
Pada hari berikutnya di kota pesisir. Bahkan sebelum waktu berlalu empat jam setelah keramaian di depan toko bubar, pemuda rambut hitam itu membuka matanya dari tidur dan segera menyusun beberapa hal dalam kepala. Jadwal apa saja yang harus dilakukan, apa yang perlu diurus diurutkan berdasarkan prioritas, lalu ia menyimpulkan berapa waktu yang diperlukan untuk melakukan semua itu dalam sehari.
Menarik napas dalam-dalam, Odo hendak bangun dari tempat tidur dan segera memulainya. Namun dekapan Mavis menghentikan pemuda rambut hitam itu, memeluk erat di sebelah kanannya dan berbaring pada satu ranjang yang sempit. Wanita rambut pirang yang tidur tanpa melepas gaunnya itu benar-benar memeluk Odo dengan erat, menjadikannya bantal guling dalam tidur lelapnya sampai-sampai membuat pemuda itu tidak bisa bergerak bebas.
Sesaat Odo terdiam, merasakan kesunyian dalam kamar yang membuat dadanya terasa ditekan kencang oleh atmosfer sesak. Bagi Odo, tidak bisa melakukan apa-apa saat terbangun merupakan hal yang tak menyenangkan
Mengingat kembali beberapa jam lalu, memang sedikit terasa wajar bagi Odo dipeluk seperti sekarang dan tidur satu ranjang dengan ibunya. Tepat setelah Fiola membubarkan kerumunan dan menjelaskan beberapa hal kepada orang-orang penting di sana, Mavis yang mengejar Odo masuk ke dalam toko langsung bertengkar dengannya. Alasannya tak lain adalah karena gumaman pemuda itu yang terdengar Mavis.
“Memang lebih baik aku mati saja dan tak usah mengurus semua ini ....”
Kalimat tersebut cukup menusuk Mavis sebagai seorang ibu, membuatnya marah dan menegur Odo habis-habisan. Lalu, sebagai bentuk ekspresi kecemasan Mavis, setelah pertengkaran pendek tersebut pada akhirnya anak dan ibu tersebut tidur bersama setelah sekian lama tak pernah melakukannya. Menatap langit-langit kamar dengan pencahayaan redup lampu kristal, pemuda rambut hitam itu sejenak kembali memejamkan mata dan memikirkan kembali tindakannya.
Mavis tiba-tiba tambah memeluk erat putranya, lalu dengan suara sendu melindur, “Kumohon, jangan katakan itu lagi .... Odo ....”
Menoleh dan melihat ekspresi ibunya yang terlihat begitu sedih dan air mata sedikit mengalir keluar, Odo terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Ia merasa telah melewatkan sesuatu yang sangat penting. Melepaskan satu tangannya dari pelukan, pemuda itu mengusap air mata Mavis dengan jarinya dan berkata, “Terkadang aku bingung, sebenarnya apa yang kuperjuangkan? Selalu saja banyak yang bertentangan seperti ini ....” Pemuda itu kembali menghadap ke atas, memandang datar langit-langit kayu dan sejenak menarik napas berat.
“Delete ....”
Semua hal yang membuat dirinya ragu seketika dihapus dari benak Odo, tanpa tersisa sedikit pun dan benar-benar lenyap. Tanpa memikirkan Mavis yang tidur di sebelahnya, pemuda itu melepaskan pelukan wanita rambut pirang itu tanpa membangunkannya dan segera keluar dari atas tempat tidur. Ia mengambil Jubah Dimensi yang digantung pada pintu kamar, lalu menarik keluar celana hitam dan kemeja putih dari dimensi penyimpanan.
Sesudah melepas celana hitam kotor dan rusak yang tidak sempat dirinya ganti sebelum tidur, pemuda itu segera berganti dengan kemeja dan celana hitam bersih. Setelah mengikat celananya dengan sabuk yang dirinya ambil dari dimensi penyimpanan, ia mengenakan sarung tangan hitam polos pada kedua tangan yang ia ambil juga dari tempat yang sama. Celana rusak yang jatuh di lantai ia pungut, lalu dimasukkan ke dalam dimensi penyimpanan pada jubah.
Ia kembali mengakses dimensi penyimpanan, lalu menarik keluar sepatu kulit berwarna cokelat gelap. Mengenakannya dan membungkuk, pemuda rambut hitam tersebut mengikat talinya dengan kencang dan rapi.
Duduk bersila di lantai dan menggelar Jubah Dimensi lebar-lebar, pemuda itu sekilas menatap datar dan bergumam, “Kalau begitu, ayo coba salah satu fungsi Faktor Aktivasi itu.” Tanpa melepas sarung tangan, Odo meletakkan telapak tangannya ke atas permukaan Jubah Dimensi pada bagian struktur sihir penyimpanan masih utuh.
Pada sekujur tubuhnya, garis-garis merah mulai nampak dan sekilas memancarkan cahaya redup. Sirkuit dari Faktor Aktivasi tersebut segera berpusat pada Rajah berbentuk Khanda pada bahu kanan, lalu salah satu fungsi dari sirkuit merah itu aktif dan mulai menjalar ke Jubah Dimensi. Rune, lingkaran sihir, formula dan susunan pada jubah tersebut seketika aktif, lalu seakan terlihat hidup semua itu mulai timbul ke udara dan melayang mengitari tubuh Odo.
“Struktur telah diaktifkan. Penyesuaian dimulai, proses. Penyelarasan, proses. Aktivasi keseluruhan proses. Selesai.”
Jubah Dimensi langsung terbakar habis menjadi abu, tanpa meninggalkan bekas pada lantai. Abu tersebut melayang, mulai menyatu dengan Rune dan susunan sihir di udara. Saat penyatuan objek selesai, abu berisi formula sihir tersebut langsung melayang memusat ke arah punggung salung tangan kanan Odo. Kristalisasi terjadi, karbon yang tercipta dari proses pembakaran langsung menulis ulang Rune dan susunan formula sihir penyimpanan ke atas punggung sarung tangan pemuda itu. Susunan dikompres ke tingkat sangat kecil sampai bisa muat ke medium terbatas, namun tidak mengurangi keefektifan sihirnya. Pada tahap akhir dari penulisan ulang tersebut, penguncian sihir penguatan permanen ditanamkan pada sarung tangan.
“Hmm ....” Odo mengangkat tangannya, melihat lingkaran sihir pada punggung sarung tangan dan berkata, “Kurasa dengan begini tak usah ganti-ganti kain lagi. Salah satu sifat Faktor Aktivasi itu adalah mengaktifkan sebuah formula, entah itu sihir atau semacamnya. Dengan kata lain, itu dapat membuat sebuah efek struktur menjadi permanen.”
“Yah!” Pemuda itu bangun dan sedikit meregangkan kedua tangannya ke atas. Sembari berjalan ke arah pintu dan membukanya, ia berkata, “Bukan berarti itu akan permanen selamanya, sih. Kalau terkena gangguan kaut dari luar, bisa saja terjadi ledakkan yang menciptakan distorsi ruang sangat kuat.”
Ia melangkah keluar dan kembali menutup pintu sebelum pergi. Seakan memang benar-benar telah menghapus semua perasaan yang membuatnya ragu, pemuda rambut hitam itu bertingkah dan berpikir dengan begitu jernih untuk fokus pada tujuannya. Ia menuruni anak tangga, lalu saat sampai di lantai dua ia melihat Matius dan Otto yang tidur di lantai karena tidak kebagian kamar.
Tidak memedulikan kedua orang tersebut, pemuda rambut hitam itu kembali melangkahkan kaki ke arah pintu dan memegang gagangnya. Saat membuka itu dengan mudah dan tidak terkunci, secara otomatis Spekulasi Persepsi langsung aktif dan membuat pemuda itu merasakan lebih dari delapan pengalaman berbeda setelah melangkah keluar. “Mereka tidak bisa tidur, ya? Hmm, kurasa tak aneh juga,” gumam pemuda itu seraya melangkah keluar. Ia kembali menutup pintu dan melangkah turun. Baru dua anak tangga dirinya lewati, sejenak Odo berhenti dan menatap ke arah kota.
Udara yang terasa begitu sejuk, dinginnya embun, serta kesunyian yang diiringi suara-suara serangga. Menarik napas dalam-dalam dan sejenak menikmati ketenangan yang ada, pemuda rambut hitam tersebut sekilas bergumam, “Andai dunia selalu damai ....” Setelah mengutarakan isi hatinya kepada sang angin dan menghilang tak berbekas, ia segera lanjut menuruni anak tangga.
Sampai di depan pintu utama toko, sejenak ia terhenti dan mendengar suara-suara dari dalam. Mengangguk sekali, Odo membuka pintu dan langsung melangkah masuk. Di dalam sana terlihat Arca dan Elulu yang sedang duduk pada satu meja yang sama, lalu seorang perempuan rambut merah yang berdiri di hadapan mereka seraya membawa sebuah perkamen di tangannya. Melihat kombinasi tersebut, Odo Luke sama sekali tidak terkejut atau mengeluarkan suara untuk menyapa.
Mereka bertiga terkejut akan kedatangannya, ingin bertanya namun suara tertahan di tenggorokkan ketika melihat ekspresi datar pemuda itu. Setelah kembali menutup pintu, Odo dengan sedikit santai berjalan ke arah mereka. Sekilas ia tersenyum kecil, lalu dalam langkah bertanya, “Kenapa Lisia juga ada di sini? Gak pulang?”
“Yakin cuma itu?” Odo dengan cepat paham hal itu hanyalah sebuah alasan. Pemuda itu menarik salah satu kursi dari kolong, lalu duduk pada meja yang sama dengan Elulu dan Arca. Sembari memasang senyum simpul, ia kembali menggoda, “Bukan karena Nona Lisia tidak bisa kembali ke kantor setelah kejadian itu? Lagi pula, kenapa juga Elulu yang tak paham urusan itu diajak-ajak.”
“I-Itu ...!” Lisiathus Mylta tambah gugup, melihat ke sana kemari dan pada akhirnya menatap Arca dengan sorot mata berkaca-kaca seakan meminta bantuan.
“Kau juga sama saja, Odo.” Arca menyipitkan matanya, terlihat sangat lelah sampai wajahnya sedikit memucat. Menunjuk ke arah pemuda rambut hitam yang baru saja datang tersebut, Putra Sulung Keluarga Rein itu dengan rasa dongkol berkata, “Setelah membuat Lady Mavis marah-marah seperti itu, kau malah ke sini dan dengan santainya menggoda Nona Lisia!”
“Mau bagaimana lagi, ‘kan?” Pemuda rambut hitam itu balik menatap tajam, lalu dalam ekspresi muram membalas, “Aku bahkan tidak mengira kalau akan ada keributan seperti itu. Awalnya aku hanya ingin membunuh para Elf itu dan semuanya berakhir tanpa ada jejak.”
Mendengar itu Arca sedikit terkejut, mulai paham alasan Odo bertindak sendiri tanpa meminta batuan kepada orang lain atau membicarakannya terlebih dulu. Memegang dagunya sendiri, pemuda rambut pirang tersebut memastikan, “Alasanmu melawan mereka sendirian dan menyelesaikannya dengan cara seperti itu ....”
Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya, lalu dengan nada resah berkata, “Seperti yang kau duga, aku tak ingin kedua kerajaan memiliki alasan jelas untuk berperang.” Ia sekilas menggaruk bagian belakang kepala, menundukkan wajah dan menghela napas resah. “Kalau sumber alasan itu berasal dari wilayah Luke, bisa-bisa yang menjadi sasaran utama mereka juga di sini,” jelasnya seraya melirik ke arah Lisia.
Mendengar alasan tersebut, entah itu Lisia atau Arca, keduanya mulai memikirkan hal tersebut dengan baik-baik. Memang dalam sebuah perang alasan merupakan sebuah komponen yang penting, demi membuat arah peperangan ke depannya tidak merugikan. Arca menurunkan tangan kanannya dari dagu ke atas meja, lalu dengan sedikit setuju ia berkata, “Memang, dulu ada sebuah kerajaan yang memulai peperangan tanpa mempertimbangkan dalih kuat di belakangnya.” Arca menarik napasnya dalam-dalam dan memasang ekspresi sedikit risih ketika mengingat salah satu sejarah Perang Besar tersebut. Menundukkan wajah dengan muram, pemuda rambut pirang tersebut lanjut menjelaskan, “Meski kerajaan itu berhasil memegangkan peperangan dan menjajah negeri yang dikalahkannya, tiga atau empat tahun kemudian kerajaan itu malah musnah setelah diserang oleh banyak negeri tetangga karena memiliki reputasi yang buruk.”
Odo menatap ringan Putra Sulung Keluarga Rein tersebut, lalu sembari memasang senyum tipis berkata, “Tak memiliki hak asasi, melanggar konsep ketuhanan, tak beradab, dan sebuah bentuk kejahatan dalam konsep perang serta peradaban .... Negeri-negeri yang menyerang kerajaan itu pasti menggunakan hal semacam itu sebagai dasarnya, ‘kan?”
“Hmm ....” Arca mengangguk, lalu dengan serius membalas, “Dalam sejarah itu dikatakan sebuah perang untuk meraih keadilan. Namun ....”
“Para negeri tetangga yang menghancurkan kerajaan tersebut malah berperang lagi memperebutkan harta dan kekayaan kerajaan yang telah hancur itu, ‘kan?”
“Ya ....” Arca mengerutkan wajah, lalu menatap tajam dan bertanya, “Kau pernah membaca sejarah itu, Odo?”
Pemuda rambut hitam itu menggelengkan kepala, lalu sembari mengambil salah satu lembar dokumen di atas meja ia menjawab, “Aku hanya tahu kejadian seperti itu pasti dulu pernah terjadi. Terlebih lagi, semua kekacauan penuh kemunafikan dan pengkhianatan itulah yang kelak akan menjadi fondasi sejarah terpendam kerajaan kita, ‘kan?”
Perkataan itu membuat suasana menjadi dingin. Bukan karena angin fajar yang bertiup dan masuk melalui sela-sela tembok, namun karena semua orang yang mendengar perkataan tersebut mulai muram mengingat sejarah busuk negeri tempat mereka tinggal. Itu memang tidak diajarkan kepada rakyat kecil, namun untuk mereka yang mendapat pendidikan dan memiliki akses pada pengetahuan sejarah pasti pernah menemukan hal semacam itu dalam beberapa buku. Setelah sekilas membaca dokumen di tangan, Odo menatap ekspresi setiap orang dan merasa kalau perkataan sebelumnya terlalu berat bagi mereka.
“Loyalitas dan keyakinan kuat terhadap kebanggaan diri!” ucap pemuda itu dengan tegas. Suaranya membuat ketiga orang tersebut mengangkat wajah, menatap ke arahnya untuk mendengarkan. Sembari memasang senyum ringan, Odo mengangkat jari telunjuknya ke depan dan berkata, “Kita adalah bangsa Felixia, bukan kerajaan-kerajaan yang telah hancur di masa lampau. Kalian tahu, dulu ada orang bijak berkata, ‘Apa yang terjadi di masa lalu adalah sejarah, apa yang akan terjadi di masa depan adalah misteri dan waktu yang sedang kita jalani ini adalah sebuah berkah!’ Karena itu, jalani saja dengan penuh rasa bangga ....”
“Tapi ....” Arca sejenak terdiam untuk menyusun kalimat yang tepat, lalu dengan sedikit ragu berkata, “Tepat seperti yang kau katakan, bukan? Orang-orang di kerjaan kita memiliki kecenderungan egois seperti itu. Demi kepentingan pribadi, mereka memasang topeng kemunafikan, Buktinya adalah kejadian kali ini .... Saat Nona Lisia hampir jatuh, orang-orang dari Pihak Pemerintah kota malah—”
“Bukannya itu tak masalah?” potong Odo dengan nada ringan.
“Eh?”
“Hmm?”
“Hah?”
Baik Arca atau Lisia dan Elulu, ketiga orang itu terkejut mendengar ucapan pemuda rambut hitam itu. Hal tersebut sangat tidak masuk akal, sampai-sampai Arca mengerutkan keningnya dan ingin membentak.
Odo sama sekali tidak ada niat menarik kembali ucapannya. Meletakkan dokumen yang ia pegang, pemuda itu menaikkan siku kanannya ke atas meja dan menyangga kepala dengan punggung tangan. Sembari tersenyum ringan, ia mengungkapkan, “Orang-orang tak masalah bertingkah seperti itu. Bukannya lebih sederhana dan mudah dipahami ke mana arah pikiran mereka? Mbak Fiola pernah berkata seperti ini padaku, ‘Rakyat tak masalah bodoh dan sederhana, itu memudahkan pemimpin untuk mengatur mereka.’ Memang perkataan ini bertentangan dengan cara pandangku, tapi setelah kejadian ini kurasa cara pikir itu tak terlalu buruk.”
Berhenti menyangga kepala dan duduk tegak, Odo sedikit mendongakkan kepala sembari menambahkan, “Tidak semua orang bisa berpikir kritis. Saat mereka berusaha dan memaksakannya, hasil yang keluar kebanyakan hanyalah sebuah keputusan kerumunan. Mereka latah terhadap keputusan mayoritas dalam masyarakat.”
Pemikiran tersebut bisa Lisia dan Arca pahami, namun Elulu yang sedari tadi tidak ikut dalam pembicaraan tak sepenuhnya mengerti apa yang berbeda dari hal tersebut. Bagi seorang anak pedagang sepertinya, mengikuti kehendak mayoritas masyarakat adalah hak wajib untuk bisa bertahan hidup. Mengingat-ingat apa yang telah dirinya pelajari dulu, sekilas Elulu merasa rindu pada adiknya yang sekarang berada pada sebuah panti asuhan di wilayah Rein.