
Catatan: Cerita ini tidak cocok untuk anak di bawah 18 tahun. Cerita ini tidak bermaksud menggunjing atau merendahkan kelompok, ras, agama, atau pihak manapun. Penulis tidak memiliki maksud buruk dalam pembuatannya.
Pada dua hari setelah pembicaraan itu, persiapan untuk memulai rencana pembuka yang Odo susun telah selesai. Mavis dan para Shieal berkumpul di halaman depan untuk mengantar keberangkatan anak itu. Odo tidak terlihat membawa apa-apa, ia hanya mengenakan kemeja putih longgar dan celana putih serta tambahan gelang hitam di tangan kanannya.
Tidak seperti biasanya dimana dirinya selalu dijaga oleh Julia, kali ini Fiola yang akan ikut mendampinginya. Perempuan rubah berekor sembilan itu seperti biasanya pun mengenakan kimono hitam kecokelatan dengan desain terbuka, seakan memang memamerkan kulitnya yang mulus dan cerah.
“Kalau begitu, aku pergi dulu Bunda ....”
“Ya ... hati-hati di jalan, ya. Fiola, tolong jaga Odo.”
Saat Mavis dan Odo saling bertukar salam layaknya orang tua dan anak, tiba-tiba tubuh Fiola yang berdiri di dekat anak itu bercahaya terang. Melihat pancaran dari tubuh Huli Jing tersebut membuat Odo meloncat menjauh dan bersiaga karena saking terkejutnya. Mata anak itu terbuka lebar seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu.
Saat sosok rupa Fiola berubah, mulut anak itu sedikit menganga. Fiola berubah menjadi seorang anak kecil yang tingginya tidak jauh berbeda dengan Odo. Perlahan kesembilan ekor Fiola pun menghilang dan ukuran pakaiannya mengecil pas dengan bentuk tubuhnya yang berubah itu.
Berbalik putar sekali di atas kaki kanan yang mengenakan sandal Geta, ia mengumbar sosoknya yang amat menawan itu. Rambutnya bertambah cokelat, tinggi badannya tidak lebih dari seratus lima puluh sentimeter dan parasnya benar-benar terlihat seperti anak-anak. Secara otomatis Odo melihat ke arah dada Fiola, bagian itu yang paling mencolok karena ukurannya mengecil lebih dari yang anak itu lihat sebelumnya dari gadis rubah itu.
“Hmm, sudah lama saya tidak berubah ke bentuk ini.” Melihat wajah Odo yang terbelalak, Fiola bertanya, “Ada apa? Kenapa menganga seperti itu, Tuan Muda?”
“A-Another Loli Again!!” teriak Odo dalam benak.
“Putraku, apa kamu baru pertama kalinya melihat wujud transformasi Fiola?” tanya Mavis.
Anak rambut hitam itu pun mengangguk dengan cepat. Meski sempat terkejut dengan perubahan wujud Fiola itu, pada akhirnya Odo berusaha untuk membiasakan diri meski ia sedikit sedang tidak suka dengan karakter gadis kecil berwatak dewasa setelah apa yang terjadi belakangan terakhir dalam Alam Jiwanya.
Setelah pembicaraan kecil lainnya dengan semua orang di tempat itu, Odo dan Fiola pun pergi ke Kota Pesisir untuk menyelesaikan beberapa persoalan. Dalam apa yang diputuskan oleh anak itu, ia pergi bukan untuk sehari saja, melainkan akan selama sebulan lebih untuk menyelesaikan beberapa hal di sana.
Mavis sendiri tidak terlalu paham apa yang hendak diselesaikan dan dirinya tidak menanyakannya secara rinci, ia sudah benar-benar memutuskan untuk melepaskan Odo yang beranjak dewasa lebih cepat dari yang dirinya kira. Layaknya seorang ibu, ia melepas keberangkatan anaknya dengan senyuman meski dalam benaknya dikuasai oleh rasa cemas dan gelisah.
««»»
Sampai di Kota Pesisir dan masuk melalui gerbang utama dengan cara biasa berkat surat tanda sebagai seorang Shieal yang dibawa Fiola, Odo lekas melihat ke dalam kota yang terlihat putih dengan salju yang seakan berhamburan. Penjaga yang berada di gerbang masuk sempat bingung saat melihat rupa anak kecil Fiola saat ia membawa surat keterangan tersebut, itu juga tanda bahwa gadis rubah itu belum pernah datang ke kota tersebut dengan wujud tersebut.
Odo tidak mempermasalahkan tatapan heran para penjaga gerbang, ia hanya tersenyum kecil dan berjalan masuk bersama Fiola setelah menyelesaikan pemeriksaan yang terasa lebih ketat dari terakhir kali dirinya datang.
“Ah, Shit. Here we go again ...,” ucap Odo dengan ekspresi datar, lalu mulai melangkahkan kaki dengan sedikit congkak.
Fiola yang mendengar itu hanya bisa memasang wajah bingung dan tidak paham dengan perkataan itu. Sesaat ia mengira kalau itu adalah semacam mantra yang tidak diketahuinya. Berjalan di sebelah anak itu, Fiola menoleh dengan sedikit heran.
“Ada apa?” tanya Odo merasa terganggu dengan tatapan gadis berambut cokelat itu.
“Tidak apa, Tuan Muda .... Hanya saja ..., wajah Anda memang benar-benar mirip dengan Nyonya. Kalau rambut Anda tidak meniru Tuan Dart, mungkin akan sangat mirip.”
“Aku ini laki-laki, bukan perempuan .... Lagi pula, kenapa juga Mbak Fiola sangat suka dengan Bunda? Rasanya sudah sampai pada tingkat obsesi seperti itu ....”
Fiola memalingkan pandangan dari Odo, memasang wajah malas menjawab. Sedikit melirik anak laki-laki yang berjalan bersamanya, ia berkata, “Beliau adalah cahaya .... Ia adalah penerangan bagi hidup saya, Tuan Muda ....”
“Hmm, begitu. Jujur saja ... dari pada disebut Yang, Bunda itu lebih cenderung ke sifat Yin,” ucap Odo dengan tetap melihat ke depan dan terus berjalan.
“Yin? Maksud Tuan Muda unsur bayangan? Kenapa? Padahal sudah jelas unsur sihir Nyonya Mavis itu Cahaya, apalagi atribut sucinya benar-benar kuat.”
Langkah kaki anak itu terhenti, sedikit memasang wajah muram. Fiola ikut terhenti dan berbalik menatap anak itu dengan bingung, ia tidak mengerti mengapa anak itu mengatakan hal seperti itu tentang ibunya sendiri.
“Bunda itu seorang pembohong yang ulung ....”
Tubuh Fiola langsung bergetar mendengar itu. Pikirannya muram keruh, keringat dingin keluar meski berada di tengah hawa dingin yang ada. Itu bukan karena sihir pengatur suhu yang digunakan gadis rubah tersebut, melainkan ketakutan akan rahasia yang disimpan dirinya dan Mavis terbongkar anak itu.
Menelan ludah dengan berat, Fiola bertanya, “Pembohong bagaimana?” Dalam perkataan itu dengan jelas Odo merasakan ketakutan dan rasa bersalah. Sedikit memalingkan, anak itu hanya menghela napas ringan.
“Kurasa kebohongan bukan kata yang tepat .... Palsu ..., itu lebih pas kurasa.”
Fiola tambah gemetar, ia benar-benar mulai berprasangka Odo tahu rahasianya. Ia melangkah mundur, napasnya terengah dan tubuh pun mulai memperlihatkan dengan jelas apa yang dirasakannya. Untuk seorang Huli Jing memang mudah menyembunyikan rasa gelisah atau semacamnya, tetapi untuk kali ini dirinya sama sekali tidak bisa menyembunyikannya.
“Tuan ..., apa Anda sudah tahu hal itu ....?”
Tidak menjawab itu, Odo kembali melangkah dan melewati Fiola. Sekilas saat di dekatnya, anak itu berbisik, “Entahlah .... Meskipun tahu, aku tetap menganggap dirinya adalah Ibuku.”
Fiola berbalik melihat anak yang melewatinya itu. Dengan perkataan tersebut, dirinya memastikan kalau Odo telah benar-benar mengetahui rahasianya. Dengan rasa takut dalam benak, ia lantang bertanya, “Kapan Anda menyadarinya?! Dari siapa ....?”
Menoleh ke belakang dan menatap datar Fiola, ia menjawab, “Aku adalah anaknya, hal seperti itu jelas hanya dengan melihat gelagat saja sudah tahu. Jangan remehkan hubungan anak dan ibunya .... Yah ..., tenang saja. Seperti halnya Bunda yang tidak mempermasalahkan kondisiku, aku juga tidak akan mempermasalahkan kondisinya. Aku tidak akan bilang pada Ayah soal itu.”
Fiola memutuskan untuk berhenti bertanya lebih lanjut, rasa cemasnya benar-benar terbukti dengan itu. Meski alasan dari mana Odo tahu hal tersebut tidak terjawab dengan jelas, tetapi yang pasti memang benar anak itu mengetahuinya.
Menatap datar anak itu, Fiola berkata, “Tolong biarkan Beliau untuk tetap merasakan kebahagiaan itu dan tetap tersenyum bahagia. Tolong biarkan Mavis untuk menjadi seorang ibu.”
Fiola menundukkan badannya dengan penuh rasa hormat dan merendah, ia benar-benar tulus meminta itu kepada Odo. Tidak sebagai Shieal yang setia pada keluarga Luke atau semacamnya, hanya sebagai seorang individu yang mengharapkan kebahagiaan seseorang.
“Hmm, aku juga senang melihat Bunda bahagia .... Karena itu aku melakukan ini dan sering membuatnya cemas, semuanya demi menjaga apa yang kumiliki saat ini.”
“Memangnya apa yang ingin Anda lakukan? Tujuan Anda apa?” tanya gadis itu seraya kembali mengangkat wajahnya.
“Entahlah .... Saat waktunya tiba Mbak Fiola juga akan tahu.”
Odo pun kembali melihat ke dekan dan berjalan, begitu pula Fiola yang mengikuti di sebelahnya. Tidak ada pembicaraan lainnya yang menyangkut masalah itu selama mereka berjalan, hanya ada sedikit obrolan atas apa yang hendak Odo lakukan untuk sekarang. Tak lebih dari setengah jam, akhirnya mereka pun sampai di depan bangunan Kantor Pusat Pemerintahan Kota Mylta di daerah balai kota.
Berbeda dengan terakhir kali Odo datang, tempat tersebut terlihat lebih ramai dari. Para pegawai yang mengambil libur akhir tahun sudah kembali masuk, begitu juga para pekerja kasar yang bekerja di tempat tersebut. Di sekitar balai kota pun sudah mulai kembali ramai, daerah perkantoran tersebut sudah benar-benar kembali hidup dan penuh dengan lalu-lalang.
Sedikit menarik napas dengan mulut, Odo menenangkan diri dan menghilangkan rasa canggung dalam benak. Ia berusaha tenang dan mengatur pernapasan, meluruskan pikiran dan meningkatkan konsentrasi untuk menyusun strategi dari tahap awal negosiasi yang akan dilakukannya dengan Walikota sementara Kota Mylta, Lisiathus Mylta.
.
.
.
.
Setelah kejadian di pelabuhan beberapa pekan lalu, fraksi di Kota Mylta yang menginginkan revolusi atau perubahan seakan tidak berkurang. Mereka menyebar dengan transparan dan membuat penduduk tahu dengan pasti adanya kelompok yang menginginkan perubahan tersebut. Pihak pemerintah tidak bisa berbuat banyak soal pemahaman yang masuk dari negeri tetangga tersebut, mereka tidak bisa asal menghukum rakyatnya hanya karena beda pemahaman. Ditambah dengan reputasi yang memang tidak terlalu bagus, pihak pemerintahan tak punya pilihan selain mendiamkan penyebaran tersebut.
Pada insiden di pelabuhan tidak ada yang bisa dihukum, Nanra yang menjadi saksi juga tidak bisa dimintai informasi lebih selain apa yang Odo jelaskan tentang kejadian. Tetapi dari kejadian tersebut, pihak nelayan ditetapkan sebagai pihak yang bisa dikatakan bertanggung jawab dan memasukkan mereka dalam status pengawasan.
Lisiathus Mylta selaku pengganti ayahnya sebagai Walikota hanya bisa membuat beberapa peraturan yang melarang pemahaman tersebut dan meningkatkan keamanan kota meski salju masih belum benar-benar berhenti turun. Itu memang tidak efektif, Lisia juga paham akan hal tersebut. Tetapi hanya itu yang bisa dirinya pikirkan untuk menahan penyebaran sebuah paham, dalam sejarah hal seperti itu memang’lah sangat mematikan bagi keberlangsungan sebuah bangsa dan sangat sulit hentikan penyebarannya.
Di dalam ruang kantor walikota di Gedung Kantor Pusat Pemerintahan, perempuan berambut merah itu duduk pada meja kerja dengan wajah muram. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi, mendongak melihat langit-langit kayu dengan penuh beban pikiran. Meski telah mendapat secerah cahaya untuk mengubah kota, tetapi dalam benak dirinya kembali merasa kehilangan cahaya itu karena masalah yang datang lebih parah dari yang dikira.
“Kenapa juga fraksi itu membuat tindakan gegabah seperti itu? Apa orang-orang Moloia itu bodoh? Kalau mau melakukan pembunuhan, jangan di dalam kota. Dasar sialan! Kalau tahu seperti ini, lebih baik aku tidak membiarkan mereka berlabuh meski menawarkan barang-barang itu ...,” benak Lisia seraya sedikit menyipitkan matanya.
Tok! Tok! Suara pintu diketuk terdengar. Lisia lekas duduk tegap, merapikan gaun hitamnya dan memasang ekspresi wajah segar untuk menyembunyikan rasa kesalnya. “Masuklah,” ucapnya dengan nada halus.
Pintu terbuka dan yang masuk adalah seseorang yang tidak dirinya duga. Seorang anak laki-laki berambut hitam dengan penampilan khas kemeja longgar dan seorang gadis kecil berambut cokelat memasuki ruangannya. Lisia kenal anak lelaki tersebut adalah Odo, tetapi tidak dengan gadis rambut cokelat kehitaman di sebelahnya. Selekas masuk, anak berambut hitam itu lekas menutup pintu dan berjalan ke meja Lisia.
Menggebrak meja, Odo tegas bertanya, “Yo! Terima kasih sudah memberiku izin membangun usaha dan mencarikanku tanah untuk dibangun kantor swasta! Bagaimana kabarmu, Nona Lisia?”
Perempuan berambut merah itu tidak termakan intimidasi dalam pembicaraan yang hendak dibangun tersebut, ia tetap dingin dan itu tercermin jelas dalam sorot mata merah gelapnya. Sedikit menyibak rambutnya, ia bertanya, “Mau apa Anda datang kemari? Bukannya persoalan tentang perjanjian kita baru akan dimulai seminggu lagi? Saya sedang menyiapkan pasukannya untuk pembasmian para bandit di hutan ....”
Reaksi tenang itu sedikit membuat Odo menyipitkan matanya. Berbalik dan berdiri membelangi Lisia, ia sedikit menarik napas dalam-dalam. Gadis berambut cokelat kehitaman yang datang bersama dengan Odo duduk di sofa, lalu dengan senyap mengamati mereka berdua dengan tatapan tajam.
“Bukan karena itu aku datang,” ucap Odo seraya sedikit menoleh melihat perempuan berambut merah itu. Berbalik dan menghadapnya, Ia bertanya, “Soal masalah insiden di pelabuhan masih belum selesai, bukan?”
“Iya .... Mana mungkin masalah itu selesai dalam waktu sesingkat ini. Ada banyak orang mati dan pewaris Penguasa Wilayah baru saja menjadi target pembunuhan, mana mungkin itu selesai dengan cepat.”
“Bukan ....”
“Heh?” Lisia mengangkat wajahnya dengan bingung.
“Bukan itu masalah utamanya, ‘kan? Penyebaran paham dari Moloia ..., itu masalah utamanya. Semakin banyak penduduk yang mulai menganggap itu paham ideal dan menuntut revolusi, bahkan katanya ada yang berniat segera menggulingkan kekuasaan Marquess secepatnya.”
Lisia habis pikir mendengar itu dari seorang anak kecil, apalagi itu menyangkut rencana penggulingan ayahnya sendiri. Sedikit menarik napas dalam-dalam, Lisia paham kalau menahan diri mengingat posisi anak di hadapannya tidak ada gunanya.
“Anda tipe orang seperti itu, ya .... Kalau begitu, saya ungkapkan saja semuanya. Tolong maafkan kesalahan saya karena tidak bisa mencegah hal ini terjadi ....”
Setelah itu, Lisia memberitahukan Odo tentang apa yang sebenarnya telah terjadi di balik insiden pelabuhan. Alasan orang-orang Moloia bisa berlabuh adalah karena Lisia sendiri memperolehkan mereka merapat di dermaga. Dalih di balik itu sederhana, itu karena mereka menjual senjata seperti pedang atau semacamnya dengan harga sangat murah untuk rencana pembasmian bandit yang memang sudah direncanakan Lisia sejak pertengahan musim gugur setelah Ekspedisi Dunia Astral Kedua selesai.
Mendengar hal tersebut dan fakta bahwa penyebaran paham memang benar-benar tidak terhentikan, Odo sedikit mengerti masalah yang ada di hadapannya. Memalingkan pandangan dengan sedikit tidak puas, anak itu bergumam, “Begitu, ya. Jelas saat masuk ke kota mereka menatapku sedikit aneh. Kalau seperti ini ....”
“Menatap?” tanya Lisia bingung.
“Hmm, tidak apa. Jadi, apa yang ingin Nona lakukan soal masalah ini?”
“Saya hanya bisa meningkatkan keamanan untuk mencegah kejadian seperti sebelumnya terjadi kembali ....”
Odo terdiam dengan tatapan datar, ia meletakkan telapak tangan kanan ke depan mulut dan kembali berpikir. Sedikit melirik tajam ke arah perempuan tersebut, ia bertanya, “Apa Nona Lisia tahu cara menghentikan penyebaran paham seperti itu?”
“Jawabannya memang tidak ada ....”
“Heh?” Lisia mengangkat wajahnya dengan terkejut.
“Paham adalah pemikiran, pemikiran adalah cara pandang makhluk berakal. Selama mereka mengetahui itu, mereka akan memikirkan hal tersebut dan sadar akan keberadaannya, sebuah paham tidak akan hilang. Meski dilakukan Genosida atau pembersihan ras, itu tidak akan benar-benar hilang ....”
“Ge-Genosida ....?” Lisia mulai gentar mendengar itu keluar dari seorang anak kecil. Saat melihat sorot mata Odo yang sangat dingin, perempuan rambut merah itu mulai takut dengan cara pandangan anak yang berdiri di depan meja kerjanya itu.
“Ya ..., meski kita melakukan Genosida sekalipun. Paham adalah hasil pemikiran, jadi untuk menyingkirkannya kita harus ubah pemikiran itu ....”
“Mengubah ...? Bagaimana caranya?”
“Gunakan pihak Religi ....”
Odo meletakkan sebuah Rosario ke atas meja Lisia. Benda itu memiliki ukiran khusus dan berbentuk salib sebesar telapak tangan, terbuat dari platinium dan terdapat sebuah simbol Pihak Religi di tengahnya. Sekali lihat perempuan itu tahu benda apa tersebut, itu memang adalah Rosario yang seharusnya dimiliki oleh Uskup Agung atau seseorang yang hampir setara dengan status tersebut di kalangan Pihak Religi.
“Apa ini milik Master Mavis?” tanya Lisia.
“Iya, itu milik ibuku ....”
“Apa Beliau setuju membantu kalau pihak pemerintahan mengalah?”
“Ya ..., ini sebagai tandanya.”
“Haah, baiklah. Ini kurasa memang sebaiknya seperti ini .... Kalau berselisih lebih lama yang menjadi korban adalah orang-orang ..., saya juga tak ingin itu.”
Lisia pun memutuskan untuk sepenuhnya membantu tanpa tahu lebih lanjut rencana Odo terlebih dulu. Yang mendasari itu adalah Rosario yang dibawa oleh anak tersebut, dengan adanya benda itu berarti dirinya sama saja mendapat status sebagai utusan Uskup dari pusat Pihak Religi.
Alasan lain yang membuat Lisia langsung setuju adalah rasa hormatnya pada Mavis Sang Penyihir Cahaya. Keluarganya memiliki banyak hutang pada sosok tersebut dan dirinya telah mendapatkan cerita tentang betapa hebatnya sosok Mavis dari kedua orang tuanya dulu saat dirinya masih kecil, karena itulah ia dengan mudahnya mengalah.
Lisia pindah tempat duduk dan mereka pun memulai pembicaraan lain di sofa. Odo duduk bersebelahan dengan gadis berambut cokelat kehitaman, sedangkankah Lisia duduk berhadapan dengan mereka. Sedikit memasang ekspresi pasrah, perempuan rambut merah itu tersenyum kecil.
“Kenapa wajah Nona miris seperti itu? Apa Nona tidak puas dengan kondisi ini?” tanya Odo.
“Yah ..., sebenarnya saya kurang lebih tahu apa yang hendak Anda lakukan. Memikirkan hal tersebut, entah mengapa diriku rasanya seperti orang kurang ajar dan laknat.”
“Hmm, sudah paham, ya .... Nona memang cerdas, saya suka pemikiran cepat itu. Tetapi ada sesuatu yang ingin saya koreksi, ini bukan hal sesat atau laknat. Ini juga merupakan hal bijak yang pantas dilakukan.”
“Pantas? Memangnya rencana menggunakan nama Dewa untuk kepentingan politik itu pantas?”
Odo sedikit menegakkan posisi duduknya dan mulai serius. Sedikit tersenyum tipis, ia berkata, “Apa Anda tipe orang yang menganggap kalau Kepercayaan itu tidak boleh dicampur atau sangkut-pautkan dengan Politik?”
“Tentu saja! Politik tidak boleh bercampur dengan Kepercayaan, karena itulah pihak Religi terpisah dengan pemerintahan dan berfungsi saling mengawasi.”
“Berfungsi saling mengawasi.” Odo mengendus ringan, tersenyum dan menatap tajam seraya berkata, “Tuh, sudah masuk dalam politik. Saat saling mengawasi, unsur kepercayaan sudah masuk dalam politik.”
“Jangan bermain dengan kata-kata, langsung saja ke intinya.” Lisia menatap tajam dan mulai merasa sedikit tidak nyaman dengan perkataan Odo.
“Kalau Nona beranggapan sebaiknya politik dan kepercayaan itu dipisah, itu adalah hal yang salah. Dalam hal politik, sebuah kepercayaan sangat dibutuhkan. Kerajaan Falixia adalah negeri yang memiliki kepercayaan, kita bukan orang-orang Moloia yang cenderung meritrokasinya kuat.
“Politik itu merusak kepercayaan. Kalau itu bercampur, bisa-bisa kita bernasib sama seperti kekaisaran yang berperang koar-koar mengatasnamakan Ilahi padahal mereka saling membunuh saudara ...,” sanggah Lisia. Ia tetap bersikeras dengan pemikirannya dan menganggap apa yang akan Odo lakukan itu hal yang buruk.
“Biar saya koreksi, di sini saya tidak menggunakan nama Dewa untuk politik. Saya menggunakan itu untuk rakyat, demi kesejahteraan mereka.”
“Dari mananya?” Lisia menatap semakin kesal, ia benar-benar tidak suka dengan cara pandang Odo tersebut.
“Saya tanya, apa para Dewa tidak suka melihat rakyatnya sejahtera dan akur satu sama lain. Sekarang kota ini terbelah menjadi dua paham, antara yang ingin revolusi dan ingin tetap menjaga sistem pemerintahan yang ada .... Apa Dewa akan marah saat ajaran yang diberikannya pada orang-orang digunakan untuk melerai itu?”
“Tentu ... saja tidak. Kesejahteraan dan kemakmuran juga menjadi dasar kepercayaan. Teokrasi Kerajaan kita memang seperti itu ....”
“Lantas mengapa Nona menganggap ini buruk ....”
“Itu terlalu banyak menguntungkanmu secara individu.”
“Untung? Untung apa?”
“Tuan Odo mendapat reputasi baik di hadapan rakyat kota ini. Ditambah lagi dengan dekatnya Anda dengan pihak Religi, pasti nanti usaha yang hendak dibangun Anda akan mendapat nama baik juga.”
“Jadi intinya Anda merasa iri dan tidak suka karena pihak Pemerintahan tidak dapat apa-apa, ya ....”
“A ....!!” Lisia langsung menggebrak meja dan membentak, “Saya tidak merasa seperti itu! Tolong jaga ucapan Anda!”
Odo menyeringai dalam hati saat mendapat reaksi tersebut. Memasang wajah ramah seakan dirinya seorang rahib, anak itu berkata, “Saya di sini bergerak untuk rakyat, sama sekali tidak ada niat untuk mengambil hati rakyat. Sebenarnya saya sendiri ingin hanya bekerja sama penuh dengan Pihak Pemerintahan saja .... Tetapi atas kesalahan membiarkan orang Moloia berlabuh dan adanya insiden sebelumnya, mungkin itu sudah disadari rakyat dan reputasi Pihak Pemerintahan berkurang.”
“Itu ....” Lisia semaki tertekan, ia tidak bisa berargumen soal permasalahan itu.
“Kalau memang Nona benar-benar ingin berusaha dan berbakti demi rakyat, maka bantulah saya.”
“Saya sudah membantu Anda, bukannya tadi sudah saya bilang setuju. Apa perlu juga ditandatangani dalam kontrak tertulis?” tanya Lisia kesal.
Meletakkan telapak tangan kanan ke depan dada kiri dan tersenyum kalem, Odo dengan lembut berkata, “Bukan dengan ucapan atau perjanjian, saya ingin Anda rela dari dalam hati. Nona Lisia, tanpa sadar Anda merasa isi dan kesal dengan langkah ini. Ketidakpuasan atas hasil membuat rasa tidak ikhlas muncul dalam benak Anda.”
“Tahu apa An—”
“Saya tahu,” tegas Odo.
“Kubilang , tahu ap—”
“Saya tahu! Anda sedikit merasa tidak suka atas situasi ini .... Sebagai pengganti Ayah Anda menjadi Walikota, Nona Lisia tidak puas dengan situasi ini karena tidak bisa memenuhi amanat Ayah Anda yang sedang sakit dengan baik.”
Melihat tatapan tajam Odo yang seakan melihat isi hatinya, Lisia benar-benar memucat. Memang benar rasa seperti itu ada dalam benaknya, di lubuk paling dalam dan benar-benar ingin dirinya pendam. Terdiam sesaat, sekilas Lisia mengira kalau Odo mirip seperti Ibunya yang merupakan seorang Saint.
“Tuan Odo, apa Anda juga seo—”
“Kalau begitu, kurasa sekian dulu pembicaraannya. Saya tidak punya hak untuk mengubah pikiran Anda, Nona Lisia. Semoga Anda sadar jalan mana yang seharusnya diprioritaskan .... Apakah harga diri dari Pihak Pemerintah atau keselamatan dan kesejahteraan rakyat.”
Setelah itu pembicaraan pun berakhir. Lisia sepenuhnya memberikan dukungan atas itu meski hanya secara lisan hanya sebatas rasa hormatnya pada Mavis. Tujuan Odo menghampiri perempuan itu terlebih dulu daripada langsung ke Gereja Utama untuk menemui Pihak Religi adalah karena dirinya ingin membuat perempuan itu membuat gerakan dari perkataan yang disampaikannya.
Setelah keluar dari bangunan Kantor Pusat Pemerintahan, Fiola segera mendahului langkah Odo dan menghadangnya sebelum lanjut pergi ke tempat tujuan selanjutnya. Menatap tajam anak itu, gadis Huli Jing tersebut berkata, “Kenapa Anda berkata seperti itu? Apa Anda tahu itu sama saja seperti munafik?”
“Munafik?”
“Ya ..., Anda bukan orang puritan, bukan? Beraninya berkata seperti itu dengan bangganya.”
“Mbak Fiola ..., menurut Mbak kepercayaan itu apa?”
“Kepercayana itu adalah apa yang ada di dalam hati, keyakinan yang dianggap benar dan menjadi jalan hidup! Bukan sesuatu yang digunakan untuk memanipulasi orang seperti yang Tuan Muda lakukan tadi!”
“Aku terlihat seperti itu, ya .... Fiola, aku tidak menggunakan itu seperti yang kamu pikirkan.”
Fiola terkejut dengan cara panggil Odo. Ia merasa tidak nyaman karena anak itu tiba-tiba memasang wajah serius. Menarik napas dan menenangkan diri, ia bertanya, “Coba jelaskan dan buat saya yakin!”
“Menurut Mbak kenapa orang percaya?”
“Itu ... karena itu benar.”
“Salah ....” Itu membuat Fiola terkejut karena Odo membantahnya secara langsung.
“Orang percaya karena mereka merasa ada keuntungan di dalamnya. Fiola tahu ..., kepercayaan itu ada untuk membuat setiap orangnya merasa diberkahi dan bahagia. Kalau sebuah kepercayaan menyengsarakan penganutnya, itu bukanlah sebuah kepercayaan. Itu hanyalah otoritas,” lanjut anak itu.
Sedikit memasang wajah muram, Odo dengan jelas bertanya, “Apa kamu tahu maksud perkataanku, wahai Huli Jing?”
“Ya .... Intinya Anda hanya menganggap sebuah kepercayaan itu hanya sebagai media untuk mencapai keuntungan.”
“Eh? Kok begitu?”
“Ah? Bukan, toh?”
“Aaaaah, serius .... Hmm, Fiola...., begini ya ....”
Penjelasan Odo yang hendak menyampaikan kalau sebuah kepercayaan itu memiliki sifat untuk menyejahterakan penganutnya benar-benar tidak ditangkap Fiola dengan benar, cara pandang gadis rubah itu memang pada dasarnya berbeda dengan mayoritas penduduk Kerajaan Felixia sebab dirinya berasal dari Kekaisaran.
Pada akhirnya Odo pun harus menjelaskan secara detail untuk memberitahukan Fiola apa yang hendak disampaikannya. Itu benar-benar membutuhkan waktu dan mereka sampai harus duduk pada bangku di balai kota untuk membahas tersebut.
“Oh, maksud Anda penerapan sistem kepercayaan yang kurang tepat itu membawa masalah. Pada dasarnya sebuah kepercayaan itu tercipta sudah bisa menyejahterakan dan memberikan rasa aman pada penganutnya, tetapi karena salahnya penerapan dan adanya kepentingan pribadi yang bercampur itu menjadi otoritas dari penyebarnya, apa benar begitu?”
“Aaaaaaaaaaakh, akhirnya paham juga. Berbeda cara pandangan tidak kusangka akan menjadi serumit ini .....”