memanipulasi jiwa atau memberi kerusakan langsung pada Inti Sihir.”
Odo melangkah mendekati perempuan itu, lalu menendang bagian belakang lutut kanannya dan membuatnya berlutut untuk membuat tingginya sesuai. Mencekik lehernya, anak rambut hitam tersebut menatap dengan sangat dekat dengan penuh aura intimidasi.
“Kita buat perjanjian, Nona. Hentikan serangan kapal itu dan bawa aku masuk ke sana, setelah itu nyawamu akan aku ampuni.”
“Kau pikir a —!”
“Tentu saja kau tidak akan mau, bukan? Tentu saja kau memiliki loyalitas kuat, ‘kan? Tapi!! Kalau gadis yang ada di sana bagaimana, ya?”
Odo menjambak rambut perempuan itu, lalu memaksanya melihat gadis yang terbaring meringkuk memegangi pahanya yang terluka. Kembali menatap kedua mata perempuan itu dari dekat, Odo bertanya, “Dia pasti sudah tidak bisa berjalan normal lagi. Aku bisa saja membunuhmu sekarang dan berdiskusi dengannya .... Kira-kira berapa lama dia bisa bertahan pada rasa loyalnya, ya?”
“He-Hentikan ..., jangan sentuh Ra‘an!”
“Aku tidak akan menyentuhnya, kalau kau mau bekerja sama tentunya .... Kau paham situasinya sekarang, bukan? Jangan berani melawan .... Asal kau tahu, nyawa itu mudah melayang seperti kapas yang dijemur di bawah sinar matahari ....”
Ledakkan kembali terjadi, salah satu bangunan gudang kembali hancur karena tembakkan meriam. Tubuh perempuan itu tambah gemetar, dirinya benar-benar dipenuhi ketakutan. Ia memang telah dilatih untuk tidak menunjukkan rasa takut akan kematian di hadapan musuh, tetapi saat di hadapan Odo latihan itu seakan percuma.
“Bagaimana? Setuju?”
Di bawah rasa ketidakberdayaan, perempuan itu mengangguk dan masuk dalam tawaran Odo. Dari pada disebut tawaran, itu lebih cenderung seperti ancaman. Melepaskan perempuan itu, anak itu segera berjalan ke arah gadis yang meringkuk kesakitan di atas jalan.
Odo menarik keluar proyektil dari pahanya menggunakan gaya elektromagnetik. Menyobek lengan kemeja, Odo menghentikan pendarahan pada luka gadis rambut pirang itu untuk sementara. Anak itu mengambil Potion dari dalam Gelang Dimensi, lalu memaksa gadis itu meminumnya.
“Apa yang kau lakukan padanya!” tanya panik perempuan rambut cokelat.
“Jangan cemas, ini hanya Potion. Kau cepat tembak suarnya, kalau tidak bisa-bisa tempat ini rata dengan tanah karena bongkahan besi itu ....”
Gadis itu berhenti meringkuk kesakitan, tetapi rasa lemas masih jelas terlihat pada wajahnya. “Kenapa kau menolongku? Padahal kami ingin membunuhmu .... Saat suar itu ditembakkan, kami sudah siap mati. Suar itu adalah tanda kalau rencana gagal dan kami berganti misi hanya menjadi penanda sasaran meriam,” ucap gadis rambut pirang itu dengan lemas.
Odo tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia hanya menatap datar seakan melihat hama yang tergelatak. Suara suar ditembakkan terdengar, anak laki-laki itu menoleh melihat asap merah yang mulai membumbung. Pada detik itu, tambakkan dari kapal selam berhenti.
Odo berdiri, lalu menoleh dan menatap datar perempuan rambut cokelat tersebut dengan senyum sombong terlihat jelas pada wajahnya. Merentangkan kedua tangan ke samping, ia berkata, “Baiklah, sekarang bawa aku ke sana .... Tenang saja, itu bukan berarti aku ingin menghabisi kalian semua karena berani merusuh di daerahku ini .... Aku hanya ingin bertemu dengan pimpinan kalian ..., ada bukan? Tentu saja ada orang yang menjadi komandan kalian.”
Mereka berdua gentar mendengar itu, anak yang mereka hadapi itu seakan tahu segalanya tentang rahasia-rahasia yang dimiliki oleh Kerajaan Moloia. Dengan rasa enggan mengisi dadanya, perempuan rambut cokelat memapah rekannya dan memandu Odo pergi ke kapal selam yang terlihat pada ujung laut beku.
Mereka berjalan di atas permukaan laut beku, menyusuri lantai es licin sejauh beberapa kilometer dari garis pelabuhan. Saat sampai di depan bongkahan besi yang mengapung di atas air tersebut, sesaat wajah Odo berseri seakan memastikan apa yang dirinya harapkan. Di atas kapal selam itu terdapat beberapa meriam, senapan mesin, periskop, dan sesuatu seperti antena dan pemancar sonar.
Melihat semua itu, Odo berbalik seraya bertanya, “Apa kalian punya yang seperti ini lagi di kampung halaman kalian?” Kedua perempuan yang memandunya tidak menjawab langsung, mereka memalingkan pandangan dengan rasa bersalah karena malah membantu target mereka ke markas sendiri.
“Tenang saja, aku sudah kehilangan niat membunuh kalian. Lagi pula ..., aku juga sudah menghabisi orang-orang yang ingin aku habisi tadi di dermaga, kalian tidak masuk dalam hal itu.”
Gadis rambut pirang yang dipapah mengangkat tangan kanannya sebagai tanda untuk rekannya di dalam kapal selam. Tetapi itu bukanlah sebuah sinyal untuk membiarkan mereka masuk, melainkan untuk menghabisi anak laki-laki yang berdiri membelakangi kapal selam itu.
Pergerakan moncong meriam pada geladak kapal dengan mudah Odo sadari, getaran memberitahukannya dengan sangat jelas kalau itu mulai membidiknya. Sebelum meriam itu ditembakkan, ia telah menghilang dari tempatnya dan berdiri tepat di atas geladak kapal.
Ia duduk menggantung kakinya dengan santai, lalu menyilangkan kaki seraya memasang wajah sombong. Tersenyum lebar bagaikan seorang penguasa, ia berkata, “Kau, tadi memberikan sinyal untuk membunuhku, bukan? Padahal sudah kubilang jangan melakukan hal yang tidak perlu ....”
Odo menyentuh permukaan geladak besi, lalu mengalirkan elektrik dan membuat seluruh fungsi radar dan sonar kapal selam tersebut terganggu. Menggunakan elektromagnetik, meriam-meriam dan senapan mesin yang ada di atas geladak dikendalikannya dan diarahkan kepada dua orang yang masih berada di bawah.
Mereka langsung menggigil, benar-benar tidak menyangka anak tersebut bisa melalukan hal semacam itu. “Ke-Kenapa kau bisa paham mekanisme Markas Bergerak kami? Siapa kau sebenarnya?!” tanya perempuan rambut cokelat.
“Aku ... Odo Luke, kalian sudah menyelidiki informasi tentangku, bukan?” Sedikit memalingkan pandangan dan mengamati geladak kapal selam tempatnya berada, anak itu baru paham kalau kapal selam tersebut hanyalah kelas penjelajah.
“Kelas penjelajah ini Markas Bergerak, ya ....? Berarti kalian tidak punya seperti ini lagi .... Ah, leganya. Kalau kalian punya benda-benda ini secara massa, pasti negeri mana pun tidak akan menang melawan kalian,” lanjut Odo seraya menatap datar mereka berdua yang masih berada di bawah.
Mereka berdua menatap dengan rasa kesal, sedangkan Odo hanya memasang ekspresi datar. Saat mereka terdiam, tiba-tiba pintu katub menuju lambung kapal terbuka dengan sendirinya. Gas keluar masuk dengan cepat, suara desis samar-samar terdengar. Menoleh melihat itu, Odo berkata, “Sepertinya .... orang di dalam meminta kita masuk.”