Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 45 : Mutual-Evîn 5 of 10 “Red Rot” (Part 02)



 


 


Sadar tidak bisa menang melawan pemuda rambut hitam tersebut, mereka yang masih berdiri mulai berlarian meninggalkan kewajiban mereka. Rasa takut lebih kuat dari rasa keharusan memenuhi tanggung jawab.


 


 


Tidak mengejar, Odo menoleh ke arah bangunan utama pemukiman— satu-satunya tempat yang tidak terbakar oleh kobaran api.


 


 


Menunjuk ke sana, pemuda itu kembali berkata, “Berapa banyak yang akan kalian bayar untuk ini? Apa kalian siap dengan konsekuensinya karena melanggar perjanjian itu? Hah?!”


 


 


Suara menggelegar itu sampai terdengar ke tempat pemimpin Regu Khusus Moloia, Cornelisa Di’in, membuatnya gentar dan melangkah mundur. Secara insting dirinya sadar tidak bisa menang melawan orang semacam itu secara langsung. Segera Letnan Dua itu menodongkan senjatanya ke kepala Tetua Kliasta, lalu menarik pelatuk.


 


 


“Tch! Apa-apaan orang itu!!”


 


 


Namun sebelum Senapan Springfield itu menghancurkan kepala Half-Einhorn di hadapannya, logam pada senjata api tersebut meleleh dan peluru tidak melesat. “Ach!” Panas yang ada membuat Di’in menjatuhkan senjatanya. Logam pada Springfield benar-benar meleleh karena panas yang datang entah datang dari mana.


 


 


Menggigil ketakutan, perempuan rambut cokelat itu baru menyadari kesalahan besar atas apa yang telah dilakukannya. Sosok Odo terlihat jelas olehnya. Meski Di’in baru pertama kalinya melihat versi dewasa sosok itu, dirinya langsung mengenalinya bawah pemuda itu adalah salah satu individu yang tidak boleh diserang atau dijadikan musuh oleh pihak kerajaan Moloia. Sorot mata biru menyala pemuda itu seakan memberitahu Di’in semuanya.


 


 


Odo melangkah masuk melewati pintu utama dan menginjak lantai kayu. Namun, pelindung tipis bersuhu tinggi yang menyelimutinya tidak membakar lantai kayu tersebut karena ia tidak memasang itu di permukaan kaki.


 


 


Menatap tajam ke arah dua orang Moloia tersebut, pemuda itu kembali berkata, “Kalian melanggarnya .... Berarti tidak masalah kalau aku bunuh kalian, bukan?”


 


 


Di’in tidak bisa menjawab, dirinya terlalu takut dan mulutnya tertutup rapat dengan keringat dingin bercucuran. Berbeda dengan pimpinannya, Ra’an menodongkan senjata dan berkata, “Diam kau bedebah!! Ini misi yang diberikan Tuan kami!! Mundur kau!” Pembantu Letnan Satu tersebut tidak mengenali Odo.


 


 


Tap!


 


 


Segera membungkam bawahannya tersebut, Di’in menariknya mundur dan mencari jalan keluar untuk kabur. Melihat ke kanan, kiri, dan belakang dengan gemetar. Namun pintu hanya ada satu dan itu tepat di mana Odo berdiri.


 


 


Mendapat tatapan tajam darinya, lutut Letnan Dua itu langsung lemas. Ia melepaskan perempuan yang dibungkamnya, lalu terduduk gemetar di atas lantai kayu. Ra’an kebingungan melihat ekspresi penuh ketakutan atasannya itu. Menatap ke arah Odo, ia baru menyadari siapa sosok di hadapannya itu.


 


 


“Kau ... bocah yang waktu itu? Ke-Kenapa bisa wu—?”


 


 


Odo langsung mendekat dengan teknik Langkah Dewa, masuk ke dalam jarak satu meter di depan Ra’an dan menatap dingin perempuan rambut pirang tersebut. Wajah Di’in yang melihat itu langsung memucat, menyadari bahaya lalu segera menarik jubah Ra’an dan menyeretnya ke belakang.


 


 


Bouh!!


 


 


Kobaran api menyala tepat di tempat Ra’an berdiri sebelumnya. Jika tidak ditarik ke belakang, dirinya sudah terbakar habis oleh kobaran api putih tersebut. Segera bangun, kedua orang Moloia itu meloncat mundur dan menjaga jarak. Tubuh mereka tak berhenti gemetar, Ra’an yang benar-benar menyadarinya paham kalau pemuda itu lebih kuat dari bocah yang dulu mereka lawan.


 


 


Suasana di dalam aula bangunan utama pemukiman Klista itu menjadi senyap. Anak-anak dan perempuan yang sebelumnya gemetar menatap pemuda itu dengan rasa bingung, masih bercampur rasa takut dan mulai tumbuh harapan pemuda itu menyelamatkan mereka.


 


 


Odo menghampiri Tetua Suku, Roro Nia’an, melirik datar perempuan dengan rambut keperakan terurai itu dan bertanya, “Kenapa ... kau tidak melawan? Kau bisa menggunakan Nujum, ‘kan? Seharusnya kau tahu ini akan terjadi ....”


 


 


Tubuh Tetua itu gemetar mendapat tatapan dingin pemuda itu. Aura panas yang terpancar dari Odo membuat tubuh Roro berkeringat dalam rasa bersalah, menundukkan wajah dan menjawab, “Diriku tak bisa melawan Takdir. Ini ... sudah tak terelakkan.”


 


 


“Kalau tak terelakkan, lalu kenapa kau masih hidup?”


 


 


“Eh?”


 


 


Perempuan bertanduk itu mengangkat wajahnya, menatap terkejut dan bertanya-tanya kenapa pemuda itu bisa tahu ramalan seperti itu. Sebelum bisa menanyakan hal tersebut, Odo kembali berkata, “Takdir bukanlah hal yang mutlak, itu bisa diubah. Bahkan kematian pun bisa ditunda.”


 


 


Tanpa memedulikan Tetua Klista itu, Odo berjalan menghadapi kedua orang Moloia tersebut dan memberikan tatapan dingin pada mereka. Roro Nia’an hanya bisa terduduk lemas melihat punggung pemuda itu. Dengan sorot mata berkaca-kaca ia menatap. Kedatangan Odo tidak ada dalam ramalannya. Benar-benar menyaksikan sesuatu di luar takdir seperti itu, ia menyatukan kedua telapak tangannya dan mulai menundukkan kepala untuk berdoa.


 


 


Odo sekilas melirik ke arah Tetua Klista tersebut, lalu bergumam, “Dasar budak takdir.” Kembali menatap ke depan, kornea matanya berubah kehijauan dan menganalisa. Ia menggunakan Spekulasi Persepsi.


 


 


Beberapa gambaran terlihat, puluhan cara untuk melawan ia simulasikan dalam pikiran. Serangan pedang, sihir, dan bahkan taktik kotor dirinya coba dalam simulasi pikiran. Mendapat beberapa kesimpulan, pemuda rambut hitam tersebut menghela napas ringan dan bergumam.


 


 


“Atas datar informasi dari memori utama, izin tindakkan sampai tingkat B diperbolehkan. Mengganti tipe dari Magus ke Monk .... Shift selesai. Pengurangan segala jenis aktivasi struktur sihir. Proses Selesai. Peningkatan kekuatan fisik untuk pertarungan jarak dekat. Penyesuaian refleks. Pengurangan rasa sakit tingkat B. Adrenalin tingkat B ditambah. Proses selesai.”


 


 


Otot-otot Odo mengencang dan beberapa limiter dilepas, kekuatan fisik meningkat dan aktivasi sihir berkurang drastis. Menatap datar kedua orang Moloia di hadapannya, ia menganalisa dan mencari informasi lainnya. Itu semua ia lakukan secara otomatis, menggunakan formula struktur dari Auto Senses.


 


 


“Dinilai, berdasarkan informasi dalam memori dan kondisi lingkungan, senjata tajam dan serangan luas tidak efektif.”


 


 


Odo menjatuhkan belatinya ke lantai, lalu melepas Gauntlet hasil dari kristalisasi gas. Itu hancur seperti terkena pelapukan, lalu serpihannya jatuh ke lantai dan berubah menjadi abu. Memasang kuda-kuda dengan tangan dan kaki kanan cenderung ke depan, ia berkata, “Pemilihan bela diri, Karv Maga dipilih. Eksekusi.”


 


 


Odo langsung meloncat ke arah Ra’an yang paling dekat dengannya. Tinju tangan kanan melayang ke wajah perempuan itu. Ra’an menyeringai kecil, merasa pukulan amatir seperti itu tidak akan bisa mengenainya dan hanya menghindari ringan.


 


 


“Meski dia punya kekuatan sihir hebat, tapi memang benar dia amatir soal pertarungan jarak dekat,” benak Ra’na.


 


 


Memusatkan tumpuan barat pada kaki kanan yang ditekuk, Ra’an masuk ke titik buta Odo dan berteriak, “Dasar bodoh! Kau malah memilih pertarungan jarak dekat.” Perempuan itu melancarkan serangan balik dan hendak mengunci tangan kanan Odo.


 


 


Namun, pukulan tersebut hanya kamuflase untuk serangan utama. Tangan kiri Odo bergerak cepat dalam titik buta Ra’an yang tercipta karena perempuan itu fokus pada tinju tangan kanan.


 


 


“Eh?”


 


 


Odo langsung menjambak rambut sebahu perempuan itu, lalu menjegal kedua kakinya dan menjatuhkan Ra’an ke lantai. Tinju tangan dibuka, lalu tepakkan tangan kanan langsung diarahkan kencang ke wajah perempuan itu.


 


 


Puak!!!


 


 


Itu sangat keras sampai membuat otaknya bergetar dan darah mengalir dari hidungnya. Tidak berhenti dengan itu, Odo mengacungkan kedua jari tengahnya dan memperkuatnya dengan sihir penguat skala kecil. Naik ke atas tubuh Ra’an yang terkapar, Odo tanpa ragu menusuk lubang kedua telinga perempuan itu dengan jari tengah dan menghancurkan gendang telinganya.


 


 


Jleb!


 


 


 


 


Pemuda itu tidak menghindar, menerima serangan itu dengan tangan kanan, lalu mengalirkannya ke wajah Ra’in. Drak! Kaki Di’in menginjak wajah bawahannya sendiri dan membuatnya benar-benar kehilangan kesadaran.


 


 


“Sialan kau!!”


 


 


Di’in mengayunkan tangan kanannya dan memukul dengan punggung tinju. Itu tepat mengenai wajah Odo, namun pemuda itu memanfaatkan vektor pukulan tersebut dan menjadikannya momentum untuk meloncat ke belakang, lalu berputar di udara. Berguling di lantai dan segera bangun, ia kembali memasang kuda-kuda tanpa mendapat cidera berat.


 


 


Para Klista terbelalak melihat pertarungan tangan kosong yang sangat barbar tersebut. Mereka yang jauh dari konflik tidak pernah melihat pertarungan tangan kosong yang sangat tidak segan-segan seperti itu.


 


 


Menarik napas dan menyuplai oksigen ke pembuluh darah yang belum sepenuhnya pulih, Odo kembali menggunakan Spekulasi Persepsi untuk mencari cara menghabisi Di’in. Namun saat spekulasi ke-50, pemuda itu menyadari sesuatu yang membuatnya melepas kuda-kuda.


 


 


Itu berasal dari tatapan tajam Di’in yang berdiri di dekat bawahannya yang kehilangan kesadaran. Itu bukan tatapan seseorang penjahat, hanya terlihat seperti seorang perempuan yang ingin melindungi orang yang dianggapnya berharga. Dari itu Odo mendapat salah satu gambaran terburuk, yaitu dendam kesumat dari perempuan rambut cokelat tersebut.


 


 


Memang tidak ada alasan untuk Odo memedulikan dendam semacam itu dan dirinya juga bisa langsung membunuh kedua perempuan Moloia tersebut. Namun jika dirinya melakukan hal seperti itu, beberapa rencananya akan kacau dan kemungkinan tragedi lain akan terjadi di tempat berbeda karena dendam berkelanjutan.


 


 


“Formula Infinity dinonaktifkan ....”


 


 


Odo menghilangkan niat bertarungnya, berdiri tegak dan menatap datar penuh rasa kesal. Mendapat itu Di’in sempat terkejut melihat pemuda dengan ekspresi mati itu menampakkan wajah murkanya.


 


 


“Jawab aku .... Meski kau tahu betapa berharganya sebuah nyawa, kenapa kau melakukan pembunuhan seperti ini? Kalau paham arti kehangatan dan hasrat ingin melindungi, kenapa kau melakukan hal sekejam ini?”


 


 


Pertanyaan itu keluar dengan raut wajah sedih, seakan tidak rela pada sesuatu dan tersirat kebencian di dalam sorot matanya. Itu benar-benar membuat Di’in terdiam dalam rasa bingung, tak mengerti kenapa pemuda itu bertanya seperti itu di tengah pertarungan.


 


 


“Apa karena perintah?” tanya Odo kembali.


 


 


Di’in langsung memahami apa yang sedang ingin Odo bicarakan. Berusaha menenangkan pikirannya, perempuan rambut cokelat itu berlutut dan menggenggam tangan Ra’an untuk bersiap membawanya kabur.


 


 


“Ya, ini karena perintah Tuan kami! Kau seharusnya sudah bertemu dengannya!”


 


 


Odo menatap penuh kebencian mendengar omong kosong tersebut. Memejamkan mata, ia mengambil keputusan dalam benak dan berkata, “Bukannya aku sudah bilang padanya untuk menunda perang sampai tahun depan?”


 


 


“Perang? Kau anggap seperti ini perang!? Damai sekali pikiranmu! Hal seperti ini hanya awal! Meski kau membunuh kami sekarang juga, orang-orang Tuanku masih banyak! Mereka akan menyerang tempat ini dan membisakan kalian!! Dasar rendahan!”


 


 


Hardik perempuan itu mengisi ruangan, membuat orang-orang Klista yang mendengarnya mulai murka mendengar hal tidak masuk akal tersebut. Mereka menatap penuh kebencian, benar-benar mengutuk perempuan itu dan rekan-rekannya.


 


 


Odo mengacuhkan semua itu, menatap lelah dan bertanya, “Kau ... serius bilang seperti itu? Kau tahu aku masuk ke daftar itu, ‘kan?”


 


 


“Hah! Apa yang kau bicarakan?”


 


 


“Reaksimu tadi saat melihatku ....”


 


 


Di’in terdiam, kehabisan topik pembicaraan untuk mengulur waktu. Bertaruh pada kesempatan, perempuan itu langsung mengambil belati pada kantung senjata di pinggangnya dan melemparkan itu ke arah Odo.


 


 


Sekilas kilatan petir terlihat, lalu pisau yang melayang ke arah pemuda itu langsung tertancap ke lantai kayu karena gelombang elektromagnetik. Di’in terbelalak dan benar-benar lupa kalau pemuda itu punya kekuatan untuk memanipulasi medan listrik. Odo napas untuk mengurangi amarah dalam benak, lalu melangkah mendekati perempuan rambut cokelat tersebut.


 


 


“Ada apa? Apa kau kehabisan ide untuk mengulur waktu? Asal kau tahu, orang-orangmu di luar sana sudah kabur semua. Para bandit juga sudah mati .... Sekarang, apa yang ingin kau lakukan?”


 


 


Tubuh Di’in gemetar, benar-benar dikuasai rasa takut sampai dirinya tak bisa menjawab sama sekali. Intimidasi kuat sekali lagi dipancarkan pemuda itu. Berdiri di hadapan Letnan Dua tersebut, Odo menatap rendah dan berkata, “Sebenarnya aku ingin sekali membunuh kalian berdua sekarang juga .... Tapi, ini bukan masalah individu. Seharusnya kau paham, perang adalah masalah negeri dengan negeri, bukan individu dengan individu. Emosi seperti ini tak berguna, sungguh.”


 


 


Odo memegang kepala Di’in, lalu menghantarkan sebuah paket informasi ke dalam kepalanya. Seakan ada listrik yang menjalar ke dalam tubuhnya, informasi-informasi yang membuat perempuan itu masuk ke dalam dirinya dan membuatnya terbelak. Rasa bersalah seketika menguasainya, Di’in menyadari tujuan sesungguhnya Tuannya yang memerintahkannya untuk menjadi pemimpin Regu Khusus.


 


 


“A-Apa ini? Kena—? Kau ... membuat perjanjian itu dengan Tuanku?”


 


 


Odo mendekatkan bibirnya ke telinga Di’in, lalu berbisik, “Tak penting alasannya, lakukan saja jika kau ingin hidup dan menyelamatkan gadis itu.”


 


 


Di’in memaksa dirinya sendiri berhenti gemetar. Menarik napas dan menenangkan diri, ia membentak, “Tch! Diam kau!!”


 


 


Letnan Dua itu langsung menyikut wajah Odo sampai pemuda itu terjatuh ke lantai. Segera memanggul bawahannya yang kehilangan kesadaran, Di’in mengambil pisau tempur dari kantung Ra’an dan melemparkannya ke arah Odo.


 


 


Pemuda itu berguling menghindar, lalu segera bangun. Menatap tajam, ia berkata, “Kesabaranku sudah habis .... Sudah cukup! Kalian akan mati!” Odo meningkatkan tekanan sihirnya, kembali memaksa sirkuit sihir dan menggunakan Hariq Iliah dengan sekala lebih besar dari sebelumnya.


 


 


Api yang membakar pemukiman di luar mulai bergerak seakan hidup, menjadi susunan benang merah yang melayang masuk ke dalam bangunan dan menuju ke tempat Odo berada. Benang-benang merah itu meresap ke dalam tubuhnya, memberikan pemuda itu kekuatan dan memulihkan luka-lukanya. Kobaran api yang membaka pemukiman benar-benar terserap habis pemuda itu.


 


 


“Hah! Jangan besar ke-kepala kau! Dasar ras rendaha! Apa sepenting itu Half-Einhorn itu bagi kalian!!” bentak Di’in dengan raut wajah penuh kejahatan. Seringai lebar dipasang, tatapan sinis disebarkan dan memprovokasi semua orang di tempat tersebut.


 


 


“Kalau begitu, mati—!”


 


 


Namun saat Odo mengambil satu langkah dan hendak menyerang, tubuhnya tiba-tiba langsung ambruk dan kekuatan sihir yang telah dikumpulkan seketika lenyap darinya. Itu membuat semua orang Klista yang melihatnya terkejut.


 


 


“Hah! Dasar lemah,” hina Letnan Dua tersebut. Memanfaatkan kesempatan yang ada, ia segera berlari kabur membawa bawahannya.


 


 


Beberapa perempuan Klista ada yang berusaha mengejarnya. Namun saat Di’in memungut belati yang Odo buang dan menodong mereka, tidak ada yang berani menyerang dan Letnan Dua kerajaan Moloia itu pun kabur dengan mudah.


 


 


Melihat perempuan itu pergi, Odo mengendus ringan karena memang seperti itulah yang dirinya incar. Ia memang tidak rela membiarkan perempuan itu kabur setelah apa yang dilakukannya. Namun jika Odo membunuh mereka, koneksi dengan pihak Moloia akan terputus dan kemungkinan besar kesempatan untuk mengurangi dampak peperangan akan hilang.


 


 


“Sialan .... Kalau saja aku tidak meremahkan ini dan bergerak lebih cepat,” benak Odo. Perlahan matanya tertutup dan kesadarannya menghilang.