
Matahari terbenam dan hari pun berganti malam. Pada kediaman keluarga Luke, suasana sunyi terasa dan pada halaman depan. Di atas tanaman bunga dan tanaman, terlihat gemerlap kunang-kunang yang terbang bercampur dengan roh tingkat rendah. Di tengah kegelapan yang menyelimuti sekitar Mansion yang terletak jauh dari pemukiman umum tersebut, sinar terang terlihat dari lampu-lampu yang dipasang pada bangunan dan di sepanjang tembok pagar tempat tersebut.
Gariadin duduk di depan pos jaga gerbang masuk, memegang tombaknya dan sekilas terlihat jenuh meski ditemani oleh beberapa Lizarman yang ramai mengobrol satu sama lain. Rutinitas tidak biasa yang dirinya lakukan selama beberapa hari terakhir sedikit membekas dalam benaknya, membuat pria rambut merah tua itu sedikit merasa bosan dengan pekerjaannya sekarang yang hanya menjaga gerbang atau sesekali membantu para pelayan di Mansion dalam mengerjakan pekerjaan berat.
Di dalam ruang makan bangunan utama kediaman Marquess itu, Odo Luke dan Mavis duduk berseberangan pada meja makan persegi panjang. Keranjang berisi roti kering ada di atas meja, beberapa stoples manisan dan asinan juga disediakan untuk cuci mulut. Meski keluarga Luke sekarang yang ada di dalam Mansion hanya ada mereka berdua, pemuda rambut hitam itu memilih untuk tidak duduk bersebelahan dengan Mavis.
Sinar dari lampu gantung seakan membuat suasana tambah terasa redup, dekorasi indah yang menghiasi dinding di ruang makan tersebut tidak membuat suasana hati wanita rambut pirang tersebut senang atau sejenak melupakan pembicaraan tadi siang. Piring berisi makan malam di depan Mavis masih tersisa, sedangkan piring milik Odo telah habis dan pemuda rambut hitam itu malah menyibukkan diri dengan beragam perkakas yang dirinya letakkan di atas meja.
Beberapa bola kaca tipis beraneka warna dengan bagian tengahnya berongga seperti lampu bohlam, cincin-cincin besi, obeng dan baut, kawat, kristal sihir dan kain serta pelumas, semua itu Odo letakkan di atas meja bersebelahan dengan piring kosong miliknya. Fiola yang berdiri di belakang Mavis menatap dengan sedikit kesal melihat kelakuan anak itu, sedangkan Imania dan Julia yang berdiri di dekat pintu masuk ruang makan malah melihat dengan rasa penasaran dengan apa yang Odo kerjakan.
Odo merakit komponen-komponen yang sebelumnya disita dari kamarnya itu, dengan telaten dan teliti memasang bagian-bagian kecil dan membuat kerangka serta struktur sihir pada benda yang sedang dibuatnya tersebut. Mavis meletakkan kedua siku ke atas meja, menyangga kepala dan mengamati putranya tersebut dengan heran.
Sedikit tahu dengan apa yang dikerjakan putranya tersebut, Mavis sekilas bertanya, “Apa itu lampu sihir?” Odo menghentikan tangan dan menatap ibunya itu, sejenak menarik napas dan berusaha untuk tidak mengingat-ingat pembicaraan sebelumnya.
“Ini bukan lampu,” jawab pemuda itu seraya kembali merakit alat sihirnya.
“Bukan?” Mavis berhenti menyangga kepala, duduk tegak dan kembali bertanya, “Lalu bola kaca transparan dan kristal sihir itu untuk apa? Bukannya itu komponen lampu?”
“Tunggu sebenar, Bunda. Ini ... hampir selesai.”
Odo lanjut merakit, menggunakan obeng dan baut untuk menyatukan komponen, dan memakai pemulas dari wadah kotak kayu kecil untuk mengurangi gesekan antar sendi komponen. Tidak lebih dari sepuluh menit, pemuda itu selesai membuat alat sihirnya. Itu memang terlihat seperti lampu bohlam, dengan kristal sihir sebagai inti, pada bagian bawahnya terdapat kerangka besi yang bisa diputar untuk membuka penutup bawah dan dipasangkan dengan struktur sirkuit yang terhubung dengan reaktor sihir.
“Di lihat dari manapun ... itu lampu, putraku.”
“Benarkah?” Odo meletakkan alat sihir itu ke atas meja, sekilas tersenyum puas dengan apa yang dibuatnya tersebut.
Odo mengamatinya, kembali mengangkat benda itu dan memeriksa dari beberapa sudut. Memastikan kalau alat itu sesuai harapan, pemuda itu memutar bagian bawah dan membuka penutupnya, lalu menyalurkan Mana miliknya langsung ke dalam bola kaca di tangan kanannya tersebut dan mengaktifkan alat sihir itu. Tidak seperti lampu sihir yang mengeluarkan cahaya terang, alat sihir itu memang bersinar hijau redup dan yang menjadi output adalah hembusan angin sejuk yang bahkan sampai pada tempat Mavis duduk.
“Ini ... sihir angin? Apa dari alat itu?” tanya Mavis terkejut. Angin berhembus cukup kencang, rambut poninya sedikit tersibak dan apa yang ada di atas meja bergoyang karena hembusan tersebut.
“Hmm ....” Odo memegang bagian bawah alat sihir tersebut, lalu dengan senyuman tipis menjelaskan, “Ini adalah kipas angin sederhana. Yah, meski tidak ada kipasnya dan hanya memancarkan angin, sih.”
“Eng?” Mavis sedikit bingung, sejauh dirinya mengamati itu memang sangat mirip dengan prototipe lampu-lampu sihir yang ada di Mansion, berbentuk seperti bohlam. Dengan rasa penasaran ia pun bertanya, “Kenapa bisa? Bukannya ... itu hanya kristal yang diletakkan dalam kaca tipis? Apa ada struktur khusus di dalamnya?”
“Tidak juga,” jawab Odo sembari mengamati alat sihir buatannya itu untuk memastikan tidak ada yang cacat setelah diaktifkan. Menatap ke arah ibunya, pemuda itu berkata, “Ini memang benar-benar mirip dengan lampu yang ada di langit-langit ruang ini dan di beberapa sudut Mansion. Apa Bunda menebak konsep alat sihir buatanku ini?”
“Hmm ....”
Mavis sedikit memalingkan pandangan, mengingat-ingat konsep lampu sihir dan lampu kristal yang sedikit berbeda. Lampu kristal seperti namanya langsung menggunakan kristal sihir sebagai pencahayaan, sedangkan lampu sihir cenderung seperti apa yang sedang dipegang Odo pegang dan konsepnya memerangkap energi pada sebuah ruang tertutup dalam kaca untuk diubah menjadi pancaran cahaya.
Mengacungkan jari telunjuk ke depan, wanita rambut pirang itu berkata, “Kalau konsepnya sama dengan lampu sihir, berarti itu menggunakan perubahan energi dari kristal sihir yang dipadatkan dalam ruang tertutup pada kaca tipis? Itu menjaga cahaya—Tunggu, itu keluarannya bukan cahaya dan malah berupa angin, bukan? Berarti ....”
Odo sekilas tersenyum, merasa lebih tahu dari ibunya tersebut dan berkata, “Apa Bunda tahu? Atribut cahaya adalah salah satu atribut termurni. Berbeda dengan yang lain, itu sebenarnya hanyalah berbentuk energi murni dan sama sekali tidak memiliki perintah di dalamnya. Itulah kenapa sihir cahaya juga identik dengan sihir suci, bisa memuaikan atribut lain terutama kegelapan.”
“Apa itu ada hubungannya dengan alat sihir itu, putraku?”
“Tentu saja ada.” Odo mengangkat alat sihirnya ke depan, lalu dengan senyum tipis menjelaskan, “Kristal pada alat ini memang hanya kristal tanpa atribut, namun kaca dan kerangka besi yang digunakan cukup unik.”
“Unik?” Mavis menatap tajam kaca yang bersinar hijau tersebut, menyadari ada aliran Mana yang terlihat tidak biasa dan begitu teratur dalam susunan formula yang tidak dirinya ketahui.
“Apa bunda melihatnya? Kaca ini memiliki atribut angin yang pasif dan akan menjadi aktif kalau mendapat stimulasi Mana.”
“Itu ....” Mavis mulai mengerti rahasia alat sihir yang dibuat Odo. Mengangguk satu kali, ia memastikan, “Apa kau melebur kristal sihir ke dalam kacanya, putraku?”
“Tepat!” Odo menonaktifkan alat sihir, meletakkan itu ke atas meja dan mengacungkan jari sembari berkata, “Pada dasarnya bahan pembuatan kaca adalah pasir yang dipanaskan dalam suhu tinggi. Konsepnya tidak jauh dengan itu, ini dibuat dengan cara melelehkan pecahan kaca yang sudah jadi dan dicampur dengan pecahan kristal sihir. Dengan cara pembuatan sederhana seperti itu, atribut bisa tertanam secara pasif pada kaca dan kalau diletakkan dalam konstruksi kerangka lampu, jadilah seperti ini.”
“Tunggu!” Mavis membuka telapak tangannya ke depan, lalu memegang dagu dan bertanya dengan heran, “Ada sesuatu yang aneh. Kalau memang seperti itu, bukannya bentuk keluarannya masih berupa cahaya?”
“Memang ....”
Odo kembali mengambil alat sihir berbentuk bohlam tersebut, dan menggelindingkannya di atas meja ke arah Mavis. Wanita rambut pirang itu menerimanya dengan sedikit panik, lalu mengambilnya dan menamati alat dengan seksama. Mengalirkan Mana dan mencoba mengaktifkannya, alat sihir itu memancarkan angin yang terasa sejuk dan memang membuat Mavis terkagum.
“Alat itu masih memancarkan cahaya dan tidak murni berupa angin.” Odo mengambil bola kaca lain di atas meja, lalu kembali merakit alat sihir lainnya. Sembari menggerakkan tangan dan tetap merakit, pemuda itu menjelaskan, “Kristal sihir yang menjadi inti alat itu tetap memancarkan energi berupa cahaya, namun cahaya yang terperangkap dalam ruang tertutup pada alat itu diolah oleh kaca beratribut angin dan berubah menjadi aktif berupa hembusan angin yang struktur dari permukaan kaca.”
“Permukaan?” Fiola juga mulai tertarik dengan alat sihir itu, membungkukkan tubuhnya dan ikut mengamati bola kaca yang dipegang Mavis. Merasakan hembusan angin sejuk yang memang terasa sedikit lembab, Huli Jing itu kagum dengan alat tersebut.
“Ya, permukaan.” Odo menghentikan tangan, menatap ke arah mereka dan mulai menjelaskan, “Dengan kata lain, bukan kristal yang mengeluarkan angin, namun kaca pada alat itulah yang memancarkannya. Yah, bukan berarti itu mengeluarkan oksigen atau gas, hanya berupa Mana yang mempengaruhi suhu sehingga membuat pergerakan udara di sekitarnya berubah. Menggunakan panas yang dihasilkan oleh energi.”
“Hmm?” Mavis sekilas bingung mendengar itu, lalu bertanya, “Bukannya tadi kau bilang kalau alat ini atributnya angin, putraku?”
“Memang angin ....” Odo sekilas menghela napas, kembali menggerakkan tangannya dan merakit alat lain. Dengan nada ringan ia kembali berkata, “Namun ada juga atribut api dan air sebagai sub material. Aku tidak menggunakan satu jenis kristal untuk membuat itu, Bunda.”
“A—” Mavis sesaat menganga saat mendengar itu, sedikit menatap datar putranya dan berkata, “Odo, dari mana kau tahu metode-metode seperti itu? Setahu bunda, di perpustakaan tidak ada tata cara membuat alat sihir seperti ini.”
“Memang tidak ada ....” Odo sekilas melirik tanpa menghentikan tangan, lalu dengan nada yang mulai acuh ia berkata, “Tapi, di sana bukannya banyak pengetahuan yang bisa digunakan untuk membuat alat-alat seperti ini? Metode Aliran Mana Dalam Objek, Jenis Mineral Sihir Konduktor dan Isolator, Kerangka Dasar Mekanika Aliran Struktur dan Reaktor Sihir, buku-buku seperti itu bukannya ada di perpustakaan?”
“Kau ... membuat alat sihir ini dengan referensi buku-buku itu?”
“Akan percuma kalau pengetahuan tidak digunakan, itu namanya membuang emas ke dalam lumpur. Membiarkan pisau berkarat.”
Odo menyelesaikan alat sihir lainnya dan meletakkan itu ke atas meja. Pemuda itu mengambil bola kaca lain dengan unsur atribut berbeda, lalu mulai merakit kembali alat sihir serupa. Melihat itu alis Mavis sempat berkedut, benar-benar menyerah dengan sifat putranya tersebut yang sama sekali tidak mau mendengarkan perkataannya. Pembicaraan mereka sebelumnya seakan tidak ada artinya, sama sekali tidak mengubah perilaku pemuda itu.
“Sekarang apa lagi yang kau buat?” tanya Mavis sembari menikmati hembusan angin sejuk alat sihir yang dipegangnya.
“Angin sudah, air dan api juga sudah pernah kubuat. Selanjutnya aku ingin membuat otomatisasi pengumpulan Mana dalam sekala lebih besar dengan struktur yang sama dengan reaktor sihir.”
“Eh?” Mavis terkejut sampai hampir menjatuhkan alat sihir di tangan, ia dengan heran bertanya, “Odo ..., kau tahu struktur reaktor sihir?”
“Tentu saja!” Pemuda itu menatap semangat sembari membuka selembar kain persegi kecil di atas meja dengan tangan kiri. Lalu dengan nada seakan hal tersebut adalah biasa, pemuda rambut hitam itu menjawab, “Reaktor sihir terbuat dari susunan Kristal Kualitas Terbaik yang diletakkan dalam papan panel struktur sihir untuk mengumpulkan Ether dan mengubahnya menjadi Mana murni, lalu itu baru dialirkan menjadi energi menggunakan sirkuit sihir pada dinding-dinding Mansion ini. Rektor Sihir Utama yang beberapa kali pernah aku bedah ada di halaman belakang, di dekat gudang dan jalur sirkuitnya dihubungkan dengan berlapis-lapis benang olahan dari batu kuarsa yang bersifat konduktor kuat. Konsepnya seperti kawat yang ada di mejaku ini ....”
“I-Itu ....” Mavis menunjuk dengan gemetar, lalu dengan rasa tak ingin percaya ia pun bertanya, “Terbuat dari batu kuarsa?”
“Hmm ....”
Mavis sekilas tertegun, menepuk jidat dan menghela napas panjang. Dari pembuatan struktur sihir dan suplai energi ke seluruh bangunan Mansion, tahapan yang paling sulit dan membutuhkan waktu penguasaannya adalah membuat benang dari batu kuarsa. Itu berfungsi semacam kabel, namun tidak mudah terurai atau mudah bocor muatannya meski tanpa dibungkus bahan karet. Bentuknya seperti kawat berwarna putih dan cukup lentur, bagian paling luar sedikit transparan dan di dalamnya terdapat benang tipis untuk transmisi energi atau susunan informasi.
“Dari mana kau belajar membuat itu?!” tanya Mavis cemas.
Odo terkejut sampai hampir menjauhkan bola kaca yang sedang dirakitnya dengan komponen lain. Menghela napas dan meletakkan pekerjaannya ke atas meja, pemuda itu dengan sedikit resah menjawab, “Otodidak ....Yah, meski itu butuh pengorbanan banyak.”
“Odo ....” Kening Mavis sedikit mengerut, ia sekilas mengingat-ingat sesuatu yang berkaitan dengan sirkuit dan reaktor sihir Mansion yang dalam beberapa bulan terakhir selalu berkendala dan penggantian komponennya lebih sering dari biasanya.
“Ya?”
“Belakangan ini struktur sihir di bangunan ini sering ada kejanggalan dan roh tingkat rendah sulit berkumpul, akibatnya Ether sulit terpusat dan suplai energi berkurang. Apa ... itu ulahmu?”
Odo memalingkan pandangannya, terlihat menyembunyikan sesuatu dan enggan menjawab. Mendapat tatapan tajam dari Mavis, pemuda itu tersentak dan pada akhirnya menghela napas panjang. “Menggantinya di tempat sangat sulit, jadinya aku potong dan ambil beberapa yang bisa diambil,” jawab Odo dengan santainya.
“Ternyata itu benar ulahmu, Bunda kira itu karena tikus atau semacamnya.”
“Apa tikus bisa masuk ke bangunan ini?”
“Tikus biasa pasti akan tersengat kalau masuk ke sela-sela bangunan, tapi kalau monster tikus biasanya malah akan berkembang biak dengan cepat karena melahap energi yang mengalir dalam sirkuit.”
“Ah ....” Odo sekilas tertegun, memutar bola matanya ke samping dan dalam benak berkata, “Sepertinya metode kultivasiku dulu sama dengan para tikus, mencuri energi dari sirkuit untuk perkembangan.”
“Jadi, memangnya untuk apa semua itu?” tanya Mavis.
“Hmm?” Odo mengambil pekerjaannya, lalu kembali merakit alat sihir tersebut. Dengan nada sedikit malas pemuda itu menjawab, “Untuk tokoku.”
Sesaat rasa aneh muncul dalam benak Mavis, antara cemas dan rasa marah pada ucapan Odo tersebut. Sadar kalau menasihati atau memarahi anak itu sangatlah percuma karena memang seperti itulah sifat Odo, sebagai seorang ibu Mavis hanya berkata, “Kau masih belum menyerah soal itu, ya.”