Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 70 : Regalia II (Part 04)



“Ta-Tadi  itu⸻?”


“Apa tadi air dari Danau Millia?” tanya Odo sebelum sang Pontiff selesai berkata.


“Hmm, itu benar …. Kenapa bisa tadi … dirimu ….”


“Akan lama jika aku menjelaskannya. Singkat kata ..., seperti inilah kondisi tubuhku.”


Odo bangun tanpa mengucapkan ikrar kedua yang seharusnya dilakukan untuk mengikat jiwanya dengan Kontrak Roh. Seperti yang pemuda itu sampaikan kepada Arteria sebelumnya, ia menatap lurus ke arah sang Raja dan berkata, “Aku tidak akan melakukan Ikrar Roh, Yang Mulia. Aku tak bisa melakukan hal semacam itu …. Jadi, boleh kita lewati saja?”


“A⸻?!” Raja Gaiel terkejut mendengar hal tersebut, segera melangkah mendekat dan berkata, “Putra Sahabatku, engkau tak bisa seperti itu melewati Ikrar seakan itu tidak penting. Prosesi harus berjalan sesuai tradisi, Ikrar itu tidak boleh ditinggal seperti itu⸻!”


“Yang Mulia ….” Pontiff menghadang Raja Gaiel, lalu menggelengkan kepala dan menyampaikan, “Seperti yang ia sampaikan, Ikrar Roh tidak bisa dilakukan …. Sumpah patuh hanya bisa dilakukan dari Mortal kepada makhluk yang lebih tinggi. Namun seperti yang Anda lihat tadi, Tuan Odo sebelumnya ….”


“Apa Anda ingin bilang kalau Putra Sahabatku telah mencapai tingkat yang sama seperti yang pernah Penyihir Cahaya capai?” tanya Raja dengan cemas.


“Memang sulit untuk dipercaya …, namun memang seperti itulah kenyataannya. Yang Mulia Gaiel, Ikrar Roh merupakan Sihir Kontrak yang berkaitan dengan jiwa. Namun untuk mengikat jiwa yang lebih tinggi derajatnya, saya mustahil melakukan hal tersebut.”


Raja tertegun mendengar itu, melangkah ke belakang dan saking terkejutnya hampir tumbang. Meletakkan telapak tangan kanannya ke kening dan tampak begitu cemas, Raja dengan lirih bergumam, “Bagaimana ini bisa terjadi, siapa yang menyangka kalau keturunannya juga tak bisa diikat dengan Ikrar Roh.”


Ketika sang Raja menatap ke arah Odo dan melihat senyuman tipis pemuda itu, kedua matanya terbuka lebar dan seketika wajahnya sedikit memucat. Pemuda itu telah menyadari semuanya, baik rencana Raja Gaiel ataupun masalah Ikrar.


Alasan Raja tidak mencemaskan pergerakan yang akan diambil Odo setelah mendapat gelar Viscount karena adanya Ikrar Roh. Dengan Sihir Kontrak Kepatuhan tersebut, Odo tidak akan mengkhianati Arteria dan Raja bisa mengendalikannya. Namun setelah jaminan tersebut tidak bisa digunakan, Odo Luke benar-benar mendapatkan apa yang dirinya inginkan tanpa satu pun kekangan.


“Anak ini …, apa dia sudah merencanakannya dari awal? Penolakan secara terang-terangan dari beberapa bangsawan yang lebih cepat dari perkiraan ku, lalu tidak bisa diberlakukannya Ikrar Roh …. Sepertinya aku tertinggal satu langkah. Jika pengikat mutlak untuk mengontrolnya tidak bisa berlaku, berarti satu-satunya pilihan hanyalah mengandalkan Keluarga Rein untuk mengawasi anak ini.”


Membaca apa yang sedang dipikirkan Raja Gaiel dengan sangat jelas, Fiola sempat terkejut dan segera membisikkan sesuatu kepada Mavis. Mulut majikannya sesaat terbuka tipis, ingin mengatakan sesuatu kepada sang Raja namun kembali tertutup setelah mempertimbangkan beberapa hal. Mavis merasa lebih baik diam dan tidak mengambil langkah gegabah.


Odo yang dengan jelas memahami reaksi sang Raja. Memalingkan pandangan ke arah Thomas Rein dan istrinya, ia memasang senyum tipis dan meletakkan jari telunjuknya ke kening.


Thomas dan istrinya tidak memahami hal tersebut, karena memang pesan yang Odo berikan ditujukan kepada putra mereka, Arca Rein.


Sembari menurunkan telunjuknya, Odo menarik napas dengan lega karena tujuannya tercapai meski ada beberapa hal yang tidak terduga. “Untuk sekarang ini kurasa sudah cukup. Aku harap masalah lain tidak muncul lagi,” benak Odo.


Fiola hanya bisa membaca pikiran Odo yang ada di permukaan. Saat sang Huli Jing tersebut masuk lebih dalam, isi kepala pemuda itu sangat pekat dengan informasi layaknya sebuah kertas polos yang penuh dengan oret-oret ratusan rumus. Itu sama sekali tidak bisa dirinya dipahami.


Odo menghadap sang Raja yang memucat, lalu sembari menatap lurus matanya menyampaikan, “Yang Mulia tak perlu cemas, Anda bisa memegang perkataanku ini. Aku sangat menghargai Putri Arteria dan sebisa mungkin akan melindunginya, aku juga mencintai keluargaku dan tak ingin mereka dalam bahaya …. Kerajaan Felixia merupakan negeri tempatku berada, karena itu sudah sewajarnya aku melakukan yang terbaik untuk menjaganya …. Anda bisa memegang perkataanku ini dan tolong jangan cemas seperti itu.”


Pemuda rambut hitam tersebut kembali tersenyum, lalu layaknya seorang pemenang ia berkata, “Apa … ini pertama kalinya Anda tertinggal satu langkah dalam pertarungan seperti ini?”


Raja Gaiel memaksa senyuman di wajah, tubuhnya seketika gemetar mendengar hal tersebut. Bukan karena rasa takut, namun tertantang dan membuatnya teringat kembali ketika dirinya masih muda dan berselisih dengan Keluarga Garados.


“Baru satu langkah saja engkau sudah berani besar kepala di hadapanku, Odo Luke?”


“Tentu saja. Meski pun Anda meremehkan ini, namun tetap aku yang lebih unggul. Tujuanku tercapai, tidak ada kerugian yang aku derita. Tak berlebihan kalau ini disebut kemenangan sempurna.”


“Huh, terus saja bicara angkuh seperti itu. Kira-kira apa engkau masih bisa bersikap seperti itu setelah terjun ke dunia para aristokrat yang sebenarnya?”


Odo hanya tersenyum kecil seakan menertawakan. Pada detik itu, ia paham kalau sudut pandang sang Raja soal memimpin sangatlah berbeda dengannya. Sebuah Feodalisme dan kalangan Aristokrat, kedua hal tersebut di mata Odo hanyalah sebuah barang antik yang sudah ketinggalan zaman.


Bagi dirinya yang pernah melihat berbagai macam bentuk pemerintahan untuk mengatur sebuah negeri, monarki yang menggunakan garis keturunan dan dinasti merupakan salah satu bentuk yang rapuh. Mudah terkikis oleh zaman, dan juga mudah goyah karena kehendak masyarakatnya sendiri yang terus berkembang.


ↈↈↈ


Gelap datang bersama dengan gugusan bintang, semilir angin membawa aroma bunga malam yang bermekaran di tanam. Di saat para tamu masih berada aula, Odo melangkahkan kakinya keluar dan menuju teras depan untuk menghirup udara dengan lepas.


Meski rencana untuk mendapatkan wewenang bangsawan dan gelar Viscount berhasil, wajahnya sama sekali tidak memancarkan rasa senang. Murung, kesal, dan terkesan lelah, itulah yang ia perlihatkan saat menatap ke arah bunga yang bermekaran di malam hari.


Menyandarkan tubuh ke pilar marmer, ia kembali mengingat apa yang terjadi setelah pemberian gelar dan prosesi pertunangan selesai. Para tamu yang pro terhadap Odo menghampirinya dengan sekaligus, menanyakan hal-hal politik dan seakan menuntutnya untuk bekerja sama terkait tempat yang mereka pimpin.


Odo memang mengharapkan hal tersebut. Namun melihat para bangsawan secara terang-terangan terbagi menjadi dua kubu seperti itu, dalam benak ia merasa cemas dengan potensi perang saudara atau konflik dingin jika mengambil langkah yang salah.


“Yah, aku rasa ini keputusan tepat menjadikan Arca rekanku. Kalau tidak ada dia selama rencana berlangsung, rasanya sangat melelahkan mengurus hal seperti itu sendirian ….”


“Hmm, tak kusangka kamu akan berkata seperti itu, Tuan Viscount.” Arca yang ikut keluar dari aula menghampiri pemuda rambut hitam tersebut, menatap heran ke arahnya dan kembali berkata, “Namun, kalau bisa kamu tidak meninggalkan semua para bangsawan itu kepadaku.”


“Maaf, aku hanya tidak betah.” Odo menoleh ringan, sedikit memutar pola matanya ke samping dan mengeluh, “Lima jam lebih berbincang dengan mereka di dalam ruangan dengan aroma seperti itu …. Huh, rasanya kepalaku sakit.”


“Aroma? Memangnya kenapa dengan itu?”


“Asal kau tahu, penciuman ku cukup tajam. Mencium bau parfum yang sangat menyengat terus menerus rasanya …. Selain itu, mereka semua juga terlalu tergesa-gesa ingin mengeksploitasi atau membangun relasi denganku. Aku berharap para orang-orang itu sedikit menyembunyikan ambisi dan ketamakan mereka.”


“Ah, aku paham ….”


Seraya kembali menatap lawan bicaranya Arca pun berkata, “Hal semacam itu seharusnya dilakukan para orang tua saja, kita anak muda tidak seharusnya dibebani hal menyusahkan dan membosankan. Sungguh, aku memang tidak bisa suka hal semacam ini.”


Arca mengerutkan wajahnya. Putra Sulung Keluarga Rein tersebut sedikit melonggarkan dasi, lalu melepas kancing jas hitam yang dikenakannya. Menatap ke arah halaman, sejenak ia memasang senyum tipis dan tampak bersemangat untuk beberapa alasan.


“Apa kau tidak perlu pergi ke Paman Thomas dan Tante Calista? Aku dengar kau jarang bersama mereka karena selalu keluyuran, ‘kan? Paling tidak manfaatkan momen sana!” ucap Odo dengan nada datar.


Mendengar hal tersebut, Arca segera melirik tajam dan membalas, “Kamu juga, kata Nona Julia kamu sering kabur dan bahkan tidak pernah mengikuti acara minum teh, ‘kan? Jelas saja tidak banyak yang heran saat melihat kamu. Maksudku, anak yang usianya kurang dari sepuluh tahun sebongsor dirimu.”


“Acara minum teh?” Odo tampak bingung, menatap penasaran dengan sedikit memiringkan kepalanya.


“Eh? Serius? Bahkan itu kamu tidak tahu? Aku kagum kamu tidak membuat kesalahan saat acara tadi, ya ….”


“Arteria mengajari ku sebelum acara dimulai ….” Odo kembali menatap ke arah halaman, sedikit menyipitkan mata dan bergumam, “Kau tahu, orang-orang di sekitar ku cenderung tidak akan menjelaskan kalau tidak ditanya …. Rasanya menyebalkan dianggap serba bisa dan serba tahu.”


“Aku rasa tidak juga, tadi Nyonya Mavis sangat cemas loh. Beliau bahkan sampai membentak Raja karena tidak diperbolehkan memberitahu kamu soal pemberian gelar dan prosedur pertunangan.”


“Hmm, hanya Ibuku saja yang memperlakukan ku seperti itu.” Odo memasang senyum tipis, tampak lega dan menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya dengan lepas.


Arca yang melihat itu sedikit paham apa yang Odo rasakan. Sepandai atau sedewasa apapun seseorang, Ibu selalu menjadi sosok yang akan melihat darah dagingnya sebagai anak-anak. Terus ingin menjaga dan mencemaskannya sampai kapan pun.


“Bicara soal Tuan Putri Arteria, aku tadi sempat dengar hal aneh dari Raja. Odo, apa sebelumnya kamu pernah bertemu dengannya? Bukannya kemarin-kemarin kamu masih di Mylta?” tanya Arca seraya meletakkan tangannya ke dagu dan menatap curiga.


“Ah, Raja juga membicarakan hal itu juga ternyata ….”


Odo berhenti bersandar. Menghadap ke arah Arca, pemuda rambut hitam itu membuka sarung tangan kirinya dan mulai mengaktifkan Puddle. Air bercahaya mulai keluar dari telapak tangan, menetas ke lantai dan membuat genangan kecil.


Melihat hal tersebut, Arca dengan jelas paham bahwa itu kemampuan salah satu Native Overhoul yang bekerja untuk pemuda rambut hitam tersebut. Dengan tidak percaya Arca perlahan membuka mulut dan ingin bertanya. Namun ⸻


“Seperti inilah cara ku bisa bertemu dengan Tuan Putri.”


Suara Odo menggema di dalam kepala Arca, persis seperti kemampuan Radd Sendangi milik Elulu. Pada detik itu juga Putra Sulung Keluarga Rein tersebut mengambil kesimpulan, lalu dengan sedikit pucat bertanya, “Kamu … bisa menyalin kemampuan Native Overhoul?”


“Kurang lebih seperti itu, untuk beberapa alasan aku bisa menyalin kemampuan mereka. Tapi, bukan berarti aku bebas melakukannya. Jika ada Native Overhoul yang bisa mengubah bentuk tubuh dan kemampuannya berkaitan dengan anggota tubuh tambahan seperti tanduk, ekor, sayap, atau yang lainnya, kurasa aku tidak bisa menirunya ….”


Jawaban tersebut membuat Arca menelan ludah dengan berat, itu menjelaskan kenapa Odo bisa dengan mudah mengambil alih The Ritman Library darinya. Paham pemuda di hadapannya tersebut bukanlah seorang Native, Arca kembali menyimpulkan cara yang digunakannya masih tergolong sihir dan memang bukan kemampuan khusus.


“Odo, memangnya apa yang ingin kamu lakukan dengan kekuatan semacam itu? Menyalin kemampuan para Native, apa kamu ingin menggunakannya untuk menekan para bangsawan supaya tunduk kepadamu?”


“Huh?” Odo memasang ekspresi datar, lalu menutup telapak tangannya dan menonaktifkan Puddle. Sembari kembali mengenakan sarung tangan, pemuda rambut hitam itu menjawab, “Mengurus para bangsawan itu kewajibanmu sebagai orang dari keluarga Rein.”


“Lalu, untuk apa … wewenang dan kekuatan yang kamu miliki itu? Kamu bahkan tidak terikat Ikrar, benar-benar tanpa pengekang ….”


“Itu masih rahasia. Namun, untuk saat ini ….” Odo meletakkan jari telunjuknya ke depan mulut, lalu sembari menyeringai gelap ia pun berkata, “Mari kita berburu Naga, baru setelah itu kita akan membersihkan ranting-ranting tidak berguna dari Kerajaan ini.”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan :


See you next time!


Next lanjut Regalia III sekaligus last chapter di Arc 02 ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


Tapi!


Dilarang promo di cerita ini!


Oke?


Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.


Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.


Di Facebook sudah ada tempat khusus.


Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.