
Catatan: Bagian kali ini sedikit tidak cocok untuk anak umur kurang 21 tahun. Bijaklah dalam membaca!! Penulis tidak bertanggung jawab atas efek dari isi CH kali ini!!
Ruangan tersebut penuh dengan berkas-berkas, ada yang diletakkan di atas meja kerja dan ada juga yang tersusun di meja tamu. Interior yang ada di dalam tempat tersebut dikhususkan untuk pekerjaan pengarsipan dan pembuatan agenda, dinding serta lantai terbuat dari kayu, langit-langit berdekorasi dengan lampu hias dari kristal sihir.
Di depan meja kerja, Nanra duduk sembari mengerjakan beberapa tumpuk berkas. Anak gadis itu mengenakan blus putih dengan aksen dasi carvan warna ungu yang dimasukkan ke dalam pakaian. Seakan tidak cocok dengan penampilannya yang masih belia, ia mengenakan celana ketat hitam yang dirangkap dengan rok kotak-kotak ungu.
Sekilas ia merasa bingung kenapa bisa berada di tempat tersebut dan berpakaian seperti itu, namun hal tersebut dengan cepat dilupakannya dan tangan gadis rambut putih itu kembali bergerak menulis hal yang bahkan dirinya tidak ketahui apa itu. Suasana terasa senyap, hanya ada suara goresan pena bulu ke atas kertas yang terdengar. Sinar yang masuk dari jendela menjadi satu-satunya sumber cahaya, namun itu cukup terang untuk menyinari ruang dengan desain kantor klasik tersebut.
Di tengah suasana tenang itu, tiba-tiba pintu kantor terbuka dan seorang pemuda rambut hitam masuk. Ia mengenakan setelan formal, terdiri dari jas dan celana hitam. Pemuda berdasi merah itu segera melangkahkan kaki dan menginjak lantai dengan sepatu pantofel tanpa membuat suara. Menghampiri Nanra dan berdiri di sebelahnya, pemuda itu pun menatap tanpa berkata apa-apa.
“Odo ...?”
Nanra menoleh, melihat wajah pemuda itu yang tertutup rambut poni. Itu memang Odo Luke, namun sorot mata dan parasnya sedikit terasa berbeda di mata gadis tersebut. Pemuda itu terlihat seakan berkilau-kilau, penuh kegagahan dan sorot matanya begitu memikat
Tanpa berkata apa-apa, Odo sedikit membungkuk dan mengangkat dagu Nanra. Ia langsung mencium gadis kecil itu, lidahnya ia masukkan dan air liur mereka saling bertukar tempat dari mulut ke mulut. Gadis itu terkejut dan hendak mendorong, namun pada akhirnya ia tidak melawan. Mulai pasrah dan memejamkan mata dengan raut wajah memerah.
Odo semakin liar mencium bibirnya, memegang bagian belakang kepala gadis itu dan mendorongnya mendekat. Tubuh Nanra semakin memanas, kedua kakinya mulai lemas, dan sebuah gejolak aneh terasa di antara selangkangannya. Ketika mereka berhenti berciuman dan saling menjauhkan wajah, air liur yang membentuk benang tipis menghubungkan mulut mereka.
Tubuh Nanra semakin gemetar, bukan karena jijik namun hasrat dalam gadis itu semakin bergejolak. Sebelum wajah semakin saling menjauh dan benang air liur putus, hasrat mendorong Nanra bangun dari kursi dan mencium balik pemuda itu. Nanra memegang kedua sisi pipi Odo, menahannya dan mencium dengan paksa. Itu begitu polos, kasar dan sama sekali tidak berpengalaman. Sangat berbeda dengan apa yang pemuda itu lakukan tadi.
Berhenti mencium karena sadar apa yang dirasakan berbeda, gadis itu melepaskan Odo dan membiarkannya berdiri tegak. Nanra hanya bisa menunduk dengan wajah memerah, merasa menyedihkan karena bertindak seperti itu dan mempermalukan dirinya sendiri. Dengan ekspresi malu-malu, ia mendongak untuk melihat Odo.
“Nanra ..., aku sudah tidak bisa menahannya .... Maaf.”
Odo langsung berlutut dan memeluk tubuh kecil gadis itu, menenggelamkan wajahnya ke dalam dada yang belum tumbuh dan mengendus-endus penuh gairah mencari aromanya. Nanra tidak menolak itu, ia memeluk kepalanya dan berkata, “Odo ..., aku juga ....”
Nanra melepaskan pelukan, melangkah mundur, lalu kembali duduk di kursi dan tetap menghadap ke arah Odo. Sedikit melebarkan selangkangannya dengan wajah semerah buah delima, Nanra menawarkan tubuhnya kepada pemuda di hadapannya. Bagian di antara kedua pahanya terlihat basah, air liur mulai mengalir keluar dan napasnya terengah-engah.
“Kumohon ..., Odo ....”
Perkataan memelas penuh hasrat itu membuat Odo bangun, sesaat terdiam dan segera menyingkirkan semua perkakas di atas meja kerja. Memberikan tatapan datar kepada gadis itu, ia segera mengangkat Nanra dan membaringkannya ke atas meja. Rambut putih gadis itu terurai kacau di antara perkakas yang tersingkir dari tengah meja, pakaian mulai kusut saat Odo mulai meraba-raba tubuhnya.
Buah dada yang masih belum tumbuh, kulit halus yang masih seperti bayi, dan tekstur yang tidak terlalu kenyal. Meski tubuhnya masih sangat jauh dari kata wanita matang, namun Nanra memiliki daya tariknya sendiri. Odo mengangkat paha gadis itu, meraba-raba teksturnya yang tertutup kain ketat dari celana hitam yang dikenakan. Mendekatkan wajah, pemuda itu menjilat-jilat leher, bibir, dan diakhiri dengan menggigit lembut telinga gadis itu.
Nanra hanya bisa mendesah, didominasi Odo dan dijamah sepenuhnya. Kancing blus dilepas satu persatu, dasi tarik dan tangan pemuda itu pun mulai meraba dan menyentuh langsung buahnya yang belum matang. Saat tangan kiri Odo menjamah dada gadis itu, tangan kanan mulai bergerak menuju ke selangkangannya dan mulai menyentuh kehormatan Nanra.
“An~Ah~ O ... do~! Jangan itu ....! A—!”
Nanra mencapai klimaks dan langsung mengulat, cairan kental yang keluar darinya membasahi tangan pemuda itu. Tersenyum ringan dan memberikan tatapan datar, Odo mulai melepas sabuknya dan menurunkan celana. Narna sempat panik melihatnya melakukan itu, mulai mengira-ngira apa yang akan dilakukan.
Seperti dugaan, Odo merobek celana ketat gadis itu tepat pada bagian di antara selangkangannya dan bersiap untuk memasukkan kejantanannya ke dalam kehormatan gadis itu. Nanra menolak, mendorong tubuh pemuda itu dengan lemas. Tidak memedulikan itu, Odo menaikkan kaki Nanra dan membuka selangkangan gadis itu lebar-lebar.
Pemuda itu langsung memasukkannya tanpa peringatan, selaput keperawanan pecah dan darah mengalir. Itu sangat menyakitkan untuk Nanra, tubuhnya seakan disodok dengan tongkat besi besar yang panas. Namun sebelum satu menit berlalu, rasa sakit itu berubah dengan kehangatan yang mengisi perutnya.
“Lihat ..., masuk sampai sini,” ucap pemuda itu seraya menyentuh bagian bawah pusar Nanra.
“Beris—Syiiik~!”
Odo mulai menggerakkan pinggulnya, mendekap tubuh Nanra dan mengangkatnya. Tanpa sadar kedua kaki gadis itu mengunci, balik memeluk dan merasakan kenikmatan yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya.
“Odo ... Odo .... Odo .... Ini, aku sudah—!”
Kenikmatan membuat kesadaran Nanra seakan melayang, tanpa sadar melepaskan dekapan dan menguat ke belakang. Pemuda itu tidak menangkap, rasa kenikmatan seketika tergantikan dengan detak terkejut dan membuat tubuhnya gemetar. Lalu ....
.
.
.
.
“Ha’ah ....!”
Nanra bangun dengan panik di atas tempat tidur, melihat ke kanan dan kiri dengan gelisah. Ruangan yang cukup gelap pada salah satu kamar panti asuhan Inkara, di sebelah kanannya ada Nesta yang tertidur lelap bersama si kembar Mila dan Erial. Memahami apa yang terjadi, wajah Nanra langsung memerah dan paham apa yang terjadi sebelumnya hanyalah mimpi.
“Su-Sungguh? Tadi ... aku memimpikan seperti itu dengannya?!”
Gadis itu sampai tidak percaya pada dirinya sendiri. Segera keluar dari selimut dan turun dari ranjang, Nanra merasakan sesuatu yang aneh di antara selangkangannya. Wajahnya tambah memerah, paham apa hal itu karena dirinya kurang lebih telah mendapat pendidikan seksual dini yang memadai.
Membuka gaun putihnya dan memastikan dengan tangan, itu seperti yang dirinya duga dan benar-benar membuat Nanra malu. Ia langsung berjongkok, menutup wajah dan gemetar tidak karuan mengingat kejadian yang terjadi dalam mimpinya tadi.
“Aku .... Mimpi basah membayangkannya!!!!” jeritan batin seorang gadis yang sudah mulai menginjak kedewasaan.
Setelah itu, waktu pun berlalu sampai pagi dan Nanra sama sekali tidak bisa tidur setelah membasuh tubuhnya. Pikirannya penuh dengan rasa malu, tidak kembali tidur karena takut kembali memimpikan hal seperti itu. Pada akhirnya ia membawa buku yang kemarin dipinjamnya dari perpustakaan kota, lalu duduk di ruang makan untuk membaca dan mencegahnya tidur.
Siska yang telah bangun dini hari berjalan ke ruang makan. Ia melihat Nanra duduk serius dengan bukunya, mengira bahwa gadis itu memang belakangan ini lebih rajin belajar dan sedikit tersenyum senang karena itu.
“He-hem, apa dia disuruh Tuan Odo baca buku lagi? Sepertinya mereka semakin akrab. Lega rasanya,” benak perempuan rambut pirang yang masih berpakaian piama tersebut.
Siska sedikit mendengar kabar simpang siur tentang Odo Luke yang pergi dengan Naran dan hal itu dipastikan dengan penjelasan gadis tersebut saat kembali kemarin lusa. Sedikit senang dengan hubungan mereka semakin dekat, ia memutuskan untuk tidak mengganggu Nanra dan segera pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Namun, pada kenyataannya Nanra duduk dengan tubuh gemetar dan masih sesekali membayangkan apa yang terjadi di dalam mimpinya tadi. Rasa malu mulai berubah dengan hasrat aneh, membuat dadanya berdebar-debar dan tidak membiarkannya tenang. Apa yang dibacanya sama sekali tidak ada yang masuk ke dalam kepala karena hal itu.
“Ke-Kenapa aku sampai seperti ini ...!? Perasaan yang ada di benak ini, jangan bilang itu benar-benar ....” Nanra menjatuhkan wajahnya ke atas buku, menghela napas panjang dan sedikit bingung harus melakukan apa.