
Tirai hitam terbentang bersama gugusan bintang musim semi di langit, seakan menghapus kegelapan yang datang bersama malam. Angin berhembus sepoi-sepoi, suhu mulai turun karena hari akan mulai berganti dan memasuki momen dini hari. Sudah hampir 12 jam berlalu sejak duel Odo melawan Arca dimulai, namun kedua orang yang bertarung tersebut masih belum kembali dari Celah Dimensi.
Orang-orang yang tadi siang menonton memang tidak pulang ke rumah mereka masing-masing karena masih mencemaskan hasil akhir, namun mereka masuk ke kantor dan memilih untuk menunggu di dalam. Cahaya terlihat pada jendela bangunan-bangunan di sekitar lapangan latihan, suara-suara ramai masih terdengar, tanda masih ada orang yang melakukan kegiatan di dalamnya.
Berbeda dengan semua orang yang meninggalkan lapangan latihan, di dekat gudang penyimpanan seorang perempuan berambut biru duduk di atas tanah seraya melipat kedua lututnya. Ia menunggu tanpa mengeluh, dari pagi sampai detik itu dan tidak beranjak dari tempatnya.
Vil seakan tidak memiliki keraguan sama sekali dalam sorot matanya, dengan tenang menunggu kembalinya Odo dari celah dimensi dan tetap mempercayai rencana yang dibuat pemuda itu. Cahaya ungu pada gelang di lengan kanannya semakin redup jika dibandingkan dengan pertama kali benda itu bersinar sejak siang. Kulitnya terlihat semakin pucat, tanda-tanda keberadaannya di Dunia Nyata mulai memuai dan tubuhnya sekilas terlihat transparan.
Lisia menghampiri Roh Agung tersebut, menatap sedih perempuan rambut biru itu yang sedari siang sama sekali tidak makan atau minum. Lisia memang paham kalau Vil adalah Roh Agung yang tidak memerlukan hal seperti itu, namun tetap saja indra untuk merasakan panas atau dingin seharusnya tidak jauh berbeda dengan manusia.
Sedikit menata rok pendeknya, Lisia duduk bersimpuh di sebelah Roh Agung tersebut tanpa memedulikan pakaiannya akan kotor. Ia sekilas melirik kecil dengan rasa kagum melihat kesetiaan perempuan itu, hendak menanyakan sesuatu namun tidak jadi dan hanya berakhir dengan sedikit membuka mulut tanpa mengeluarkan suara.
“Kamu tak perlu menunggunya di sini, tidur saja kalau memang mengantuk,” ucap Vil seraya menatap perempuan yang duduk di sebelahnya.
Lisia sedikit terkejut, segera memalingkan wajahnya dan merasa canggung. Ia Sejenak terdiam. Udara malam semakin dingin, meski begitu hal tersebut seakan tidak mempengaruhi mereka berdua. Duduk mendekat ke Roh Agung tersebut, Lisia membagi efek pasif dari atribut sihir apinya dan ikut menghangatkan Vil.
Roh Agung tersebut merasakan kenaikan suhu yang signifikan, menatap heran calon pewaris keluarga Mylta tersebut dan berkata, “Engkau tahu, diriku adalah Roh Agung dengan atribut khusus air. Hawa dingin tidak terlalu berpengaruh pada diriku.”
“Eh? Be-Begitu, ya?”
Lisia semakin canggung. Itu bukan karena dirinya tidak biasa berbicara dengan orang asing, namun karena ia merasa bersalah pada Vil atas apa yang dikatakannya di pemukiman Klista beberapa hari lalu. Rasa bersalah atas situasi yang ada sekarang pun tambah membuatnya kehilangan rasa percaya diri, menundukkan wajah dan mulai murung.
“Percayalah pada Odo ....”
“Eh?” Lisia mengangkat wajahnya dan menatap dengan bingung.
“Odo pasti menang, dia tidak mungkin gagal kalau hanya menawan anak dari keluarga Rein itu.”
“Tu-Tuan Rein punya kekuatan semacam itu, loh!” Lisia terlihat sedikit kacau, wajahnya menunjukkan kontradiksi antara berharap Odo menang dan cemas atas fakta bahwa kekalahan Arca Rein juga dalam waktu singkat dapat mempengaruhi hierarki para bangsawan.
Memalingkan pandangan dari Vil dan sedikit menundukkan wajah, Lisia berkata, “Dia, Arca Rein bahkan ... bisa membuka retakkan dimensi dan membawa Tuan Odo ke celah dimensi. Sangat fatal sebelumnya saya tidak menyarankan aturan tambahan tentang batas tempat duel.”
Vil tersenyum ringan dan sedikit memahami individu seperti apa itu Lisia. Sedikit memiringkan kepala ia itu menyinyir tipis dan berkata, “Kurasa itu tidak perlu ....” Roh Agung tersebut memalingkan pandangannya, menatap ke langit dengan bulan sabit yang masih terlihat di antara gemerlap terang bintang musim semi. Seraya tersenyum tipis ia pun berkata, “Odo sudah merencanakan itu dari awal.”
“Hmm?” Lisia terkejut mendengar itu, ia menatap perempuan di sebelahnya dan mendekatkan wajah seraya bertanya, “Dari ... awal apanya?”
“Duel itu ....” Vil balik menatap Lisia, sedikit menyipitkan matanya dan berkata, “Nona Lisia tahu, Odo sudah memperkirakan kalau anak dari keluarga Rein itu akan datang ke kota ini saat eksekusi dan pasti akan membuat masalah. Karena itulah Odo memilih untuk memprovokasinya dan menantangnya duel seperti ini.”
Lisia hanya bisa menganga mendengar itu, merasa semua itu terdengar tidak masuk akal. Memalingkan pandangan dan menundukkan wajah, perempuan rambut merah itu dengan lirih berkata, “Kalau memang Tuan Odo sudah tahu dari awal, kenapa malah ia membiarkan situasi yang menyudutkan dirinya sendiri?”
“Memang Odo itu aneh ....” Vil sedikit terlihat kesal, memalingkan pandangan dari Lisia dan menatap muram ke tengah lapangan latihan. Dengan nada sedikit mengeluh ia berkata, “Semua yang terjadi sebenarnya hanya untuk sebuah alasan, memancing pemuda bernama Arca Rein itu untuk berkata ‘Iya’ dan menerima duel.”
“Tuan Odo ... mengharapkan Duel ini?” Lisia menaruh rasa penasaran pada perkataan tersebut, kembali menatap Vil dan bertanya, “Lalu ... kenapa dia marah padaku? Tadi siang dia benar-benar sangat marah padaku ....”
“Kurasa Odo marah karena alasan lain. Bukannya Odo berkata pada Nona untuk mengurus suku Klista? Mungkin dia marah karena itu ....”
Lisia tersentak, ia benar-benar mengerti alasannya dan tidak memiliki kalimat yang sesuai untuk membela dirinya sendiri. Kembali menundukkan wajahnya dengan muram, perempuan rambut merah itu pun berkata, “Maaf ....”
“Kenapa minta maaf padaku?”
“Itu karena—!” Perkataan Lisia terhenti, terlihat enggan untuk menjelaskan isi benaknya dan hanya memalingkan pandangan dari Roh Agung di sebelahnya.
“Hmm, terserah saja apa yang ingin Nona lakukan dan jujur diriku tidak terlalu memedulikannya. Asal tidak mengganggu Odo, itu tak masalah bagi diriku.”
“Eng ....”
Suasana terasa sedikit senyap, tanpa perkataan dan angin yang bertiup semakin terasa. Di bawah langit tengah malam, kedua perempuan itu duduk bersebelahan dan saling terdiam tanpa bertukar kalimat sama sekali. Namun saat mendengar suara ramai dari salah satu bangunan yang masih menyalakan cahaya, pokok pembicaraan kembali muncul.
“Apa ... kedua Butler keluarga Rein itu juga masuk ke dalam?” tanya Vil.
“Hmm ....” Lisia mengangguk kecil, kembali menatap perempuan rambut biru di sebelahnya dan menjawab, “Mereka ada di kantor paman Iitla. Para pedagang dari Serikat Lorian juga ada di sana, mereka dari tadi berdebat terus ....”
“Karena itu Nona ke luar malam-malam begini?”
Lisia menggelengkan kepala, menatap datar ke tengah lapangan latihan dan dengan nada muram ia menjawab, “Saya hanya cemas. Apa ... duel ini benar-benar perlu dilakukan? Nona Vil juga lihat sendiri tadi siang, ‘kan? Pertarungan seperti itu ... sudah sampai tingkat ingin saling membunuh .... Kenapa kedua calon pewaris Tiga Keluarga Kerajaan harus saling bermusuhan?”
Vil mengerti apa yang dicemaskan Lisia, namun dirinya tidak bisa berbicara banyak soal hal seperti itu. Roh Agung tersebut hanya diam sesaat tanpa menjawab, lalu dengan niat mengganti topik pembicaraan ia bertanya, “Kalau para Shieal, apa mereka juga ada di dalam? Tadi saat duel diriku juga sepertinya tidak melihat Minda dan Imania.”
“Eng?” Lisia menatap bingung mendapat pertanyaan tersebut, lalu balik bertanya, “Bukannya mereka sudah bilang kalau mau kembali ke Mansion Keluarga Luke dulu? Mereka katanya ingin mengabari Lady Mavis soal du—”
Crang!!
“Akh! Apa tidak ada cara yang lebih mulus selain ini?!” keluh Arca seraya bangun dan menatap kesal pemuda rambut hitam yang kembali ke Dunia Nyata bersamanya.
Odo segera balik memelototinya, lalu dengan kasar membentak, “Aku belum terlalu menguasai dimensi itu! Lagi pula, setengah otoritasnya kau yang pegang! Buka sendiri jalan pulangmu, sialan!”
Melihat mereka kembali dengan semangat, Lisia segera bangun dan hendak berlari ke arah kedua pemuda itu. Namun sebelum perempuan rambut biru tersebut bangun, Vil mendahuluinya dan langsung berlari ke arah Odo dengan sangat cepat. Saat sudah dekat ia langsung meloncat ke arah Odo, lalu menyeruduknya dengan ubun-ubun kepala.
Dukg!
“Ugh!”
Itu tepat mengenai perut Odo dengan sangat keras dan menjatuhkannya ke tanah. Vil langsung **** pemuda itu, lalu memeluknya dengan erat tanpa berkata apa-apa. Odo sempat ingin langsung menyingkirkan orang yang menyeruduknya tersebut, namun ia mengurungkan niat saat tahu itu adalah Vil.
“Ah, benar juga.” Odo terlihat karena serudukan tersebut, menyipitkan mata kanan dan berkata, “Kecepatan waktu di sana sekitar empat kali lipat .... Eng, apa batas gelangnya sudah hampir habis?”
Vil mengangkat tubuhnya dan tetap menduduki perut Odo, menggelengkan kepala dan menjawab, “Bukan itu ....”
“Lalu kenapa ...?”
Vil terdiam dan tetap tidak menjawab, hanya menatap penuh rasa lega. Ia memang berkata untuk percaya atau semacamnya pada Lisia, namun tetap saja Roh Agung tersebut tidak bisa menyembunyikan perasannya saat Odo datang dengan utuh meski sekarang ia telanjang dada.
“Hmm, aku paham.” Odo mengangguk, mengangkat tangannya dan mengelus kepala perempuan yang menindihinya tersebut. Dengan nada halus ia berkata, “Maaf membuatmu khawatir .... Setelah ini, bisa kupercayakan sisanya padamu, Vil? Aku sudah sampai pada batasnya .... Meski telah memotong beberapa sirkuit pengaman yang aku gunakan untuk pemulihan struktur sihir, tetap saja 48 jam lebih terus terbangun membuatku sangat lelah.”
“Hmm ....” Vil mengangguk satu kali dengan semangat, lalu dengan penuh percaya diri menjawab, “Sisanya serangkan padaku, Odo!”
“Terima kasih, Vil ....”
Perlahan mata pemuda rambut hitam itu tertutup dan ia langsung masuk ke dalam tidur lelapnya. Vil memegang tangan pemuda itu sebelum jatuh dari atas kepala, sekilas tersenyum melihat pemuda itu bisa mudahnya tidur dengan tubuh kotor seperti itu di atas tanah. Menurunkan tangan Odo dengan pelan, Vil bangun dari atas tubuh pemuda rambut hitam tersebut.
Roh Agung itu segera berbalik menghadap Arca Rein, menatap tajam putra sulung keluarga Rein tersebut dan bertanya, “Ini hanya memastikan, hasilnya bagaimana?”
Lisia baru sampai ke dekat mereka, bingung dengan apa yang terjadi dan sedikit cemas dengan hasil dari duel mereka. Ia berkeringat dingin menunggu jawaban dari putra sulung keluarga Rein tersebut.
“Ini kekalahanku.” Arca mengeluarkan jawaban tanpa rasa ragu atau menunjukkan sifat sombong, wajahnya seakan benar-benar mengakui kekalahan layaknya seorang ksatria. Balik menatap perempuan rambut biru di hadapannya, Rein kembali berkata, “Aku ... dari awal kalah telak.”
“Be-Benarkah?!” Lisia langsung terlihat senang, dengan ekspresi cerah ia memastikan, “Tuan Odo menang?”
Arca melirik kecil perempuan rambut merah itu, lalu dengan nada sedikit malas menjawab, “Ya, Odo Luke menang. Mulai detik ini semua apa yang kupunya adalah miliknya.”
Vil berdiri tepat di depan Arca dan mendekatkan wajahnya. Dengan tatapan tajam ia bertanya, “Kau telah tahu, bukan? Kau mendapat itu juga?”
Arca sedikit tersentak mendengar perkataan tersebut, menatap Vil seakan menyadari sesuatu dan menjawab, “Ya, aku mendapatnya dan tahu apa yang ingin Odo Luke lakukan. Sampai selesai menyiapkan kota ini dan mencegah perang, sepertinya kita akan bekerja sama, Roh Agung Laut Utara, Vil.”
Mereka berdua saling menatap, seakan berusaha memahami satu sama lain dan mengakrabkan diri. Kasus Arca hampir sama seperti saat Vil dan Nanra melakukan kontak fisik dengan Odo, melakukan jabat tangan dan langsung mendapat paket informasi yang seakan mengalir deras ke dalam kepala. Dari hal tersebut, Arca dengan jelas paham apa yang ingin Odo lakukan pada kota Mylta dan hendak menggunakan hasilnya untuk apa.
Arca dalam benak berkata, “Yah, aku telah kalah telak dan paham kalau Odo Luke tipe orang seperti itu. Kalau perempuan itu benar-benar mendukungnya, kurasa tidak ada salahnya menyesuaikan diri dengan langkahnya.”
Putra sulung keluarga Rien tersebut sedikit menghela napas dan mengambil satu langkah ke belakang, memasang ekspresi heran dan bertanya, “Lalu ..., apa Nona Lisia perempuan yang disebut akan menjadi sekretaris?”
Mereka berdua menatap ke arah Lisia yang terlihat bingung dengan alur pembicaraan. Vil menghela napas, menatap Arca dan menjawab, “Bukan dia .... Untuk bagian itu aku akan menjelaskannya. Kau tahu rincian kasarnya saja, bukan?”
“Hmm.” Arca mengangguk, sedikit mengingat-ingat inti tujuan untuk menghalau penyerangan kerajaan Moloia ke kota Mylta.
Vil menarik napas dalam-dalam, melihat ke arah salah satu bangunan dengan cahaya yang masih menyala dan ia pun menjawab, “Kalau begitu istirahat dulu sana, akan kusiapkan semuanya dan kita mulai rencananya nanti pagi. Odo juga sepertinya akan tidur sampai siang nanti.”
“Tak perlu,” ucap Arca seraya melihat ke arah salah satu bangunan yang masih menyalakan cahaya. Kembali melihat ke arah Vil ia pun berkata, “Mereka sepertinya masih bangun. Kita mulai saja rencananya. Kata Odo juga bukannya kita minggu ini tidak punya banyak waktu?”
Vil sesaat terdiam, mencerna perkataan tersebut dan segera mengangguk paham. Menghela napas ringan dan berbalik ke arah Odo, sembari berjalan Roh Agung tersebut berkata, “Baiklah. Sepertinya memang harus pakai rencananya yang itu. Minda dan Imania juga sudah kembali ke Mansion, kemungkinan besar kita memang tak punya banyak waktu.”
Vil berdiri di samping Odo yang tertidur pulas, berlutut di dekatnya dan mulai menggendong pemuda rambut hitam tersebut. Sekilas Arca merasa kalau posisi itu terbalik untuk seorang perempuan menggendong laki-laki. Menggelengkan kepala dan berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut, Arca berbalik menatap Lisia dan bertanya, “Apa kau bisa menyiapkan ruangannya, Lisiathus Mylta? Seharusnya ada satu tempat yang digunakan orang-orang itu berkumpul sekarang .... Odo memberitahuku soal itu.”
Lisia hanya terdiam, mengangguk tanpa mengerti inti percakapan yang berjalan sangat cepat tersebut. Perempuan rambut merah itu merasa seperti orang luar yang sama sekali tidak bisa menangkap pembicaraan yang ada. “Apa ... yang sedang kalian bicarakan?” tanya Lisia bingung.
Vil menghela napas ringan seraya menggendong Odo di punggungnya. Roh Agung tersebut berjalan ke arah Lisia dan berkata, “Nona, bisa antar kami ke ruangan Kepala Prajurit? Di sana ada pedagang dari Serikat Lorian dan kedua Butler Pribadi Tuan Arca, ‘kan?”
“Hmm, para pejabat kota juga ada di sana ....”
“Sempurna!” ucap Arca tegas. Putra sulung keluarga Rein itu sedikit memasang senyum sombong yang menjadi ciri khasnya, lalu menunjuk Lisia dan memerintah, “Antar kami ke sana, Lisiathus Mylta.”